JEO - Peristiwa

Hepatitis Akut Misterius pada Anak, ‘Barang’ Apa Lagi Ini?

Kamis, 19 Mei 2022 | 07:59 WIB

Dunia kembali menghadapi ancaman penyakit baru, yaitu hepatitis akut pada anak yang belum diketahui penyebabnya. Negara-negara berlomba menggali informasi tentang penyakit yang belum pernah terdeteksi sebelumnya ini. Di tengah keterbatasan informasi, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk menghindari buah hati pada penularan. 


KABAR meninggalnya tiga anak di Jakarta diduga akibat hepatitis akut misterius, akhir April 2022 lalu, membuat pasangan suami istri, Purwanto (34) dan Morisa (30), khawatir. 

Sebab berdasarkan artikel yang ia baca di media massa, salah satu gejala anak-anak malang itu sebelum meninggal adalah diare.

“Soalnya beberapa hari sebelumnya, anak kami diare juga, meskipun enggak sampai demam sih. Tapi ya namanya orangtua, pasti khawatir,” kata Purwanto saat berbincang dengan JEO Kompas.com, Senin (16/5/2022).

Purwanto sendiri telah memeriksakan buah hatinya, Mikaila Anika Praya Sevenia yang baru berusia delapan bulan, ke dokter terpercaya. Sang dokter mendiagnosis Praya kecil mengalami diare biasa, tidak lebih.

Diare itu datang karena Praya memasuki masa oral. Barang apa saja seringkali dimasukkan ke dalam mulut sehingga kuman berpotensi masuk dan menyebabkan ketidakstabilan pada saluran pencernaannya. 

Baca juga: Gejala Hepatitis Akut Misterius pada Anak, Orangtua Harus Tahu

Kabar melegakannya, diare yang dialami Praya kecil tidak berlangsung lama. Dua hari usai diperiksa dokter, kondisi buang air besarnya kembali normal. Praya sehat serta ceria kembali.

Meski demikian, kegelisahan tidak lantas hilang dari hati Purwanto dan Morisa. Bagi mereka, penyakit hepatitis akut misterius sebagaimana yang diberitakan di media massa tetap menjadi ancaman bagi buah hatinya.

“Tentu kami waswas ya. Ini Covid-19 udah mulai turun, tiba-tiba muncul yang baru lagi. Ini apa lagi sih? Ada kepikiran begitu,” ujar Purwanto.

“Yang bikin khawatir lagi, ini sudah disebut hepatitis akut, tapi kok belum diketahui penyebabnya? Kok bisa begitu? Gitu lho. Berarti ini kan penyakit baru dan harus diteliti dari nol lagi,” lanjut dia.

(Istimewa)
Pasangan suami istri Purwanto dan Morisa bersama buah hatinya Mikaila Anika Praya Sevenia. Pasutri itu menerapkan sejumlah proteksi untuk menghindarkan anaknya dari penyakit hepatitis akut misterius.

Bersama sang istri, Purwanto sempat mencari sendiri informasi tentang seluk beluk hepatitis akut misterius di dunia maya.

Tetapi, informasi yang tersedia rupanya masih terbatas. Hal itu dimaklumi karena Pemerintah RI, bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), masih menginvestigasi penyakit tersebut.

Minimnya informasi yang jelas tentang hepatitis akut misterius ini membuat Purwanto dan Morisa memilih memberikan proteksi lebih kepada sang buah hati. 

“Jadi, kami memilih lebih protektif dalam berkegiatan ya. Misalnya kalau keluar, cari yang tempatnya sepi, cari tempat yang kira-kira terjamin kebersihannya, terutama pada alat-alat makannya. Kami juga aktif untuk konsultasi ke dokter,” ujar Purwanto.

Baca juga: Orangtua, Kenali Ciri-ciri Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Ia menegaskan, serangkaian upaya tersebut bukanlah bentuk kepanikan atau ketakutan berlebihan orangtua kepada anaknya.

Belajar pada awal pandemi Covid-19 lalu, kepanikan dan ketakutan berlebihan justru tidak baik untuk kesehatan. Hal yang terpenting adalah kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi sesuatu yang kita belum ketahui secara utuh.

Purwanto dan Morisa hanya bisa berharap, pemerintah Indonesia terus memperbaharui hasil penelitian atas penyakit hepatitis akut misterius ini.

Dengan begitu, orangtua dapat segera mengetahui apa langkah terbaik yang harus dilakukan demi menghindarkan buah hatinya dari penyakit tersebut.

Kronologis Kemunculan Hepatitis Akut Misterius

Kemunculan jenis penyakit hepatitis akut misterius ini cukup menghebohkan dunia.

Merujuk Disease Outbreak News yang dirilis WHO, hepatitis akut misterius ini terdeteksi berdasarkan laporan yang diterima pada tanggal 5 April 2022.

Laporan itu berisi serangan hepatitis akut pada 10 anak yang memiliki rentang usia 11 bulan hingga  lima tahun di Skotlandia bagian tengah.

Dari 10 kasus tersebut, sembilan di antaranya mengalami gejala awal pada Maret 2022. Sementara, satu kasus mengalami gejala awal pada Januari 2022.

Gejalanya meliputi penyakit kuning, diare, muntah, dan sakit perut. Seluruh kasus baru terdeteksi saat dirawat di rumah sakit.

Masih dalam laporan yang sama, pada tanggal 8 April 2022, sebanyak 74 kasus serupa juga teridentifikasi di Inggris.

Baca juga: 163 Anak di Inggris Kena Hepatitis Akut Misterius, 11 Butuh Transplantasi Hati

Gejala yang anak-anak itu hadapi sama seperti yang terjadi di Skotlandia. Beruntung, tidak ada kasus kematian dalam sederet kasus itu.

Sebagian besar pasien sehat setelah dirawat intensif. Enam anak diketahui sampai melakukan transplantasi hati.

Setelah laporan di Inggris, sekitar lima kasus diduga hepatitis akut misterius juga dilaporkan pemerintah Irlandia, dan tiga kasus di Spanyol.

Pekerjaan lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi kasus-kasus baik di dalam Inggris maupun internasional. Prioritasnya adalah menentukan etiologi kasus ini untuk memandu tindakan klinis dan kesehatan masyarakat lebih lanjut

-WHO-

Uji laboratorium telah dilakukan. Hasilnya, penyakit yang diderita anak-anak tersebut bukan masuk kategori hepatitis tipe A, B, C, D, atau E sehingga membuat bingung tenaga medis setempat. 

Beberapa kasus mengalami koinfeksi dengan virus SARS-CoV-2. Tetapi, WHO belum dapat menyimpulkan penyakit ini memiliki kaitan langsung dengan SARS-CoV-2. 

Secara umum WHO menyebut, etiologis kasus hepatitis akut misterius ini belum diketahui dan masih dalam penyelidikan aktif.

“Pekerjaan lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi kasus-kasus baik di dalam Inggris maupun internasional. Prioritasnya adalah menentukan etiologi kasus ini untuk memandu tindakan klinis dan kesehatan masyarakat lebih lanjut,” tulis laporan WHO.

Negara-negara anggota juga dianjurkan untuk mengidentifikasi, menyelidiki serta melaporkan kasus-kasus potensial yang sesuai dengan definisi kasus.

Setelah menerima serangkaian laporan kasus hepatitis akut misterius ini, WHO menetapkan peristiwa ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 15 April 2022.

Tak berhenti sampai di situ, Laporan Mingguan Kesakitan dan Kematian (MMWR) Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, 29 April 2022, menyebutkan, sepanjang Oktober-November 2021, di Alabama ada lima pasien anak dengan hepatitis parah, gangguan pernapasan, dan infeksi adenovirus.

Adenovirus adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi di saluran pernapasan atas, saluran pencernaan, mata, dan sistem saraf.

Hingga Februari 2022, ada tambahan empat kasus hepatitis anak dari negara bagian lain Amerika Serikat.

Pada mereka tidak terdeteksi virus hepatitis tipe A, B, C, D, E ataupun SARS-CoV-2. Tiga pasien mengalami gagal hati akut, dua di antaranya diobati dengan cidofovir dan steroid serta mendapatkan transplantasi hati.

Meski ada dugaan adenovirus berperan dalam kasus-kasus hepatitis akut misterius ini, tetapi sejauh ini penyebabnya masih diteliti, belum bisa dipastikan.

Baca juga: WHO Selidiki Keterkaitan Virus Corona dengan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Kecurigaan bahwa vaksinasi Covid-19 menjadi biang dari penyakit ini telah disingkirkan. Sebab anak di bawah usia lima tahun diketahui belum divaksinasi.

Kronologis kemunculan hepatitis akut misterius di dunia hingga di Indonesia dapat disimak melalui infografik berikut ini: 

Kronologis Kemunculan Hepatitis Akut Misterius

Di Indonesia, kabar serupa tiba akhir April 2022, menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah.

Di tengah euforia penurunan kasus Covid-19 sehingga pemerintah memperbolehkan mudik, tersiar kabar tiga anak meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Masing-masing berusia 2 tahun, 8 tahun dan 11 tahun.

Pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, ketiga anak itu masuk ke rumah sakit dalam kondisi berat sehingga nyawanya sulit tertolong lagi.

Pada 6 Mei 2022, kabar duka datang dari Tulungagung, Jawa Timur. Seorang anak berusia tujuh tahun meninggal dunia setelah sempat dirawat intensif di RSUD dr Iskak.

Sama seperti tiga anak di Jakarta, seorang anak di Tulungagung ini juga masuk rumah sakit sudah dalam keadaan koma.

Selang sehari kemudian, seorang bayi berusia dua bulan asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat meninggal dunia.

Baca juga: Benarkah Hepatitis Akut Misterius pada Anak Efek dari Long Covid? Ini Kata Epidemiolog

Hingga pertengahan Mei 2022 ini, Kemenkes belum dapat memastikan penyakit apa yang membunuh lima anak tersebut. Kemenkes masih melaksanakan investigasi epidemiologis. 

Seiring dengan itu, pemerintah mencatat, laporan kasus yang diduga hepatitis akut misterius justru semakin bertambah di penjuru Indonesia. 

Juru Bicara Kemenkes Situ Nadia Tarmizi meminta masyarakat tetap tenang hingga proses investigasi menuai hasil.

“Selama masa investigasi, kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tetap tenang,” kata Nadia dalam keterangan resmi pada awal Mei 2022.

DOK. Humas Kemenkes
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi

Penanganan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani kemunculan penyakit hepatitis akut misterius ini.

Mulai dari mengumpulkan informasi global seputar penyakit tersebut, meningkatkan kewaspadaan publik, memperkuat deteksi dengan melakukan penyelidikan epidemiologi dan analisis patogen, hingga menyusun pedoman tata laksana penanganan hepatitis akut misterius.

Kemenkes juga telah menunjuk Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien penyakit hepatitis akut misterius.

Penunjukan ini karena RSPI Sulianti Saroso dinilai memiliki tenaga kesehatan yang akseptabel dan fasilitas kesehatan yang memadai, yakni ruangan bertekanan negatif dan laboratorium pemeriksa.

 

 Definisi kasus 

Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengungkapkan, berdasarkan arahan WHO, pemerintah Indonesia menetapkan definisi hepatitis akut misterius ini menjadi lima status atau kategori.

Simak infografik beserta penjelasan di bawahnya berikut ini:

Definisi Kasus Hepatitis Akut Misterius

Pertama, confirmed alias terkonfirmasi. Kasus pada kategori ini adalah yang sudah dipastikan mengidap hepatitis akut misterius.

“Tetapi, karena penyakit ini baru dan belum diketahui penyebabnya, maka sampai saat ini belum ada definisi tentang (status) terkonfirmasi ini,” ujar Syahril dalam konferensi pers, Rabu (18/5/2022).

Bila suatu saat WHO mengetahui etiologis penyakit ini, pasien yang sudah terkonfirmasi baru dapat dilabeli dengan status confirmed.

Kedua, probable atau mungkin terkonfirmasi. Sebuah kasus berstatus probable apabila dideteksi gejala penyakit hepatitis akut. Contohnya diare, mual sampai muntah, timbul kuning pada mata, air urine berwarna seperti teh, dan warna feses pucat keputihan.

Selain itu, kasus yang juga masuk ke dalam kategori probable adalah pasien yang berusia di bawah 16 tahun.

“Dalam pemeriksaan laboratorium awal, kadar SGOT atau SGPT-nya di atas 500 IU/L,” papar Syahril.

Baca juga: Perbedaan Diare Biasa dan Diare Gejala Hepatitis Akut Misterius

Ketiga, Epi-Linked. Kategori ini secara umum sama dengan probable. Tetapi ada dua perbedaan khusus.

Kasus kategori Epi-Linked berusia di atas 16 tahun dan memiliki kontak erat dengan kasus probable yang sudah ditemukan terlebih dahulu.

Keempat, pending classification. Kasus pada kategori ini adalah kasus dengan gejala seperti hepatitis tipe yang sudah ada sebelumnya, tetapi belum ada pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan bahwa pasien mengidap hepatitis tipe A, B, C, D, dan E.

Kelima, discarded. Kasus yang masuk kategori ini adalah kasus yang sudah dapat disimpulkan bahwa penyebabnya bukanlah hepatitis.

 

 Apa saja gejala yang muncul? 

Berdasarkan data tanggal 18 Mei 2022, pemerintah Indonesia mendeteksi 27 kasus diduga hepatitis akut misterius. 

Dari 27 kasus tersebut, satu kasus masuk ke dalam kategori probable dan telah meninggal dunia. 

Kasus probable di mana pasiennya meninggal dunia adalah salah satu dari tiga anak yang sempat dirawat di RSCM, Jakarta. 

"(Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan hepatitis tipe) A, B, C, D, dan E nya sudah negatif dan patogennya negatif," ujar Syahril. 

Kasus probable ini masih diteliti lebih lanjut, apakah penyebabnya terkonfirmasi hepatitis akut misterius atau penyakit lainnya. 

Bila terkonfirmasi, akan masuk ke dalam kategori confirmed. Tetapi bila hasil penegakkan diagnosis menunjukkan hasil berbeda, maka akan dimasukkan ke dalam kategori discarded.

Dari 27 kasus itu pula, sebanyak 13 kasus telah dinyatakan discarded. Artinya, ada 13 kasus yang masih dikategorikan pending classification.  

Lebih lanjut, dari 13 kasus yang dikategorikan pending classification, lima di antaranya juga telah meninggal dunia. 

Baca juga: Panduan Tata Laksana Perawatan dan Obat Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Syahril menambahkan, berdasarkan pemantauan seluruh kasus itu, gejala yang paling banyak diderita adalah demam, disusul mual, muntah, hilang nafsu makan, diare akut, hingga perubahan warna urine dan warna feses.

Simak selengkapnya dalam infografik berikut ini:

Profil Kasus Diduga Hepatitis Akut Misterius

Gejala pada kasus yang ditemukan di Indonesia sedikit berbeda dibandingkan dengan kasus yang ditemukan di negara lain.

Di Inggris misalnya. Gejala dominan kasus yang dilaporkan di sana, yakni perubahan warna kekuningan pada kulit, mual hingga muntah, dan perubahan warna feses menjadi pucat. 

"Di Inggris 71 persen (kasus muncul warna) kuning (pada kulit), kemudian ada muntah, dan perubahan warna feses. Sementara di Indonesia, dari 14 kasus di atas, gejala yang menonjol demam, hilang nafsu makan, dan muntah," ujar Syahril. 

 

 Alur penapisan hepatitis akut misterius di fasilitas kesehatan 

Kemenkes telah menyusun alur penapisan di fasilitas kesehatan mulai dari tingkat pertama (puskesmas) hingga rumah sakit.

Di puskesmas, pasien di bawah 16 tahun pertama-tama harus menjalani pemeriksaan umum terlebih dahulu. Gejala yang diperiksa, antara lain, apakah ada mual sampai muntah, apakah mengalami diare akut, apakah mengalami demam, gatal, dan kehilangan nafsu makan.

Apabila tidak ada gejala tersebut, maka penapisan hepatitis akut misterius dihentikan dan diarahkan ke penapisan penyakit lain sesuai diagnosis dokter.

Tetapi, bila gejala-gejala umum mengarah ke hepatitis akut misterius, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lain, yakni mulai dari pemeriksaan kesadaran, pemeriksaan SGOT dan SGPT, pemeriksaan urine, hingga pemeriksaan hepatitis B-C.

Pemeriksaan tahap ini bisa dilakukan di puskesmas sendiri atau di rumah sakit rujukan untuk mendapat perawatan sekaligus pengobatan intensif.

Berikut ini skema penapisan di puskesmas:

Kemenkes
Alur penapisan hepatitis akut misterius pada anak di fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas).

Sementara itu, di rumah sakit, penapisannya tidak jauh berbeda. Tetapi, penapisan di rumah sakit jauh lebih lengkap dan detail serta melibatkan tenaga medis spesifik.

Baca juga: Sampel Dugaan Hepatitis Akut Misterius akan Diperiksa dengan WGS, Ini Kata Kemenkes

Berikut ini skema penapisan di rumah sakit:

Kemenkes
Alur penapisan kasus hepatitis akut misterius pada anak di rumah sakit.

Syahril melanjutkan, di samping mengedepankan penyelidikan epidemiologi, Kemenkes juga mengembangkan analisis patogen menggunakan metode Whole Genom Sequencing (WGS).

Metode WGS dinilai lebih efektif untuk mendeteksi varian virus apa yang menginfeksi pasien-pasien terduga hepatitis akut misterius. 

"Kemudian, kami juga mengembangkan sistem pelaporan kasus New All Record (NAR) yang dikomandoi oleh teman-teman Kemenkes," ujar Syahril. 

 Cara Mencegah Hepatitis Akut Misterius

Merujuk pada lima tipe hepatitis yang sudah teridentifikasi sebelumnya, terdapat tujuh cara penularan. 

Pertama, infeksi hepatitis  melalui mulut karena makanan, minuman atau benda yang telah terkontaminasi. 

Kedua, sanitasi lingkungan tempat tinggal buruk dan kotor. Ketiga, kebersihan individu yang sangat rendah. 

Berikutnya, infeksi dapat terjadi saat proses transfusi darah, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan jarum suntik bergantian.

Baca juga: Siapa Kelompok Paling Rentan Terinfeksi Hepatitis Akut Misterius? Ini Kata Ahli

Tidak hanya itu, penularan virus hepatitis segala tipe juga terjadi melalui transplantasi organ tubuh. Terakhir, infeksi terjadi saat berhubungan seksual.

DOK. Humas Elnusa Petrofin
PT Elnusa Petrofin (EPN) melalui seluruh unit operasi di penjuru Indonesia menggelar program corporate social responsibility (CSR) Petrofin Peduli bertema Gerakan Masyarakat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)?.

Cara-cara penularan virus tersebut sebenarnya telah memberikan gambaran jelas mengenai obyek utama yang menjadi media perpindahan virus, yaitu cairan tubuh manusia. 

Oleh sebab itu, pola hidup bersih dan sehat tidak bisa ditawar lagi bila ingin menekan risiko infeksi hepatitis. 

"Cuci tangan dengan sabun ini kewajiban untuk mencegah penularan. Kemudian makanan dan minuman dimasak sampai matang. Kemudian penyajiannya harus menjaga kebersihan dan higienitas," ujar Syahril. 

Cuci tangan dengan sabun ini kewajiban untuk mencegah penularan. Kemudian makanan dan minuman dimasak sampai matang. Kemudian penyajiannya harus menjaga kebersihan dan higienitas

-Mohammad Syahril-

"Dan juga karena ada sekitar 25 persen penyebaran hepatitis sebagaimana dilaporkan di Inggris melalui saluran pernapasan, maka memakai masker juga jadi kewajiban kita di samping menjaga jarak dan menjauhi kerumunan," lanjut dia. 

Ia menekankan, baik hepatitis yang sudah terdeteksi sebelumnya maupun hepatitis akut misterius ini bisa disembuhkan.

Setelah sembuh pun, pasien menjalani kehidupan seperti biasa sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tidak ada gejala menetap atau perburukan kondisi, meski tak menutup kemungkinan ia bisa terjangkit lagi.   

Untuk beberapa kasus berat, lanjut Syahril, metode pengobatan pun sudah cukup canggih. Salah satunya dengan melakukan transplantasi hati.  

"Di Inggris dan Amerika sudah dilakukan. Di Indonesia pun sudah dilakukan transplantasi hati untuk kasus-kasus hepatitis hebat. Tidak menutup kemungkinan pasien hepatitis akut misterius ini juga mendapatkan transplantasi hati," lanjut dia. 

Baca juga: Penyebab Hepatitis Akut Misterius Anak Diduga Disebabkan Adenovirus, Virus Apa Itu?

Soal apakah vaksin hepatitis yang sudah ada bisa mengantisipasi hepatitis akut misterius ini, Syahril menegaskan, belum ada penelitian ilmiah yang menjawab pertanyaan tersebut. 

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi RSCM FK UI, Hanifah Oswari menambahkan, upaya lain yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah penularan hepatitis akut misterius adalah meningkatkan pemahaman orangtua terhadap gejala awal. 

Pexels/ Vanessa Loring
Kerjasama antara suami dan istri sangat penting untuk memastikan proses MPASI anak berjalan lancar dan memenuhi kaidah kebutuhan nutrisi

Hanifah menyebutkan, secara umum gejala awal penyakit hepatitis akut misterius adalah mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Selanjutnya, gejala akan semakin berat seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan BAB berwarna putih pucat.

Jika anak mengalami gejala-gejala tersebut, orangtua diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis awal.

Jangan menunggu hingga muncul gejala kuning bahkan sampai penurunan kesadaran. Karena kondisi tersebut menunjukkan bahwa infeksi hepatitis sudah sangat berat.

''Bawalah anak-anak kita ke fasyankes terdekat untuk mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan. Jangan menunggu sampai gejalanya lebih berat, karena kalau berat kita kehilangan momentum untuk bisa menolong lebih cepat. Apalagi kalau sampai sudah terjadi penurunan kesadaran, maka kesempatan untuk menyelematkannya sangat kecil,'' kata Hanifah.

Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama yang solid antara orangtua, tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan agar bisa menemukan gejala hepatitis akut misterius ini sedini mungkin agar anak segera mendapatkan pertolongan medis.