JEO - News

Membaca Peluang
Jokowi vs Prabowo
di Lumbung Suara
Jateng dan DIY

Sabtu, 13 April 2019 | 23:50 WIB

Pada Pemilu Presiden 2014, Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan lumbung suara penting bagi kemenangan Joko Widodo. Akankah situasi tetap sama pada Pemilu 2019?

PEMILIHAN Presiden (Pilpres) 2019 bak pengulangan Pilpres 2014. Kandidat yang berlaga sebagai calon presiden (capres) sama, yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Persaingan ketat pun diperkirakan serupa pula.

Pada Pemilu 2019, Jokowi berpasangan dengan Ma'ruf Amin, tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sementara Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno, yang sebelumnya adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta setelah bersama Anies Baswedan mengalahkan petahana Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saifil Hidayat pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pada Pemilu 2014, peta kekuatan politik kedua calon presiden ini pun hampir berimbang. Saat itu, Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK), petinggi Partai Golkar, walaupun partainya memilih mendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Saat itu, Jokowi-JK didukung PDI-P, PKB, Nasdem, dan Hanura, dalam payung Koalisi Indonesia Hebat. Sementara pasangan Prabowo-Hatta didukung Golkar, Gerindra, PAN, PKS, PPP, PBB dengan nama Koalisi Merah Putih.

Hasilnya, Jokowi-JK unggul 53,15 persen dan pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan dukungan 46,85 persen suara. Hampir berimbang,  lantaran suara wilayah Sumatera, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta dimenangkan oleh Prabowo-Hatta.

Adapun salah satu lumbung suara yang menjadi kunci kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 adalah Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Akankah peta dukungan dari dua provinsi ini juga bakal serupa dengan kontestasi politik nasional pada lima tahun silam? 

Berdasarkan survei Litbang Kompas pada Maret 2019, meski mengalami penurunan, elektablitas Jokowi-Ma'ruf di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih kokoh.

Survei Litbang Kompas soal Pilihan Capres-Cawapers Berdasarkan Pendidikan dan Wilayah - (Litbang Kompas/RFC/BES)

Predikat Jateng-DIY menjadi lumbung suara bukanlan isapan jempol belaka. Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan dari akhir Februari hingga awal Maret 2019, Jokowi-Ma'ruf meraih 61,6 persen. Di wilayah yang sama, Prabowo-Sandi meraih 18,4 persen.

Namun, apakah peta dan arah angin berubah?

PETA PELUANG
JAWA TENGAH

HANYA berselang sehari, dua calon presiden (capres) melakukan kampanye terbuka di tempat yang sama, di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Jokowi hadir di Solo pada Selasa (9/4/2019) sementara Prabowo berkampanye pada Rabu (10/4/2019).

Kedua kampanye dipadati ribuan pendukung masing-masing pasangan calon (paslon) dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Jokowi datang dengan kereta kuda menyapa pendukungnya. Sementara pendukung Prabowo menghadiri kampanye dengan menunggang kuda.

Pertarungan kedua capres di Jawa Tengah menarik untuk diikuti. Selama ini, Jawa Tengah dikenal sebagai lumbung suara untuk capres nomor urut 01 Joko Widodo.

Pada 2014, saat Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla, ia memperoleh 12.959.720 suara di Jawa Tengah. Sementara, Prabowo yang kala itu berpasangan dengan Hatta Radjasa meraih 6.485.720 suara.

Berdasarkan survei Kompas, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta pada Oktober 2018 mencapai 75,4 persen, sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga 12,6 persen.

Namun, survei pada Maret 2019, elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 turun menjadi 61,6 persen dan pasangan calon nomor urut 02 naik menjadi 18,4 persen.

Target 50+1

Banyaknya kader yang ikut kampanye terbuka di Solo dan militansi mereka yang makin solid membuat Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga optimistis dapat membuat kejutan di Jawa Tengah dan merebut kemenangan. Target kemenangan pasangan calon nomor urut 02 itu 50 persen plus 1.

Juru bicara tim BPN Prabowo-Sandi wilayah Jawa Tengah Sriyanto Saputro mengatakan, target kemenangan yang dicanangkan tidak muluk-muluk. Pihak BPN realistis dengan kondisi saat ini.

"Kami targetnya tidak muluk-muluk untuk wilayah Jateng. Yang penting menang. 50 persen plus 1," kata Sriyato, saat dihubungi, Kamis (11/4/2019).

Pria yang juga wakil ketua DPD Gerindra Jawa Tengah ini menilai, target itu dapat dikejar hingga waktu pencoblosan. Ia mengklaim, angka elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi sudah mendekati petahana di Jawa Tengah. Pihaknya tidak mau mengklaim suara terlalu tinggi seperti yang disampaikan kubu pasangan 01.

"Pasangan 01 saat kampanye di Solo ingin kemenangan sampai 90 persen. Kami enggak ingin seperti itu, tapi realistis, yang penting menang," tegas dia.

Sementara, terkait elektabilitas pasangan 02 di Jateng, Sriyanto menilai trennya selalu naik. Dia tidak menyebut angka secara rinci berapa persentase kenaikan elektabilitas Prabowo-Sandi.

"Survei internal kami sudah ada. Tunggu saja kejutan nanti," tambah Sriyanto.

Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Solo, Agus Sahid optimistis paslon capres-cawapres nomor urut dua, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, akan meraup kemenangan suara di wilayah Solo Raya, dengan dukungan 65 persen.

Kemenangan Prabowo-Sandiaga di wilayah Solo Raya diyakini berasal dari dukungan 80 persen massa NU dan banyaknya partai pengusung capres 01 yang berbalik arah dukungan.

"Solo Raya Insya Allah kemenangan Pak Prabowo-Sandiaga mencapai 60-65 persen," ujar Agus kepada Kompas.com, Selasa (9/4/2019) malam.

Agus yang juga Ketua Seknas Soloraya mengatakan, massa NU ini saat Pilgub Jateng adalah pendukung Ganjar Pranowo, yang separtai dengan Jokowi. 

"Saat pemilu gubernur Jawa Tengah, dulu NU itu 80 persen ke Ganjar. Tetapi saat ini 80 persen massa NU ke Pak Prabowo baik di Solo maupun Jawa Tengah. Sisanya 20 persen ke Jokowi," kata Agus.

Ia menambahkan, saat pilgub, partai pengusung masih solid memberikan dukungan kepada calonnya. Namun saat ini partai pengusung sudah berbalik arah memberikan dukungan kepada Prabowo-Sandiaga.

Agus mengatakan, makin meningkatnya elektabilitas Prabowo-Sandiaga lantaran kejenuhan di akar rumput. Warga menginginkan perubahan lebih baik lagi.

"Hasil survei di akar rumput," ujar dia tentang sumber datanya. 

Sementara itu Sekretaris II Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandi, Rachmat Imanda, optimistis pasangan yang diusungnya akan dapat berbuat lebih di "kandang banteng", sebutan untuk Jawa Tengah sebagai basis pendukung PDI-P. Bahkan, tidak menutup kemungkinan perolehan suaranya dapat mengungguli pasangan Jokowi-Ma'ruf.

"Kita berjuang semaksimal mungkin, ikhtiar. Kita ketahui di sini basis merah, teman-teman partai koalisi dan relawan berjuang untuk memenangkan di Banyumas. Kita ingin menang di pemilu ini, target 58 persen, kan wajar, logis," kata Imanda.

Menurut Imanda, kali ini pihaknya lebih siap menghadapi pertarungan. Koalisi parpol solid dan didukung dengan relawan yang sangat militan.

"Banyak faktor yang berbeda jauh antara pemilu yang dulu dan sekarang, dulu 2014 perolehan suaranya sekitar 36 persen kalau enggak salah. Lima tahun lalu Gerindra baru berumur 6 tahun, struktural belum sesolid dan semilitan sekarang. Kalau sekarang tidak hanya parpol koalisi, tapi dengan relawan-relawan yang sangat luar biasa," ujar Imanda.

Sosok Prabowo yang merupakan keturunan asli Banyumas juga dinilai akan membantu mendulang suara. Selain itu, Sosok Sandi juga diyakini mendongkrak suara, karena ia lebih mudah diterima semua kelompok masyarakat.

"Faktor Prabowo besar lah, kapan maning wong Banyumas duwe presiden (kapan lagi orang Banyumas jadi presiden). Kalau kemudian dari orang sendiri yang jadi presiden tentu Banyumas akan jadi prioritas program-programnya, terutama pembangunan. Kita juga punya wakil yang lebih menjual, mudah diterima semua lapisan, banyak diterima semua kalangan," kata Imanda.

Suara Jokowi-Ma'ruf di Banyumas, kata politisi Gerindra ini, bisa turun, karena banyak warga yang kecewa dengan kepemimpinanya selama hampir 5 tahun terakhir.

Masyarakat dinilai semakin cerdas menilai janji-jani Jokowi pada 2014 dengan realisasi sekarang. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain seperti Kabupaten Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara, termasuk Kebumen. Pergerakan dari parpol koalisi dan relawan akan berupaya memenangkan Prabowo-Sandi.

"Cilacap luar biasa pergerakannya di sana, Purbalingga juga luar biasa, bahkan pilkada kemarin menang (Gerindra berkoalisi dengan PDI-P, PAN dan PKS mengusung Tasdi-Tiwi). Kebumen juga bagus, karena didukung juga oleh Rustriningsih, relawan dan jaringannya jalan," ujar Imanda.

Optimisme di atas 80 persen

Di Solo, Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin optimistis pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin memperoleh suara di atas minimal 80 persen.

Optimisme perolehan suara itu karena Solo dan sekitarnya merupakan basis pendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Ketua TKD Jokowi-Ma'ruf Amin Solo Her Suprabu menyampaikan, Jokowi asli kelahiran Solo dan pada Pilpres 2014 ketika berpasangan dengan Jusuf Kalla memperoleh suara 83,4 persen di Solo.

Di samping itu pada pemilihan wali kota (Pilwakot) 2010, Jokowi memperoleh suara 90,1 persen. Melihat perolehan suara itu, jelas Her Suprabu, elektabilitas Jokowi yang saat ini berpasangan dengan Ma'ruf Amin terus meningkat.

"Artinya, 90 persen warga Solo itu sudah kenal sama Pak Jokowi. Jadi, enggak perlu dikenalkan lagi (Pak Jokowi). Kita tinggal menyampaikan hasil-hasil kerja Pak Jokowi untuk meningkatkan elektabilitas pak Jokowi," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (9/4/2019).

Selama ini yang menjadi perhatian TKD adalah banyaknya berita hoaks atau bohong yang belum tentu kebenarannya yang selalu menyerang Jokowi.

"Yang mengalahkan itu kan berita hoaks-hoaks itu. Makanya kita terus menangkal berita-berita hoaks yang beredar di masyarakat. Bahwa apa yang disampaikan itu tidak benar," imbuhnya.

Oleh sebab itu, pihaknya meminta kepada masyarakat apabila mendapatkan berita yang belum tentu kebenarnya untuk melakukan konfirmasi terhadap pihak terkait. Jangan sampai masyarakat termakan dengan berita hoaks yang justru menyesatkan.

Disinggung hasil survei internal pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin yang dilakukan TKD, kata Her Suprabu, perolehan suara Jokowi-Ma'ruf Amin di atas 85 persen. Meski demikian timnya terus berupaya terus meningkatkan suara pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019.

"Melihat prestasi-prestasi Pak Jokowi selama empat tahun ini sudah bisa memberikan kontribusi positif untuk kemajuan kota Solo. Apalagi Pak Jokowi kan orang Solo. Tentu kita sebagai warga Solo memilih orang Solo. Solo sendiri akan terangkat dengan keberadaan Pak Jokowi sebagai presiden yang kedua kalinya," katanya.

Seperti di Solo, suara pasangan Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin di wilayah Banyumas raya diperkirakan akan semakin perkasa. Selain sebagai kandang banteng, pada pilpres ini pasangan tersebut juga didukung oleh kelompok nahdliyin.

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Kabupaten Banyumas dr Budhi Setiawan mengatakan, menargetkan perolehan suara Jokowi-Ma'ruf di atas 70 persen. Target ini meningkat dibanding perolehan suara pada pilpres 2014 lalu yang mendapat suara hampir 64 persen.

Secara keseluruhan, untuk Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap, perolehan suara Jokowi diperkirakan di atas 65 persen.

Sebelumnya, tim kampanye daerah Provinsi Jawa Tengah ditarget meraih kemenangan mutlak di Pemilihan Presiden 2019. Bahkan, kemenangan yang diminta mencapai 82 persen.

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Tengah Bambang Wuryanto menjelaskan, angka kemenangan hingga 82 persen muncul dari calon presiden Joko Widodo yang menunjukkan rasa kepercayaan dirinya.

“Pak Jokowi optimistis Jateng akan menyumbang 78 persen sampai 82 persen, Pak Jokowi juga fair kalau di Sumatera alami penurunan. Maka, Jateng diharap menjadi kantung penyumbang suara (daerah) yang kurang,” ujar Ketua DPD PDIP Jawa Tengah ini, Minggu (21/10/2018).

Bambang menyatakan, untuk mencapai target itu perlu kerja keras. Sebab, survei internal untuk pemenangan pasangan Joko Widodo- Ma’ruf Amin di Jawa Tengah masih di angka 70,8 persen. Oleh karena itu, TKD Jawa Tengah nantinya akan terus bergerak hingga angka yang ditarget terpenuhi.

“Kalau saya diminta menjelaskan target 78 persen, hari ini saya belum bisa jawab karena survei internal PDI-P baru 70,8 persen. Itu survei di minggu pertama bulan Oktober (2018),” tambah Bambang. 

Sebelumnya, Jokowi di sela pelantikan tim kampanye daerah Jawa Tengah menginginkan kemenangan mutlak di Jawa Tengah. Angka hingga 82 persen, menurut Jokowi didapat dari kalkulasi tren kandidat calon, baik calon presiden-wakil presiden dan calon legislatif.

Jokowi meminta agar angka yang mencapai 82 persen dijaga tak sampai turun. Bahkan, Jokowi meminta agar angka itu terus naik meski kenaikannya lambat.

"Angka itu didapatkan dari kalkulasi tren dari partai dan calon. Kita menjaga jangan sampai tren itu turun, harus naik. Naik sedikit enggak apa-apa, tapi jangan sampai turun. Sedikit naik enggak apa-apa," ucap Jokowi kala itu.

Kata pengamat

Pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Teguh Yuwono, melihat peluang kemenangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf lebih besar dibanding nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Pasangan tersebut diuntungkan karena posisinya sebagai petahana.

"Kalau melihat peluang aspek kemenangan 01 atau 02, sebetulnya berimbang. Hanya saja incumbent punya peluang besar menang, karena posisinya sudah menguat sejak awal pertarungan," papar Teguh, kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (10/4/2019).

Akan tetapi, Teguh melanjutkan, manuver yang dilakukan Prabowo-Sandi mendekati pencoblosan ini dinilai serius sehingga pertarungan keduanya lebih menarik.

Di Jawa Tengah, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih berpeluang besar menang mengingat wilayah ini masih didominasi oleh PDI Perjuangan (PDI-P). Hanya beberapa daerah saja yang dikuasai partai oposisi.

"Jawa Tengah kantong PDI-P, 60-70 persen dikuasai oleh partai ini. Saya kira jalur lain cuma sedikit, cukup kuat seperti Gerindra dan PKS. Tapi Jawa Tengah hampir pasti dimenangkan 01," ujar Teguh.

Ketua Program Magister Ilmu Politik FISIP Undip ini juga mengingatkan adanya pemilih-pemilih swing (ragu) soal calon presiden sehingga perlawanan Jokowi-Ma'ruf lebih berat.

"Saya kira pemilih Partai Demokrat adalah pemilih yang swing soal presiden. Nampaknya partai lebih mencari aman agar bisa melewati batas ambang minimal," ujarnya.

Meski demikian, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga dinilai memiliki gerakan perlawanan yang tidak bisa dianggap remeh sepanjang kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini. Pasangan calon (paslon) yang diusung Partai Gerindra dan PKS itu dikelilingi pendukung dan simpatisan militan.

Menurut pengamat politik dari Universitas Tidar (Untidar) Kota Magelang, Jawa Tengah, Eny Boedy Orbawati, secara umum mengalahkan paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf sebagai petahana memang tidak mudah dan Prabowo-Sandiaga menunjukkan perlawanan yang luar biasa.

"Melawan petahana itu tidak mudah, butuh perjuangan, tapi saya lihat perlawanan 02 luar biasa, jangan dianggap remeh. Mereka punya massa pendukung dan simpatisan yang militan," jelas Eny saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (10/4/2019) malam.

Militanisme pendukung dan simpatisan Prabowo-Sandi bisa dilihat ketika mereka menggelar kampanye terbuka di sejumlah daerah. Pendukung pasangan, terutama dari PKS dan Gerindra, rela berbondong-bondong datang bahkan ada yang spontan memberikan donasi uang untuk membiayai kampanye.

"Mereka taat dengan komando pimpinannya walau cuma lewat medsos saja. Mereka tidak keberatan. Bisa dilihat saat Prabowo-Sandi kampanye terbuka di GBK Jakarta beberapa waktu lalu," ujar dia.

Meskipun, tidak bisa dipungkiri bahwa petahana memiliki kekuatan yang tidak dimiliki Prabowo-Sandiaga. Jokowi-Ma'ruf, kata Eny, juga diuntungkan dengan kebijakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memperbolehkan petahana tidak mengajukan cuti saat berkampanye. Ini berbeda dengan kebijakan pada pemilu sebelumnya.

"Dengan kebijakan ini petahana semakin kuat. Di samping kekuatan lain yang telah dimiliki," ujar mantan Ketua KPU Kota Magelang itu.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Magelang Zuhron Arofi berpendapat, jika melihat berbagai hasil polling yang dilakukan oleh lembaga survei, pasangan capres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf diakui lebih unggul dibanding saingannya, Prabowo-Sandiaga meskipun angkanya tidak terpaut jauh.

Hasil survei tersebut bisa menjadi gambaran sementara, tetapi tidak bisa menjadi garansi ketepatannya.

"Paslon nomor 01 lebih unggul dari hasil sejumlah polling. Tapi, beberapa hasil survei pada proses pemilihan di Indonesia tidak sepenuhnya bisa menjadi pegangan," kata pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Magelang Zuhron Arofi, di Magelang, Kamis (11/4/2019).

Menurut Zuhron, kekuatan Jokowi-Ma'ruf terletak pada kekuatan pendanaan yang tidak terbatas. Sedangkan kekuatan Prabowo-Sandiaga ada pada soliditas kekuatan pendukungnya.

Selain itu, Jokowi tentu punya keunggulan lebih karena petahana. Dengan posisi yang semacam itu dia punya alat negara untuk mengkampanyekan dirinya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Di kubu lain, pengurus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam UMM itu menyebut Prabowo-Sandiaga punya kemampuan memanfaatkan keresahan dan kekecewaan masyarakat terhadap hasil kerja petahana yang kurang memuaskan.

"Dengan situasi ini maka paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga menawarkan kebaruan sebagai bentuk harapan baru bagi masyarakat," ulas Zuhron.

Kantong suara Jokowi-Ma'ruf terpusat di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Bali. Ini tidak sederhana, sebab 60 persen penduduk Indonesia ada di Jawa. Yang artinya, siapa memenangkan Jawa bisa dikatakan memenangkan Indonesia.

Sedangkan kantong suara Prabowo-Sandiaga ada du luar Jawa khususnya Sumatera, NTB, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Zuhron menyebut, Indonesia Timur jika dibaca secara umum bisa dikatakan kantong suaranya terbagi sama rata untuk kedua paslon itu.

Lebih lanjut, menurut Zuhron, pemilu tahun ini sangat terasa berbeda dibanding dengan pemilu sebelumnya. Setidaknya ada tiga hal yang membuat menarik.

Pertama, lahirnya kembali pertarungan politik identitas (politik aliran) PKI versus Khilafah, Pancasila versus Anti Pancasila, dan seterusnya.

Kedua, pertarungan ulang antara Jokowi dengan Prabowo. Hanya saja pertarungan kali ini Jokowi tidak lagi dikenal sebagai sosok ratu adil yang memberi harapan baru.

"Sehingga, elektabilitasnya belum dalam posisi angka aman," ucap mantan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Magelang ini.

Ketiga, Zuhron merasakan Pemilu 2019 memiliki atmosfer berita bohong alias hoaks paling masif sepanjang sejarah Pemilu Indonesia. Kali ini masyarakat benar-benar sedang diuji kewarasan dan akal sehatnya untuk melihat sesuatu secara lebih berhati-hati.

"Termakan hoaks berarti terperangkap dalam kedustaan politik yang akan membawa kehancuran setidaknya untuk lima tahun ke depan," ujarnya.

YOGYAKARTA 

DUA kubu capres kini bersaing memenangkan hati masyarakat Yogyakarta untuk Pemilu pada 17 April 2019, yakni kubu Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dua kandidat presiden ini menyambangi Yogyakarta dan berorasi politik di GOR Kridosono. Jokowi datang ke Yogyakarta pada 23 Maret 2019 dengan aksi deklarasi Alumni Jogja SATUkan Indonesia.

Dia datang ke GOR Kridosono dengan mengendarai sepda onthel. Pesan dalam orasi politiknya yakni agar semua pihak memerangi hoaks.

Sementara kampanye Prabowo di tempat yang sama pada 8 April 2019 merupakan kampanye penuh semangat. Prabowo berpidato tentang tentara dan polisi yang masih aktif agar netral.

Aksinya menggebrak meja podium saat berpidato pun menjadi viral dan disambut dengan semangat oleh pendukungnya.

Bagaimana peta kekuatan dua kandidat tersebut di DIY? Apa faktor-faktor penentu kemenangan mereka di daerah ini?

Target 70 persen

TKD DIY targetkan 70 persen suara: sasar swing voters, faktor Jokowi pernah kuliah di Jogja, hingga upaya tangkal hoaks

Tim Kampanye Daerah Koalisi Indonesia Kerja Daerah Istimewa Yogyakarta (TKD KIK) DIY yakin Capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo -Ma'ruf Amin menang di DIY. TKD menargetkan suara untuk Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di DIY sebesar 70 persen.

"Target Kita untuk DIY 70 persen," ujar Ketua Tim Kampanye Daerah Koalisi Indonesia Kerja Daerah Istimewa Yogyakarta (TKD KIK DIY), Bambang Praswanto, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (10/04/2019)

Dari hasil survei internal saat ini posisi khusus di DIY sudah berada di 62 persen. Jumlah ini berdasarkan survey bulan Maret 2019 lalu.

TKD DIY menargetkan suara Joko Widodo-Ma'ruf Amin untuk Kabupaten Kulonprogo 75 persen, Kabupaten Sleman 65 persen, Kota Yogyakarta lebih dari 70 persen, Kabupaten Bantul 70, dan Kabupaten Gunungkidul 65 persen.

Dari hasil survei Kota Yogyakarta sudah mendekati 69 persen, disusul Kabupaten Bantul diatas 60 persen. Tiga kabupaten lainya yakni Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunungkidul diangka sekitar 59 persen.

"Kita di DIY ada 27 daerah pemilihan , kemarin kita analisis ada 12 dapil yang masih di bawah target, nah ini yang kita tingkatkan. Jadi 12 dapil itu terdapat di kabupaten/kota ada titik-titik itu (dibawah target)," kata Bambang Praswanto. 

Bambang Praswanto menyampaikan TKD Joko Widodo-Ma'ruf Amin DIY juga fokus pada swing voters. Dari hasil survei pada Maret 2019, swing voter kurang lebih 15 persen sampai 17 persen.

"Swing voters atau yang masih abu-abu ini di Yogya itu spesifik, (yaitu) kaum milenial dan perempuan," ungkap Bambang Praswanto.

Ia melihat sebenarnya swing voters di DIY mengetahui visi-misi dari masing-masing calon presiden dan wakil presiden. Hanya saja mereka baru akan menentukan pilihanya pada hari H pencoblosan.

Pada masa-masa kampanye, terutama akhir, tim TKD DIY fokus pada swing voter. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk meraih hati swing voter perempuan, mulai dari turun ke pasar-pasar tradisional, kampung-kampung, hingga mengelar berbagai kegiatan sosial sembari menawarkan visi-misi Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Gerakan Ibu-ibu dan beberapa kelompok yang ke pasar, belanja dan menawarkan visi-misi sampai saat ini masih dilakukan, tidak hanya kegiatan sosial tetapi dikemas dengan seni budaya," ungkap dia.

Bambang menuturkan Yogyakarta merupakan kota pelajar, sehingga banyak generasi muda dari berbagai daerah yang datang untuk menempuh ilmu. Karenanya, TKD Joko Widodo-Ma'ruf Amin DIY juga berupaya untuk meraih hati kaum milenial.

Caranya, dengan masuk ke asrama-asrama mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia yang ada di Yogyakarta dan membuat berbagai kegiatan sosial dan diskusi. Salah satunya dengan membantu mahasiswa di asrama yang daerahnya terkena bencana alam.

Selain itu TKD juga memfasilitasi para mahasiswa dari luar daerah untuk mendaftar ke KPU agar bisa menggunakan hak pilihnya.

"Selain mahasiswa, kita juga dekat dengan dosen-dosennya. Dosen-dosen dari perguruan tinggi swasta maupun negeri itu bergabung di Lembaga Akademisi Reformasi Indonesia, untuk bagaimana program dan nawacita Pak Jokowi bisa diterjemahkan dengan baik," tegasnya.

Bambang Praswanto yakin Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan meraih kemanangan di DIY. Keyakinan ini karena ada beberapa faktor yakni kedekatan secara histori dan emosional antara masyarakat Yogyakarta dengan Joko Widodo.

"Orang Yogya itu tahu persis siapa Pak Jokowi. Pak Jokowi punya kedekatan emosional dan kesejarahan dengan orang Yogya, Ikatan emosional karena pernah kuliah di Yogya, Pak Jokowi juga sering ke Yogya," urainya.

Hanya saja, meski yakin bakal menang di DIY, TKD Joko Widodo-Ma'ruf Amin DIY juga tetap tidak akan terlena. TKD terus berusaha mendongkrak perolehan suara di setiap Kabupaten/Kota termasuk mewaspadai beberapa hal yakni money politik dan berita-berita hoaks.

Terlebih, saat ini lanjutnya banyak beredar di DIY spanduk-spanduk berisi informasi hoaks. Salah satunya informasi tentang kartu pra kerja. Program kartu pra kerja, tujuanya bagi orang-orang yang belum bisa bekerja mendapatkan kartu pra kerja agar mendapat pekerjaan.

"Di spanduk yang beredar itu, diplesetkan, pekerja-pekerja didatangkan dari tenaga kerja asing, orang Indonesia hanya dapat kartu pra kerja. Spanduk berisi informasi tidak benar ini, berukuran besar-besar," ungkapnya.

Sebagai ketua tim, Bambang Praswanto mengungkapkan telah memperintahkan ketika melihat spanduk yang bermuatan infomasi tidak benar atau hoaks agar langsung dicopot.

"Masyarakat menganggap (spanduk itu) dari kita, karena di spanduk itu ada gambarnya pak Jokowi, tapi isinya dipelesetkan. Kita ga mau tahu yang masang siapa, kita copot," ujarnya

Sementara itu Wakil Sekretaris Tim Kampanye Daerah Koalisi Indonesia Kerja Daerah Istimewa Yogyakarta (TKD KIK) DIY, Eko Suwanto menambahkan timnya percaya Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan menang di lima kabupaten kota di provinsi ini. 

"Selain kerja keras partai, kita juga mengalang kekuatan masyarakat ada guru non PNS tentu saja, petani, nelayan, wiraswasta dan lain-lain," kata Eko Suwanto

Menurut dia, keyakinan akan menang di seluruh kabupaten/kota di DIY, karena partai-partai yang mendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin mempunyai komitmen kuat dalam merawat dan menjaga keistimewaan DIY. Merawat dan menjaga keistimewaan merupakan amanat dari masyarakat Yogyakarta.

Pihaknya juga berkomitmen untuk melawan hoaks dan money politic. Salah satu bentuk mengajak masyarakat melawan money politic adalah dengan membuat sayembara. Masyarakat yang menemukan pelaku atau aktor money politik dan melaporkan ke Bawaslu maka akan mendapatkan bonus.

"Melapor ke bawaslu, lalu lapor ke tempat kita dengan sertai di bukti tanda lapor dan disertai saksi-saksi, maka warga tersebut akan mendapatkan Rp 9 juta," urainya.

Sasar 65 persen

Tim Badan Pemenangan Nasiona (BPN) Prabowo Subianto- Sandiaga Uno menargetkan 65 persen pemilih di Yogyakarta dalam pilpres 17 April 2019. Survei terakhir, meski masih sekitar 45 persen, tren postif menjadikan mereka optimistis mampu meraih target.

Sekretaris Badan Pemenangan Nasional (BPN) Hanafi Rais mengatakan, pihaknya menargetkan perolehan suara 65 persen untuk Prabowo-Sandi di DIY.

BPN melakukan konsolidasi semua koalisi partai politik yang tergabung dalam koalisi adil makmur, memaksimalkan mesin partai maupun legislatif, baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

Selain itu, wilayah yang selama ini tidak terjamah parpol akan dikerjakan dan disempurnakan oleh relawan yang tidak terafiliasi parpol secara langsung, sehingga jangkauan kerja politiknya lebih maksimal.

BPN juga menggalang massa lintas sektoral, misalnya mahasiswa dan anak muda, termasuk generasi Z atau milenial dibentuk komunitas sehingga lebih mudah dalam memaparkan visi dan misi Prabowo-Sandi. Selain itu, emak-emak lintas latar belakang mulai petani hingga pengajian juga akan dilibatkan.

"Insya Allah target 65 persen ini target yang masuk akal buat kami. Kalau lebih, berarti insya Allah bonus," ucapnya ditemui di Gunungkidul Jumat (5/4/2019).

Putra politisi Amin Rais ini mengatakan, pihaknya akan melakukan door to door menyosialisasikan program kerja.

Ada tiga program unggulan yang ditawarkan kepada masyarakat, yakni pembukaan lapangan pekerjaan, terutama untuk masyarakat Indonesia. Kedua, harga bahan-bahan akan semakin murah terutama listrik dan sembako.

"Ketiga, memberikan rasa ayom ayem kepada masyarakat agar lebih tenang, dalam arti beribadah menjalankan kewajibannya masing-masing," ucap Hanafi. 

Survei terakhir yang digelar pada Januari 2019 menunjukkan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi di DIY masih di angka 45 persen. Namun, pihaknya yakin bisa mencapai target karena tren postif masyarakat menerima pasangan Prabowo-Sandiaga.

"Kita prediksi dengan berbagai macam perkembangan terakhir baik lokal maupun nasional, angka 65 itu angka yang masuk akal," kata Hanafi. 

Sukamta, Jurkamnas BPN Prabowo-Sandi wilayah DIY saat kampanye Prabowo di Stadion Kridosono, Yogyakarta mengatakan, dari informasi yang masuk dari survei internal di DIY, pasangan Prabowo-Sandi unggul dari pasangan Jokowi-Ma'ruf meski sangat tipis.

"Saat ini kita (Prabowo-Sandi) unggul sedikit di atas 50 persen," kata Sukamta, Senin (8/4/2019).

Dia optimistis di DIY suara paslon 02 bisa naik setidaknya menjadi 60 persen. Kampanye akbar dengan dipimpin langsung oleh Prabowo bisa terus meningkatkan elektabilitasnya di kota Pelajar ini.

"Masih ada waktu dan kesempatan kami benar-benar all out, mengejar sampai 60 persen," ujar Sukamta. 

Adapun Ketua BPN Prabowo-Sandi DIY Dharma Setiawan mengatakan, target pemenangan saat ini naik setelah melihat kampanye Prabowo Subianto di Stadion Kridosono, Kota Yogyakarta, Senin (8/4/2019). Dia pun mengaku optimistis dengan target baru.

"Untuk seluruh DIY, semula (targetnya) 55 persen. Tapi setelah melihat antusiasme masyarakat DIY pada kampanye akbar Pak Prabowo di Stadion Kridosono tgl 8 April kemarin, insya Allah (naik jadi) 60 persen," kata Dharma, saat dihubungi melalui pesan singkatnya, Kamis (11/4/2019).

Wakil Ketua DPRD DIY ini tidak menjelaskan detail terkait jumlah kemenangan masing-masing kabupaten/kota. Untuk mencapai target itu, pihaknya mengedepankan relawan dan parpol koalisi Adil Makmur.

"Strategi pemenangan PaDi (Prabowo Sandi) adalah mengandalkan relawan yang militan dan berkesadaran tinggi untuk indonesia Adil Makmur, serta parpol koalisi yang berjuang mewujudkan pemerintahan yang bersih," ucapnya.

Kata pengamat

Persaingan pasangan capres cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dengan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berlangsung sengit di Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY).

Kubu Jokowi sendiri menargetkan menang dengan perolehan suara 70 persen, sementara elektabilitasnya 62 persen. Adapun kubu Prabowo menargetkan perolehan suara 65 persen dengan elektabilitas saat ini di angka 45 persen.

Bagaimana pandangan pengamat mengenai peluang elektabilitas kedua paslon?

Akademisi ilmu sosial dan politik dari Univeritas Gajah Mada (UGM) Purwo Santoso mengatakan jika isu yang terkait konten lokal punya peran dalam mendorong kecenderungan memilih pada Pemilu 2019 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sayangnya, kedua kubu pasangan calon Presiden-Wakil Presiden tidak memainkan isu lokal yang cukup mengakar di Yogyakarta ini.

Purwo Santoso mengungkap kubu Paslon 01 mengemas isu keistimewaan. Isu ini memiliki kekuatan untuk menyentuh hati masyarakat DIY yang memang memiliki kebanggaan pada keistimewaan daerahnya.

Terlebih, kubu 01 membawakan diri dengan tampilan yang merakyat dalam kesederhanaan. Mereka mampu mengkomunikasikan isu sesuai konteks di zamannya.

Tapi, isu ini sejatinya punya banyak problematika sendiri. Sehingga tidak mudah untuk diterapkan. Akibatnya, kalau diperdebatkan sedikit banyak punya pengaruh pada pemilihnya.

"Keistimewaan itu bungkus besar, semua sepakat. Tapi detailnya tidak. Kebetulan kubu yang satu tidak memperdebatkan operasional (langkah konkret) keistimewaan atau detailnya,  sampai sekarang masih aman saja dengan tagline itu," katanya kepada Kompas.com, Kamis (11/4/2019).

Menurut Purwo, kubu Prabowo-Sandi tidak mengolah dengan baik isu lokal di DIY.  Malahan, kubu 02 lebih memilih membawa jargon dan simbol. 

"Mereka memobilisasi simbol sangat jargonik dan tidak ada konstruksi ideologis yang jelas. Prabowo itu militeristik sehingga Indonesia bisa diwakili oleh pidatonya dia," kata Purwo. 

Suara masyarakat Yogyakarta diyakini akan tetap seirama dengan sosok Sri Sultan HB X sebagai pemimpin dan panutan. Termasuk pada Pemilu 2019. 

"Sampai sekarang tidak ada pernyataan eksplisit, ini cara khas Jogja. Masyarakat tahu memaknai itu," kata Purwo.

Karena mereka tidak melihat ada yang eksplisit maka mereka melakukan sendiri cara menafsirkan, membangun logika-logika sendiri.

Sementara itu, akademisi dari Fakultas Ilmu Pemerintahan Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY) Bambang Eka Cahya Widodo menilai Pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden Nomor Urut 01 lebih berpeluang besar meraup suara terbanyak di Yogyakarta.

Ia memperkirakan Paslon 01 berpeluang meraup suara di atas 50 persen. Prediksi Bambang Eka ini bukan sebuah penerawangan. Ia berkaca dari hasil pemungutan suara di 2014.

Saat itu, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla meraup sekitar 40-45 persen suara. Lawannya, Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa tertinggal. Saat itu sebanyak 20-21 persen pemilih tidak menggunakan hak pilih.

"(Sehingga prediksi keunggulan kedua Paslon di Pemilu 2019) agak sulit, karena yang belum memutuskan (di 2014) 20-21 persen. Mereka ini belum memutuskan akan memilih siapa. Kita anggap saja berbagi rata, saya kira mungkin akan 53-47," kata Bambang Eka via telepon selular, Selasa (9/4/2019).

Mantan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) 2011 ini mengaku sedang berada di Jakarta ketika perbincangan ini berlangsung. Menurut Bambang Eka, hasil Pemilu kali ini di DIY juga bisa tidak banyak perubahan yang benar-benar mengejutkan.

Pasalnya, pola dukungan pada partai politik juga ditunjukkan pada pola dukungan pada Pilpres di DIY. Karena itu, untuk melihat kecenderungan Paslon yang menang bisa memprediksi dari pada arah partai politik ke pasangan yang mana.

"DIY dilihat dari peta di Pemilu periode sebelumnya, partai pendukung 01 memiliki kekuatan (suara) dibanding pendukung 02," kata Bambang.

Situasi ini tidak berubah karena sikap Sri Sultan HB X yang juga Gubernur DIY. Masyarakat Yogyakarta sangat menghormati Sultan. Sikap Sultan dan kecenderungannya ke arah Paslon bakal menentukan hasil Pemilu di Yogyakarta.

Bagi Bambang, Sultan menjaga sikap yang bagus dalam menjaga jarak pada semua pihak. Peran ini dimainkan untuk menjaga masyarakat di tengah konstelasi politik yang begitu kompetitif dan begitu kerasnya penajaman pada perbedaan.

Menurut Bambang, ini adalah bagian dari upaya meredakan ketegangan lewat sikap yang bijak. Dengan demikian, DIY pun masih tetap tenang dan tidak terlalu terpecah belah. Karenanya, ia merasa hasil kontestasi Pilpres ini tidak banyak berubah di Pemilu 2019.

"Saya memperkirakan dari pola dukungan pada partai dan pola dukungan pada kandidat pada 2014 tidak jauh berbeda dengan kali ini. Tinggal sekarang ini mereka melihat Sultan ke mana. Kalau Sultan tidak "jelas" maka posisinya tidak banyak berubah," kata Bambang.