JEO - News




Pilih Siapa di Pilgub Jawa Tengah 2018?

Selasa, 26 Juni 2018 | 06:34 WIB

WARGA Jawa Tengah segera menentukan nasibnya lima tahun ke depan pada Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah 2018 pada Rabu, 27 Juni 2018.

Dua pasangan calon berlaga dalam perhelatan ini. Pasangan pertama adalah Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen, yang merupakan calon petahana. Penantangnya adalah pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah.

Dengan kacamata awam, pertarungan Ganjar-Yasin dan Sudirman-Ida kerap dianggap identik sebagai bagian dari kontestasi besar antara koalisi PDI-P dan Gerindra, dilihat dari partai pengusungnya.

Oleh karena itu, Pilgub Jateng 2018 dinilai pula sebagai barometer penting peta kekuatan kedua partai tersebut pada Pemilu 2019.

Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) Jawa Tengah merupakan yang terbesar setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Harus diingat pula, Jawa Tengah merupakan basis massa tradisional PDI-P. Sosok Joko Widodo (Jokowi), misalnya, adalah salah satu kader partai berlambang banteng bermoncong putih ini, yang dari Wali Kota Solo melaju menjadi Gubernur DKI Jakarta dan sekarang menjadi Presiden Indonesia.

Wilayah Jawa Tengah juga penting dari jumlah pemilih. Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) Jawa Tengah merupakan yang terbesar setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Karenanya, peta pemenangan dari wilayah ini juga bakal memberikan gambaran proyeksi bagi Pemilu 2019.

Sementara itu, dalam perkembangannya hingga saat ini, Jawa Tengah memiliki persoalan khas, mulai dari kemiskinan hingga ketersediaan infrastruktur, yang menjadi pekerjaan rumah bagi siapa pun gubernur yang terpilih dari hajatan ini.  

Fakta Pilkada Jateng

 Bagi warga Jawa Tengah yang hendak menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada Serentak 2018, Kompas.com merangkum sejumlah data yang dapat menjadi referensi, dalam rangkaian data berikut ini.

 

Profil
Pasangan Calon
Nomor Urut 1

Pasangan Calon Nomor Urut 1 Pilkada Jateng 2018

 

Rekam Jejak

 

GANJAR PRANOWO

Karier
• Konsultan HRD PT Prastawana Karya Samitra (1995-1999)
• Anggota Komisi IV DPR (2004-2009)
• Wakil Ketua Komisi II DPR (2009-2014, namun tidak sampai selesai sebab pada 2013
Ganjar terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah)
• Gubernur Provinsi Jawa Tengah (2013-2018)

Harta kekayaan
Per 8 Mei 2018, menurut KPU Jawa Tengah, jumlah harta Ganjar Pranowo Rp 6,7 miliar. Jumlah itu naik hampir dua kali lipat dari laporan LHKPN 2014 Ganjar sebesar Rp 3,79 miliar.

KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO
Gubernur Jawa Tengah nonaktif, Ganjar Pranowo saat kampanye terbuka di Lapangan Kuripan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jateng, Minggu (6/5/2018) pagi.‎

Prestasi
Sebagai calon petahana, Ganjar bersama wakilnya telah menorehkan berbagai prestasi untuk pemerintahan provinsi.

Penghargaan tingkat nasional yang pernah diraihnya berdasarkan urutan tahun antara lain:

2013
- 3 Satya Lencana Pembangunan bidang Koperasi bagi Bupati Temanggung, Bupati
Wonosobo, serta Rektor Universitas Sebelas Maret serta 17 Bhakti Koperasi bagi
Bupati/Walikota, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM kabupaten/kota di Jawa Tengah,
dan Pelaku Penggerak Koperasi;
- 8 penghargaan Primaniyarta Award untuk tiga kategori yakni kategori ekspor
berkinerja, kategori eksportir pembangun merek global, kategori eksportir pelopor
pasar
- Juara I Nasional Pemerintah Daerah Peduli Konsumen;

2014
- Kepala Daerah Inovatif untuk kategori layanan publik
- Mengatasi Bencana di Provinsi Jawa Tengah

2015
- Penghargaan dari KPK karena paling banyak laporkan gratifikasi

2017
- Penghargaan dari Presiden RI sebagai Penggerak Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Teladan
- Launching Kartu Tani
- Membentuk tim Saber Lubang atasi jalanan berlubang di Jawa Tengah
- Anugerah Ki Hajar 2017 tingkat utama yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemendikbud)

 

TAJ YASIN

Karier
Pria yang kerap disapa Gus Yasin ini dikenal sebagai wiraswasta dan juga politisi. Dia menjabat sebagai Wakil Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Tengah dan menjadi Anggota DPRD Jawa Tengah periode 2014-2019.

Harta kekayaan
Harta yang dilaporkannya berdasarkan data KPU Jawa Tengah per Mei 2018 adalah Rp 3,06 miliar.

KOMPAS.com/IKA FITRIANA
Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (berdiri) saat menghadiri doa bersama di Lapangan Sawitan Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jumat (22/6/2018).

Prestasi
Di DPRD Jawa Tengah, Gus Yasin duduk di Komisi E yang membidangi pengawasan dalam bidang kesejahteraan rakyat, agama, pendidikan, olahraga, dan pemuda

 

Profil
Pasangan Calon
Nomor Urut 2

Pasangan Calon Nomor Urut 2 Pilkada Jateng 2018

Rekam Jejak

 

SUDIRMAN SAID

Karier
Sudirman menjabat sebagai Menteri ESDM dalam Kabinet Kerja periode 2014-2016. Dia juga tercatat telah memegang jabatan tinggi di sejumlah perusahaan, mulai dari yang bergerak di bidang finansial, industri migas, hingga senjata.

Jabatan yang pernah dia emban di perusahaan-perusahaan itu antara lain:
- Direktur Keuangan & Admin, PT. Petrokimia Nusantara Interindo, 2003-2005.
- Staf Ahli Direktur Utama PT Pertamina, 2007-2008
- Direktur Human Capital di Petrosea, 2009-2010
- Executive Director Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit 2013
- Wakil Presiden Direktur PT Petrosea Tbk, 2013
- Direktur Utama PT Pindad, 4 Juni 2014

Dia juga dikenal aktif dalam gerakan antikorupsi dan sempat menjadi Ketua Badan Pelaksana Masyarakat Transparasi Indonesia.

Dok. Sudirman Said
Sudirman Said saat bersama dengan para guru honorer di Kebumen, Selasa (15/5/2018).

Harta kekayaan
Berdasarkan data di KPU Jawa Tengah, per Mei 2018 Sudirman Said memiliki kekayaan sebesar Rp 4,67 miliar.

Prestasi
Sejumlah prestasi dicatatnya, antara lain:
- Saat menjadi Menteri ESDM, membubarkan Petral, perusahaan perantara impor BBM, sehingga negara bisa hemat Rp 12 triliun per tahun
- Saat menjabat sebagai Deputi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias
pada 2005, berhasil membangun 125.000 rumah dalam 4 tahun.
- Pada tahun pertamanya menjabat sebagai Menteri ESDM, Sudirman Said dinilai berhasil
menggeser alokasi subsidi BBM, melakukan efisiensi pasokan energi, membuat keputusan
soal Blok Mahakam, mengambil alih kilang TPPI, dan memulai program 35.000 MW.
- Pengiriman Patriot Energi dan Program Indonesia Terang (PIT) untuk melistriki
desa-desa terpencil di seluruh Indonesia, juga konservasi energi 10 persen.

 

IDA FAUZIYAH

Karier
Ida telah menjadi anggota DPR sejak 1994 hingga kini. Dia baru mengundurkan diri dari DPR pada 2018 karena maju mencalonkan diri dalam perhelatan Pilgub Jawa Tengah.

Karier politiknya tergolong moncer. Dia beberapa kali menjadi Ketua Fraksi PKB DPR, seperti pada 2006-2007, 2009, dan 2010. Dia juga menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR pada 2004-2009, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR pada 2009-2012, dan Ketua Komisi VIII DPR pada 2012-2014.

KOMPAS.com/LABIB ZAMANI
Cawagub Jateng, Ida Fauziyah saat ditemui di Sriwedari Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/3/2018).

Harta kekayaan
Per 8 Mei 2018, menurut KPU Jawa Tengah, jumlah harta Ida Fauziyah Rp 19,8 miliar. Jumlah itu naik hampir empat kali lipat dari harta yang dilaporkan terakhir pada 2014 sebesar Rp 5,06 miliar.

Prestasi
Sejumlah prestasi juga ditorehkan oleh Ida dari sepak terjangnya di bidang politik. Catatan prestasi itu antara lain Career Woman Award dari Yayasan Anugerah Prestasi Indonesia (10 Mei 2002), Perempuan Indonesia Peduli Kearsipan oleh Arsip Nasional RI pada 22 Desember 2002, serta menjadi pendiri dan Ketua Kaukus Perempuan Parlemen.

Visi, Misi, dan Program
Pasangan Calon
Nomor Urut 1

 

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut satu Ganjar Pranowo (kiri)-Taj Yasin saat tampil dalam Debat Terbuka Pilkada Jawa Tengah di Ballroom Hotel Patra, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/4/2018).

Visi

Menuju Jawa Tengah Sejahtera Berdikari, Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi

Misi

1. Menempatkan rakyat (petani, nelayan, pelaku usaha mikro dan kecil serta
rakyat pekerja) sebagai subyek dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan
arah pembangunan serta memperkuat akses rakyat terhadap sumberdaya politik,
ekonomi, sosial dan budaya.

2. Memperkuat penyelenggara pemerintahan yang bersih, Jujur, transparan demi
terjaminnya sistem pelayanan publik untuk memenuhi kebtuhan dasar rakyat,
terciptanya relasi sosial yang aman dan tidak diskriminatif.

3. Menyelenggarakan program-program pembangunan yang menjamin terwujudnya
kesejahteraan rakyat melalui sinergitas kerja dan gotong-royong para pemangku
kepentingan.

Program

1. Pendidikan politik dan pemberdayaan masyarakat
Menanamkan nilai-nilai spiritual dan kebangsaan melalui pendidikan, pelatihan
dan pendampingan masyarakat

2. Reformasi Birokrasi
Mengkonsolidasikan dan menyinergikan seluruh kekuatan Satuan Kerja Perangkat
Daerah melalui sistim pelayanan yang berpihak pada kepentingan publik

3. Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Terpenuhinya kebutuhan hidup dasar warga dan terciptanya relasi sosial yang aman
dan tidak diskriminatif melalui kerja sama kemitraan, investasi, pemberian
bantuan, dan gotong royong semua pemangku kepentingan.

4. Peningkatan pembangunan infrastruktur
Pengembangan infrastruktur sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan dengan
menjaga, memelihara, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur

5. Peningkatan kualitas lingkungan hidup dan energi
Menjamin keberlangsungan hidup manusia dan sumber daya alam yang aman dan
berkelanjutan melalui pengembangan teknologi ramah lingkungan, konservasi alam
dan ekosistem, pengurangan risiko bencana, mengembangkan pemanfaatan energi baru
terbarukan

6. Pengembangan kebudayaan
Mengembangkan nilai-nilai dan menguatkan identitas kebudayaan Jawa Tengah
melalui pengakuan keragaman dan memfasilitasi ruang-ruang ekspresi dan kreasi
berbagai budaya yang hidup di masyarakat

 

Visi, Misi, dan Program
Pasangan Calon
Nomor Urut 2

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut dua Sudirman Said (kiri)-Ida Fauzia (kanan) dalam Debat Terbuka Pilkada Jawa Tengah di Ballroom Hotel Patra, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/4/2018).

Visi

Mbangun Jateng, Mukti Bareng, Mencapai Kehidupan Warga Jawa Tengah yang Adil,
Sejahtera, Maju, dan Beradab

Misi

1. Mewujudkan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mengurangi kesenjangan
2. Memperkuat partisipasi warga dalam pembangunan, membangun sebagai gerakan
3. Menjaga keberlanjutan, memelihara keseimbangan lingkungan

Program

1. Membangun kredibilitas pemerintahan dengan meningkatkan tata kelola, integritas, dan kompetensi SKPD dan seluruh jajaran kepemimpinan.

2. Mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya kader-kader pemimpin di tiga sektor; pemerintah, bisnis, dan gerakan masyarakat sipil.

3. Membangun pendidikan berbasis karakter, pendidikan keahlian dan vokasi untuk menumbuhkan bakat-bakat terbaik di bidang keterampilan teknis, kepemimpinan, dan
kewirausahaan.

4. Mendorong pembangunan berbasis partisipasi warga, dengan melibatkan seluas
mungkin pemangku kepentingan dalam bidang; usaha, kebudayaan, konservasi lingkungan, dan kepariwisataan.

5. Mengejar ketertinggalan pembangunan sumber daya manusia dengan meningkatkan
derajat kesehatan dan kesejahteraan termasuk di dalamnya perempuan, anak dan difabel.

6. Meningkatkan ketahanan keluarga melalui pemberdayaan perempuan guna menjaga kualitas generasi penerus.

7. Melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), mendorong peran Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD) dan melibatkan investasi BUMD dan Swasta.

8. Mempercepat konektivitas antarwilayah dengan infrastruktur transportasi, energi, dan teknologi.

9. Memajukan kualitas kehidupan nelayan, petani, industri agro dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). 

Apa yang Dibutuhkan
Jawa Tengah?

 

Dok Pribadi/TEGUH YUWONO
Teguh Yuwono, pengamat politik, Ketua Program Magister Ilmu Politik FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang

Teguh Yuwono

(Ketua Program Magister Ilmu Politik FISIP Universitas Diponegoro Semarang)

HARAPAN terbesar masyarakat Jawa Tengah pada gubernur adalah pada sektor ekonomi karena memang kinerja ekonomi daerah tidak cukup istimewa dibandingkan kinerja ekonomi di Jawa Timur dan Jawa Barat. Dari aspek kemiskinan yang masih tinggi, aspek kesulitan mencari pekerjaan, aspek pengangguran yang masih tinggi. Hal-hal itu menjadi isu besar yang dihadapi masyarakat Jawa Tengah.

Harapan terbesar masyarakat Jawa Tengah pada gubernur adalah pada sektor ekonomi karena memang kinerja ekonomi daerah tidak cukup istimewa dibandingkan kinerja ekonomi di Jawa Timur dan Jawa Barat.

~Teguh Yuwono~

Dalam konteks isu ekonomi ini saya kira pertarungan program yang dihadapi antara Ganjar Pranowo dan Sudirman Said lebih kepada bagaimana kemampuan masing-masing meyakinkan pemilih. Sektor ekonomi akan jadi satu pertarungan yang menarik yang memungkinkan elektabilitas itu bergeser. Jadi isu kemiskinan, pengangguran, lapangan pekerjaan, isu kesulitan ekonomi, itu lebih banyak mendominasi wacana publik daripada isu lain.

Pada pemerintahan sebelumnya, untuk isu reformasi birokrasi, reformasi pelayanan sudah cukup bagus tetapi titik lemah Gubernur petahana lebih ke sektor perlambatan ekonomi dan ketidakcepatan bagaimana cara untuk mengurangi pengangguran. Sehingga bisa dimaklumi jika pasangan Sudirman Said-Ida ini menyerang petahana dengan isu-isu ekonomi bahkan berkali-kali paslon lawan petahana ini mengatakan  bahwaJawa Tengah di bawah Pak Ganjar ini tidak maju, pertumbuhan ekonominya lambat, jumlah orang miskin banyak, pengangguran banyak.

Oleh karena itu Sudirman Said menawarkan solusi dengan angka-angka fantastis seperti 5 juta pekerjaan, kemiskinan turun dari 12 persen jadi 6 persen, dan sebagainya. Ini angka-angka yang fantastis. Nah angka-angka fantastis ini tergantung pemilih mau percaya atau tidak, kalau mereka percaya akan memilih Sudirman Said, kalau tidak ya akan memilih Ganjar Pranowo.

 

Dok Pribadi/ZUHRON ARROFI
Zuhron Arrofi, akademisi Pusat Studi Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, mantan Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Magelang

Zuhron Arrofi

(Akademisi Pusat Studi Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, mantan Ketua Panitia Pengawas Pemilu Kota Magelang)

Pemilihan Gubernur 2018 merupakan sebuah keberkahan bagi Jawa Tengah. Sebab, dua pasangan calon (paslon) sama-sama memiliki kredibilitas, keluasan wawasan, idealisme, dan rekam jejak yang tidak diragukan lagi.

Selain itu, kedua paslon Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen (PDIP, PPP, Demokrat, Nasdem) dan Sudirman Said-Ida Fauziyah (PKS, PKB, PAN, Gerindra) telah merefleksikan dua wajah yang saling melengkapi yakni nasionalis dan agamis.

Secara nasional, Jateng bisa jadi barometer proses demokrasi yang bagus apabila bisa menyatukan dua kekuatan tersebut (yaitu nasional dan agamis).

~Zuhron Arrofi~

Negara ini dibangun oleh dua kekuatan, yaitu nasionalis-agamis. Kekuatan ini pula yang membuat negara ini tetap tegak, meskipun kadang-kadang belum menyatu dengan baik. Jika dua kekuatan bisa disatukan dalam konteks masyarakat Jateng maka akan menjadi proses keseimbangan demokrasi yang luar biasa.

Secara nasional, Jateng bisa jadi barometer proses demokrasi yang bagus apabila bisa menyatukan dua kekuatan tersebut. Sebab, sejauh ini peta politik nasional seolah-olah membenturkan antara keduanya.

Untuk kedua paslon, hal yang disoroti adalah bagaimana mengeksekusi program, visi dan misi yang sudah dikampanyekan semasa proses pencalonan itu setelah mereka jadi penguasa. Seringkali terjadi kesenjangan dalam tahapan ini.

Paslon petahana dahulu pernah menyampaikan tentang perubahan/resolusi baru di Jateng namun faktanya perubahan itu tidak berjalan signifikan. Dalam konteks gebrakan politik Ganjar Pranowo memang cukup menarik, contohnya ketika sweeping pungutan liar. Namun, setelah itu tidak ada kelanjutannya.

Sementara itu, paslon Sudirman-Ida, selalu mengatakan bahwa masyarakat Jateng membutuhkan sesuatu yang baru. Paslon ini harus melakukan sesuatu yang konkret dengan "sesuatu yang baru" tersebut.

Saat ini, agak sulit diprediksi apakah kedua paslon betul-betul bisa menjawab problematika masyakarat Jateng. Persoalan kaum disabilitas misalnya, terlihat sejauh ini pemerintah belum memiliki peran yang signifikan kepada mereka terutama terkait akses mendapatkan pekerjaan yang layak.

Untuk pendidikan sudah banyak perubahan, tetapi yang setelah pelajar lulus mau apa? Di Kota Magelang saja, ada sekitar 50 komunitas tuna rungu/wicara. Problem mereka tidak lagi pendidikan. Begitu masuk akses mencari pekerjaan siapa yang bisa memberikan lowongan? Apakah kedua paslon akan menyentuh kaum ini?

Dok Pribadi/FITRIYAH
Fitriyah, Pengamat Politik dan Direktur Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Undip Semarang

Fitriyah

(Direktur Center for Election and Political Party FISIP Universitas Diponegoro)

Saat ini, untuk semua pilkada, membumikan provinsi menjadi hal yang penting. Sebab provinsi harus membumi untuk menggerakkan kabupaten/kota untuk kemudian bersinergi dengan program pemerintah.

Jadi, peran provinsi ini ketika pemerintah pusat punya proyek jalan tol misalnya, kemudian ada masyarakat di Brebes yang terganggu usaha telor asinnya. Biasanya itu tanggungjawab kabupaten/kota untuk antisipasi. Tetapi provinsi ke depan juga bisa seperti itu untuk menyikapi program nasional dengan mengkoordinir kabupaten/kota.

Saat ini, untuk semua pilkada, membumikan provinsi menjadi hal yang penting.

~Fitriyah~

Namun, itu bukan hal yang mudah. Sebab, tidak semua kepala daerah itu visioner dan bisa menyikapi perubahan dengan cepat.

Provinsi Jawa Tengah ini besar dibanding dengan DKI Jakarta, karena masing-masing kabupaten/kotanya otonom sehingga tidak mudah bagi gubernur yang menjabat untuk mengkoordinasikan semuanya.

Selama masa Ganjar Pranowo memimpin Jawa Tengah, masih dengan landasan UU Noor 32 Tahun 2004 di mana kewenangan gubernur kurang tegas. Namun, sekarang (untuk era gubernur yang akan memimpin 2018-2023), kewenangan gubernur dijamin dengan UU Nomor 23 Tahun 2014 di mana kewenangan gubernur dipertegas jadi fungsi koordinasi sehingga fungsi pemerintahan provinsi juga lebih terlihat.

Saat Ganjar menjabat, dia memang populer dan berusaha membumi. Namun, dari sisi regulasi, yakni bagaimana kabupaten kota di bawahnya bersinergi, masih terhambat regulasi.

Diharapkan dengan regulasi baru kewenangan gubernur, siapa pun yang menjabat akan lebih terbantu.

Dok Pribadi/RETNO DEWI PRAMODIA
Retno Dewi Pramodia, Pelaksana tugas (Plt) Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tidar Kota Magelang

Retno Dewi Pramodia

(Pelaksana tugas Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tidar Kota Magelang)

Kebutuhan masyarakat Jawa Tengah yang majemuk tidak lepas dari beberapa komponen
kehidupan, terutama dalam hal pelayanan publik, ketersediaan infrastruktur, dan terselenggaranya good goverment.

Kemudian, dari segi pemenuhan kebutuhan ekonomi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, mengingat data BPS 2018 menyebutkan pengangguran di Jateng mencapai 6,38 persen.

Berdasarkan visi dan misi pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen dan Sudirman Said-Ida Fauziyah, memiliki konsep yang kuat dalam penyusunannya sehingga menawarkan program kerja yang cukup unggul untuk menjawab kebutuhan masyarakat Jatang tersebut.

Siapa pun nanti yang menjadi pemimpin Jateng dengan visi dan misi strategi yang terukur bagi masyarakat yang terpenting adalah realisasi nyata dan membawa Jateng jadi provinsi yang lebih maju.

~Retno Dewi Pramodia~

Visi paslon nomor urut 1 Ganjar-Yasin "Menuju Jateng Sejahtera dan Berdikari: Tetap Mboten Korupsi dan Mboten Ngapusi". Sementara itu, visi paslon nomor urut 2 Sudirman-Ida "Mbangun Jateng Mukti Bareng, mencapai kehidupan warga Jateng yang Adil, Sejahtera, Maju, dan Beradab". Visi keduanya mengarah pada pemenuhan kebutuhan rakyat dari segi kesejahteraan, good government, dan mewujudkan pelayanan publik yang efektif.

Adapun dibaca dari misi kedua paslon memiliki sedikit sekali perbedaan dalam hal penekanan pengukuran pencapaiannya walaupun dalam strategi program kebijakan sangat kuat untuk menjawab kebutuhan masyarakat Jateng.

Misi paslon Ganjar-Yasin memberikan ruang kepada rakyat untuk menyalurkan aspirasi dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan pembangunan, memperkuat akses rakyat terhadap sumber daya politik, ekonomi, sosial dan budaya mengarah pada proses bottom up.

Sementara itu, paslon Sudirman-Ida memiliki misi yang pada dasarnya memiliki kekuatan yang sama untuk mewujudkan visi yang ditawarkan, yaitu mewujudkan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mengurangi kesenjangan, kesejahteraan yang adil, memperkuat partisipasi warga dalam pembangunan.

Dengan melihat kondisi Pilkada Jateng yang kondusif, kedua paslon memiliki kekuatan yang tidak diragukan lagi. Paslon 1 adalah petahana yang memiliki prestasi, lalu paslon 2 juga memiliki kualitas dan pengalaman di bidang korporasi dan kementerian yang matang.

Siapa pun nanti yang menjadi pemimpin Jateng dengan visi dan misi strategi yang terukur bagi masyarakat yang terpenting adalah realisasi nyata dan membawa Jateng jadi provinsi yang lebih maju.

 

Tentang Jawa Tengah

 

Data KPU Jateng per April 2018

Jumlah kecamatan: 573
Jumlah desa/kelurahan: 8.559
Jumlah TPS: 63.973
Jumlah pemilih laki–laki: 13.478.821
Jumlah pemilih perempuan: 13.589.304
DPT tertinggi: Kabupaten Brebes 1.453.170 jiwa
DPT terendah: Kota Magelang 89.294 jiwa.

Survei Jelang Pilkada

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Calon gubernur Ganjar Pranowo (kiri) dan Sudirman Said (kedua kanan) menyaksikan calon wakil gubernur Taj Yasin (kedua kiri) dan Ida Fauziyah (kanan) berjabat tangan saat Debat Terbuka Pilkada Jawa Tengah di Ballroom Hotel Patra, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/4/2018).

Litbang Kompas

Dalam survei yang digelar pada Februari 2018, elektabilitas pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin 79 persen, Sudirman Said-Ida Fauziah 11,8 persen dan yang belum memilih 9,2 persen.

Pada survei kedua pada Mei 2018, elektabilitas pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin 76,6 persen, Sudirman Said-Ida Fauziah 15 persen, dan yang belum memilih 8,4 persen.

Survei Litbang Kompas dilakukan terhadap 800 responden di Jawa Tengah pada 10-15 Mei 2018 dengan margin of error sebesar +/- 3,46 persen. Survei dilakukan menggunakan model responden panel sehingga perubahan perilaku memilih pada responden yang sama dengan survei sebelumnya dapat diketahui dengan jelas.

Dengan model ini, diketahui jejak peralihan dukungan dari responden yang tadinya memilih Ganjar-Yasin, kini sebanyak 6,1 persen beralih dukungan kepada Sudirman-Ida.

Dinamika politik juga terlihat pada sisi kewilayahan. Sudirman-Ida yang memperoleh 11,3 persen dukungan di perdesaan dalam survei pada Februari 2018, pada survei Mei 2018 mendapatkan 16,2 persen dukungan dari perdesaan. Sebaliknya, posisi keterpilihan Ganjar-Yasin cukup stabil di perkotaan, yaitu 78,4 persen pada Februari 2018 dan 79,1 persen pada Mei 2018.

Keterpilihan Ganjar-Yasin meningkat di eks Karesidenan Banyumas dari 75 persen menjadi 79,8 persen. Namun, mereka mengalami penurunan dukungan di eks Karesidenan Pati (-7,4 persen), Pekalongan (-3,9 persen), dan Semarang (-1,3 persen).

Kalangan NU terlihat lebih sulit berubah karena dukungan kalangan NU terhadap Ganjar-Yasin masih sama, yakni di kisaran 81 persen. Dukungan terhadap Ganjar-Yasin berasal dari semua strata usia.

Infografik Survei Litbang Kompas Elektabilitas Pasangan Calon di Pilkada Jawa Tengah

Menurut survei Litbang Kompas pula, walaupun jarak popularitas Pranowo dan Sudirman Said menyempit, popularitas Sudirman terbilang masih terlalu jauh dari Ganjar.

Survei pada Mei 2018 mendapati, popularitas Ganjar mencapai 91,8 persen sehingga dapat dikatakan hampir semua calon pemilih Jateng mengenalnya. Pada survei pertama, popularitasnya berada di angka 78,4 persen.

Kenaikan popularitas Ganjar, yang juga diikuti oleh meningkatnya pengenalan masyarakat terhadap pasangannya, Taj Yasin, turut mendorong popularitas atau brand image mereka sebagai pasangan.

Berdasarkan hasil survei, ingatan pertama publik (top of mind) ketika ditanyakan siapakah pasangan pilgub Jateng yang diketahui, menunjukkan makin kuatnya gambaran Ganjar-Yasin di mata publik. Popularitas mereka naik signifikan dari 66,1 persen menjadi 79,6 persen.

Gejala ini menunjukkan makin intensnya penetrasi pasangan ini dalam memengaruhi ingatan publik. Ganjar tercatat sangat gencar memublikasikan segala aktivitasnya lewat media sosial, baik lewat Instagram maupun Facebook. Upaya ini tampaknya cukup berhasil memikat ingatan publik kepada mereka.

Menanjaknya popularitas Ganjar-Yasin berdampak langsung pada kian susutnya popularitas pasangan Sudirman-Ida sebagai pasangan yang disebut pertama, yang semula 6 persen menjadi 3 persen. Top of mind merujuk pada nama pasangan calon yang disebut pertama kali oleh responden ketika ditanya siapa pasangan calon yang responden ketahui di Pilkada Jateng 2018.

KOMPAS.com/ NAZAR NURDIN
Pengundian nomor urut pasangan calon di Pilkada Jawa Tengah, Selasa (13/2/2018) malam. Ganjar-Yasin dapat nomor 1, sementara Sudirman-Ida nomor 2.

Center for Strategic and International Studies (CSIS)

Survei CSIS dilakukan dalam rentang waktu 16–30 April 2018, dengan jumlah responden 1.000 orang, menggunakan metode multi-stage random sampling.

Pada Mei 2018, elektabilitas pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin mencapai 66,5 persen, sedangkan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah 14,8 persen. Sementara itu, yang belum menentukan pilihan 18,7 persen.

Hasil survei CSIS menunjukkan 52,1 persen sudah menyatakan tetap dengan pilihannya. Kecenderungan untuk berubah peta dukungan sangat kecil karena mayoritas pemilih sudah punya pilihan masing-masing.

Pasangan Ganjar-Yasin lebih banyak dipilih oleh pemilih yang menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah. Angkanya mencapai 65 persen. Sebaliknya 45,1 persen memilih Sudirman-Ida karena tidak puas dengan kinerja pemerintah.

Menurut Survei CSIS, Pilkada Serentak 2018 menjadi teropong untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Pemilu 2019, di antaranya mengenai asosiasi pemilih terhadap partai politik dan calon yang diajukan.

Untuk Jateng, 57,3 persen responden menyebut PDI-P sebagai partai utama pengusung Ganjar-Yasin, sementara hanya 16,8 persen menyebut Gerindra sebagai partai utama pasangan Sudirman-Ida.

Video Debat Publik