JEO - Insight

Jangan Ada Stigma Bagi Penderita Kusta

Minggu, 30 Januari 2022 | 11:42 WIB

KHASIATI (45) adalah pengidap kusta. Penderitaannya kian bertambah setelah menjadi korban stigma.

Kepada psikolog Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), dalam bakti sosial di GOR Sitanala, Kota Tangerang, Banten, Khasiati menceritakan pengalaman buruknya itu.

“Ibu pernah diledek karena penyakit Ibu?” tanya psikolog, dikutip Kompas, 3 Desember 2019.

“Pernah,” jawab Khasiati.

Keningnya berkerut. Napasnya sedikit terengah melanjutkan ceritanya.

“Dulu tetangga-tetangga malah takut. Dibilang muka saya serem banget, merah-merah. Dibilang saya ini kena guna-guna. Saya sampai enggak mau keluar rumah, enggak mau ketemu orang,” tutur Khasiati.

Selama bercerita, ia menggenggam jemari tangannya yang sudah tidak utuh lagi akibat penyakit itu.

Psikolog kembali bertanya, “terus enggak langsung berobat?”

“Enggak. Sembunyi di rumah. Baru lama periksa ke dokter terus disuruh ke sini (RS Sitanala),” ucap dia.

Sejumlah masyarakat yang berada di Kampung Sitanala, Kota Tangerang, Banten melakukan pemeriksaan komprehensif mulai dari pemeriksaan mata, kulit, gigi, dan psikologi dalam acara bakti sosial yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Selasa (3/12/2019).
KOMPAS/DEONISIA ARLINTA (TAN)
03-12-2019
DEONISIA ARLINTA
Sejumlah masyarakat yang berada di Kampung Sitanala, Kota Tangerang, Banten melakukan pemeriksaan komprehensif mulai dari pemeriksaan mata, kulit, gigi, dan psikologi dalam acara bakti sosial yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Selasa (3/12/2019). KOMPAS/DEONISIA ARLINTA (TAN) 03-12-2019

Anda dapat membaca artikel ini secara runut atau memilih topik yang relevan dengan klik menu berikut ini:

Jejak Kusta   ♦   Mengenal Kusta   ♦   Gejala dan Cara Deteksi Dini   ♦   Pengobatan

Jejak Kusta

Khasiati tidak sendiri. Apa yang terjadi pada Khasiati telah ada di muka bumi setidaknya sejak dua ribu tahun sebelum Masehi.

Sebuah sajak epos yang ditulis Raja Kota Uruk, Gilgamesh, bercerita tentang dirinya yang terkena penyakit kusta.

Sebuah dokumen papirus di Mesir yang diperkirakan ditulis pada 1550 SM juga menceritakan tentang penyakit kusta.

Selanjutnya, ada catatan sejarah di India pada 1400 SM, Tiongkok pada 600 SM dan Mesopotamia pada 400 SM.

Baca juga: Bukan dari China, Kusta Terbukti Berasal dan Menyebar dari Tanah Eropa

Di Indonesia sendiri, jejak penyakit kusta tercatat di dalam dua naskah kesusastraan. Selain Kitab Korawacrama yang ditulis sekitar adab ke-14 Masehi, kusta juga disebut dalam Kitab Rajapatigundala.

”... Hidup mereka akan tanpa mendapat kesehatan, mereka akan sakit kusta, tidak dapat melihat sempurna, sakit gila, cacat mental, buta, bungkuk. Maka semua orang yang tidak mematuhi akan dikutuk oleh Raja Patigundala yang suci.” Demikian penggalan Kitab Rajapatigundala.

Penggalan naskah Kitab Rajapatigundala ini mengisahkan kutukan bagi orang-orang yang tidak taat pada hukum kala itu.

Sementara dalam Korawacrama, kusta disebut dua kali dengan maksud yang berbeda. Pertama adalah wudug, yakni penyakit kusta yang belum parah. Selain itu, juga dikenal istilah barah untuk menyebut penyakit kusta yang telah parah.

Jejak Kusta di Nusantara

Hingga detik ini, penyakit itu belum sirna, termasuk di Indonesia. Begitu pula dengan praktik pengucilan terhadap penderitanya.

Dunia medis yang berkembang begitu pesat tidak membuat mitos kuno tentang penyakit itu hilang. Masih banyak yang melabeli kusta adalah kutukan, penyakit orang miskin, menjijikkan, dan seterusnya.

Stigma terhadap penderita kusta menyebabkan diskriminasi. Tak hanya memengaruhi fisik, prakti itu juga berdampak ke psikologis, sosial, hingga kesejahteraan ekonomi penderita.

Kondisi ini menimbulkan hambatan besar untuk perawatan awal penyakit dan bahkan menyebabkan munculnya gangguan kejiwaan yang terus menjadi lazim pada pasien kusta.

Inilah yang menjadi salah satu penyebab sulitnya deteksi dini bagi penderita. Terutama di daerah endemis kawasan Indonesia timur. Contohnya Papua, Maluku, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Baca juga: Hari Kusta Sedunia, Mengenal Kusta atau Penyakit Hansen dan Gejalanya

Untuk mensosialisasikan penyakit kusta, sejumlah stakeholder menetapkan, pekan terakhir pada bulan Januari setiap tahunnya menjadi peringatan akan Hari Kusta Sedunia. 

Momen tersebut dipilih oleh aktivis kemanusiaan Perancis, Raoul Follereau pada 1953. Melansir laman WHO, hari itu dipilih karena bertepatan dengan peringatan meninggalnya tokoh kemanusiaan India, Mahatma Gandhi, yang meninggal dunia pada hari Minggu, 30 Januari 1948.

Gandhi memang bukan penderita kusta. Namun, perjuangannya melawan stigma terhadap penderita kusta membuat hari kematiannya dikenang dan didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan penyakit kusta.

Kacamata Mahatma Gandhi
 
Kacamata Mahatma Gandhi

Posisi Indonesia di dunia

Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2017, penderita kusta di Indonesia berjumlah 17.441.

Untuk sebuah penyakit yang jarang mendapatkan tempat di pemberitaan arus utama, jumlah itu boleh jadi mengejutkan. Sebab, Indonesia rupanya menempati urutan ketiga penderita kusta terbanyak di dunia.

Urutan pertama, yakni India dengan 126.164 penderita dan Brasil dengan 26.875 penderita.

Data terbaru pada 2018, India 120.334 penderita, Brasil 28.660 penderita, dan Indonesia 17.017 penderita. Indonesia tetap urutan ketiga.

Angka kasus kusta di Indonesia sebenarnya dinamis. Sejak 2006, angkanya naik turun. Pada 2011, angkanya sempat naik signifikan, kemudian turun perlahan hingga catatan terakhir tahun 2018.

Ini data selengkapnya:

Kasus Kusta di Dunia 2006-2015

Seperti terlihat pada tabel di atas. Terdapat 14 negara yang melaporkan 1.000 atau lebih kasus baru selama tahun 2015. Negara-negara itu berkontribusi 94,89 persen dari seluruh kasus baru di dunia.

Data Kementerian Kesehatan sedikit berbeda dengan WHO. Pada 2017 contohnya, jumlah kasus kusta di Tanah Air tercatat sebanyak 15.920, lebih sedikit dibandingkan yang dicatat WHO.

Baca juga: 71 Warga Asmat Ditemukan Menderita Kusta, 23 di Antaranya Pasien Baru

Meski demikian, serangkaian data tersebut menunjukkan Indonesia belum berstatus eliminasi kusta hingga saat ini.

Indikator dari status eliminasi kusta, yakni prevalensi kasus di bawah 1 per 10.000 penduduk.

 

Menyerang anak-anak

Kusta bisa menyerang semua umur, tetapi anak-anak lebih rentan dibandingkan orang dewasa. Frekuensi tertinggi pada orang dewasa, yakni usia 25-35 tahun dan anak-anak usia 10-15 tahun.

Mengutip Kompas, 11 September 2019, kasus kusta pada anak tertinggi terjadi pada 2013, yakni 2.002 kasus. Apabila dikonversi ke kasus baru per 100.000 penduduk, yakni 11,88 persen.

Sempat mengalami penurunan setahun kemudian, tetapi naik pada 2015 dan kembali turun hingga 2017.

Catatan Kementerian Kesehatan terbaru, yakni Januari 2021, kasus kusta pada anak mencapai 9,14 persen. Angka ini belum mencapai target pemerintah yaitu dibawah 5 persen.

Kasus Kusta Pada Anak

Angka prevalensi kusta pada anak dapat jadi tolok ukur derajat endemisitas kusta di suatu daerah. Semakin tinggi proporsi ditemukannya kasus baru kusta pada anak berusia kurang dari 15 tahun, menandakan potensi penularan dari kontak terdekat, yakni dengan keluarga dan lingkungannya, serta tingginya penyebaran di suatu wilayah.

Ada berbagai faktor yang memengaruhi penularan kusta pada anak, di antaranya imunitas belum sempurna, usia, jenis kelamin, status ekonomi keluarga, pengetahuan orangtua, status gizi, sanitasi rumah, kepadatan penduduk, kontak lama dengan penderita kusta, serta kebersihan diri dan penggunaan air.

Sistem imun anak belum sempurna dan sekuat orang dewasa. Apalagi mereka belum mengerti dan kadang tak memedulikan kebersihan sekitar. Akibatnya, mereka lebih rentan terpapar bibit penyakit, termasuk bakteri penyebab kusta.

Baca juga: Pertama Kali Ilmuwan Ungkap Kasus Kusta pada Simpanse Liar

Faktor umur berkaitan dengan sistem imun yang belum berkembang baik. Akibatnya kontak sekali atau beberapa kali dengan penderita kusta sudah cukup untuk tertular.

Penggunaan air tak bersih juga jadi jalan masuk bakteri. Berdasarkan laporan The International Leprosy Association Technical Forum di Paris pada 22-28 Februari 2002, dideteksi adanya bakteri kusta pada debu serta air untuk mandi dan mencuci di rumah penderita.

Seorang anak yang tinggal lama di area endemik kusta juga berisiko lebih besar tertular. Tingginya angka kusta pada orang-orang yang serumah hampir 10 kali dibanding mereka yang tak tinggal serumah.

Pelayanan YASA terhadap penderita kusta di Kabupaten Asmat, Papua, Senin (14/6/2021)
Dok YASA
Pelayanan YASA terhadap penderita kusta di Kabupaten Asmat, Papua, Senin (14/6/2021)

Mengenal Kusta

Kusta, merujuk definisi dari WHO, adalah penyakit di daerah beriklim tropis yang terabaikan.

Kusta punya nama lain, yakni Morbus Hansen atau lepra (dalam bahasa Inggris: leprosy). Morbus diartikan penyakit, sedangkan Hansen ialah nama seorang ilmuwan Norwegia yakni Gerhard Henrik Armauer Hansen.

Pada 1873, Hansen menemukan adanya sebuah patogen yang menyebabkan penyakit yang telah lama dikenal sebagai lepra.

Baca juga: Cerita Suhardi, Hampir 4 Tahun Berjuang Lawan Kusta Sampai akan Diasingkan ke Hutan

Kusta merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi. Oleh sebab itu, kusta masuk ke dalam keilmuan spesialis kulit.

Mycobacterium leprae merupakan sebuah bakteri yang tahan asam. Bakteri ini juga merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang dan dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies mycobacterium.

Hingga saat ini, bakteri mycobacterium leprae belum dapat dikultur atau dilakukan pembelahan atau perkembangbiakan di laboratorium. Pasalnya, waktu perkembanganbiakan bakteri tersebut cukup lama, yakni sekitar 2-3 minggu.

Hal ini jelas berbeda dengan bakteri lainnya yang bahkan bisa berkembangbiak atau membelah diri hanya dalam hitungan jam.

 

Cara penyebaran

Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) Indonesia Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi mengatakan, kuman mycobacterium leprae dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita (kontak yang lama dan berulang).

Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui pernapasan dengan masa inkubasi 2-5 tahun setelah kuman masuk ke dalam tubuh.

Oleh karena itu, tidak perlu khawatir bila Anda hanya bertemu atau bersentuhan dengan penderita kusta untuk waktu yang singkat.

"Kusta memang bisa menular dengan udara pernapasan atau sentuhan langsung yang lama dan erat, tapi perlu digarisbawahi yang lama dan erat itu ya," kata Dini dikutip dari Kompas.com, 13 September 2019.

"Makanya yang sering atau yang berpotensi terjangkit itu adalah mereka yang tinggal serumah biasanya, karena jangka bertemu dan bersentuhannya lebih lama. Tapi ini juga untuk mereka penderita kusta tipe lepromaktosa (kusta level berat), yang bakterinya memang sudah banyak sekali," lanjut dia.

Baca juga: Mereka yang Menetap di Kampung Kusta Karena Penyakitnya

Meski sering menginfeksi satu keluarga, Dini menegaskan bahwa kusta bukanlah penyakit keturunan.

Dini dan tim sedang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor genetika yang berpengaruh terhadap penyebaran kusta ini. Namun, faktor genetika yang dimaksudkan lebih pada ras mana seseorang berasal.

"Ya, seperti di Indonesia sendiri kan paling banyak Indonesia bagian Timur yang kena, sementara daerah lain agak jarang. Makanya penelitian faktor genetika atau ras ini digarap," tutur Dini.

Menurut Dini, untuk di beberapa negara, kusta bahkan bisa ditular ke manusia dari hewan, misalnya Armadillo di Amerika dan monyet hijau atau monyet sabaeus atau monyet callithrix yang berada di Afrika.

Lantas, apabila sudah terinfeksi, maka faktor lingkungan dan daya tahan tubuh akan berpengaruh besar dalam membuat level ataupun efek kusta meningkat pada tubuh. Semakin lemah daya tahan tubuh seseorang, semakin mudah bakteri menyerang, termasuk bakteri mycobacterium leprae ini.

Lingkungan dengan suhu udara yang terlalu dingin ataupun terlalu panas juga akan membuat bakteri tidak aktif berkembang. Oleh sebab itulah, kata Dini, di daerah yang terlalu panas ataupun terlalu dingin jarang ada penduduknya yang mengalami kusta.

"Kecuali biasanya yang terkena kusta itu pendatang, itu bisa saja," tambah Dini.

Mitos Kusta 

Tipe dan Karakteristik

WHO mengklasifikasikan kusta menjadi dua tipe, yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB).

Tipe PB disebut juga dengan kusta kering karena membuat kulit penderita yang menunjukkan gejala kusta kering dan bersisik, akibat tidak berkeringat.

Pada jenis kusta ini, jumlah bakteri mycobacterium leprae pada kulit juga sangat sedikit atau bahkan tidak ditemukan sehingga dianggap tidak menular.

Sebaliknya, tipe MB merupakan kusta basah, karena bentuk kelainan kulit tampak merah mengkilat seperti basah.

Pada jenis ini, terdapat banyak bakteri mycobacterium leprae pada kulit sehingga sangat mudah menular.

Baca juga: Banyak Mantan Penderita Kusta Mengemis di Jalanan Kota Medan, Mengeluh Butuh Obat-obatan

Selain pembagian dua tipe kusta tersebut, terdapat juga pembagian lain, yakni:

Biasanya ditandai dengan bercak hipopigmentasi pada kulit dan kelainan tersebut mati rasa (anestesi). Pada tipe yang ini, bakteri yang ada hanya sedikit bahkan tidak terdeteksi karena sudah kalah dengan daya tahan tubuh yang bagus.

Kelainan kulit pada kusta tipe tuberkuloid ini hampir mirip atau menyerupai gejala penyakit lain, seperti panu, biduran, eksim ataupun vitiligo, yang bahkan tidak terasa gatal maupun sakit.

Pada tipe tuberkuloid, bakteri menyerang saraf tepi sehingga akan terjadi kelainan seperti mati rasa pada kulit. Waktu pengobatan untuk tipe ini biasanya berlangsung sekitar enam bulan.

Kusta tipe lepromatosa ini adalah yang paling berat karena mengandung banyak bakteri.

Pada tipe ini, kelainan kulit lebih luas. Kelainan kulit simetris bentuk berupa bercak menebal atau benjolan hampir di seluruh tubuh. Kadang didapatkan pembengkakan selaput lender hidung yang menyebabkan penyumbatan, dapat disertai mimisan (epistaksis).

Pada tipe ini seringkali gangguan saraf terlambat terdeteksi.

Bakteri pada kusta lepromatosa ini berjumlah banyak dan jumlah kelainan kulit lebih banyak. Lalu, butuh waktu lama, sekitar 12 bulan bahkan lebih, untuk mengobatinya.

Baca juga: Jumlah Penderita Kusta di Kompleks Jongaya Menurun Tiap Tahun

Pengobatan yang lama tersebut karena bakteri yang menyebabkan kusta atau mycobacterium leprae butuh waktu lama untuk membelah dirinya yaitu antara 2-3 minggu.

Di antara tipe tuberkuloid dengan lepromatosa, terdapat campuran keduanya, yaitu borderline tuberkuloid, mid-borderline, dan borderline lepromatosa. Namun, klasifikasi tipe ini hanya digunakan untuk kepentingan penelitian saja.

Untuk kepentingan pengobatan, WHO menganjurkan penggunaan pembagian tipe PB dan MB.

Kusta tipe ini bersifat tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid. Penyembuhannya bisa berlangsung selama 9-12 bulan.

Gejala dan Cara Deteksi Dini

Kusta memang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Namun, bila tidak didiagnosis dan ditangani secara dini, kusta dapat menyebabkan kecacatan yang menetap atau permanen.

Ada tiga cara untuk memeriksa tubuh dan mengetahui apakah diri kita menderita kusta dan bukan sekadar biduran, panu atau eksim. Dua yang pertama dapat dilakukan secara mandiri, sedangkan yang ketiga dapat dilakukan oleh petugas medis.

"Karena banyak mirip atau menyerupai gejala penyakit lain, seringkali (kusta) luput dari diagnosis atau salah diagnosis di awal, makanya dibuatlah panduan untuk pemeriksaannya," kata Dini.

Sebelum melakukan tes dengan tiga cara yang akan disampaikan, Dini meminta agar Anda dapat melihat atau menemukan tanda-tanda kusta yang biasanya terjadi di kulit, yakni adanya bercak merah atau bercak putih, tidak terasa gatal dan juga tidak terasa sakit pada bercak tersebut, serta tidak sembuh ketika Anda mengobati dengan obat kulit biasa.

Jika tanda-tanda tersebut telah Anda alami, lakukanlah beberapa tes berikut:

Ambil kapas, lalu pilin kapas tersebut, dilanjutkan dengan menyentuhkan kapas hasil pilin itu pada bagian tubuh yang terdapat bercak-bercak. Jika Anda tidak merasakan apapun, maka kemungkinan besar adalah kusta.

Namun, bila Anda ragu-ragu atau masih merasakan sentuhan, silahkan lakukan konfirmasi dengan membedakan dua suhu, yaitu hangat pada kategori suam kuku atau berkisar 40 derajat celcius dan dingin pada suhu ruang kamar sekitar 27-30 derajat celcius.

"Ingat suhu hangat bukan panas, juga dinginnya itu bukan dingin suhu AC ya tapi cukup dingin ruang kamar," ujar Dini.

Baca juga: Hari Kusta Sedunia, Temukan, Periksa, dan Obati Hingga Tuntas

Jika tidak memiliki alat tes suhu yang bagus, Anda bisa menggunakan tabung kaca yang biasa dipakai di laboratorium, kemudian mengisinya dengan air yang bersuhu hangat dan dingin pada kadar yang disebutkan tadi. Lalu, sentuhkan ke bagian tubuh Anda.

Bisakah Anda membedakan mana yang hangat dan dingin di antara kedua tabung kaca tersebut hanya dari sensasi sentuhan?

"Kalau tidak bisa membedakannya, maka bisa dipastikan adanya gangguan saraf. "Tapi yang harus dipastikan lagi, itu gangguan saraf kusta atau bukan. Karena gangguan saraf itu banyak sekali," ujar Dini.

Jika tidak terdapat kelainan pada kulit, biasanya ada pembesaran saraf disertai gangguan sensibilitas atau gangguan rasa pada area yang dipersarafi oleh saraf tersebut.

Terdapat banyak saraf tepi pada tubuh manusia. Dini memberikan contoh sederhananya dengan saraf ulnaris yang menjalar mulai dari siku hingga jemari bagian kelingking dan jari manis. Periksalah dengan meraba saraf pada siku dan alirannya hingga ke kedua jemari.

Meskipun tidak ada bercak apapun, bila saat diraba ternyata saraf membesar dan area lengan bawah hingga jari kelingking dan jari manis mati rasa, maka itu sudah cukup untuk mendiagnosis adanya kusta.

"Apalagi kedua cara ini sudah dilakukan dan hasilnya menunjukkan gejala yang dimaksudkan, maka sudah cukup hal itu untuk mendiagnosis ada kusta di tubuh," tukas Dini.

Pelayanan yang dilakukan oleh YASA terhadap penderita Kusta di Kabupaten Asmat, Papua, Senin (14/6/2021)
Dok YASA
Pelayanan yang dilakukan oleh YASA terhadap penderita Kusta di Kabupaten Asmat, Papua, Senin (14/6/2021)

Cara ini merupakan cara tambahan yang bisa dilakukan jika memungkinkan.

Petugas medis yang berkaitan akan mengidentifikasi ada tidaknya bakteri kusta pada kerokan kulit yang terdapat kelainan. Bila hasilnya positif, maka jelas bahwa bagian kulit yang mengalami kelainan adalah gejala kusta.

"Ya tapi cara ini dijadikan opsi terakhir karena tidak semua ketemu bakterinya, karena itu tergantung pada tipe apa kusta yang dialami pasien itu," terang Dini.

Baca juga: Cerita Petugas Medis Perawat Kusta, Awalnya Kaget Hingga Akhirnya Terbiasa

Jika tipe kusta tersebut adalah pausibasiler (PB) yang dikenal juga sebagai tuberkuloid, maka sulit sekali untuk menemukan bakterinya. Sebab, pada tipe ini, bakteri bisa dimusnahkan oleh daya tahan tubuh yang baik.

Sementara itu, jika kusta sudah dalam tipe multibasiler (MB) yang dikenal juga sebagai lepromatosa, maka bakteri yang dapat ditemukan banyak sekali.

Ditegaskan oleh Dini, dokter umum yang berpraktik bisa melakukan dan membantu diagnosis ini, serta seluruh rumah sakit dan puskesmas, termasuk pengelola layanan kesehatan swasta.

Obat untuk kusta juga telah diberikan secara gratis oleh WHO sesuai dengan jumlah kasus kusta yang dilaporkan. Pasien dapat menggunakan obat selain yang ditentukan oleh WHO, jika mengalami alergi oleh obat-obatan tersebut atau jika ada komplikasi lainnya.

Dapat Diobati

Banyak orang mengira kusta tidak dapat diobati. Padahal, kusta bisa diobati dan sembuh total. Obatnya pun sudah disediakan gratis oleh pemerintah Indonesia dan bersumber dari WHO.

Obat-obatan ini tersedia di beberapa puskesmas dan rumah sakit pemerintah dan swasta, sehingga pasien tidak perlu membelinya.

Akan tetapi, obat gratis dari WHO tersedia setara dengan jumlah kasus kusta yang dilaporkan oleh pemerintah Indonesia kepada WHO itu sendiri. Jadi, butuh pemeriksaan dari dokter terlebih dahulu.

Pengobatan kusta menggunakan kombinasi antibiotik atau disebut dengan multi drug treatment, seperti Rifampicin, Dapsone, dan Clofazimine.

Pengobatan ini tentu saja harus tuntas dan sesuai dengan resep dokter untuk menghindari bakteri kusta menjadi kebal atau resisten, sehingga dapat memutus rantai penularan.

Pencegahan Kusta

Pada kusta tipe pausi basiler (PB) atau level tuberkoloid, pengobatan umumnya berlangsung selama enam bulan.

Pada kusta tipe multi basiler (MB) atau lepromatosa, pengobatan pada umumnya dilakukan selama 12 bulan atau lebih.

Tata laksana pengobatan kusta tidak terbatas pada kulit saja, tetapi harus bersama dengan disiplin ilmu lain, termasuk saraf, mata, bedah ortopedi, dan rehabilitasi medik.

Bahkan, tata laksana juga dapat melibatkan psikolog, ilmu budaya, kesehatan masyarakat, ekonomi dan lain-lain.

"Kalau kusta sudah tipe MB, biasanya terjadi juga komplikasi ke bagian organ lain. Jadinya, pengobatannya itu harus dilakukan berkolaborasi atau berkoordinasi antar disiplin ilmu kedokteran yang terkait," ujar Dini.

Baca juga: Tak Perlu Takut, Penyakit Kusta Bisa Disembuhkan

Dini mencontohkan, misalnya jika seorang penderita kusta mengalami gangguan saraf karena penyakitnya, maka dokter kulit akan bekerjasama dengan dokter saraf dalam melangsungkan penyembuhan.

Sementara itu, jika yang terkena dampak kusta adalah organ mata, maka kerja sama dilakukan antara dokter mata dan kulit khusus kusta.

Menurut Dini, hal yang paling ditakutkan dari penyakit kusta adalah kemungkinan terjadinya kecacatan permanen. Dengan berobat teratur, cacat dapat dicegah.

Akan tetapi, bila saat berobat awal sudah terjadi cacat, maka cacat akan tetap ada walaupun sudah sembuh. Bakteri yang ada pada penderita juga akan mati saat kusta dinyatakan sembuh, tetapi penderita bisa kembali mengalami gejala kusta jika terinfeksi bakteri baru.

 

Informasi tentang kusta kini sudah terang benderang. Penyakit ini bukanlah kutukan. Oleh sebab itu, stigma dan diskriminasi yang kita lekatkan kepada pengidap hanya akan menambah penderitaan mereka.

Ujung-ujungnya, tak hanya berdampak pada kehidupan mereka sendiri, tetapi juga berpotensi mengancam kehidupan kita dan anak cucu kelak, karena penyembuhan yang terhambat. Kusta bukan hanya urusan kesehatan, tetapi juga persoalan kemanusiaan.