JEO - News

Di Sumut,
Jokowi-Ma'ruf
dan
Prabowo-Sandiaga
Berpeluang Sama Kuat?

Jumat, 12 April 2019 | 10:16 WIB

PEMILIHAN Presiden (Pilpres) 2019 tinggal menghitung hari. Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) beserta partai pendukung dan para relawan, bergerilya menarik hati warga guna mendapatkan dukungan.

 

Sejumlah hasil survei bermunculan, memprediksi suara yang didapatkan pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan pasangan calon nomor urut 02  Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Melihat hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 22 Februari-5 Maret 2019, misalnya, pasangan Jokowi-Ma'ruf secara keseluruhan masih unggul di Pulau Jawa, sementara Prabowo-Sandiaga menang di Pulau Sumatera.

Itu pun, bila ditelisik, pasangan Prabowo-Sandiaga masih bisa "mencuri" suara di Pulau Jawa. Survei mendapati, Jokowi-Ma'ruf ditaksir unggul di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, sementara Prabowo-Sandi diprediksi memenangi perolehan suara di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Adapun di Sumatera, survei Litbang Kompas memperkirakan, Jokowi-Ma'ruf meraup 37,0 persen suara dan Prabowo-Sandi 50,5 persen suara.

KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dan Joko Widodo - Maruf Amin saat acara pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon presiden dan wakil presiden pemilu 2019 di Gedung Komisi Pemilhan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2019). Pasangan Joko Widodo - Maruf Amin mendapat nomor urut satu dan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno mendapat nomor urut dua.

Seperti dikutip dari Kompas.id, peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan, menuliskan, militansi pendukung Prabowo-Sandi yang cukup tinggi berpengaruh secara geografis pada melebarnya dukungan bagi pasangan calon nomor urut 02 itu.

Di Jakarta, sebagai contoh, Prabowo-Sandi unggul 4,2 persen dari Jokowi-Ma'ruf dalam pantauan survei yang digelar Litbang Kompas pada Oktober 2018. Namun, survei serupa pada Maret 2019 mendapati, selisih itu melebar menjadi 11,2 persen.

Selisih proyeksi keunggulan juga terpantau di Sumatera, dari posisi 2,4 persen pada Oktober 2018 menjadi 13,5 persen pada Maret 2019, dengan Prabowo-Sandiaga mengungguli Jokowi-Ma'ruf.

Sebaliknya, di wilayah yang semula didominasi Jokowi-Amin kini selisih keunggulan malah menyempit. Salah satunya adalah di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. 

Baca juga: JEO-Jokowi-Ma'ruf vs Prabowo-Sandiaga, Siapa Lebih Berpeluang di Jawa Timur?

Lalu bagaimana dengan peluang kedua pasangan kandidat di Sumatera Utara (Sumut)?

ADU KLAIM

LITBANG Kompas tidak menjelaskan lebih rinci tentang survei elektabilitas para kandidat Pilpres 2019 di Sumatera Utara. Namun, masing-masing timses telah membuat sejumlah prediksi bagi kemenangan paslon mereka.

Tentu, masing-masing timses berkeyakinan paslon dukungannya yang bakal menuai keunggulan di wilayah ini. Apa saja yang menjadi acuan klaim masing-masing tim?

Juru bicara Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Amin Provinsi Sumut, Sutrisno Pangaribuan, optimistis Jokowi-Ma'ruf menang di Sumut.

"Kami optimistis menang di angka 65 persen di pilpres ini."

~Sutrisno Pangaribuan, Jubir TKD Jokowi-Ma'ruf Sumut

"Kami optimistis menang di angka 65 persen di pilpres ini," kata Sutrisno kepada Kompas.com melalui layanan pesan singkat, Selasa (9/4/2019).

Wakil Bendahara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Sumut ini menjelaskan, optimisme ini berdasarkan input data yang masuk melalui posko caleg PDI-Perjuangan di semua tingkatan.

Rinciannya, basis kemenangan di atas 90 persen akan mereka peroleh di daerah Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. 

Lalu, kemenangan di angka 80 persen, diprediksi didapat dari Kabupaten Karo dan Dairi. Berikutnya, proyeksi keunggulan 70 persen didapat di Kepulauan Nias, 60 persen di Pematangsiantar dan Simalungun, selebihnya bervariasi di angka 40 sampai 50 persen.

"Kamiberharap pemilih pemula semakin yakin untuk memilih Jokowi-Amin, sebab berbagai program sudah disampaikan Pak Jokowi berkaitan dengan fasilitasi kaum milenial," ujar Sutrisno.

KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1, Joko Widodo dan Maruf Amin memberikan penjelasan saat debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). Tema debat pilpres pertama yaitu mengangkat isu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.

Upaya mereka fokus merebut hati rakyat, lanjut Sutrisno, menggunakan bekal keyakinan bahwa kebaikan akan menjadi kekuatan dalam kontestasi politik.

Sutrisno tidak menampik bahwa sejumlah survei menyatakan bahwa semua wilayah di Indonesia dimenangkan pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 dengan perkecualian di Pulau Sumatera.

Namun, kata dia, kekalahan yang begitu besar di beberapa daerah, terutama di Aceh dan Sumatera Barat akan ditutupi di Sumut. Perolehan suara 65 persen, sebut Sutrisno, adalah proyeksi minimum. Sebab, ujar dia, target yang dibebankan kepada TKD Sumut adalah 70 persen.

Ketua TKD Provinsi Sumut Ivan Iskandar Batubara mengatakan, hasil survei yang menyebutkan Jokowi-Ma'ruf menang di atas angin, tidak akan membuat timnya lengah.

Meski membantah menggunakan taktik politik identitas untuk memenangkan pasangan dukungannya, Ivan menyebut bahwa Jokowi sekarang telah menjadi bagian dari warga Sumut terbukti dari gelar dan marga yang telah dimiliki. 

"Tuanku Seri Indra Utama Junjungan Negeri, itu nama beliau di sini. Jokowi juga bermarga Siregar dan punya cucu Boru Nasution. Sudah tidak terbantahkan lagi. Jadi tidak berlebihan kalau warga Sumut memilihnya," ujar dia.

KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memberikan penjelasan saat debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). Tema debat pilpres pertama yaitu mengangkat isu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.

Adapun tim pemenangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun meyakini pula pasangan yang mereka dukung akan unggul pula di sini. 

Wakil Ketua DPRD Kota Medan dari Fraksi Gerindra yang juga Ketua Rumah Juang Prabowo-Sandi Sumut, Ihwan Ritonga, mengatakan, timnya menargetkan suara untuk Prabowo-Sandi di Sumut di angka 65 persen.

Tim pemenangan Prabowo-Sandi, kata Ihwan, tidak menggelar survei untuk mendasari target tersebut. Optimisme target itu dapat tercapai berdasarkan penilaian bahwa warga Sumut menginginkan perubahan. 

"Kalau ditanya apa faktor pendorong Prabowo-Sandi bisa menang di Sumut, karena sudah banyak yang menginginkan perubahan dan mereka melihat pada visi-misi Prabowo-Sandi. Intinya, rakyat ingin perubahan," kata Ihwan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (11/4/2019).

Sejumlah wilayah, imbuh Ihwan, menjadi target lumbung suara pemenangan pasangan Prabowo-Sandiaga di Sumatera Utara. Daerah-daerah itu, sebut dia, antara lain Serdang Bedagai, Deli Serdang, Batubara, Asahan, Tanjung Balai, Medan, Labuhan Batu, Mandailing Natal, dan Simalungun.

BAKAL SERU
DAN SAMA KUAT?

PENGAMAT politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suriadi mengatakan, berdasarkan hasil survei internal dan eksternal serta hasil telaahnya, peluang secara head to head kedua pasangan calon itu berimbang.

Namun, ada celah yang harus disikapi dan diatur strateginya oleh kedua kubu hingga 17 April 2019, terutama untuk tim sukses. Salah satunya adalah swing voters. Kalau dirata-ratakan secara statistik, kata dia, Jokowi-Ma'ruf unggul sedikit tapi tidak menjamin kemenangan.

"Harusnya sebagai petahana, Jokowi unggul mutlak, paling tidak di atas 60 persen. Tapi hasil survei tidak segitu, paling kalau dia unggul hanya 50 persen. Anggap saja ini berimbang. Tinggal celah itu," kata Agus.

Swing voters berada di angka 16 sampai 17 persen di Sumut yang akan bermain di detik-detik terakhir. Dia menilai kesempatan ini yang harus diambil kedua kandidat untuk mendongkrak elektabilitas.

Kalau ingin men-tracking suara pasangan calon nomor urut 02, tinggal melihat kilas balik kemenangan Eramas saja.

~Agus Suriadi, pengamat politik dari USU

Tinggal bagaimana kerja tim sukses untuk menarik simpati pemilih. Soal gelar, marga, dan basis massa di pantai barat, menurut Agus, tidak akan berpengaruh banyak. Terlebih lagi, Partai Gerindra dan PDI Perjuangan berbagi basis massa di kawasan itu. 

"Kalau pantai barat kita ambil wilayah Tabagsel saja, ini kan basis Gerindra. Taput sekitarnya sampai Kepulauan Nias ini wilayah PDI-P. Jadi, berimbang," ujar Agus..

Ditanya apakah para pendukung Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah atau pasangan "Eramas" ini akan menjadi peluang mendongkrak suara untuk paslon 02, Agus mengiyakan. Saat Pilgub Sumut, pasangan Eramas diusung salah satunya oleh Partai Gerindra.

"Kalau ini benar, kalau untuk Sumatera Utara, terutama di pantai timur. Itu berpengaruh terhadap dukungan paslon 02, kecuali seperti yang saya bilang tadi. Wilayah pantai barat, utara sampai kepulauan Nias, kita sudah bisa prediksi di atas 70 persen Jakowi unggul di sana," ujarnya.

Kalau ingin men-tracking suara pasangan calon nomor urut 02, kata Agus, tinggal melihat kilas balik kemenangan Eramas saja. Pada Pilkada Sumut 2018, hasil rekapitulasi dari 33 kabupaten dan kota di Sumut menyatakan pasangan ini menang dengan 3.291.137 suara atau 57,58 persen.

Baca juga: Sinyal Pilkada 2018 untuk Jokowi dan Pemilu 2019

Kemenangan tersebut didulang dari 17 kabupaten. Suara terbanyak berasal dari Kota Medan, Kabupaten Deliserdang, dan Kabupaten Langkat. 

Sedangkan rivalnya pada saat itu, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus yang diusung PDI-Perjuangan, merajai suara dari Kabupaten Tapanuli Utara, Karo, dan Dairi. Di Kota Medan, Eramas gilang gemilang di 21 kecamatan dari 25 kecamatan yang ada.

KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1, Joko Widodo dan Maruf Amin beserta pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno berjabat tangan setelah debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). Tema debat pilpres pertama yaitu mengangkat isu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.

Partai koalisi pendukung pasangan Eramas, yaitu Partai Gerindra, Golkar, PKS, PAN, Hanura, Nasdem, dan Perindo sejak awal sudah menargetkan akan memeroleh lebih dari separuh suara warga Sumut.

Sementara itu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyatakan, suku Jawa, Melayu, dan umat Islam adalah basis massa dan kantong-kantong suara unggulan Eramas. Di suku Jawa, base-nya 33,5 persen, pasangan ini pecah rekor dengan perolehan suara 64,2 persen.

Di pemilih Melayu dengan base 4,8 persen, Eramas unggul 79,3 persen. Paling telak, di basis umat Islam, base 64,7 persen, Eramas meraih 65,2 dukungan. Pasangan ini juga menguasai delapan daerah pemilihan (dapil) dari 12 dapil yang ada di Sumut. 

"Pilpres kali ini lebih seru dibanding 2014 lalu karena orang beranggapan dengan posisi petahana Jokowi, dia punya peluang lebih besar. Ternyata, punya peluang, tapi kalaupun misalnya menang tidak seperti di 2014," kata Agus.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Arifin Saleh Siregar mengatakan, masing-masing paslon punya peluang untuk jadi pemenang, tapi dia tidak berani mempersentasekannya.

Menurut Arifin, basis suara paslon 02 berada di wilayah perkotaan yang didominasi umat Islam, sementara paslon 01 di wilayah mayoritas Kristen dan pedesaan. 

"Sebenarnya dari kali-kali atau indikator, banyak pihak yang sudah bisa memperkirakan siapa yang akan memenangkan pilpres di Sumut. Politik identitas tidak bisa dihindari dan sulit dibantah. Kita lihat fenomenanya di masyarakat, mungkin masih terpola atau imbas dari pilgubsu kemarin," kata Arifin.

Baca juga: Sekali Lagi, Jokowi vs Prabowo di Pemilu Presiden

Namun, lanjut dia, migrasi pendukung Eramas ke paslon 01 juga terlihat. Perpindahan dukungan ini antara lain dari pantauan di media sosial, yang bahkan terang-terangan menyatakan dukungan ke paslon 01. Ini yang kemudian menurut dia membuat sulit prediksi hasil Pilpres 2019 di Sumut.

"Menurut aku, penentunya itu sebenarnya ada di masyarakat akar rumput yang hari ini masih sulit terjangkau informasi. Ini ada di kelompok-kelompok perdesaan yang relatif jauh di pelosok," sambung Arifin. 

Arifin melihat kedua paslon dan timnya juga menyadari potensi dukungan dari populasi tersebut. Karena, kelompok milenial dan melek teknologi, apalagi yang peduli pemilu, serta kelas menengah ke atas, sudah terprediksi arah peta dukungannya.

"Menariknya di Sumut ini, masyarakatnya cukup heterogen. Baik latar belakang kesukuan, pekerjaan, pandangan politik. Kalau agama sudah jelas, ya," kata dia.

Menurut Arifin, swing voters di Sumut punya kecenderungan menjadi bagian kelompok yang tidak menggunakan hak pilih.

"(Swing voters) tidak jadi ukuran lagi ini. Yang jadi penentu adalah masyarakat di pelosok yang minim informasi itu. Memang agak sulit prediksinya," ujar Arifin.