JEO - Entertainment




Biduan Dangdut Milenial

Senin, 15 Oktober 2018 | 19:10 WIB

Musik dangdut kini tidak lagi identik dengan goyang dan pakaian seksi. Penyanyi dangdut generasi milenial justru tampil imut ala bintang-bintang K-pop.

Di antara sekian banyak penyanyi dangdut muda, ada empat nama yang sangat menonjol. Mereka adalah Via Vallen, Nella Kharisma, Lesti D'Academy, dan Siti Badriah.

Mereka memiliki jutaan penggemar fanatik. Tawaran manggung dari seluruh Indonesia seakan tidak pernah berhenti untuk mereka.

Via Vallen

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Penyanyi Via Vallen (tengah) menyanyikan salah satu lagu Theme Song Asian Games 2018 dalam Konser 50 Hari Menuju Asian Games 2018 di Jakarta, Sabtu (30/6). Dalam konser tersebut Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) secara resmi meluncurkan Theme Song Asian Games 2018 berjudul Meraih Bintang yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut Via Vallen. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/pras/18

Nama Via Vallen masuk sebagai salah satu penyanyi dangdut kekinian yang tengah naik daun. Lewat lagu “Sayang”, dara berusia 16 tahun ini menjelma dari pedangdut pantai utara Jawa (pantura) menjadi biduan nasional.

Penampilannya yang kekinian semakin menunjang popularitasnya. Via kerap dikaitkan dengan beberapa artis Korea karena pilihan riasan ataupun gaya berpakaiannya.

Via mengawali kiprahnya sebagai penyanyi sejak kelas 2 SMP. Awalnya, dia pernah mengamen gara-gara melihat teman-temannya bisa mendapat uang dari berkeliling menjual suara.

"Dulu Via tinggal di lingkungan yang penuh banget pengamen, terus akhirnya Via ikut mereka ngamen," kata Via kala itu.

Ia melakukan itu karena ingin membeli barang dengan hasil jerih payah sendiri. Dari situ, ia mulai ketagihan untuk terus mendapatkan uang dengan mengamen.

"Dulu kan Via (hidup) susah ya, mau beli baju baru saja nunggu Lebaran dulu. Jadi setahun sekali beli baju baru. Akhirnya dari ngamen itu Via bisa beli baju, buat jajan sekolah," ucapnya.

Semua itu dilakukannya tanpa sepengetahuan kedua orangtua. Ketika tahu kegiatan itu, ayah dan ibu Via langsung membawanya pulang.

"Tapi ya karena Via suka, ngerasa punya penghasilan sendiri itu enak banget, jadi masih suka nyolong-nyolong ngamen," imbuhnya.

Kebiasaan itu justru mendatangkan hasil positif. Prestasi Via semakin mentereng. Kelahiran Surabaya, 30 September 1991, itu dipercaya menjadi penyanyi official theme song Asian Games 2018 berjudul “Meraih Bintang”.

Via dipilih karena ia mewakili dangdut sebagi musik khas Indonesia, sekaligus mengenalkan dangdut ke Asia.

Senang banget sih karena akhirnya lagu yang Via bawain yang notabene bermusik dangdut dicover di berbagai negara. Suatu kebanggaan buat Via dan musik dangdut khususnya

Benar saja, "Meraih Bintang" begitu sukses. Lagu pemberi semangat itu selalu mampir di telinga sebelum atau setelah para atlet bertanding. Tembang ciptaan Pay dan Rastamanis itu juga dinyanyikan kembali (cover) oleh sejumlah penyanyi.

"Senang banget sih karena akhirnya lagu yang Via bawain yang notabene bermusik dangdut di-cover di berbagai negara. Suatu kebanggaan buat Via dan musik dangdut khususnya," ucap Via.

Saat membawakan "Meraih Bintang" pada acara Pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 18 Agustus, Via tampil ciamik.

Lagu itu membuat para atlet dan penonton acara tak berhenti menari. Presiden Joko Widodo bahkan turut bergoyang dayung karena lantunan Via. Kehebohan ini menjadi perbincangan hangat para warganet di jagat maya.

Dengan berbagai prestasinya, Via Vallen berhasil membungkam berbagai isu miring yang kerap menerpanya.

Via Vallen

 

Nella Kharisma

SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Penyanyi dangdut Nella Kharisma menghibur ratusan penonton dalam perayaan HUT Ke-55 SMKN 2 Malang di Lapangan SMKN 2, Kota Malang, pada 31 Januari 2018.

Nama Nella Kharisma melambung tinggi sejak melakukan debut dengan singel "Konco Mesra". Nella merupakan penyanyi dangdut pantura yang juga kerap membawakan genre dangdut koplo.

Ia mengenal tarik suara sejak berumur 3 tahun. Saat itu, Nella kecil kerap ikut nyinden di beberapa pagelaran wayang di Kediri, Jawa Timur.

Saat duduk di kelas 3 SMP, Nella sudah bernyanyi dari panggung ke panggung dengan diiringi musik organ tunggal. Kariernya semakin terang saat bergabung dengan orkes melayu “Lagista” pimpinan Cak Rull.

Pada tahun 2017, Nella resmi bergabung dengan label Nagaswara dan merilis singel perdananya berjudul "Konco Mesra 2017".

 

Di tahun itu pula Nella begitu populer diperbincangkan berkat lagu “Jaran Goyang”.  Penampilannya yang tak kalah imut dari bintang K-pop membuat Nella bisa merangkul kalangan milenial.

Nella itu menguasai Jawa Timur. Dia tidak mau ditarik ke tingkat nasional. Dia di sana sudah punya lahan, dia sudah menghasilkan di sana

Seperti Via Vallen, Nella juga tampil kekinian dengan balutan busana unik dan jauh dari kesan bling-bling. Tak ada liuk tubuh sensual saat ia unjuk kebolehan. Suaranya yang khas ditunggu-tunggu oleh penonton.

Perempuan kelahiran Kediri, 4 November 1994, ini pun menjelma menjadi biduan dangdut masa kini. Setiap panggung yang menghadirkan dirinya selalu penuh penonton. Lagu-lagu miliknya pun diputar di mana-mana.

Namun, Nella menolak terlalu sering tampil di televisi. Alasannya, penampilan terakhirnya di televisi justru mendapatkan komentar negatif warganet.

Lagu “Jaran Goyang” juga membuat para atlet dan penonton bergoyang di upacara penutupan Asian Games 2018, tetapi kala itu dibawakan oleh penyanyi lain, yakni Siti Badriah.

Nella juga kerap dibandingkan dengan rekan seprofesinya, Via Vallen. Fans garis keras keduanya membuat seakan di antara Via dan Nella ada sebuah rivalitas.

Baik Via maupun Nella menampik hal ini. Keduanya bahkan siap jika harus berkolaborasi.

Nella Kharisma

 

Lesti D’Academy

KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG
Lesti DAcademy diabadikan di Yonder House, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018).

Begitu tampil di ajang pencarian bakat dangdut D’Academy, nama Lesti Andryani langsung mencuri perhatian. Suara gadis berusia 19 tahun itu terdengar begitu matang saat membawakan cengkok dangdut klasik.

Lesti mulai akrab dengan dangdut dari panggung ke panggung sejak kelas 2 SD. Usianya waktu itu baru 8 tahun.

Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Cianjur, Jawa Barat, pada 2014, Lesti mengikuti audisi D'Academy musim pertama di Bandung.

Suara emasnya mengantar Lesti mendapatkan Golden Ticket untuk langsung mengikuti konser nominasi.

Perjalanan Lesti di ajang D’Academy tidaklah mulus. Ia beberapa kali mendapatkan kritik dari para juri. Namun, pada Juni 2014, namanya keluar sebagai juara ajang tersebut.

Maka dimulailah jalan hidup Lesti sebagai penyanyi dangdut kenamaan. Ia dikirim untuk mengikuti D’Academy Asia pada 2015. Di acara itu, Lesti mewakili Indonesia dan bersaing dengan penyanyi bergenre melayu dangdut di Asia. Lesti keluar sebagai runner up.

Singel perdana milik Lesti yang berjudul “Kejora” lantas diluncurkan. Namanya disambut hangat oleh penggemar dangdut Tanah Air. Lesti dianggap mewakili generasi masa kini dangdut asli.

Dede nyanyi yang Kejora. Itu rasanya sampai Dede enggak bisa tidur. Benar enggak sih Dede tadi nyanyi di depan Pak Jokowi dan yang paling bangga lagi Pak Jokowi ngikutin Dangdut Academy

Suaranya yang mendayu-dayu dan melengking dengan mulus melahap lagu-lagu dangdut klasik. Penampilannya juga dikemas modern dengan gaun dan kostum kekinian.

Lesti membuat anak muda melek dangdut klasik di tengah gempuran dangdut koplo dan house dangdut yang tengah laris di pasaran.

Lesti bahkan pernah diundang untuk tampil di Singapura, di hadapan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Saat itu Lesti merasa sangat grogi. Belum lagi Jokowi mengaku kerap menyaksikan penampilan Lesti di televisi.

“Dede (panggilan Lesti) nyanyi yang 'Kejora'. Itu rasanya sampai Dede enggak bisa tidur. Benar enggak sih Dede tadi nyanyi di depan Pak Jokowi dan yang paling bangga lagi, Pak Jokowi ngikutin Dangdut Academy. Aduh seneng banget sih,” katanya kala itu.

Yang terbaru, Lesti disebut akan melakukan kolaborasi dengan seorang penata musik dunia. Proyek kerja sama itu sebenarnya sudah tercetus sejak tahun lalu. Namun, karena masalah jadwal, kerja bareng tersebut terpaksa ditunda.

"Waktu itu sempat 2017 ada rencana garap lagu di sana (Amerika) dengan salah satu arranger musik terkenal di sana," kata Lesti.

"Tapi karena banyak pertimbangan sekolah dan takutnya proyek di Indonesia yang sudah terencana lama jadi terbengkalai, jadinya singel itu nanti ditunda dulu, tapi insya Allah tahun ini kalau ada waktunya akan dilanjutin," tambahnya.

Lesti belum mau mengungkap siapa musisi dunia yang bakal bekerja sama dengannya nanti. "Belum boleh dibocorin. Dia terkenal banget. Dia senior di sana. Pokoknya ada deh he-he-he," ujarnya.

CEO Yonder Music Adam Kidron yang baru memilih Lesti sebagai duta platformnya, menambahkan bahwa Lesti bakal terbang ke Negeri Paman Sam untuk melakukan rekaman.

"Yang bisa saya katakan adalah janji saya pada Lesti bahwa dia akan melakukan kolaborasi besar dalam 12 bulan ke depan. Rekaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Lesti sudah punya visa AS, kami siap melakukan rekaman untuk Lesti," ujar Kidron.

Bagi Lesti, ini adalah mimpinya yang akhirnya akan terwujud dalam waktu dekat.

"Mimpi aku ingin sekali menginternasionalkan lagu dangdut dengan caranya Lesti. Ingin memperkenalkan lagu dangdut yang orisinal di luar sana. Juga pengin punya lagu dangdut dengan kemasan yang modern," timpal Lesti.

Lesti D'Academy

 

Siti Badriah

KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG
Penyanyi dangdut Siti Badriah meluncurkan album Lagi Syantik di kawsan Cideng, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2018).

Siti Badriah atau yang karib disapa Sibad mencuri perhatian dengan lagu “Berodong Tua” pada tahun 2012. Lagu bergenre dangdut dance itu berhasil membuat nama Siti melejit.

“Bapakku punya orkes musik, kakak aku main keyboard, yang satunya gendang, yang satunya gitar. Jadi satu keluarga memang keluarga dangdut,” ungkap Siti.

Sempat mendapatkan cibiran orang. Sama keluarga besar dari Bapak sama Emak juga enggak boleh biasanya kan dapat saweran omongannya enggak enak aja

Bahkan kala itu Siti dan keluarga sempat manggung lewat gerobak dorong yang berisikan beberapa alat musik dangdut. Hal itu memungkinkan Siti untuk manggung di mana saja.

“Setiap lihat gerobak dorong isi sound selalu ingat sama kenangan dulu aja dari pangung ke panggung, dari gerobak dorong. Aku belajar nyanyi lihat bapak, kakak aku nyari uang dari dangdut," katanya.

Meskipun mengawali dari orkes dangdut keluar, bukan hal mudah bagi Sibad, sapaannya, untuk merintis karier menjadi penyanyi.

"Sempat mendapatkan cibiran orang. Sama keluarga besar dari Bapak sama Emak juga enggak boleh. Biasanya kan dapat saweran, omongannya enggak enak aja," kata Siti lagi.

"Aku putus sekolah gara-gara nyanyi dangdut aja diomongin. Putus sekolah setelah SMP kelas 1. Enggak lanjut karena memang orangtua tidak mampu membiayai aku," ujarnya.

Perjalanan hidupnya berubah setelah menjadi penyanyi dangdut nasional. Beberapa singelnya laris di pasaran seperti “Bara Bere” dan “Mama Minta Pulsa”. Perekonomian keluarganya pun membaik.

Nama Siti semakin diperhitungkan setelah ia membawakan “Lagi Syantik”, lagu bergenre dangdut EDM itu berhasil merebut hati pendengar musik dangdut.

Pada Juli 2018, tembang “Lagi Syantik” bertengger di tangga lagu Billboard YouTube. Singel ciptaan Yogi RPH itu menempati posisi ke-12. Torehan itu mengalahkan "Despacito", singel Luis Fonsi & Daddy Yankee feat Justin Bieber yang pernah meledak. "Despacito" berada di posisi 18.

Di Youtube, lagu “Lagi Syantik” sudah ditonton lebih dari 337 juta kali. Di atasnya, ada "DDU-DU DDU-DU" dari BLACKPINK di urutan ketujuh serta "No Tears Left To Cry" milik Ariana Grande yang menghuni posisi kedelapan.

Siti lantas mendapatkan kesempatan untuk tampil di acara penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Sibad tampil begitu kekinian karena hit miliknya yang berkolaborasi dengan dua disc jockey yakni, Jevin Julian dan Wingky Wiryawan.

Ramuan beat mengentak dari Jevin dan Winky menambah semarak "Lagi Syantik". Sementara Siti Badriah tampil seperti biasa membawakan singel andalannya itu.

Ia terlihat segar dengan busana warna kuning dan rambut dikuncir. Sebelumnya, Siti Badriah membawakan lagu "Jaran Goyang" yang dipopulerkan pendangdut Nella Kharisma, juga dengan arensemen baru.

Siti mengaku sangat bangga sekaligus grogi mendapatkan kesempatan tampil dalam perhelatan semegah itu.

“Senang banget, bangga ya enggak nyangka sih karena ternyata 'Lagu Syantik' ini bisa membawa Sibad ke penonton sebanyak itu gitu. Tapi pas mau naik stage agak nervous karena tahu yang nonton banyak dari pemimpin-pemimpin negara juga,” ungkap Siti.

Siti Badriah

 

Primadona

Pengamat musik, Bens Leo, berpendapat bahwa Via Vallen dan Nella Kharisma ini menjadi primadona generasi milenial yang menyukai genre musik dangdut.

Via, kata Bens, menjadi terkenal lewat tembang lagu "Sayang". Lagu tersebut seolah mengena nyaris di semua lapisan masyarakat.

"Berkat satu lagunya yang populer, dia akhirnya manggung di mana-mana. Dia juga akhirnya menjadi penyanyi dangdut yang mengisi theme song Asian Games," ujar Bens kepada Kompas.com.

Ben takjub atas popularitas Via yang makin meroket. Baru 2 tahun berada di industri musik nasional, Via menjadi incaran para pengiklan yang ingin menjadikannya brand ambassador produk mereka.

"Itu satu kelas yang tidak pernah dicapai pendatang baru lain," kata Bens.

Melihat Nella Kharisma, Bens menilai penyanyi asal Kediri, Jawa Timur, itu sekaliber Via.

Sepengetahuan Ben, Nella memilih untuk tetap bertahan menjadi penyanyi lokal, khususnya di Jawa Timur. Pekerjaan manggung Nella pun tidak ada habisnya di daerahnya.

"Nella itu menguasai Jawa Timur. Dia tidak mau ditarik ke tingkat nasional. Dia di sana sudah punya lahan, dia sudah menghasilkan di sana," ujar Bens.

"Mereka adalah dua penyanyi di luar institusi, tapi begitu populer," sambung Bens.

Adapun penyanyi yang populer lewat institusi adalah Lesti Andryani. Nama Lesty menggaung berkat menjadi juara ajang pencarian bakat D'Academy musim pertama.

Secara keilmuan, Lesty bisa dibilang paling unggul. Menurut Bens, Lesty lahir dari sebuah kompetisi yang dikarantina. Selama proses karantina, Lesty banyak belajar soal teknis menyanyi dan sebagainya.

"Dia masuk karantina belajar soal teknik bernyanyi, make up, busana, dan attitude," kata Bens.

Busana dan Goyangan

Jika dulu sering penyanyi dangdut dianggap mengenakan busana dan bergoyang erotis, penyanyi dangdut muda seperti Via Vallen mulai mengubah citra itu. Mereka tampil lebih elegan dan mengikuti tren busana kaum muda, termasuk fashion ala Korea.

Dangdut saat ini karena tidak lepas dari peran Ivan Gunawan. Bagaimana dia menyesuaikan para kontestan di setiap penampilannya. Hingga saat ini gaya busana penyanyi dangdut seperti sekarang.

Bens berpendapat, penampilan penyanyi dangdut berubah semenjak ada kompetisi untuk penyanyi dangdut. Saat itu, ada Kontes Dangdut TPI atau KDI 1 yang digelar pada 2004.

Menurut Bens, penampilan biduan dangdut berubah menjadi lebih sopan dan elegan, tidak kalah dengan para penyanyi pop, misalnya. Semua itu untuk menyesuaikan acara di sebuah televisi yang harus sopan.

"Memang di televisi didesain seperti itu," kata Bens.

Yang menjadi inisiator dari perubahan penampilan penyanyi dangdut adalah perancang busana Ivan Gunawan. Ivan, kata Bens, memiliki jasa besar terhadap kualitas penyanyi dangdut.

"Dangdut seperti saat ini karena tidak lepas dari peran Ivan Gunawan. Bagaimana dia menyesuaikan para kontestan di setiap penampilannya, hingga saat ini gaya busana penyanyi dangdut seperti sekarang," kata Bens.

Tidak hanya busana, liuk tubuh penyanyi dangdut juga tidak seheboh dulu. Mereka, kata Bens, telah mengikuti bagaimana para gerakan selayaknya penyanyi pop, tetapi tetap dengan goyangan dangdut.

Menurut Bens, gaya mereka juga tidak lepas dari pihak manajemen mereka. Para pelantun dangdut juga telah menciptakan gerakan seperti dance, yang berbeda dari goyangan khas penyanyi-penyanyi dangdut dulu.

"Peran manajemen penting sekali. Kayak Siti Badriah, saya kaget sekali waktu ada acara mantenan bahwa lagu 'Lagi Syantik' dia sudah punya koreografi. Kemudian lagunya Via juga sudah koreografi sendiri," kata Bens.

"Bayangkan saja bahwa sebuah pesta manten, pengantin dan tamu berbarengan menari seperti itu. Saat ini, itu sedang populer. Waktu kemarin Asian Games, ada seorang komando penari yang memimpin, para atlet yang di depan ikut gerakan mereka. Mereka pun membawa gerakan itu ke negaranya," kata dia.

Atas semua ini, Bens malah menginginkan ada sebuah kecekatan dari pemerintah untuk segera mempermanenkan dangdut sebagai milik Indonesia di mata dunia.

Jangan sampai, kata Ben, ada negara lain yang malah mengklaim dan mempermanenkan dangdut yang sedang populer ini.

"Saya juga sedang berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait agar secepatnya dangdut didaftarkan. Jangan sampai dangdut diklaim negara lain," kata Bens.