JEO - Peristiwa


Harapan
di Tengah Pandemi:
Kisah Kesembuhan
dan Perjuangan
di Baliknya

Rabu, 23 Desember 2020 | 21:33 WIB

Banyak orang sebegitu ketakutan dengan stigma dan bayagannya sendiri tentang Covid-19, sampai bisa menipu diri dan membohongi tenaga medis. Padahal, risikonya tak cuma membayangi dirinya.

Ini sejumlah kisah pengalaman dari mereka yang "menang" melawan Covid-19. Ini juga kisah dari para tenaga medis menghadapi aneka tantangan selama pandemi Covid-19.

δ

PADA 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif pertama Covid-19 di Indonesia dari beranda Istana Kepresidenan, Jakarta.

Pasien pertama di Indonesia itu merupakan ibu dan anak asal Depok, Jawa Barat. Mereka diduga terjangkit virus corona baru dari warga negara (WN) Jepang. Kedua pasien itu lalu dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Sejak itu, kasus baru terus bermunculan. Hingga pertengahan Desember 2020, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia tercatat mencapai lebih dari 600.000 dan sekitar 100.000 orang masih dirawat karena wabah ini.

Angka-angka ini sejatinya bukan sekadar statistik. Mereka adalah anak, istri, suami, orangtua, atau kolega dari seseorang dan bahkan banyak orang. 

Dari mereka yang dinyatakan sembuh dari wabah yang disebabkan oleh varian baru virus corona (SARS-CoV-2) ini pun ada banyak cerita di baliknya. Belum lagi kisah para tenaga medis yang berjuang menangani pasien Covid-19.

Berikut ini sebagian kecil cerita pasien yang “menang” melawan Covid-19 dan perjuangan para tenaga medis yang merawat mereka.

 

Klik poin menu untuk langsung menuju topik yang dikehendaki, atau gulirkan layar untuk membaca semua topik secara berurutan

  KISAH MEREKA YANG MENANG  

♦ Karantina bersama keluarga 
♦ Tak seperti bayangan 
♦ Tutup akun medsos

   KISAH TENAGA MEDIS   

+ Cerita dari garis depan 
Seni komunikasi 
Pengorbanan 

  ⏰ Waktu baca: 1,5 menit 

  KISAH MEREKA YANG MENANG  

KARANTINA
BERSAMA KELUARGA

SHUTTERSTOCK/GORODENKOFF
Ilustrasi pasien Covid-19, angka kasus Covid-19 Amerika Serikat.

JOHAN Tentua (71 tahun) merupakan pasien positif pertama Covid-19 yang dinyatakan sembuh di Kota Sorong, Papua Barat. Hasil itu dia dapat pada 12 Mei 2020.

Tukang ojek di salah satu perumahan di Kota Sorong itu mengaku lemas, sesak napas, dan batuk, sebelum dinyatakan positif Covid-19. Ia pun berobat ke Rumah Sakit Herlina Kota Sorong.

"Penanganan di RS Herlina belum ada dokter penyakit dalam, akhirnya dirujuk ke RSU Sele Be Solu," kata Johan saat ditemui di rumahnya, Perumahan Sakura Garden, Kota Sorong, Jumat, (26/6/2020).

Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, Johan dinyatakan positif Covid-19 pada 19 April 2020.

Johan diduga tertular dari penumpang yang menyewa jasa ojeknya. Sebab, Johan tak memiliki riwayat perjalanan ke luar kota.

Saat mendapat kabar positif Covid-19, Johan mengajukan permohonan karantina mandiri.

Namun, permohonan itu tak dikabulkan. Permintaannya ditolak karena dia punya komorbid, yaitu penyakit paru.

Selain itu, tetangga sekitar rumahnya juga menolak. Mereka takut tertular Covid-19. Johan lalu dibawa ke pusat karantina Diklat Kampung Salak Rufei Kota Sorong.

Namun, selama karantina, Johan tak sendirian. Kakek 71 tahun itu ditemani istri, anak, dan cucunya di pusat karantina.

Dukungan keluarga yang ikut ke pusat karantina menjadi modal penting bagi Johan untuk sembuh dari Covid-19.

"Kalau tidak ada mereka, saya tidak mungkin sembuh seperti ini dan tak lupa juga kuasa Tuhan memberikan mukjizat bagi saya boleh sembuh," kata Johan.

Johan tak menampik, suasana di pusat karantina sangat membosankan. Namun, tenaga medis di pusat karantina selalu berusaha menghibur pasien.

"Selama dua minggu dirawat, cukup mendapat penanganan yang baik," kata Johan.

Istri Johan, Petronela Hehanussa (68) mengaku juga mendapat perlakuan baik dari petugas medis dan dokter selama menemani suaminya dikarantina.

Tenaga medis dan dokter sering memberi masukan kepada mereka, terutama, mengingatkan penerapan protokol kesehatan.

Selama karantina, suaminya mendapat makanan bergizi, vitamin, dan susu. Johan juga rajin berolahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh.

 

  KISAH MEREKA YANG MENANG  

 TAK SEPERTI BAYANGAN

ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Petugas merapikan ruang isolasi mandiri pasien Covid-19 di Jakarta, Rabu (30/9/2020). Graha Wisata Ragunan menyiapkan 76 kamar yang dapat menampung 152 pasien isolasi orang tanpa gejala (OTG) Covid-19.

SAMSUDIN, pasien yang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19 di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, semula mengira suasana ruang isolasi mengerikan.

Di pikirannya, ruangan isolasi dipenuhi alat medis dan punya aturan ketat. Ia berpikir ruang isolasi membosankan karena setiap gerakan pasien akan dibatasi.

Namun, kenyataannya berbeda. Samsudin dan istrinya yang dijemput tim Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Madiun justru merasa nyaman di ruang isolasi.

"Semua kebutuhan kami diurus dan tercukupi dengan baik," kata Samsudin saat berbincang dengan Kompas.com di sela acara pemulangan pasien sembuh di RSUD Dolopo Kabupaten Madiun, Kamis (25/6/2020).

Tak cuma makanan, tenaga medis juga memastikan pasien positif Covid-19 rutin melakukan olahraga. Tujuannya, menjaga imunitas tubuh para pasien.

“Kalau pagi hari kami diajak senam yang dipimpin perawat. Jadi kami merasa sehat dan bugar,” kata Samsudin.

Selama dua minggu diisolasi, Samsudin bersama pasien lain mengaku betah. Perawat dan dokter juga memberi motivasi agar mereka tetap optimistis untuk sembuh.

"Di sini ada tempat senam, tempat berjemur diri, dan fasilitas makan yang sangat enak," kata Samsudin.

Ruangan yang ditempati para pasien Covid-19 dilengkapi dengan kamar tidur berpendingin udara dan kamar mandi.

Suasana hati pasien yang tetap senang membuat ketahanan tubuh terus meningkat. Para pasien juga diminta disiplin memakai masker. 

Untuk mengusir bosan, Samsudin menonton televisi dan melakukan panggilan video dengan anak-anaknya.

Samsudin diduga tertular Covid-19 saat menjadi imam shalat di masjid di dekat rumahnya. Salah satu jemaah ternyata positif Covid-19.

Tak cuma Samsudin, Covid-19 juga menjangkiti istrinya. Beruntung, anaknya tak ikut tertular. Selama mengidap Covid-19, Samsudin dan istrinya tak merasakan gejala apa pun.


  KISAH MEREKA YANG MENANG  

 TUTUP
AKUN MEDSOS

NOVENSKY Manuhutu (25), perempuan asal Maluku Tengah itu terpaksa menutup akun media sosial (medsos) untuk menjaga pikirannya tetap waras selama diisolasi di rumah sakit di Ambon, Maluku.

Novensky dinyatakan positif Covid-19 bersama ayah dan ibunya. Mereka terpapar Covid-19 setelah pulang menghadiri acara keagamaan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Keluarga ini menjalani isolasi di dua lokasi berbeda.

“Kebetulan mama punya penyakit bawaan jadi dipindahkan ke RSUD (Ambon). Saya dan papa tetap di rumah sakit Lantamal,” kata Novensky kepada Kompas.com via telepon seluler, Jumat (26/6/2020).

Selama dirawat di RS Lantamal Ambon, Novensky mengaku mendapat pelayanan yang baik dari tenaga medis. Namun, rasa bosan selama di ruang isolasi membuat dia sering membuka medsos di ponselnya.

Namun, membuka medsos tak melulu bisa membantunya mengusir bosan. Justru, Novensky mengaku tertekan karena membaca sejumlah kabar yang menyudutkan keluarganya di jejaring medsos.

THINKSTOCKS/IPOPBA
Ilustrasi media sosial

Kondisi itu semakin parah karena banyak hoaks tentang virus corona di media sosial, tak terkecuali tentang keluarganya. Tak tahan dengan kondisi itu, Novensky memutuskan menutup semua akun media sosialnya. 

“Saya langsung hapus akun media sosial karena banyak sekali berita-berita hoaks di media sosial yang saya lihat yang justru membuat saya semakin stres,” kata dia.

Dalam keadaan tertekan, ia bersabar dan berdoa kepada Tuhan. Ia meminta agar dirinya dan orangtuanya segera mendapat kesembuhan. 

“Berdoa setiap saat. Kalau dengar orang bicara tentang saya, tetap sabar saja. Memang menyakitkan tapi sabar saja, berdoa ke Tuhan saja,” tutur Novensky.

Setelah menutup semua akun media sosial miliknya, Novensky memilih berselancar di YouTube. Itu pun dia pilah. Ia menonton video yang dibuat pasien Covid-19 yang telah sembuh.

“Itu yang bikin saya merasa termotivasi untuk tetap berpikir positif. Walaupun yang saya rasakan itu sebenarnya menyakitkan juga, saya harus tetap sabar,” kata dia.

Bersyukur, Novensky dinyatakan sembuh. Dia lalu pulang ke kampung halamannya di Desa Haria, Maluku Tengah. 

Tak lama berselang, kedua orangtuanya juga dinyatakan sembuh. Keluarganya kembali berkumpul dan beraktivitas seperti biasa.

Novensky bersyukur para tetangga menerima mereka sepulang dari rumah sakit. Dia pun mendapati hal serupa di tempat kerja. 

"Tidak ada yang menjauhi saya. Kalau ada yang bicara-bicara di tempat lain, saya tidak tahu," kata dia.

Setelah melewati pengalaman itu, Novensky menyarankan pasien positif Covid-19 tak putus asa selama menjalani perawatan.

Menurut dia, sabar dan berdoa merupakan kunci utama yang membuat pasien positif Covid-19 sembuh. Selain itu, pasien harus mematuhi protokol kesehatan dan saran tenaga medis.

“Kuncinya itu sabar dan berdoa ya, berpikir positif. Memang kita pasti bosan apalagi di karantina, itu pasti. Tapi kita harus sabar, harus selalu berdoa kepada Tuhan, dan jangan berpikir yang aneh-aneh,” ungkap Novensky.

Ia juga meminta masyarakat tak menganggap remeh varian baru virus corona ini. Menganggap remeh virus ini menurut dia akan membuat orang lebih mudah terpapar virus karena tak mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

"Masyarakat harus tahu bahwa corona ini berbahaya. Makanya ke mana-mana itu pakai masker, cuci tangan, dan jangan berkerumun. Kalau tidak ya akan terus bertambah (jumlah pasien Covid-19)," kata dia.

 

 KISAH TENAGA MEDIS 

CERITA
DARI GARIS DEPAN

KESEMBUHAN para pasien positif Covid-19 itu tak lepas dari peran para tenaga medis yang berjuang di garis depan. Perjuangan para tenaga medis itu pun tak selalu mulus.

Penolakan dari masyarakat dan pasien positif Covid-19 merupakan salah satu tantangan yang dihadapi tenaga medis. Salah satu yang mengalami ini adalah Dwiastuti Setyorini (42), salah satu dokter di Surabaya, Jawa Timur.

Emosi, sedih, kecewa, dan bingung, kerap dirasakan perempuan yang akrab disapa Ririn itu selama menangani pasien Covid-19. Dia bertugas merawat dan mengawasi pasien Covid-19 yang menjalani karantina mandiri.

Bersama sejumlah rekan, Ririn setiap hari mendatangi rumah para pasien. Sembari memantau perkembangan kondisi pasien, mereka juga memberi edukasi dan berupaya maksimal membantu penyembuhan.

DOKUMENTASI PRIBADI/DWIASTUTI SETYORINI
Dr Dwiastuti Setyorini bersama para tenaga medis saat mendata dan mendatangi rumah pasien Covid-19 di wilayah Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

Bagi Ririn, tak mudah memerangi wabah Covid-19. Terlebih lagi, masih banyak warga yang tak mendapatkan informasi lengkap tentang bahaya penyakit akibat varian baru virus corona ini.

Beberapa pasien yang dia tangani bahkan menyepelekan pandemi. Rata-rata, Ririn menangani pasien positif Covid-19 tanpa gejala. Mereka merasa baik-baik saja karena tak merasakan keluhan apa pun.

Sejatinya, Pemkot Surabaya telah menyiapkan Hotel Asrama Haji di Sukolilo, sebagai pusat karantina bagi pasien positif Covid-19 tanpa gejala. Namun, tak semua pasien mau dirawat di pusat karantina.

Ririn mengaku kesulitan membujuk sejumlah pasien. Padahal, karantina bertujuan menekan penyebaran virus di lingkungan keluarga dan tetangga.

"Kalau kita enggak bisa ngemong (mengasuh) pasien kita, kadang terjadi konflik ya. Gesekan itu ada," kata Ririn.

Sebagai Plt Kepala Puskesmas Rangkah Surabaya, Ririn pernah punya pengalaman tak menyenangkan. Saat membujuk pasien positif Covid-19 untuk dikarantina di Hotel Asram Haji Sukolilo, dia justru digeruduk dan mendapat penolakan.

Alasannya, pasien itu tak percaya tertular Covid-19. Ririn sampai harus meminta bantuan camat dan lurah setempat agar pasien itu mau dikarantina.

"Kalau enggak gitu, enggak bisa saya (bawa pasien ke pusat karantina)," kata Ririn.

Menurut dia, tak mudah mengubah persepsi pasien tentang Covid-19. Dari pengalamannya, pasien yang ngeyel, sukar mengerti, dan menolak dikarantina, rata-rata masih berusia muda dan merasa baik-baik saja.

Ketika mendapat penolakan serupa itu, Ririn biasanya mengedukasi keluarga dan tokoh masyarakat di wilayah itu. Ia berharap, mereka turut membujuk pasien agar mau diisolasi di Hotel Asrama Haji.

DOKUMENTASI PRIBADI/DWIASTUTI SETYORINI
Dr Dwiastuti Setyorini bersama para tenaga medis saat mendata dan mendatangi rumah pasien Covid-19 di wilayah Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

Pendekatan persuasif ini digunakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang bahaya Covid-19. Selain itu, ia ingin memberi pesan bahwa tenaga medis tak berniat menelantarkan pasien.

"Kami menguliknya dari orang yang digugu dan dia sayangi. Memang harus pelan-pelan, agak susah. Kadang itu ada pasien yang percaya bahwa Covid-19 ini dibuat manusia. Jadi memang harus pelan-pelan, kami harus membesarkan hati mereka," kata Ririn.

Upaya itu memang memakan waktu lama. Namun, pelan-pelan pasien yang semula menolak itu luluh dan mau dikarantina di Hotel Asrama Haji. Pasien juga ikhlas saat harus berpisah dengan keluarga untuk sementara waktu. Semua demi kebaikan bersama.

"Jadi memang perlu trik-trik tertentu untuk membuat pasien mau diisolasi," kata dia.


 KISAH TENAGA MEDIS 

SENI KOMUNIKASI 

MENGHADAPI pasien di ruang isolasi pun tak jauh berbeda situasinya dengan menjemput pasien yang baru saja dinyatakan positif mengidap Covid-19.

Plt Kepala Puskesmas Rangkah Surabaya, Dwiastuti Setyorini, menuturkan pengalamannya menghadapi pasien yang tak sabar menanti hasil tes swab dengan metode polymerase chain reaction (PCR).

Butuh waktu untuk memeriksa sampel dan mendapatkan hasil tes dari setiap pasien. Ini karena pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya dan rumah sakit.

Tak ingin memicu konflik, Ririn—panggilan Dwiastuti—berupaya menjaga suasana hati pasien agar bisa tenang dan sabar menunggu. Komunikasi jadi kunci utama untuk membuat pasien memahami kondisi yang dihadapi dan tenang selama dikarantina.

"Di sini, komunikasi yang penting, untuk bisa membuat pasien itu tenang dan bisa menjalani isolasi dengan tenang juga," kata Ririn.

Ketua Tim Penanganan Covid-19 RSUD Dolopo Madiun, Fadlia, punya pengalaman tak jauh berbeda soal menghadapi pasien.

Menurut Falia, banyak pasien yang pertama kali masuk ruang isolasi berkeras tak memakai masker. Alasannya, tak nyaman. Padahal, masker sangat penting bagi pasien positif Covid-19.

SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING
Ilustrasi komunikasi.

Fadlia menyebut kunci utama penyembuhan pasien Covid-19 dengan aneka karakter dan respons itu adalah pelayanan. Pasien harus terus dimotivasi agar suasana hatinya senang.

“Kalau pasien suasana hatinya senang maka ketahanan tubuhnya akan terus meningkat. Dengan demikian akan mempercepat tingkat kesembuhan pasien Covid-19,” ujar Fadlia kepada Kompas.com, Kamis (25/6/2020).

Menurut Fadlia, perawatan pasien Covid-19 tak cukup hanya aspek medis. Tenaga medis di RSUD Dolopo Madiun punya program perawatan paripurna agar pasien Covid-19 merasa nyaman dan betah selama dikarantina.

“Salah satu program yang membuat mereka senang yakni senam dan berjemur di pagi hari,” ujar Fadlia.

Fadlia menangani puluhan pasien Covid-19 di RSUD Dolopo Madiun. Awalnya, seluruh pasien itu mengeluh saat hendak dikarantina. Namun, kenyataan tak sesuai bayangan mereka.

"Ternyata, setelah di sini mereka merasa enjoy. Mungkin ada perbedaan dengan rumah sakit lain (karena) ruangan kami lebih luas. Selain itu ada acara senam dan berjemur tiap pagi," jelas Fadlia.

Direktur RSUD Dolopo Kabupaten Madiun, Purnomo Hadi, menyebut butuh seni tersendiri merawat pasien Covid-19. Tenaga medis harus ulet, sabar, dan telaten.

Selain itu, perawatan pasien Covid-19 juga harus diiringi dengan inovasi agar pasien merasa nyaman dan tenang. Hal ini bisa membuat pasien kooperatif mengikuti saran tim medis.

“Protokol itu ada standarnya, tapi bagaimana kita berinovasi itu kan masing-masing rumah sakit,” kata Purnomo kepada Kompas.com, Jumat (26/6/2020).

Purnomo menganggap pasien seperti saudara sendiri. Sebab, seluruh pasien yang berada di ruang isolasi umumnya dalam kondisi tertekan.

“Makanya kami berupaya sabar dan tekun memberikan fasilitas terbaik ke pasien sehingga muncul kesadaran mereka untuk diobati,” kata Purnomo.

Kesadaran itu membuat pasien bahagia. Kebahagiaan berperan besar bagi imunitas pasien.

Selain memberi asupan makanan dan vitamin, pasien juga mendapat hiburan agar betah menjalani isolasi. Selain senam dan berjemur, para pasien juga punya kesempatan berbincang dengan perawat dan dokter.

“Artinya saling punya kepercayaan dan saling mengingatkan. Sempat ada tenaga dan perawat yang pingsan karena kecapekan, oleh pasien ditolong dan dikeluarkan (dari ruang isolasi),” ujar Purnomo. 

 KISAH TENAGA MEDIS 

 PENGORBANAN

SHUTTERSTOCK/ELDAR NURKOVIC
Ilustrasi tenaga kesehatan (nakes), tenaga medis, pekerja medis.

MESKI berjuang di garis depan, para tenaga medis kerap mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari lingkungan mereka.

Mereka kerap didiskriminasi karena diduga membawa penyakit. Padahal, totalitas mereka merawat pasien Covid-19 tak perlu diragukan.

Salah satu dokter penyakit dalam di RSUD Haulussy Ambon dr Cynthia Pentury mengaku bekerja siang malam menangani pasien Covid-19.

“Banyak hal yang harus kami korbankan, termasuk nyawa kita sendiri," kata Cynthia kepada Kompas.com via telepon seluler, Minggu (28/6/2020).

Bagi Chyntia, pilihan yang ada bagi tenaga medis hanya dua. Pilihan pertama, bekerja meninggalkan keluarga untuk melayani pasien dengan risiko ikut tertular. Pilihan lain, berdiam diri. 

Tentu saja, pilihan kedua tak sejalan dengan sumpah Hippokrates, sumpah yang dibaca setiap kali dokter menyelesaikan pendidikan. 

Karantina dan diskriminasi

Selama menangani pasien Covid-19, Cynthia dan tenaga medis lain harus menjalani karantina selama dua minggu jika ingin bertemu keluarga di rumah.

Setelah menjalani karantina, mereka hanya punya waktu seminggu berkumpul bersama keluarga. Setelah itu, mereka kembali ke pusat karantina.

Meski penuh risiko, Chyntia tetap menunaikan tanggung jawabnya sebagai dokter. Tenaga medis, kata dia, tak gentar meski banyak tenaga medis yang terpapar Covid-19.

“Kami juga merasa dikucilkan. Ada semacam stigma negatif kepada kami sebagai tenaga medis. Namun, apa pun itu kami harus terus berjuang,” katanya.

Baginya, terjun di garis depan penanganan Covid-19 merupakan pilihan yang telah diambil. Ia tetap menunaikan tugas dengan tanggung jawab.

Stigma di masyarakat itu ada.

Meski begitu, tak jarang Chyntia merasa sedih. Sebab, banyak masyarakat yang tak menunjukkan rasa empati dan masing memandang tenaga medis sebelah mata.

Terlebih lagi, ada banyak tuduhan miring yang menyudutkan para tenaga medis.

“Kami sudah disumpah untuk menjalankan tugas yang mulia ini," tegas dia.

Chyntia pun menyebut tak ada yang bisa membayar pengorbanan tenaga medis selama berjibaku menghadapi Covid-19. Hanya panggilan hati dan tanggung jawab yang membuat mereka tetap bertaruh risiko di tengah pandemi seperti ini. 

Diusir dari kontrakan

Tak hanya stigma, penolakan nyata terhadap kehadiran tenaga medis di lingkungan masyarakat pun nyata. Pengusiran dari kos dan kontrakan pun terjadi di banyak wilayah, apalagi saat mereka tertular wabah ini dalam bertugas.

DA, salah satu dokter yang bertugas di RSUD Dolopo Kabupaten Madiun, Jawa Timur, adalah salah satu yang mengalami pengusiran itu. Dia harus pasrah angkat kaki dari kamar kosnya setelah kedapatan positif Covid-19. 

Tak Cuma DA, rekan-rekan seprofesinya yang menyewa kamar kos di wilayah yang sama juga dipaksa keluar oleh pemiliknya. DA terpaksa kos di luar Kota Madiun.

DA tak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan seperti itu saat dinyatakan positif Covid-19. Ibarat pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

"Stigma di masyarakat itu ada. Saya dan teman saya sampai harus dikeluarkan dari kos-kosan," ujar DA kepada Kompas.com, Kamis (25/6/2020).

Kepala Puskesmas Waihaong, Ambon, dr Augie M G Joltuwu, juga merasakan diskriminasi dari masyarakat. Saat wabah corona menjangkiti banyak warga di wilayah kerjanya, tenaga medis di Puskesmas Waihaong dikucilkan.

“Itu hal terberat yang kami hadapi pertama,” kata dia.

Meski begitu, Augie selalu memberikan semangat kepada stafnya. Mereka tetap berusaha melayani masyarakat. Mereka juga rutin memberikan edukasi tentang bahaya dan pencegahan Covid-19.

Saat kasus pertama ditemukan di wilayahnya, Augie dan tim langsung turun melakukan tracing. Namun, mereka mendapat penolakan dari masyarakat.

“Kami lalui itu sebagai tantangan yang besar karena kami harus membujuk dan membujuk masyarakat, itulah yang kami hadapi, tapi tetap kami lakukan pekerjaan sesuai sumpah kami,” katanya.

Gembira pasien sembuh

Emosi dan sedih yang dirasakan Plt Kepala Puskesmas Rangkah Surabaya Dwiastuti Setyorini sirna begitu mendengar kabar pasien yang dia rawat dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Baginya, itu merupakan momen paling menggembirakan. Sebagai tenaga kesehatan, Ririn mengaku senang bisa membantu proses penyembuhan pasien Covid-19 di Surabaya.

"Kalau lihat pasien sembuh, itu kepuasan yang teramat sangat, kita bisa membantu dia menjadikannya sembuh, itu sudah sesuatu yang melegakan dan menggembirakan," kata Ririn.

KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI
Para pasien positif Covid-19 yang sembuh mendapatkan sertifikat keterangan sehat dari Rumah Sakit Umum Daerah Dolopo Kabupaten Madiun sebelum dipulangkan ke rumahnya masing-masing, Kamis (26/6/2020).

Namun, upaya Ririn tak berhenti di situ. Ia juga memastikan pasiennya kembali bekerja. Tak jarang, Ririn menghubungi perusahaan tempat pasiennya bekerja.

"Saya telepon langsung HRD-nya, saya mohon izin, saya minta ke perusahaan itu agar pasien yang bekerja di perusahaan tersebut tidak diberhentikan," kata dia.

Sejatinya, pasien yang telah sembuh dari Covid-19 bisa kembali bekerja. Meski begitu, perusahaan biasanya meminta surat keterangan sembuh. Ririn menyebut, instansinya dengan senang hati menyiapkan surat itu.

"Karena kalau diberhentikan, khawatirnya pasien yang sembuh ini jadi stres, depresi lagi, sakit lagi, jadi saya menenangkan mereka dengan cara meminta nomor ponsel HRD-nya dan bicara langsung dengan HRD-nya," jelas Ririn.

Tenaga medis berguguran

SHUTTERSTOCK/SFM_PHOTO
ilustrasi meninggal dunia

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut, 342 tenaga medis gugur dalam tugas karena Covid-19. Data ini merupakan akumulasi hingga 5 Desember 2020.

Rinciannya, 192 dokter, 14 dokter gigi, dan 136 perawat. Untuk dokter, ada 101 dokter umum dengan empat guru besar termasuk di dalamnya, 89 dokter spesialis dengan tujuh guru besar ada di antaranya, serta dua residen.

Ririn mengaku sedih melihat banyak rekan seprofesinya yang gugur. Namun, ia tetap semangat menangani pasien Covid-19.

Beban yang dirasakan terobati saat satu per satu pasien yang dirawat sembuh.

Dokter yang akrab disapa Ririn itu sadar angka kasus positif Covid-19 yang meningkat di Surabaya membuatnya bekerja lebih berat dari biasanya. Beban tenaga medis yang makin berat juga dirasakan rekannya yang lain.

“Beban pasti ada ya, kadang kita merasa capek juga ada,” kata Ririn.

Beban yang dirasakan terobati saat satu per satu pasien yang dirawat sembuh. Ia optimistis dan selalu berpikir tenaga medis bisa melewati masa-masa sulit ini.

“Jadi kami harus menjaga ritme dan mood untuk tetap semangat bisa mendampingi pasien. Itu yang terus dijaga supaya tidak merasa terbebani, intinya kita tidak boleh mengeluh, kita enggak boleh capek, ini tugas kita,” jelas Ririn.

Direktur RSUD Dolopo Kabupaten Madiun dr Purnomo Hadi menambahkan, tenaga medis harus mendapat asupan makanan dan vitamin untuk mempertebal dan menjaga daya tahan badan.

Selain alat pelindung diri yang cukup, tenaga medis juga harus memiliki kerja sama yang kuat.

“Bila ada yang sakit, ya harus ada yang menggantikan,” kata Purnomo.

RSUD Dolopo pun membuat bilik khusus bagi dokter dan perawat untuk mengganti pakaian. Sebab, rata-rata tenaga medis tertular Covid-19 di ruang ganti pakaian APD.

“Penularan paling besar itu ternyata saat tempat pergantian APD. Makanya kami menyiapkan ruang khusus ganti langsung ada kamar mandinya,” kata Purnomo.

Dokter DA—inisial—, salah satu penyintas Covid-19, mengingatkan para tenaga medis untuk tak lupa menggunakan APD saat menangani pasien. Tak jarang, tenaga medis tetap tertular meski telah memakai APD lengkap.

DA mengaku tak tahu dari mana dia tertular Covid-19. Sebelum dinyatakan positif, ia pernah menjalani rapid test dengan hasil nonreaktif dan tes swab dengan hasil negatif. Ia menduga tertular dari pasien yang tak jujur saat berobat ke rumah sakit.

“Teruslah jaga imunitas, jangan sampai badan drop, bila perlu konsumsi multivitamin setiap hari selama pandemi ini,” kata DA.