JEO - Peristiwa

Profil Susi Pudjiastuti

Senin, 30 Agustus 2021 | 16:40 WIB

AWALNYA, Susi Pudjiastuti merasa sejumlah hal yang terjadi di dalam hidupnya merupakan sesuatu yang normal.

Namun seiring dengan waktu, orang-orang justru memandang sebaliknya.

Wanita yang memiliki perusahaan penerbangan ASI Pudjiastuti Aviation itu sempat tak setuju dengan perspektif orang-orang. Hidupnya, tentu dia sendiri yang mengetahui.

Namun belakangan, Susi akhirnya berdamai dengan predikat itu.

Selama sekitar 1,5 jam, Menteri Kelautan dan Perikanan itu periode 2014-2019 itu bercerita banyak soal ‘ketidaknormalan’ dalam hidupnya di ‘Beginu’ Episode 10.

Wawancara khusus yang dipandu Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho itu dapat anda simak di sini:

 Tak suka dikekang 

Cerita Susi berawal pada 15 Januari 1965 di Pangandaran, Jawa Barat.

Ia lahir dari kandungan sang ibu bernama Hj. Suwuh Lasminah. Sang ayah bernama H. Ahmad Karlan.

Keduanya bukan asli Pangandaran, melainkan Jawa Tengah. Namun, setidaknya sudah lima keturunan sebelum Susi, hidup di daerah pantai selatan Jawa tersebut.

Keluarga Susi boleh dibilang hidup berkecukupan. Kakek Susi, H. Ireng, merupakan tuan tanah di Pangandaran. Keluarga Susi juga mempunyai ratusan ternak untuk dijual di wilayah lain di Jawa Barat.

Namun, rupanya kemapanan itu tidak membuat Susi kecil menjadi pribadi yang manja. Sebaliknya, ia justru tampil dengan sikap mandiri. Bahkan, Susi kecil seolah tak mau dicap kaya oleh tetangganya.

Baca juga: Masa Kecil Susi Pudjiastuti dalam Ingatan Tetangganya

Sifat kemandirian Susi yang sedari kecil terus dipupuk kemudian bertransformasi menjadi sesuatu yang tidak lazim ketika menginjak remaja. Susi tak mau terkekang.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti di sela-sela wawancara saat ditemui di Pangandaran, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (9/1/2021).

Masa-masa SD dan SMP yang penuh aturan rupanya menjadi momen kurang menyenangkan bagi Susi kecil hingga remaja.

Susi ingin kebebasan, tetapi sekolah mengekangnya.

“Saya merasa tidak akan lebih baik apabila di situ (sekolah),” ujar Susi.

Susi merasa tidak bisa melakukan hal yang tidak disukainya. Baginya, mengerjakan hal yang tidak disukai hanya akan berbuah hasil tidak optimal.

Namun demikian, tidak suka sekolah bukan menjadi alasan bagi Susi untuk tidak bertanggung jawab atas kewajiban.

Buktinya, di bangku SD dan SMP Susi cukup sering menjadi juara di kelas. Susi juga dikenal pandai berbahasa Inggris dan Jerman.

Baca Juga: Susi Pudjiastuti: Sekolah Terlalu Mudah...

Setelah menamatkan bangku SD dan SMP di Pangandaran, Susi melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.

Pada periode inilah Susi akhirnya melerpaskan diri dari dunia pendidikan formal dan hanya memegang ijazah SMP.

"Saya menganggap duduk sekian jam di kelas itu bukan saya. I can do more thing," lanjut dia.

Terlepas dari apa yang terjadi dalam hidupnya di masa remaja, Susi tetap tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang benar dan harus ditauladani orang lain.

Dengan tegas Susi mengatakan, ia tidak mengajarkan orang lain untuk tidak sekolah.

 

 Buah jatuh tak jauh dari pohon 

Kisah ‘pemberontakan’ Susi remaja memantik kisah lama di tengah keluarga.

Ibunda Susi, Hj. Suwuh Lasminah rupanya memiliki situasi yang kurang lebih sama seperti sang anak.

Ketika berusia 12 tahun, Lasminah melarikan diri dari rumah. Sama seperti Susi, Lasminah remaja juga tidak mau diatur. Namun, kali ini bukan urusan pendidikan, melainkan percintaan.

Lasminah tidak mau dijodohkan dengan lelaki pilihan orangtuanya. Ia pun pergi ke Sukabumi dan tinggal di kesusteran kota tersebut.

Perjalanan hidup pada akhirnya mempertemukan Lasminah dengan Ahmad Karlan, pria yang kemudian dinikahinya.

"Jadi, mungkin genetic rebellion-nya dari situ (ibu)," kenang Susi akan sosok sang ibu.

(Istimewa)
Susi Pudjiastuti menggendong ibunya.

Ketika diceritakan kembali, pada akhir kisah tidak jarang terucap, ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’.

Susi yang baru saja putus sekolah sempat memiliki relasi buruk dengan orangtua, terutama sang ayah yang sebenarnya tetap ingin Susi bersekolah.

Meski hubungan dengan ayah merenggang, Susi mengakui didikan kemandirian dari kedua orangtua yang membantunya tetap berpegang teguh pada jalan hidup yang telah dipilih.

Susi berandai-andai, bila ia tidak dididik mandiri dan dibiarkan hidup bermanja dengan kemapanan, bisa jadi Susi tidak akan bertahan dalam pelarian.

Baca Juga: Cerita Susi Pudjiastuti Ikut Kejar Paket C: Tidak Perlu Malu...

Mungkin Susi akan menyerah dan kemudian kembali ke rumah.

"Karena tidak lulus SMA, mau kerja di mana?" seloroh Susi.

Tanpa pikir panjang, Susi kemudian menjual simpanan perhiasannya senilai Rp 750.000 dan menjadi pengepul ikan di Pangandaran.

Singkat kata, usaha yang mulai dirintiasnya sejak tahun 1983 itu mendulang kesuksesan. Pada tahun 1996, menjelang krisis moneter, Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan yang diberi nama ASI Pudjiastuti Marine.

Produk unggulannya adalah lobster dengan label namanya sendiri. Lobster segar produk Susi diekspor hingga negara-negara Asia lainnya, bahkan hingga Amerika.

Profil Susi Pudjiastuti

 Susi dan dunia penerbangan 

Selain dikenal sebagai pengusaha perikanan, wanita yang gemar berenang dan paddling ini juga mengembangkan sayap bisnisnya ke dunia aviasi.

Susi merintis sebuah perusahaan maskapai penerbangan pada 2004. Perusahaannya itu diberi nama ASI Pudjiastuti Aviation. Unit pesawatnya diberi label Susi Air.

Susi Air merupakan maskapai yang banyak melayani penebangan rute perintis maupun penerbangan sewaan.

Sampai saat ini, Susi Air tercatat diperkuat oleh 45 unit pesawat.

Seperti halnya bisnis perikanan, dunia penerbangan sebenarnya tidak pernah direncanakan sebelumnya oleh Susi.

Pada awalnya maskapai ini didirikan bertujuan untuk mengantar muatan hasil perikanan ke Jakarta. Sebab, butuh waktu sembilan jam untuk mengangkut hasil perikanan dari Pangandaran ke Ibu Kota bila menggunakan jalur darat.

Terlalu lamanya waktu tempuh tentu saja mengurangi kesegaran ikan. Karena itu, butuh moda transportasi yang bisa dengan cepat mengangkut hasil perikanan supaya kesegaran ikan tetap terjaga.

Baca Juga: Akibat Pandemi, Susi Air Tunda Rencana Tambah Rute Penerbangan

Selain terkait erat dengan bisnis perikanan, lahirnya Susi Air juga tidak bisa dilepaskan dari bencana tsunami yang melanda Aceh pada 2004. Saat itu, Meulaboh menjadi salah satu kota yang paling parah terkena dampak tsunami.

Susi Air tercatat jadi pihak pertama yang mampu mendarat di Meulaboh untuk menyalurkan bantuan.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti berpose saat ditemui di Pangandaran, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (9/1/2021).

Dikutip dari situs bandarasoekarnohatta.com, Susi semula hanya berniat membantu distribusi bahan kebutuhan pokok secara gratis selama dua minggu.

Namun, ternyata banyak lembaga non-pemerintah yang meminta bantuannya untuk tetap berpartisipasi dalam perbaikan di Aceh.

Keterlibatan langsung Susi Air dalam proses rekonstruksi di Aceh membuat jumlah unit pesawat ditambah.

Kegiatan amal nama bisnis Susi Pudjiastuti semakin dikenal. Banyak permintaan untuk menyewa pesawat. Pada momen inilah Susi Air memulai jasa penerbangan komersialnya.

Meski terus berkembang menjadi maskapai komersial, Susi tampaknya tak mau melupakan sejarah.

Tak sekedar untuk profit, Susi juga ingin terus menjadikan Susi Air sebagai maskapai yang paling terdepan sampai di lokasi jika ada terjadi bencana.

"Jadi ada bencana tsunami atau gempa bumi, Susi Air akan yang pertama. Cita-cita saya untuk mempertahankan itu," ucap Susi.

Baca Juga: Susi Pernah Borong 30 Pesawat, Sandiaga Uno: Kayak Beli Kacang

 Kiprah Susi menjadi menteri 

Nama Susi Pudjiastuti kian melambung ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet menteri untuk periode pemerintahan 2014-2019.

Ia dilantik sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan menggantikan Sharif Cicip Sutarjo, tepatnya pada tanggal 26 Oktober 2014.

Penampilan dan latar belakang Susi menarik perhatian publik untuk memonitor kinerjanya. Seorang wanita memimpin kementerian, bertato, merokok dan bicara ceplas-ceplos.

TRIBUN NEWS / DANY PERMANA
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berbicara dengan cucunya sebelum melakukan sumpah jabatan menteri di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/10/2014).

Perhatian publik atas Susi mencapai puncaknya ketika ia menjadi salah satu garda terdepan menjaga perairan Indonesia dari aktivitas pencurian ikan.

Dalam rentang waktu November 2014 hingga Agustus 2018, 488 kapal pencuri ikan berhasil ditenggelamkan. Kapal asal Vietnam dan Filipina adalah yang paling banyak diledakkan dan akhirnya menjadi rumah bagi biota dasar laut.

Selain itu, kebijakan lain yang mendapat perhatian publik adalah pelarangan penggunaan alat tangkap yang merusak lingkungan serta kebijakan melarang ekspor benih lobster.

Dari perspektif Susi, banyak pihak yang tidak senang dengan kebijakannya. Mereka adalah yang sudah bertahun-tahun meraup keuntungan dari eksploitasi besar-besaran perairan Indonesia dan kini terpaksa mesti untung kecil-bahkan rugi-karena kebijakan Susi yang bersifat pro keberlanjutan.

Dalam banyak kesempatan, ia lugas mengatakan bahwa dirinya sampai ditawari uang triliunan rupiah agar berhenti dari Menteri KKP. Susi menyebut, uang itu berasal dari para pelaku pencurian ikan.

Baca juga: Menteri Susi Sebut Oknum yang Tawarinya Rp 5 T untuk Mundur adalah Pengusaha Illegal Fishing

Gebrakan lain yang pernah dilakukan Susi saat menjabat menteri adalah menelurkan program yang dikenal dengan istilah ‘Susinisasi’.

Istilah itu disematkan oleh Presiden Jokowi dan wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla.

Program ini menitikberatkan pada pembuatan anggaran yang tepat guna, efisien, tidak untuk dihambur-hamburkan, serta mengutamakan penggunaan nomenklatur yang tidak bersayap.

Namun, Susi merasa programnya itu belum selaras dengan sistem keuangan yang masih berjalan. Maka, ia tak heran bila Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan penilaian disclaimer atau Tidak Menyatakan Pendapat (TMP) untuk laporan keuangan kementeriannya pada 2016 dan 2017.

Baca Juga: Terus Dapat "Disclaimer", Susi Marahi Jajaran KKP

Adapun opini yang diberikan pada 2015, 2018, dan 2019 adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Opini WTP diberikan jika laporan keuangan lembaga itu disajikan secara wajar dalam semua hal yang material.

Selain itu, informasi keuangan entitas juga dinilai sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).

Sementara, opini TMP diberikan kepada kementerian jika auditor tidak puas dengan seluruh laporan keuangan yang disajikan dan tidak dapat meyakinkan auditor itu bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar.

KOMPAS.com/Kristianto Purnomo/Garry Lotulung;ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Kolase Edhy Prabowo, Susi Pudjiastuti, Joko Widodo

Terlepas dari anggapan Susi tersebut, ia merasa selama menjadi menteri banyak hal yang membuatnya merasa kecewa karena ia tidak sepenuhnya bisa mengontrol sistem.

Berbeda halnya setelah tak menjadi pejabat negara, Susi merasa dirinya bisa punya kuasa penuh atas sistem yang dibangunnya sendiri.

"Waktu jadi menteri, saya banyak kecewa karena sistemnya orang lain, style-nya orang yang punya," ucap Susi.

Kiprah Susi di pemerintahan berhenti ketika periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi. Susi tidak lagi menjabat Menteri KKP.

Presiden Jokowi mempercayakan jabatan Menteri KKP kepada Edhy Prabowo, politikus dari Gerindra, partai politik yang baru bergabung ke pemerintahan.

Baca Juga: Saling Sindir Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti, Soal Ekspor Benih Lobster hingga Penenggelaman Kapal

Banyak kalangan yang menyesalkan pergantian itu. Susi dianggap sebagai salah satu menteri yang punya kinerja baik.

Narasi itu memuncak ketika Edhy Prabowo ditangkap KPK atas kasus dugaan korupsi melalui izin ekspor benih lobster, kebijakan yang sebelumnya ditutup Susi.