JEO - Bola

Akhiri
Penantian 30 Tahun
atau Next Year Lagi,
Liverpool?

Minggu, 4 Agustus 2019 | 10:39 WIB

“Jika Anda yang pertama, Anda yang pertama. Jika Anda yang kedua, Anda bukan apa-apa…”

~Legenda Liverpool, Bill Shankly~

 

MUSIM lalu, penggemar Liverpool di seluruh dunia bergembira seusai tim kesayangannya meraih trofi Liga Champions 2018-2019.

Dengan mengoleksi enam trofi "Si Kuping Besar", sebutan untuk piala Liga Champions, klub berjulukan The Reds itu menjadi tim tersukses ketiga di Eropa, sepanjang masa.

Hanya Real Madrid (13 kali juara Liga Champions) dan AC Milan (7 kali) yang mengungguli capaian Liverpool di Benua Biru. 

Para pemain Liverpool mengheningkan cipta untuk mengenang pemain sepak bola Spanyol, Jose Antonio Reyes, yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, sebelum pertandingan sepak bola final Liga Champions antara Liverpool vs Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano di Madrid pada 1 Juni 2019.
AFP/GABRIEL BOUYS
Para pemain Liverpool mengheningkan cipta untuk mengenang pemain sepak bola Spanyol, Jose Antonio Reyes, yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, sebelum pertandingan sepak bola final Liga Champions antara Liverpool vs Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano di Madrid pada 1 Juni 2019.

Akan tetapi, tiga pekan sebelum hasil akhir Liga Champion itu, Kopites—sebutan untuk penggemar Liverpool—menunjukkan ekspresi berbeda.

Wajah mereka menunjukkan perayaan kemenangan atas Wolverhampton Wanderers di Anfield. Namun, ekspresi kesedihan tetap kental terasa. 

Di liga dalam negeri, Liverpool malah puasa gelar nyaris tiga dekade alias 30 tahun.

Ini karena mereka kecewa, tim kesayangannya—yang cuma kalah sekali di Liga Inggris musim 2018-2019—gagal mengakhiri musim dengan gelar juara.

Di liga dalam negeri, Liverpool malah puasa gelar nyaris tiga dekade alias 30 tahun.

Pada musim lalu, anak-anak asuhan Juergen Klopp cuma kalah satu poin dari Manchester City. Ironisnya, tim ini justru lebih banyak kalah daripada Liverpool. 

"Kami akan mencoba lagi tahun depan (next year)," begitu ledekan dari suporter lain soal mimpi Liverpool meraih gelar juara Premier League, kasta teratas Liga Inggris.

Bahkan, nada-nada ejekan pun sempat terlontar dari mantan personel grup band Oasis, Noel Gallagher, yang merupakan fans Manchester City.

Noel menyindir Liverpool yang hanya bisa mengucapkan “Next year is our year”.

“Saya bisa tertawa, sungguh saya bisa,” kata Gallagher.

Seperti dikutip dari TalkSport, Gallagher meledek Liverpool dengan mengaitkannya ke lini bisnis sampingan klub itu. 

“Orang -orang di Anfield (markas Liverpool) dapat berbangga diri bahwa mereka masih mempunyai dua waralaba restoran ayam cepat saji terbesar di Eropa. Jadi, mereka bisa melanjutkan sampai tahun depan atau tahun berikutnya lagi,” kata dia. 

Begitulah. 

Kini, dengan musim baru di depan mata—dimulai pada Sabtu (10/8/2019)—, bisakah Liverpool mengakhiri penantian juara Liga Inggris pada tahun ke-30 atau kembali mendengar nada ledekan "next year"?

DRAMA 29 TAHUN LALU...

KALI terakhir The Reds, julukan Liverpool, menjadi kampiun Liga Inggris adalah pada 29 tahun lalu.

Tepatnya, gelar terakhir mereka didapat pada musim kompetisi 1989-1990, ketika Liga Inggris masih bernama Divisi I.

Capaian itu merupakan gelar juara Liga Inggris ke-18 bagi klub yang berdiri pada 1892 tersebut. Itu pun prosesnya dramatis. 

Skuad Liverpool musim 1989-1990 saat menjuarai Liga Inggris.
DOK LFC HISTORY
Skuad Liverpool musim 1989-1990 saat menjuarai Liga Inggris.

Saat itu, Liverpool asuhan pelatih Kenny Dalglish bersaing ketat dengan Aston Villa dalam perebutan posisi puncak klasemen. Posisinya, Liverpool sedang unggul dua poin atas Aston Villa. 

Masing-masing klub tinggal menyisakan satu laga untuk penentuan gelar juara. Liverpool menghadapi Queens Park Rangers (QPR), sedangkan Aston Villa melawan Norwich City.

John Barnes dkk butuh kemenangan untuk memastikan gelar juara liga, apa pun hasil yang didapat Aston Villa. Tak mungkin berharap Aston Villa akan mengalah dan kalah.

Sandaran keberuntungan, paling jauh kedua tim sama-sama meraup hasil seri. Atau, Liverpool mendapat hasil seri dan Aston Villa kalah. 

Menit-menit mendebarkan

Pada laga kontra QPR, Liverpool tertinggal lebih dulu pada menit ke-14 melalui tandukan Roy Wegerle.

Liverpool baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-40 melalui penyerang andalan mereka asal Wales, Ian Rush.

Memasuki babak kedua, Liverpool sukses berbalik unggul 2-1. Kali ini berkat eksekusi penalti Barnes pada menit ke-65.

Di tempat lain, pertandingan Aston Villa vs Norwich City rupanya sedang imbang 3-3. Inilah momen ketika para fans Liverpool harap-harap cemas menanti hasil akhir.

Laga kompetitor hanya bisa dinanti dan disimak melalui siaran radio. 

Kecemasan menjadi-jadi karena laga kompetitor hanya bisa dinanti dan disimak melalui siaran radio. 

Harapan berubah jadi kenyataan. Liverpool asuhan Kenny Dalglish dipastikan menjadi juara Liga Inggris 1989-1990 setelah skor kedua laga tak berubah sampai peluit akhir berbunyi.

Keberhasilan itu tak sekadar menandai gelar juara ke-18 Liverpool di liga domestik, tetapi juga menegaskan dominasi mereka di ajang tersebut dalam waktu dua dekade sejak era 70-an.

Dalam kurun waktu sekitar 20 tahun (70-90an), The Reds 11 kali menempati singgasana tertinggi Liga Inggris.

Mampat

Sayangnya, gelar pada 1990 itu malah menjadi kali terakhir mereka juara Liga Inggris hingga sekarang.

Setahun berikutnya, tepatnya pada 1991, Kenny Dalglish di luar dugaan mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool.

Di stasiun kereta Lime Street di Liverpool, penyiar membaca pengumuman khas tentang keterlambatan kereta. Yang berbeda, penyiar menambahkan informasi soal Dalglish, sembari meminta maaf. 

"Kenny Dalglish telah mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool. Saya hanya berpikir Anda ingin tahu itu,” demikian isi pengumuman itu, seperti dikutip dari LFC History.

Manajer Liverpool, Kenny Dalglish, mengapresiasi penggemar Liverpool saat kekalahan 0-1 dari Manchester United dalam pertandingan putaran ketiga Piala FA di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut pada 9 Januari 2011.
AFP/PAUL ELLIS
Manajer Liverpool, Kenny Dalglish, mengapresiasi penggemar Liverpool saat kekalahan 0-1 dari Manchester United dalam pertandingan putaran ketiga Piala FA di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut pada 9 Januari 2011.

King Kenny, julukan Kenny Dalglish, pun mengonfirmasi kepergiannya dari Anfield.

“Saya telah terlibat dengan sepak bola sejak saya berusia 17 tahun. Dua puluh tahun dengan dua tim paling sukses di Inggris, Celtic dan Liverpool. Saya sudah berada di depan selama bertahun-tahun dan ini saatnya untuk mengakhirinya,” ucap Dalglish.

Setelah itu, performa Liverpool pada era 90-an serta memasuki tahun 2000 bisa dikatakan tidak stabil.

Takdir memang sempat mempertemukan kembali Dalglish dengan Liverpool. Sang Raja kembali ke Anfield pada kurun waktu 2011 hingga 2012.

Namun, itu tetap belum memutus dahaga juara Liga Inggris Si Merah.

Musim berganti musim, Liverpool memang sempat bersaing sengit dengan sejumlah klub rival dalam meraih gelar. Namun, sejauh ini, prestasi terbaik hanya berstatus “nyaris” juara.

MUSIM-MUSIM
"NYARIS JUARA"

NYARIS juara. Predikat itu teramat akrab bagi Liverpool dalam perjuangannya di Liga Inggris,  sejak format liga berganti pada 1992-1993.

Begitu juga tahun lalu, ketika mereka hanya berselisih satu angka dengan tim kampiun.

Dengan format liga yang baru (Premier League), Liverpool selalu kesulitan dalam persaingan menjadi juara.

Saking sulitnya menjadi nomor 1 di klasemen akhir, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa Liverpool seperti mendapatkan "kutukan" kala berkompetisi di ajang Liga Inggris.

Berikut ini adalah tahun-tahun saat Si Merah "nyaris" menjuarai Liga Inggris.

1996-1997

Pernah pada musim 1996-1997, Liverpool yang kala itu diperkuat Robbie Fowler dan Stan Collymore, menjadi penantang kuat Manchester United.

Saat pekan ke-25 musim itu, Liverpool hanya terpaut satu poin dengan Setan Merah selaku pemuncak klasemen.

Namun, pada pekan-pekan berikutnya, Liverpool asuhan pelatih Roy Evans meraup hasil minor yang membuat laju lari mereka menuju tangga juara melambat.

Striker Liverpool Robbie Fowler jatuh di depan Daren Peacock dari Newcastle dalam pertandingan FA Carling Premiership di St James Park 23 Desember.
JOHN GILES/AFP
Striker Liverpool Robbie Fowler jatuh di depan Daren Peacock dari Newcastle dalam pertandingan FA Carling Premiership di St James Park 23 Desember.

Dalam sembilan pertandingan sisa, Liverpool kehilangan 10 poin akibat hasil 5 kemenangan, 2 kali imbang, dan 2 kekalahan.

Liverpool harus puas mengakhiri musim 1996-1997 di peringkat keempat, meski saat itu Fowler tampil impresif lewat torehan 18 gol.

2001-2002

Liverpool menyambut musim 2001-2002 dengan asa membubung. 

Pada musim sebelumnya, Liverpool finis di peringkat ketiga di Liga Premier serta meraih treble winners dengan menjuarai Piala Liga, Piala FA, dan Piala UEFA.

Namun, pada awal musim, The Reds harus kehilangan sang manajer, Gerard Houllier, yang jatuh sakit.

Houllier harus menepi selama lima bulan. Kendali skuad Liverpool pun diserahkan kepada sang asisten, Phil Thompson, yang ditunjuk sebagai manajer sementara.

Dalam masa krisis itu, Phil Thompson membawa Liverpool naik ke peringkat kelima pada akhir Oktober 2001.

Berselang satu bulan kemudian, Si Merah bahkan telah bertengger di puncak klasemen sementara Liga Premier. Mereka mengantongi keunggulan dua poin atas Leeds United yang mengekor di peringkat kedua.

Namun, laju Liverpool memimpin klasemen hanya bertahan sampai 17 Desember 2001. Tepatnya, saat Newcastle United mengambil alih posisi mereka karena unggul produktivitas gol (30 vs 25).

Setelah itu, posisi Liverpool terus melorot hingga peringkat keempat. Pada Januari 2002, pasukan Anfield tertinggal dua poin dari Manchester United yang akhirnya memimpin klasemen.

Pelatih Liverpool asal Perancis Gerard Houllier mengibarkan bendera Liverpool setelah memenangi Piala UEFA di Dortmund Westfalenstadion, 16 Mei 2001, melawan Deportivo Alaves. Liverpool menang 5-4 di perpanjangan waktu.
AFP/PATRICK HERTZOG
Pelatih Liverpool asal Perancis Gerard Houllier mengibarkan bendera Liverpool setelah memenangi Piala UEFA di Dortmund Westfalenstadion, 16 Mei 2001, melawan Deportivo Alaves. Liverpool menang 5-4 di perpanjangan waktu.

Kembalinya Houllier pada Maret 2002 membuat kondisi Liverpool membaik.

The Reds mencapai perempat final Liga Champions dan kembali ke puncak klasemen Liga Premier dengan lima laga tersisa.

Saat itu, fans Liverpool optimistis gelar Liga Premier sudah dekat ke genggaman mereka.

Namun, pada akhirnya, Liverpool lagi-lagi gagal meraih gelar juara Liga Premier pada musim 2001-2002.

Mereka harus puas hanya finis di peringkat kedua dengan selisih tujuh poin dari Arsenal yang merebut trofi juara.

"Saya bisa memahami rasa frustrasi itu. Kami menginginkan itu (juara Liga Inggris), lebih dari segalanya," ujar Houllier.

"Anda tidak bisa memprogram kesuksesan dan Anda hanya bisa memenangi trofi di level tertinggi. Ambisi dan target tetap di liga. Kami hanya butuh waktu lebih," kata sosok asal Perancis itu.

2008-2009

Status "nyaris juara" juga tersemat saat Liverpool menjalani musim 2008-2009.

Pada masa itulah, Liverpool era kepelatihan Rafael Benitez beberapa kali naik-turun posisi puncak klasemen.

Setelah merebut posisi pertama dari tangan Chelsea dan bertahan selama lima pekan, Liverpool disalip oleh Man United akibat hasil imbang melawan Stoke City.

Gelandang Liverpool Steven Gerrard (kiri) berjalan melewati manajer Liverpool asal Spanyol Rafael Benítez saat ia meninggalkan lapangan karena cedera dalam pertandingan Grup E Liga Champions melawan Lyon di Anfield, Liverpool, Inggris, pada 20 Oktober 2009.
AFP/PAUL ELLIS
Gelandang Liverpool Steven Gerrard (kiri) berjalan melewati manajer Liverpool asal Spanyol Rafael Benítez saat ia meninggalkan lapangan karena cedera dalam pertandingan Grup E Liga Champions melawan Lyon di Anfield, Liverpool, Inggris, pada 20 Oktober 2009.

Hasil buruk kembali didapatkan Liverpool pada dua pekan berikutnya. Jarak poin Liverpool dan Manchester United melebar. 

Liverpool pun harus puas duduk di urutan kedua pada klasemen akhir Liga Inggris dengan terpaut empat angka dari sang juara.

2013-2014

Kegagalan Liverpool pada musim 2013-2014 menjadi sesuatu yang amat disayangkan oleh para fans mereka.

Pada pekan ke-34, Liverpool asuhan Brendan Rodgers sukses menjadi pemuncak klasemen sementara berkat kemenangan 3-2 atas Manchester City.

Namun, malapetaka muncul pada dua pekan berikutnya. Yakni, ketika mereka berhadapan dengan Chelsea pada laga pekan ke-36.

Blunder terpeleset sang kapten, Steven Gerrard, pada injury time babak pertama menghasilkan gol bagi striker Chelsea, Demba Ba.

Gerrard akhirnya meninggalkan Anfield pada 2015 setelah 17 tahun membela Liverpool dan selalu gagal meraih gelar Liga Premier.

Meski demikian, blunder pada laga melawan Chelsea masih menghantui Gerrard hingga kini.

“Luka ini telah terbuka karena pengalaman saya itu. Saya tidak yakin luka ini akan tertutup karena saya tidak bisa mengubah pengalaman itu," kata Gerrard mengenang kegagalannya mengantarkan Liverpool juara.

Gelandang Liverpool Steven Gerrard (kiri) menjaga striker Chelsea Demba Ba dalam laga Liga Primer antara Liverpool vs Chelsea di Stadion Anfield di Liverpool, Inggris, pada 27 April 2014.
AFP/ANDREW YATES
Gelandang Liverpool Steven Gerrard (kiri) menjaga striker Chelsea Demba Ba dalam laga Liga Primer antara Liverpool vs Chelsea di Stadion Anfield di Liverpool, Inggris, pada 27 April 2014.

Wajar jika Gerrard merasa bersalah. Blunder yang dia lakukan membuat Liverpool akhirnya kalah dan puncak klasemen kembali direbut oleh Man City.

Ketika itu, poin Liverpool dan Man City sama. The Reds kalah selisih gol dari The Citizens.

Pada pekan ke-37, Liverpool hanya bermain imbang dengan Crystal Palace dan akhirnya harus kembali rela menjadi runner-up Liga Inggris.

2018-2019

“Kutukan” Liga Inggris seperti belum mau beranjak dari Liverpool. Padahal, musim 2018-2019 diawali skuad asuhan Juergen Klopp dengan baik.

Penampilan konsisten dari Mohamed Salah dkk membawa mereka bersaing ketat dengan Man City untuk trofi Liga Inggris.

Liverpool juga tercatat hanya kalah satu kali, tepatnya dari Man City, pada awal Januari 2019.

Namun, hasil imbang Liverpool mencapai tujuh kali, sedangkan Man City hanya dua kali.

Dari segi kemenangan, Liverpool juga cuma menang 30 kali, berbanding 32 torehan milik Man City.

Pada klasemen akhir, The Reds harus kembali puas menempati posisi runner-up dengan 97 poin, kalah satu angka saja dari The Citizens yang mengumpulkan 98 poin.

Juergen Klopp mengamati jalannya pertandingan West Ham United vs Liverpool di Stadion London dalam lanjutan Liga Inggris, 4 Februari 2019.
AFP/GLYN KIRK
Juergen Klopp mengamati jalannya pertandingan West Ham United vs Liverpool di Stadion London dalam lanjutan Liga Inggris, 4 Februari 2019.

Meski gagal menjadi juara, Klopp mengaku tetap puas terhadap perkembangan timnya sejauh ini. Sosok asal Jerman itu pun berjanji bahwa semua progres tersebut belum selesai.

“Kami membuat sebuah lompatan yang besar. Anak-anak mendorong mereka ke level yang baru, yang mana saya suka, dan perkembangan dan perbaikan itu belum selesai…” ucapnya.

Daftar Koleksi Gelar Liverpool

KUTUKAN STATUS
RUNNER-UP

KUTUKAN lain yang menghinggapi Liverpool pada Premier League adalah tren buruk setelah berstatus title contender tetapi "hanya" finis posisi kedua.

Sepanjang sejarah Premier League, sudah tiga kali The Reds bersaing hingga akhir kompetisi dengan tim yang akhirnya menjadi juara.

Pertama pada era Gerard Houllier. Bersama Phil Thompson yang sempat menggantikannya selama lima bulan, Houllier mengantarkan Sami Hyypia dkk finis di posisi kedua di bawah Arsenal pada musim 2001-2002.

Akan tetapi, musim berikutnya, prestasi mereka jeblok. Michael Owen dkk finis di posisi kelima dan gagal melangkah ke Liga Champions.

Rafael Benitez sempat menghadirkan optimisme bagi para Kopites di musim 2008-2009. Harapan menjadi juara pun membubung.

Harapan yang jauh panggang daripada api karena Liverpool justru terjerembap ke posisi ketujuh. 

Kesalahan strategi transfer, dengan melepas Xabi Alonso salah satunya, dianggap menjadi salah satu penyebab kegagalan itu.

Kapten Liverpool Steven Gerrard (kanan) berusaha menenangkan rekannya, Luis Suarez, yang menangis setelah timnya bermain imbang 3-3 dengan Crystal Palace, pada laga Premier League, di Selhurst Park, London, Senin (5/5/2014). Liverpool sempat unggul 3-0 pada laga itu.
ADRIAN DENNIS / AFP
Kapten Liverpool Steven Gerrard (kanan) berusaha menenangkan rekannya, Luis Suarez, yang menangis setelah timnya bermain imbang 3-3 dengan Crystal Palace, pada laga Premier League, di Selhurst Park, London, Senin (5/5/2014). Liverpool sempat unggul 3-0 pada laga itu.

Lima tahun berselang, Brendan Rodgers juga nyaris membawa Liverpool menjadi kampiun andai tidak ada insiden Steven Gerrard terpeleset pada laga melawan Chelsea.

Rodgers tampaknya mengulang kesalahan transfer seperti pendahulunya, Benitez. Dia melepas Luis Suarez, tetapi Mario Balotelli sebagai pengganti gagal bersinar.

Liverpool pun gagal menjadi pesaing gelar juara pada musim berikutnya dan hanya finis di posisi keenam.

Siklus lima tahunan itu kembali terjadi. Setelah 2008-2009 dan 2013-2014, Liverpool di bawah Klopp kini kembali finis di posisi kedua klasemen Premier League. 

Sejauh ini, Klopp juga belum  melakukan transfer pemain besar untuk menambah kekuatan timnya.

Akankah kutukan itu berlanjut atau justru akan berakhir sekaligus menjadi akhir penantian 30 tahun?

GAIRAH BERSAMA KLOPP

10 AGUSTUS 2014. Juergen Klopp sempat berjalan di lorong Stadion Anfield.

Dia melihat sebuah poster terkenal bertuliskan "This Is Anfield" dan membaca kalimat yang tertera sebelum menuruni anak tangga.

Empat belas bulan berselang, Oktober 2015, akun Twitter resmi Liverpool merilis video tersebut. Bersamanya ada tagar #KloppLFC.

Klopp kembali ke Anfield sebagai kawan, bukan lagi lawan bagi Liverpool.

Klopp menjadi manajer ke-20 sepanjang sejarah Liverpool. Dia mengisi kekosongan sejak Brendan Rodgers dipecat pada Minggu (4/10/2015). Takdir, begitu Liverpool menyebutnya.

Datang dengan prestasi mentereng dari klub asal Jerman, Borussia Dortmund, Klopp menjadi gairah dan semangat baru bagi publik Anfield.

Manajer baru Liverpool, Juergen Klopp, memegang kostum timnya di Stadion Anfield, Jumat (9/10/2015).
AFP/PAUL ELLIS
Manajer baru Liverpool, Juergen Klopp, memegang kostum timnya di Stadion Anfield, Jumat (9/10/2015).

Bagaimana tidak? Sebelumnya, di Dortmund, Klopp sukses menghentikan hegemoni Bayern Muenchen di Bundesliga, kasta teratas Liga Jerman.

Dalam kurun waktu 2008-2015 bersama Dortmund, pria berkacamata itu sukses mempersembahkan dua trofi Bundesliga, satu Piala Jerman, dan dua Piala Super Jerman.

Atas keberhasilannya itu, Klopp pun diganjar dengan penghargaan German Football Manager of the Year pada 2011 dan 2012.

Namun, sedari awal kedatangannya, pria berusia 52 tahun itu memahami bahwa tugasnya tak akan mudah.

Saat itu, Klopp mengatakan bahwa dia tak akan bisa mengubah prestasi  secara instan.   

Klopp memahami bahwa suporter Liverpool telah menunggu bertahun-tahun untuk  meraih gelar. Ia juga mengaku paham suporter mulai kehilangan kesabaran.

“Bukan begitu caranya. Beberapa hal akan berubah karena saya berbeda dengan manajer lain. Namun, kita tidak bisa mengubah seluruh dunia dalam satu hari," tutur Klopp saat awal-awal ditunjuk sebagai pelatih Liverpool.

Berkembang bersama Klopp

Terus berkembang. Begitulah gambaran umum yang bisa disematkan terhadap Liverpool di bawah arahan Klopp, utamanya kiprah di Premier League dan Liga Champions.

Pada musim 2015-2016, Si Merah memang “hanya” finis di urutan kedelapan, takluk di final Piala Liga Inggris (kalah adu penalti dari Man City), dan kalah dari Sevilla di final Liga Europa.

Namun, pada musim berikutnya, 2016-2017, performa Klopp menunjukkan grafik meningkat bersama Liverpool.

Pada klasemen akhir, The Reds menempati peringkat keempat sekaligus lolos ke Liga Champions.

Selanjutnya, pada musim 2017-2018, posisi Liverpool di klasemen akhir Premier League masih sama, yakni peringkat keempat.

Namun, Jordan Henderson dkk berhasil menembus final Liga Champions, meski di partai final kalah dari Real Madrid.

Teranyar, pada musim lalu, grafik Si Merah menanjak di kompetisi domestik. Klopp membawa Liverpool bersaing sengit dengan Man City hingga pekan terakhir Premier League, meski harus menerima kenyataan finis di posisi kedua.

Namun, “obat mujarabnya”, Klopp sukses membawa Liverpool menjuarai Liga Champions pada musim yang sama setelah menaklukkan Tottenham.

Manajer Liverpool asal Jerman Juergen Klopp merayakan trofi Liga Champions setelah memenangi pertandingan final antara Liverpool vs Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano di Madrid pada 1 Juni 2019.
AFP/OSCAR DEL POZO
Manajer Liverpool asal Jerman Juergen Klopp merayakan trofi Liga Champions setelah memenangi pertandingan final antara Liverpool vs Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano di Madrid pada 1 Juni 2019.

Torehan tersebut menjadi trofi pertama Klopp bersama Liverpool, sekaligus mengakhiri rentetan kegagalan dia di partai final. 

Keberhasilan tersebut juga memutus penantian 14 tahun Liverpool untuk menjadi raja Eropa.

Sebelumnya, kali terakhir publik Anfield meraih gelar tersebut adalah pada 2005 dengan menaklukkan AC Milan.

"Saya sangat bahagia untuk tim dan keluarga saya. Mereka menderita untuk saya, mereka layak mendapatkannya lebih dari siapa pun," ucap Klopp dikutip dari situs resmi UEFA, soal keberhasilan Liverpool menjuarai Liga Champions.

"Apakah Anda pernah melihat tim seperti ini, berkelahi tanpa 'bahan bakar di dalam tangki'? Kami memiliki kiper (Alisson Becker) yang membuat hal-hal sulit terlihat mudah. Ini adalah malam terbaik dalam kehidupan profesional kami," ucap Klopp.

Gelar Liverpool di Liga Champions

 

LIVERPOOL HARI INI

KEBERHASILAN Liverpool meraih trofi mayor pada era milenium ini tentu tidak terlepas dari peran Klopp.

Klopp mampu mengubah skuad Si Merah yang awalnya hanya “sekumpulan bocah menjadi sekumpulan manusia dewasa yang mengerti bagaimana cara bermain sepak bola”.

Skuad Liverpool saat ini berisikan pemain-pemain yang mampu menerjemahkan bahasa heavy metal-nya Klopp dalam formasi 4-3-3.

Di lini belakang, berdiri palang pintu tangguh bernama Alisson Becker, kiper yang sudah mengoleksi tiga sarung tangan emas pada 2019.

Maju sedikit ke depan, ada duet Virgil van Dijk-Joel Matip yang membuat Liverpool menjadi tim dengan pertahanan terkokoh di Liga Inggris musim lalu.

Hingga pekan ke-38, gawang Liverpool hanya kebobolan 22 gol.

Virgil van Dijk dan Andrew Robertson merayakan kemenangan timnya pada laga Liverpool vs Chelsea dalam lanjutan Liga Inggris di Stadion Anfield, 14 April 2019.
AFP/PAUL ELLIS
Virgil van Dijk dan Andrew Robertson merayakan kemenangan timnya pada laga Liverpool vs Chelsea dalam lanjutan Liga Inggris di Stadion Anfield, 14 April 2019.

Tidak hanya piawai menjaga pertahanan, bek Liverpool juga berkontribusi terhadap gol-gol yang dihasilkan.

Andrew "Andy" Robertson dan Trent Alexander-Arnold menjadi dua bek sayap dengan catatan assist tertinggi di Liga Inggris musim lalu.

Total, mereka memproduksi sebanyak 23 assist, 11 untuk Robertson dan 12 sisanya menjadi milik Alexander-Arnold.

Bergeser ke tengah. Barisan gelandang Liverpool memiliki kemampuan hampir sama baiknya antara pemain inti dengan pelapis.

Maka, susunan pemain di sektor tengah ini sering berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan tim.

Biasanya, hanya Jordan Henderson yang kebal dari rotasi, sedangkan pemain lainnya macam Fabinho, Naby Keita, James Milner, hingga Georginio Wijnaldum, harus rela menunggu giliran bermain.

Lini depan Liverpool menjadi bagian yang "tidak tersentuh". Sektor itu sudah menjadi hak milik trio "Firmansah" alias Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah.

Melalui trio ini, Liverpool rajin mencetak gol. Melalui trio ini juga Liverpool meraih kemenangan.

Trio Firmansah - Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah - merayakan gol Liverpool ke gawang West Ham pada pertandingan Liga Inggris di Anfield, 12 Juni 2018.
AFP/OLI SCARFF
Trio Firmansah - Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah - merayakan gol Liverpool ke gawang West Ham pada pertandingan Liga Inggris di Anfield, 12 Juni 2018.

Statistik Liga Inggris musim lalu mencatat, dari 89 gol yang dicetak Liverpool musim lalu, 56 di antaranya disumbangkan oleh trio maut itu.

Bahkan, Sadio Mane dan Mohamed Salah diganjar penghargaan sepatu emas berkat keberhasilannya menjadi top skor di ajang tertinggi tanah Britania dengan 22 golnya.

Gelontoran gol trio ini juga membawa Liverpool membukukan 30 kemenangan di Liga Inggris musim lalu. Jumlah itu merupakan yang terbanyak dalam sejarah klub.

Pemain langka Liverpool

Kini, Liverpool bersiap menyambut musim baru. Geliat Si Merah dalam bursa transfer pada tahun ini tak begitu mencolok.

Bursa transfer Liga Inggris yang akan ditutup pada 8 Agustus 2019 tampaknya "tidak dimanfaatkan dengan benar" oleh Liverpool.

Liverpool baru berhasil mengamankan jasa bek "bau kencur" yang belum genap berusia 20 tahun, yakni Sepp van den Berg dari PEC Zwolle dan kiper 16 tahun dari Legia Warsawa, yakni Jakub Ojrzynski.

Teranyar, lagi-lagi The Reds membeli darah muda. Liverpool merekrut pemain sayap berusia 16 tahun, Harvey Elliott, dari Fulham. 

Selain itu, tercatat, hingga saat ini, Liverpool telah melepas beberapa pemain, termasuk Alberto Moreno dan Daniel Sturridge, yang dibiarkan hangus kontraknya.

Sepp van den Berg menandatangani kontrak bersama Liverpool, 27 Juni 2019.
DOK. LIVERPOOLFC.com
Sepp van den Berg menandatangani kontrak bersama Liverpool, 27 Juni 2019.

Kondisi itu berbeda dengan musim-musim sebelumnya saat Klopp merekrut Virgil van Dijk dan Allison Becker.

Klopp mendatangkan bek Virgil van Dijk dari Southampton dengan harga 75 juta poundsterling atau setara Rp 1,4 triliun. Adapun kiper Alisson Becker didatangkan dari AS Roma dengan nilai transfer 67 juta pounds atau Rp 1,25 triliun.

Pembelian-pembelian amunisi belia itu tentu saja masih membutuhkan pembuktian. Irit di bursa transfer dan memberi kesempatan kepada pemain muda memang secara tersirat telah diembuskan oleh Klopp.

"Saya melihat permainan yang sangat bagus dan Rhian Brewster (striker muda Liverpool berusia 19 tahun) adalah pemain yang fantastis," kata Klopp seusai menang 6-0 atas Tranmere Rovers pada laga uji coba pramusim, Jumat (12/7/2019). 

"Kami sudah mendatangkannya. Oxlade-Chamberlain (kembali dari cedera), Rhian Brewster, mereka tidak bermain tahun lalu. Semua pemain muda yang bermain hari ini, mereka adalah pemain baru buat kami,” ujarnya kepada Sky Sports News.

Klopp bisa saja merasa bahwa skuad yang dia miliki sebelumnya "sudah lebih dewasa" sehingga terkesan tidak memerlukan belanja besar-besaran pada bursa transfer musim ini.

Akan tetapi, seusai laga melawan Tranmere Rovers itu, performa Liverpool dapat dikatakan meragukan, meski hanya di laga-laga pramusim.

Gelandang Liverpool Harry Wilson (kiri) berselebrasi dengan rekan satu tim setelah mencetak gol saat melawan Borussia Dortmund pada laga persahabatan internasional di Stadion Notre Dame di South Bend, Indiana, 19 Juli 2019.
AFP/KAMIL KRZACZYNSKI
Gelandang Liverpool Harry Wilson (kiri) berselebrasi dengan rekan satu tim setelah mencetak gol saat melawan Borussia Dortmund pada laga persahabatan internasional di Stadion Notre Dame di South Bend, Indiana, 19 Juli 2019.

Pasukan Anfield tak meraih kemenangan saat menjalani laga tur pramusim di Amerika Serikat, yakni kalah 2-3 dari Borussia Dortmund, takluk 1-2 dari Seviila, dan imbang 2-2 dengan Sporting CP.

Jordan Henderson dkk juga harus menerima kekalahan telak 0-3 dari Napoli di Skotlandia. Hasil yang mesti menjadi "alarm" bagi penggawa Klopp.

Dari hasil pramusim itu, Klopp masih bisa "berlindung" karena Liverpool belum diperkuat beberapa pemain terbaiknya.

Pada laga-laga tersebut, Liverpool bermain tanpa Mohamed Salah, Alisson Becker, Sadio Mane, dan Roberto Firmino, yang sedang membela timnas masing-masing.

Adapun Xherdan Shaqiri dan Naby Keita juga absen karena masih cedera.

"Kehilangan enam pemain itu aneh. Anda kehilangan pemain selama pramusim, kami terbiasa dengan itu terjadi dari waktu ke waktu," tutur Klopp.

"Namun, tahun ini mereka bahkan tidak memulai dari awal, hari sebelum atau setelah kami memulai musim, itu tidak baik," ujarnya.

Setelah itu, memang, untuk sementara alasan Klopp ada benarnya. Hal itu karena pada laga pramusim terakhir melawan Lyon, Rabu (31/7/2019), The Reds menang dengan skor 3-1, sekembalinya Mohamed Salah, Alisson Becker, dan Roberto Firmino.

Mohamed Salah tampak tersenyum seusai berebutan bola dengan Jason Denayer pada laga Liverpool vs Lyon di Jenewa, 31 Juli 2019.
AFP/FABRICE COFFRINI
Mohamed Salah tampak tersenyum seusai berebutan bola dengan Jason Denayer pada laga Liverpool vs Lyon di Jenewa, 31 Juli 2019.

Sebelumnya, sang pelatih pun menjanjikan bahwa pasukannya akan menjadi "binatang" yang berbeda untuk pekan ini, bertepatan dengan jelang laga Community Shield melawan Manchester City pada Minggu (4/8/2019) di Stadion Wembley.

"Kami menyiapkan semua pemain sebaik mungkin. Kami harus bertarung di awal untuk musim 100 persen, dengan semua yang kami miliki," kata Klopp dikutip dari SkySports.

"Jika lawan ingin menganalisis kami sekarang, mereka akan berpikir itu mudah, tetapi kami akan menjadi 'binatang' yang berbeda," ucapnya.

Akan tetapi, berkaca dari manuver transfer dan hasil pramusim, rasanya tak ada salahnya jika Klopp memahami bahwa ada satu jenis pemain "langka" yang hingga saat ini tidak dimiliki Liverpool, yaitu pemain yang mengerti bagaimana caranya menjadi juara, juara Liga Inggris, musim ini.

Jadi, siap akhiri penantian juara Liga Inggris pada tahun ke-30, atau kembali next year, Liverpool?

Terkait hal itu, kata-kata dari legenda Liverpool, Bill Shankly, di awal tulisan ini layak untuk diulang kembali bagi pasukan Si Merah.

"Jika Anda yang pertama, Anda yang pertama. Jika Anda yang kedua, Anda bukan apa-apa…"

Walk on, walk on, with hope in your heart...
And you'll never walk alone...