JEO - Ekonomi

8 Hal Terdampak Pelemahan Rupiah yang Tembus Rp 14.000 per Dollar AS

Senin, 21 Mei 2018 | 18:33 WIB

Setidaknya ada delapan hal terdampak pelemahan rupiah. Apa sajakah itu?

 

KURS rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih memperlihatkan tren pelemahan.

Selama pekan 7-11 Mei 2018, misalnya, kurs rupiah selalu melewati Rp 14.000 per dollar AS di pasar spot. Sempat rebound tipis pada akhir perdagangan Jumat (11/5/2018), rupiah kembali terempas melewati Rp 14.000 per dollar AS pada awal pekan berikutnya.

Pertanyaannya, apa saja yang terdampak bila kurs rupiah melemah?

1.Gadget dan teknologi

Sebagian besar gadget—seperti telepon seluler (ponsel), tablet, dan laptop—yang beredar di Indonesia merupakan produk impor. Otomatis, harga jualnya di sini juga menyesuaikan dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

THINKSTOCKS
Ilustrasi internet of things.

Kalaupun sebagian barang ini dibuat di dalam negeri, komponennya masih banyak didatangkan dari luar negeri. Teknologi tinggi juga demikian.

Teknologi tinggi yang dimaksud mulai dari mesin-mesin produksi pabrik atau perusahaan, mesin sepeda motor dan mobil—bahkan kendaraan bermotornya—hingga mesin pesawat terbang.

2. Komoditas

Ada sejumlah komoditas yang kita pakai sehari-hari masih mengandalkan impor untuk pemenuhannya. Jangan bayangkan komoditas adalah barang-barang yang jauh dari keseharian kita.

Kedelai untuk bahan baku tempe, misalnya, sebagian besar masih dipasok dari impor.

KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI
Ilustrasi kedelai

Selain bahan baku tempe, kedelai juga merupakan bahan dasar pembuatan kecap dan tauco. Di antara pemasok utama kedelai bagi Indonesia adalah Amerika Serikat dan Brasil.

Indonesia sejatinya juga produsen kedelai. Namun, angka produksinya tak mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

Berikut ini contoh data impor komoditas selain minyak dan gas (migas) dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS):

Data Impor Indonesia Januari 2017 dan 2018

Dari data di atas, coba saja kalikan dengan kurs Rp 13.500 per dollar AS dan kurs Rp 14.000 per dollar AS untuk mendapatkan selisih yang harus ditambah-bayarkan hanya karena pelemahan nilai tukar.

3. Asumsi makro

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018—seperti halnya APBN atau APBN Perbaikan (APBN-P) tahun-tahun sebelumnya—punya terminologi "asumsi makro". Frasa tersebut berisi asumsi dasar bagi ekonomi makro yang menjadi basis perhitungan APBN.

Isinya bisa dilihat di infografik berikut ini:

Asumsi Makro APBN 2018

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan berpengaruh terhadap asumsi-asumsi tersebut, baik langsung maupun tidak. Gambarannya dapat terus disimak di poin-poin berikutnya, beserta ilustrasi perhitungannya.

4. Acuan kurs

Dari asumsi makro di atas, kurs alias nilai tukar rupiah terhadap dollar AS jelas yang pertama terdampak. APBN 2018 menggunakan proyeksi kurs rupiah adalah Rp 13.400 per dollar AS.

Faktanya, belum sampai tengah tahun anggaran, nilai tukar rupiah sudah tergerus melebihi Rp 14.000 per dollar AS.

Merujuk Bloomberg, kurs rupiah terhadap dollar AS per 9 Mei 2018 merupakan yang terendah dalam 28 bulan terakhir, berlanjut lagi dengan kurs pada 16 Mei 2018 merupakan yang terendah dalam 41 bulan terakhir.

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah sampai 9 Mei 2018

Masih berlanjut lagi, kurs rupiah pada Senin (21/5/2018) di pasar spot ditutup di level Rp 14.190 per dollar AS. Adapun di kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah ada di posisi Rp 14.176 per dollar AS.

Kurs dalam asumsi makro ini antara lain dipakai untuk menghitung neraca transaksi berjalan, yang di dalamnya mencakup ekspor dan impor, dan neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang mencatat semua transaksi dengan negara lain.

Selain itu, asumsi makro kurs ini juga menjadi patokan sekaligus proyeksi untuk menakar tanggungan utang luar negeri Indonesia, sebagai salah satu komponen dalam catatan NPI. Jangan lupa, utang termasuk bunga yang dikenakan pula.

5. Utang luar negeri

Per akhir Januari 2018, utang luar negeri Indonesia menurut Bank Indonesia tercatat 357,5 miliar dollar AS. Memakai kurs saat publikasi dibuat, nilai utang itu dalam rupiah adalah sekitar Rp 4.916 triliun.

THINKSTOCKS/WAVEBREAKMEDIA LTD
Ilustrasi utang

Menggunakan kurs Jisdor pada Senin (21/5/2018) di posisi Rp 14.176 per dollar AS, angka utang Indonesia per Januari 2018 itu menjadi Rp 5.068 triliun. Selisih nilai kurs sudah melonjakkan tagihan utang dengan tambahan Rp 152 triliun.

Dari total jumlah utang tersebut, rinciannya adalah 183,4 miliar dollar AS merupakan utang negara, sementara 174,2 miliar dollar AS utang swasta. Konsekuensi dari utang negara dan utang swasta tentu saja beda.

Masalahnya, ada saja utang swasta yang ujung-ujungnya juga berdampak pada keuangan negara, misalnya atas nama stabilitas ekonomi. Dalam soal fluktuasi tak terkendali nilai tukar rupiah, Indonesia pernah punya sejumlah catatan buram ketika negara harus mengeluarkan uang untuk perusahaan swasta yang kolaps terhantam imbas pelemahan nilai rupiah.

6. Ongkos energi

Apa pula hubungan energi dengan nilai tukar rupiah?

Dalam asumsi makro, ada tiga indikator yang mengaitkan energi dengan fluktuasi nilai tukar rupiah. Tiga indikator itu adalah harga minyak dunia, serta angka lifting minyak dan gas (migas).

Hubungan ketiga indikator itu dengan nilai tukar rupiah adalah fakta bahwa sejak 2013 Indonesia merupakan net importer minyak dan dalam kisaran dua atau tiga dekade lagi sangat mungkin menjadi net importer gas pula.

Data Produksi Minyak dan Gas Indonesia

Dari target lifting minyak 800.000 barrel per hari misalnya, data SKK Migas menyebutkan realisasi per Maret 2018 adalah 817.8000 barrel per hari. OK, masih lebih dari target. Tantangannya, konsumsi minyak Indonesia sampai saat ini rata-rata adalah 1,6 juta barrel per hari.

Kekurangan pasokan untuk memenuhi kebutuhan minyak itu, tentu saja, dipenuhi dari impor. Nah, nilai impor dan kemampuan produksi di dalam negeri saja jumlahnya sudah separo-separo. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS makin besar angkanya.

Sudah begitu, harga minyak dalam asumsi makro dipatok 48 dollar AS per barrel. Faktanya, harga minyak dunia di pasar New York (WTI) dan Inggris (Brent) yang paling jamak jadi rujukan per 9 Mei 2018 sudah lebih dari 70 dollar AS per barrel.

Harga Minyak Dunia per 9 Mei 2018

Katakanlah Indonesia mengimpor 800.000 barrel minyak per hari, lalu harga jual minyak kita pakai 70 dollar AS per barrel, harga yang harus dibayarkan buat minyak per hari sudah berselisih 17,6 juta dollar AS, antara proyeksi berdasarkan asumsi makro (38,4 juta dollar AS) dan kenyataan (56 juta dollar AS).

Karena kita membayar komoditas seperti ini memakai dollar AS, selisih kurs membuat pembayaran makin melejit lagi.

Katakanlah kita pakai kurs Rp 14.000 per dollar AS pada hari ini dan Rp 13.750 dollar AS per Januari 2018, untuk banderol minyak dunia yang sama di level 70 dollar AS per barrel, harga yang dibayar pada hari ini adalah Rp 784 miliar per hari sementara harga pada Januari 2018 adalah Rp 770 miliar.

Ujung-ujungnya, harga bahan bakar energi yang sekarang sudah tak banyak lagi mendapat subsidi sangat mungkin bakal semakin mahal. O,iya, migas bukan cuma buat bahan bakar kendaraa bermotor, tetapi juga masih menjadi "darah" buat produksi listrik.

7. Neraca transaksi berjalan

Sepanjang 2018, neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia mencatatkan defisit, kecuali pada Maret 2018. Artinya, impor melebihi ekspor, valuta asing yang dibayarkan lebih banyak daripada yang masuk.

Ekspor dan Impor Indonesia per April 2018

Saat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah, harga "impor" yang harus dibayar dari pundi-pundi domestik dalam bentuk rupiah pun makin banyak. Ketika disusun dalam neraca, makin njomplang-lah angka duit yang menjadi pendapatan dan pengeluaran.

Dalam catatan beragam lembaga, beban defisit neraca transaksi berjalan Indonesia sebenarnya sudah menyesakkan sejak 2011. Faktor yang paling jadi persoalan adalah impor energi yang makin tinggi.

8. Cadangan devisa

Selain harga barang impor yang akan makin mahal dengan pelemahan kurs rupiah terhadap dollar AS, cadangan devisa pun akan terdampak.

Betul, cadangan devisa tidak hanya berasal dari neraca transaksi berjalan. Ada sejumlah instrumen lain yang dapat menebalkan atau menguras angka cadangan devisa.

Ilustrasi cadangan devisa

Selain transaksi berjalan, ada pula pengaruh transaksi modal dan moneter—komponen lain dalam perhitungan neraca pembayaran—yang akan mempengaruhi simpanan penyangga perekonomian negara ini.

Namun, neraca transaksi berjalan yang terus defisit sudah pasti tidak akan membantu perbaikan cadangan devisa pula, bukan?

Sempat mencatatkan rekor 131,98 miliar dollar AS pada Januari 2018, cadangan devisa kembali turun hingga mendekati posisi pada awal 2017.

Per akhir April 2018, angka cadangan devisa sebagaimana dikutip dari situs Bank Indonesia adalah 124,9 miliar dollar AS.

Cadangan devisa Indonesia, November 2017-April 2018

Terlebih lagi, salah satu fungsi utama cadangan devisa yang dikelola bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah lewat intervensi.

Apa pula intervensi bank sentral terhadap kurs? Sederhananya, bank sentral akan melepas simpanan valuta asingnya saat rupiah melemah, dan sebaliknya membeli valuta asing saat rupiah dinilai terlalu kuat.

Saat kurs melemah, bank sentral melepaskan simpanan cadangan devisa yang dikelolanya ke pasar uang, dengan harapan menahan laju penguatan dollar AS karena penambahan volume mata uang itu di peredaran.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri Indonesia pada akhir Januari 2018 meningkat 10,3 persen (yoy) menjadi 357,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.915 triliun (kurs Rp 13.750 per dollar AS) Adapun rinciannya adalah 183,4 miliar dollar AS atau setara Rp 2.521 triliun utang pemerintah dan 174,2 miliar dollar AS atau setara Rp 2.394 triliun utang swasta.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Naik 10 Persen, Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp 4.915 Triliun", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/15/173657526/naik-10-persen-utang-luar-negeri-indonesia-capai-rp-4915-triliun.
Penulis : Yoga Hastyadi Widiartanto
Editor : Erlangga Djumena
Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri Indonesia pada akhir Januari 2018 meningkat 10,3 persen (yoy) menjadi 357,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.915 triliun (kurs Rp 13.750 per dollar AS) Adapun rinciannya adalah 183,4 miliar dollar AS atau setara Rp 2.521 triliun utang pemerintah dan 174,2 miliar dollar AS atau setara Rp 2.394 triliun utang swasta.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Naik 10 Persen, Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp 4.915 Triliun", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/15/173657526/naik-10-persen-utang-luar-negeri-indonesia-capai-rp-4915-triliun.
Penulis : Yoga Hastyadi Widiartanto
Editor : Erlangga Djumena