JEO - News

Teras Cihampelas Bandung,
Riwayatmu Kini...

Kamis, 1 Agustus 2019 | 21:17 WIB

Setelah kepemimpinan Kota Bandung berganti, Teras Cihampelas perlahan-lahan kembali kumuh. Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) mulai memasang terpal di atas lapaknya. Tampilan kawasan ini pun semrawut lagi.

TERAS Cihampelas di Kota bandung, Jawa Barat, merupakan salah satu ikon wisata Kota Kembang.

Pedestarian yang mirip jembatan layang (skywalk) itu digagas pada 2014 dan pembangunan  tahap I rampung pada 2017.

Membentang di atas Jalan Cihampelas, pedestrian itu merupakan salah satu program monumental Ridwan Kamil saat menjadi Wali Kota Bandung.

Teras Cihampelas terinsiprasi model serupa di Jepang untuk menata pedagang kaki lima (PKL) di kawasan wisatan belanja. Model ini akan membuat kawasan tampak asri dan enak dipandang.

Namun, setelah kepemimpinan Kota bandung berganti, teras Cihampelas perlahan-lahan kembali kumuh. Sejumlah PKL mulai memasang terpal di atas lapaknya. Tampilan kawasan ini pun semrawut lagi. Selain itu, pembangunan tahap dua teras Cihampelas pun mangkrak.

Lalu, seperti apa nanti nasib teras Cihampelas yang sudah menjadi ikon wisata dan pernah dipuji Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu? Apakah Pemkot Bandung akan meneruskan fungsi teras Cihampelas sebagaimana digagas Ridwan Kamil?

Ini catatan Kompas.com atas perjalanan keberadaan teras Cihampelas....

ALASAN DIBANGUN

PADA 2014, saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menggelar pertemuan dengan Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan (Pusjatan). Isi pertemuan, membahas rencana pembangunan Bandung Skywalk di lokasi wisata belanja Cihampelas.

Latar belakang pembangunan teras Cihampelas ini adalah kumuhnya para PKL di kawasan itu. Para PKL mendirikan lapak di area pedestarian sehingga mengganggu pejalan kaki. Lalu lintas kerap terganggu pula karenanya. 

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES
Kepadatan kendaraan di kawasan perbelanjaan di Jalan Cihampelas, Bandung, sebelum Teras Cihampelas dibangun, Senin (20/7/2015).

Agar permasalahan itu bisa diatasi, Emil—panggilan akrab Ridwan Kamil—berinisiatif menata para PKL dengan membangun teras atau skywalk.

Lokasi teras berada di atas jalur utama Cihampelas dengan desain mirip jembatan layang. Para PKL akan ditempatkan di sana. 

Saat itu, Ridwan Kamil memutuskan pembangunan jembatan panjang khusus untuk pejalan kaki itu dimulai dari Tamansari ke arah Cihampelas.

Pembangunan tersebut masuk dalam tahap I. Alokasi anggarannya Rp 40 miliar. 

Emil menargetkan pembangunan Bandung Skywalk yang kini dikenal Teras Cihampelas itu rampung pada tahun yang sama, 2014. Namun, proses pembangunan molor.

Ada sejumlah kendala. Salah satunya, di antara para PKL merasa waswas ketika teras ini jadi maka jualan mereka sepi. 

Proses pemberian pemahaman kepada PKL di Cihampelas memakan waktu hingga satu tahun.

Negosiasi dengan para PKL tak sampai memicu gejolak, sekalipun ada unjuk rasa dari mereka yang khawatir tentang masa depan dan potensi jualan mereka.

Penjelasan Emil pada akhirnya meluluhkan para PKL. Wujudnya, 192 PKL yang terdata menyatakan siap menempati Teras Cihampelas.

Akhirnya, pada Januari 2017, Teras Cihampelas rampung. Awalnya, proyek teras atau skywalk Cihampelas ditargetkan rampung pada 2016.

Dikerjakan oleh PT Likatama Graha Mandiri dengan anggaran Rp 48 miliar, Teras Cihampelas memiliki panjang 450 meter, lebar 9 meter, dan membentang di ketinggian 4,6 meter dari permukaan jalan.

Konstruksi rangka menggunakan bahan baja serta beton di bagian lantai. Adapun alas teras adalah kombinasi bahan granit dan kayu.

MENGUBAH WAJAH PKL

RIDWAN Kamil menginginkan Teras Cihampelas ikut mendongkrak pamor Jalan Cihampelas yang terkenal sebagai pusat belanja jins di Bandung. Dia berharap, pamor itu tak disertai label kumuh. 

Sebab, jalur Cihampelas sebelumnya semrawut dan kumuh. Banyak PKL yang memakan pedestarian sehingga pejalan kaki harus berjalan di badan jalan.

Kondisi itu menyebabkan kemacetan lalu lintas di jalur itu.

KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI
Suasana jembatan layang khusus pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang bernama Teras Cihampelas, di Jalan Cihampelas Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/11/2017). Pemerintah Kota Bandung resmi memperkenalkan skywalk sekaligus ikon terbaru Kota Kembang itu pada Februari lalu dan diharapkan menjadi magnet bagi para pelancong, khususnya di kawasan sentra jins tersebut.

Setelah Teras Cihampelas terbangun, wajah kawasan pun ikut berubah. PKL yang telah menyatakan kesediaan menggunakan teras ini, ditempatkan di kios-kios cantik dan warna-warni. 

Kios-kios itu ditempati pedagang kuliner, aksesoris, dan oleh-oleh khas Bandung. Setiap pengunjung bisa duduk bersantai sambil menyantap jajanan khas Kota Bandung serta membawa buah tangan dengan harga miring.

Kepada para pedagang, Emil berpesan agar harga dagangan PKL Kota Bandung tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas. Emil juga minta pedagang melayani pelanggan dengan ramah dan santun, khas orang Bandung.

Para PKL ini tidak dipungut biaya untuk menempati Teras Cihampelas. Mereka hanya dikenakan biaya keamanan dan kebersihan.

Kewajiban lain, mereka juga harus tutup pukul 22.00 WIB. Hal itu untuk mencegah penyalahgunaan pemakaian kios untuk kegiatan yang melanggar ketertiban umum.

Para pedagang juga dilarang menyewakan atau menjual lapaknya ke orang lain. Lapak yang ditempatinya harus pula atas nama pedagang yang bersangkutan, tidak boleh diwakilkan.

Kesepakatan itu dituangkan dalam bentuk tulisan dan ditandatangani oleh pedagang dan perwakilan Pemkot Bandung.

Waktu itu, salah seorang pedagang, Dadang Yost (41), optimistis jualannya bakal ramai sehingga bisa mendongkrak pendapatannnya.

"Saya percaya ke Kang Emil dalam segi pembangunan. Sekarang skywalk ini jadi ikon di Bandung. Insya Allah optimistis," kata Dadang.

Selain itu, Teras Cihampelas juga ramah bagi penyandang disabilitas. Kaum disabilitas bisa mengakses Teras Cihampelas dengan menggunakan lift.

Keberadaan sarana tersebut menuai pula pujian dari kalangan disabilitas. 

"Membangun Kota Bandung ini penuh dengan dinamika dan tantangan, dan saya tidak mungkin sebagai wali kota bisa mewujudkan mimpi tanpa bantuan semua orang," kata Emil saat peresmian Teras Cihampelas, Sabtu (4/2/2017).

Menurut dia, tanpa dukungan tersebut, adalah mustahil menata Cihampelas dalam hitungan waktu yang dipakai untuk seluruh proses pembangunan Teras Cihampelas tersebut.

"Mengurus negara ini kalau visinya baik, di bawah prosesnya baik, bertemu dengan yang mengerjakan baik, koordinasinya baik, hasilnya juga baik," imbuh Emil.

IKON WISATA BARU

IKON wisata baru Kota Bandung. Itu adalah ambisi Ridwan Kamil untuk Teras Cihampelas.

Jembatan pedestarian di atas udara atau skywalk ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang berwisata ke Bandung.

KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI
Aktivitas warga di atas jembatan layang Teras Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/11/2017). Pemerintah Kota Bandung resmi memperkenalkan skywalk sekaligus ikon terbaru Kota Kembang itu pada Februari lalu dan diharapkan menjadi magnet bagi para pelancong, khususnya di kawasan sentra jins tersebut.

Emil mengklaim bahwa teras Cihampelas merupakan satu-satunya jembatan khusus pejalan kaki di Indonesia. Dia pun mengatakan, memindahkan area pedestarian ke atas jalan merupakan kreasi dalam membangun kota di tengah harga lahan yang kian melonjak.

Dengan adanya Teras Cihampelas, Emil menginginkan kebiasaan warga memakai kendaraan untuk jalan-jalan di Kota Bandung dikurangi.

Ia ingin suatu hari orang berjalan kaki ke mana saja di Kota Bandung tanpa bertemu mobil dan motor.

"Suatu hari di negara maju juga seperti ini. Mimpi ini kita namakan jalur pejalan kaki di atas jalan. Mimpi besarnya bikin jalur pejalan kaki di rel kereta dari barat ke timur Bandung," ucap Ridwan Kamil saat mengunjungi teras Cihampelas, dua tahun lalu.

Teras Cihampelas didesain membawa pejalan kaki agar lebih dekat dengan alam Kota Bandung yang punya hawa sejuk.

Pohon-pohon rindang yang melintang di Teras Cihampelas menambah nuansa alami di tengah kesibukan aktivitas perkotaan.

DIPUJI PRESIDEN JOKOWI

KAWASAN Cihampelas yang awalnya kumuh menjadi cantik dan asri setelah ditata dengan konsep teras atau skywalking.

Pedagang kaki lima (PKL) tertata baik dan rapi. Mereka ditempatkan di pedestarian di atas jalan.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Jembatan layang khusus pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang bernama Teras Cihampelas dibangun di atas Jalan Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, dan mulai digunakan Rabu (1/2/2017). Jembatan setinggi 4,6 meter, lebar 9 meter, dan panjang 450 meter di atas jalan raya ini merupakan solusi penataan pedagang kaki lima di tengah sulitnya mencari lahan.

Kawasan itu juga berubah dari semrawut menjadi tertata rapi dan arus lalu lintas pun menjadi lancar. Pujian pun datang dari Presiden Jokowi. 

Jokowi mengunjungi Teras Cihampelas pada Rabu (12/4/2017). Ia blusukan di teras Cihampelas sekitar 20 menit, didampingi Ridwan Kamil yang saat itu masih menjadi Wali Kota Bandung.

"Teras Cihampelas yang didesain, dikerjakan oleh Wali Kota Bandung, saya kira merupakan sebuah penghargaan yang sangat baik untuk pedagang kaki lima," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, penempatan dan penataan kios Teras Cihampelas sangat rapi. Tata letak kios itu dinilai baik untuk interaksi, baik bagi penjual dan pembeli maupun di antara sesama penjual.

Sentuhan Ridwan Kamil itu dinilai mampu menarik wisatawan untuk datang dan berbelanja di pusat UMKM di Kota Bandung tersebut.

Terlebih lagi, kios-kios di sana menjual produk-produk khas Bandung. Hal itu membuat kawasan tersebut menjadi berkarakter atau memiliki "brand power".

"Kekuatan Bandung adalah suvenir, cinderamata, dan fashion berupa tas dan kaus. Juga kulinernya dengan warung yang ditata rapi dan bersih, ujar Jokowi.
Kata Jokowi, kekuatan itulah yang tampak di Teras Cihampelas.

KEMBALI KUMUH

DUA tahun berlalu. Rezim Pemkot Bandung berpindah dari Ridwan Kamil ke Oded M Danial yang dulunya adalah wakil Emil.

Keindahan skywalk Cihampelas atau yang lebih tenar disebut Teras Cihampelas mulai meluntur.

PUTRA PRIMA PERDANA
Tenda pedagang di Skywalk Cihampelas

Selain teras itu tidak terawat, para pedagang kaki lima (PKL) mulai memasang terpal sebagai penutup lapak jualan mereka. Kumuh. 

Dari pantauan Kompas.com pada Kamis (25/7/2019), pemandangan kurang sedap terlihat dari tenda tenda terpal pedagang kuliner, fashion, dan aksesoris yang mulai rusak dan sobek.

Selain itu, tanaman-tanaman di dalam pot-pot di tepian jembatan dan di taman tampak kering bahkan acak-acakan tak terurus.

Sampah-sampah daun serta kemasan minuman dan makanan terlihat berserakan di beberapa titik.

Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah pos keamanan yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan kostum robot cosplay.

Karena ukurannya cukup besar, kostum tersebut memenuhi ruangan pos keamanan yang berukuran sekitar 3,5 meter persegi.

Bukan hanya tidak terurus, masalah para pedagang yang masih tidak kunjung kelar adalah sepi pengunjung.

Hal ini mengakibatkan banyak kios tutup. Beberapa pedagang memilih turun ke bawah skywalk dan kembali berjualan di pinggir Jalan Cihampelas.

“Di sini sepi. Kalau ramai biasanya dapat paling besar hanya Rp 150.000. Dulu waktu masih di bawah bisa Rp 300.000 sehari," kata Subur (60) pedagang batagor dan singkong keju.

Subur bercerita, pernah juga pada satu hari dagangannya tak laku sama sekali. Kalaupun laku, pernah pula hanya empat porsi.

"Buat rokok sama keperluan di rumah juga kurang,” kata dia.

Keluhan Subur sama seperti pedagang lain soal sepinya pengunjung Teras Cihampelas. Menurut dia, ketiadaan penutup atau kanopi di atas skywalk menjadi alasan pengunjung ogah naik ke jembatan ini.

“Keinginan kami, ditutup atasnya agar pengunjung dan pedagang nyaman. Ini musim kemarau ya orang malas karena panas. Kalau musim hujan jangankan yang mau beli, yang jualan pada ribut,” tuturnya.

Selain itu, para pedagang juga berharap Pemerintah Kota Bandung benar-benar tegas menertibkan PKL di bawah Teras Cihampelas.

Mereka berkeyakinan, pengunjung tetap akan memilih belanja di bawah karena ada PKL juga di sana, ketimbang repot cari tempat parkir dan naik ke Teras Cihampelas. 

TAHAP II MANGKRAK

BELUM selesai problematika sosial di skywalk tahap pertama, masalah kembali datang di proyek pembangunan Teras Cihampelas tahap kedua.

Infrastruktur yang digagas Ridwan Kamil, justru terhenti di masa Wali Kota Bandung Oded M Danial.

KOMPAS.com/ PUTRA PRIMA PERDANA
Sampah daun berserakan di Skywalk Cihampelas tahap 2

Sandi Suhendar, Kepala Bidang Perencana Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung mengatakan, pembangunan skywalk Cihampelas tahap II dimulai pada Agustus 2018 dan dihentikan pada bulan Maret 2019.

Alasannya, kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut tidak bisa menyelesaikan pembangunan dan memenuhi target yang ditentukan Pemkot Bandung.

Sandi menambahkan, skywalk Cihampelas merupakan bagian kecil dari sebuah rencana besar. Masterplan jangka panjang skywalk adalah menghubungkan Jalan Cihampelas, Jalan Pasupati, dan Jalan Tamansari hingga Jalan Gelapnyawang.

Agar berjalan sesuai rencana, Teras Cihampelas Tahap II harus diselesaikan dengan melelang kembali pekerjaan yang tinggal tahap penyelesaian.

“Skywalk tahap II tetap harus berlanjut, karena tinggal beberapa persen lagi kami pikir insya Allah ada lanjutannya,” tutur Sandi. 

Bila sampai tahap ini tak berlanjut, kata Sandi, tahap ketiga dan seterusnya pun bakal sulit terlaksana, apalagi rencana besar jangka panjang. 

“Kalau dari dukungan biayanya ada. Hanya memang kita masih mengevaluasi kembali yang kami bangun dan kemungkinan dukungan anggaran juga," ujar Sandi.

Bagaimana pun, tutur Sandi, membangun fasilitas dari Cihampelas sampai Dago adalah garapan dengan anggaran besar. 

"Kami coba optimalisasi fasilitas yang ada dulu, (sambil) melihat dukungan anggaran yang ada,” ujar dia.

Setelah empat bulan mangkrak, kondisi pedestrian langit itu cukup memprihatinkan. Tangga-tangga besi yang terhalang kabel-kabel mulai berkarat, pijakannya yang dilapisi tegel juga terlihat banyak yang pecah.

Bahkan, salah satu tangga justru dibuat lapak dagang oleh PKL. Di atas jembatan, lantai pecah dan bolong, sampah berserakan bahkan menggunung. 

Bekas pengerjaan proyek yang belum selesai juga terlihat dibiarkan. Di bagian bawah, pelat besi yang rencananya akan jadi penutup terlihat compang-camping bergelantungan.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan, tahap pertama proyek Teras Cihampelas belum diserahkan ke pedagang. Tanggung jawab masih ada di pemerintah.

Menurut dia, yang ada barulah kerja sama dengan forum PKL untuk pengelolaan Teras Cihampelas. Forum akan mengkaji ulang dan membuat aktivitas yang mengundang pembeli.

Yana pun berjanji bakal mengabulkan permintaan pedagang, yakni membuat atap atau kanopi agar pengunjung dan pedagang bisa lebih nyaman.

Bentuknya bisa pula berupa tenda, agar orang yang memburu kuliner bisa makan di sana dan tidak kepanasan atau kehujanan.

“Tinggal kita pikirin lagi ke depan. Mudah-mudahan optimalisasi skywalk sesuai harapan,” ujar Yana.

Untuk skywalk tahap II, imbuh Yana, akan segera diadakan lelang. Targetnya, Teras Cihampelas dari tahap pertama pun dapat segera bersambung dengan pembangunan tahap kedua. 

DISERAHKAN KE SWASTA

WALI Kota Bandung Oded M Danial mengakui kondisi skywalk Cihampelas atau Teras Cihampelas saat ini kurang terawat dan kumuh. Dia pun mengaku sudah melihat sendiri kondisi tersebut. 

Menurut Oded, salah satu penyebab kurang terawatnya Teras Cihampelas adalah simpang siurnya pengelolaan infrastruktur pedestrian di atas jalan raya Cihampelas tersebut.

KOMPAS.com/Dendi Ramdhani
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat berfoto berasama istrinya Atalia Praratya, Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial dan Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo saat berfoto usai meresmikan Teras Cihampelas, Sabtu (4/2/2017).

Sebab, meski masih menjadi aset milik Pemerintah Kota Bandung, tanggung jawab perawatan Teras Cihampelas saat ini dipercayakan kepada forum pedagang kaki lima (PKL) Cihampelas yang sebelumnya berdagang di bawah skywalk.

“Kalau diserahkan (pengelolaannya) kepada mereka (pedagang), mereka tidak siap untuk bertanggung jawab. Kalau dikasihkan begitu saja (pengelolaannya kepada forum pedagang) pasti akan begini terus selamanya,” ujarnya.

“Ke depan akan kita kelola Teras Cihampelas itu dengan kerja sama dengan pihak ketiga karena itu merupakan bagian aset Kota Bandung.”

Salah satu langkah untuk membuat skywalk Cihampelas kembali cantik berseri, kata Oded, Pemerintah Kota Bandung akan segera mencari pihak swasta yang berani mengelola Teras Cihampelas.

“Ke depan akan kami kelola Teras Cihampelas itu dengan kerja sama dengan pihak ketiga, karena itu merupakan bagian aset Kota Bandung,” tuturnya.

Oded mengatakan, selain mengelola, pihak ketiga juga diberikan kewajiban untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan serta merawat apa yang telah ada.

“Mudah-mudahan setelah dirapikan ke depan bisa lebih baik lagi,” ucapnya.

Rencana untuk menyerahkan pengelolaan Teras Cihampelas ke pihak swasta, lanjut Oded, telah memiliki landasan hukum yang kuat, yakni Perda Kota Bandung Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.

“Perda 12 Tahun 2018 ini kami akan jadikan payung hukum untuk melakukan penataan aset-aset barang milik daerah agar bisa panjang umurnya dan bermanfaat untuk masyarakat,” ungkap Oded.

Oded optimistis cara ini bisa kembali menimbulkan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke Teras Cihampelas.

“Pengelolaan sebuah kawasan yang terpenting ada pengelola yang baik dan benar,” tegas dia.

Sementara itu, untuk masalah mangkraknya pembangunan Teras Cihampelas tahap II, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan, Pemerintah Kota Bandung akan melelang sisa pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh kontraktor sebelumnya.

“Sisanya kami masukkan anggaran tahun 2020 untuk melanjutkan yang tertunda, tapi tidak menambah,” kata Didi.

Didi mengatakan, kontraktor sebelumnya baru menyelesaikan sekitar 89 persen pekerjaan. Rencananya, jembatan hasil pembangunan tahap II ini memiliki panjang 250 meter dan menyambung ke teras tahap pertama. 

“Sisa yang akan dilelang ke arah yang belum dikerjakan seperti aksesoris, perlengkapan, dan perbaikan-perbaikan saja,” ucap Didi. 

Meski demikian, Didi mengatakan saat ini sedang dilakukan penghitungan ulang nilai pekerjaan yang akan dilelang.

Selain itu, Pemkot Bandung tengah menghitung denda yang harus dibayar oleh kontraktor sebelumnya akibat tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

“Masa denda keterlambatan itu yang sedang kita hitung ulang,” ujar Didi.

Akankah Teras Cihampelas segera kembali berseri dan menjadi ikon andalan Kota Bandung? Mari kita tunggu dan lihat bersama waktu....