JEO - Bola




Naomi Osaka:
Drama dan Air Mata
US Open 2018

Senin, 17 September 2018 | 09:29 WIB

Naomi Osaka membuktikan, tak ada mimpi yang mustahil diwujudkan, termasuk bertemu sekaligus mengalahkan idolanya sendiri. Ini kisahnya.

 

NAOMI Osaka. Petenis putri asal Jepang berusia 20 tahun itu mencatatkan namanya dalam ukiran sejarah, Sabtu (8/9/2018) waktu setempat atau Minggu (9/9/2018) WIB. 

Naomi menjadi petenis pertama Jepang yang menjuarai nomor tunggal putri turnamen grand slam. Hari itu, Naomi mengalahkan petenis Amerika Serikat, Serena Williams, pada final tunggal putri US Open atau Amerika Terbuka 2018.

Ada banyak cerita dari laga kemenangan Naomi ini. Drama juga. Tak hanya memenangi pertandingan melawan idolanya sendiri—ya, Naomi mengakui bahwa Serena adalah idolanya—, kemenangan juga terjadi di Amerika, tuan rumah yang juga negara Serena.

Petenis putri Jepang, Naomi Osaka, berselebrasi setelah menang atas Madison Keys (AS) pada babak semfinal US Open 2018, Jumat (7/9/2018).
DON EMMERT/AFP
Petenis putri Jepang, Naomi Osaka, berselebrasi setelah menang atas Madison Keys (AS) pada babak semfinal US Open 2018, Jumat (7/9/2018).

Gelar juara yang diraih Naomi di Arthur Ase Stadium, New York, Amerika Serikat ini memang tak didapat dengan mudah. Bagaimana pun, Serena adalah pemegang gelar 23 grand slam yang pernah pula menjadi peringkat satu dunia petenis putri. 

Ini kisah perjalanan Naomi sampai menjuarai Amerika Terbuka 2018 dengan straight set—kemenangan langsung dua babak—dengan skor 6-2 dan 6-4. Ini juga cerita soal sosok Naomi. 

Tentu, drama dalam laga final salah satu pertandingan tenis paling bergengsi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan cerita. Sikap dan ucapan sang juara yang "melumerkan" seisi stadion menjadi bagian cerita juga.

JEO ini akan merunutkan peristiwa dan konteks yang menyertainya dalam navigasi sebagai berikut:

 DRAMA BABAK KEDUA 

 

SELAYAKNYA laga puncak, partai pertandingan Serena Williams-Naomi Osaka di US Open 2018 tentu menjadi perhatian para pencinta olahraga, khususnya tenis. Terlebih lagi ada "cerita" dari kedua finalis.

Bagi Serena Williams (36 tahun), ini adalah laga final grand slam pertama sejak ia melahirkan anaknya, Alexis Olympia Ohanian Jr, pada September 2017.

"Ini benar-benar luar biasa. Setahun yang lalu saya berjuang untuk hidup saya di rumah sakit setelah melahirkan," kata Serena, saat memastikan langkah ke final seusai mengalahkan petenis Latvia, Anastasija Sevastova, seperti dikutip dari BBC Sports, Jumat (7/9/2018).

Adapun Naomi Osaka, dia adalah petenis pertama Jepang yang mampu menembus laga final grand slam, di nomor tunggal pula. Untuk sampai babak ini, Naomi mengalahkan pemain tuan rumah, Madison Keys, di babak semifinal.

"Saya hanya benar-benar ingin bermain dengan Serena Williams," tutur Naomi setelah meraih tiket ke final.

Namun, babak kedua dari pertandingan ini tak disangka dipenuhi drama. Bukan dari serunya pertandingan, drama malah datang dari Serena.

 

Drama

Serena tak disangka menghadirkan drama beruntun di babak kedua laga final US Open 2018. Di negaranya, drama ini sempat menjadi polemik berhari-hari di publik dan media massa. 

Sebelumnya, set pertama dimenangkan Naomi dengan skor 6-2.

Petenis Amerika Serikat, Serena Williams, berusaha mengembalikan bola saat pertandingan final tunggal putri US Open 2018 melawan Naomi Osaka dari Jepang, Minggu (9/9/2018).
AFP/ELSA
Petenis Amerika Serikat, Serena Williams, berusaha mengembalikan bola saat pertandingan final tunggal putri US Open 2018 melawan Naomi Osaka dari Jepang, Minggu (9/9/2018).

Drama Serena pun bukan dengan Naomi yang menjadi penantangnya di laga ini. Justru, Serena berperkara dengan wasit yang memimpin pertandingan, Carlos Ramos (Portugal).

Semua bermula dari teguran wasit kepada Serena pada set kedua pertandingan. Ramos menilai Serena telah mendapatkan kode instruksi dari pelatihnya, Patrick Mouratoglou, di tengah jalan pertandingan.

Pemberian kode apalagi instruksi langsung adalah pelanggaran aturan pertandingan tenis. Saat itu kedudukan 1-0 untuk keunggulan Serena di posisi poin 15-40 dan kemudian game itu dimenangkan Naomi. 

Teguran disampaikan. Serena tidak terima dan memberikan sanggahan. Dia menyanggah mendapat arahan taktik apa pun dari Mouratoglou. Saat jeda di posisi game 2-1 untuk keunggulannya, Serena kembali memprotes peringatan Ramos.

Permainan terus berlanjut. Namun, terlihat Serena tak lagi penuh konsentrasi, meski masih dapat menambah satu angka lagi menjadi 3-1. Drama berlanjut di game berikutnya.

Ketika pukulannya tak bisa mengantarkan bola menyeberangi net dan membuat Serena kehilangan game itu, kendali emosinya pun jebol. Raket jadi sasaran. Dia banting sampai penyok. Meski begitu, posisi masih 3-2 untuk keunggulan Serena.

Petenis AS, Serena Williams, menghancurkan raketnya saat bermain melawan Naomi Osaka dari Jepang pada pertandingan final tunggal putri US Open 2018 di New York, Minggu (9/9/2018).
AFP/KENA BETANCUR
Petenis AS, Serena Williams, menghancurkan raketnya saat bermain melawan Naomi Osaka dari Jepang pada pertandingan final tunggal putri US Open 2018 di New York, Minggu (9/9/2018).

Aksi banting raket ini mendatangkan penalti poin bagi Serena untuk "code violation, racket abuse". Penalti poin membuat game berikutnya dimulai langsung dengan keunggulan 15 poin bagi Naomi.

Servis belum jadi dilontarkan Naomi, Serena berjalan menghampiri wasit dan menyatakan lagi kekesalannya soal teguran dianggap mendapat arahan pelatih di tengah pertandingan.

Dengan nada tinggi, Serena menuntut permintaan maaf dari Ramos dan meminta wasit mengumumkan bahwa dia tak berbuat curang. Di situ dia bilang bahwa dia tak pernah main curang untuk menang. Dia nyatakan, daripada main curang lebih baik kalah. 

Petenis AS, Serena Williams, beradu argumen dengan wasit Carlos Ramos pada laga final US Open 2018 menghadapi petenis Jepang, Naomi Osaka, pada Minggu (9/9/2018).
AFP/KENA BETANCUR
Petenis AS, Serena Williams, beradu argumen dengan wasit Carlos Ramos pada laga final US Open 2018 menghadapi petenis Jepang, Naomi Osaka, pada Minggu (9/9/2018).

Permainan berlanjut. Raut muka Serena masih terlihat kesal tapi dia berusaha meyakinkan penonton bahwa dia akan melanjutkan permainan. Namun game ini dimenangkan Naomi, begitu juga game berikutnya. Posisi berbalik menjadi 3-4 untuk keunggulan Naomi.

Jeda setelah game ini menjadi drama puncak Serena. Dari bangku istirahat, dia kembali mengecam Ramos dan menuntut permintaan maaf atas "tuduhan" mendapat arahan dari pelatih. 

Tak cuma berbicara dengan nada tinggi, Serena bahkan menyebut Ramos telah mencuri poin darinya.  "Anda telah mencuri poin dari saya. Anda pencuri," sergah Serena. 

Ramos langsung menjatuhkan penalti lagi. Kali ini untuk "code violation, verbal abuse". "Code violation. Game penalty, Ms Williams," ujar Ramos. Posisi menjadi 5-3 bagi Naomi.

Baik Naomi maupun Serena langsung mendatangi wasit begitu penalti bagi Serena dijatuhkan. "Anda bercanda?" kecam Serena kepada Ramos. Protesnya berlanjut sampai memanggil referee—pengawas wasitdari US Open 2018 ke lapangan. 

"Ini tidak adil, ini salah," ujar Serena berkali-kali dengan nada tinggi.

Cemoohan penonton mulai riuh. Pertandingan berlanjut dengan posisi 5-3 bagi Naomi. Sepanjang segala drama ini, Naomi terlihat memasang muka datar dan tak banyak bersuara. 

Walau game berikutnya Serena menangkan—kedudukan menjadi 5-4 masih dengan keunggulan Naomi—, dia kentara masih terlihat bergejolak. Serena juga terlihat terisak di bangku istirahat setelah jeda game itu.

Sebelum ke bangku istirahat, Serena sempat kembali menyambangi referee dan menyebut perlakuannya untuknya tidak adil.

Satu game berikutnya sudah tidak lagi milik Serena. Satu servis keras Naomi gagal dikembalikan Serena dan menutup set dengan kemenangan 6-4. Terlepas dari segala drama di babak tersebut, Serena langsung berlari ke arah net dan memeluk Naomi. 

Polemik seputar drama Serena di laga ini berpusar pada kemungkinan pemikiran sexist dan diskriminasi di balik teguran dan penalti yang dilayangkan Ramos kepada Serena.

Sementara itu, Naomi mengaku hanya fokus ke jalannya pertandingan selama terjadi perselisihan antara Serena dan wasit.

"Saya hanya berusaha fokus. Saya hanya mencoba fokus kepada diri saya sendiri saat itu," kata Osaka, seperti dikutip dari BBC Sports.


 AIR MATA
 DI PODIUM JUARA 

 

REAKSI pertama Naomi setelah memenangi final US Open 2018 adalah bersorak,  lalu menangis sembari menurunkan lidah topinya hingga menutupi muka, bersamaan saat dia berlari ke tengah lapangan dan menyambut pelukan selamat dari Serena.

Adegan menurunkan lidah topi utuk menutupi aliran air mata ini berkali-kali terjadi pula saat seremoni penyerahan hadiah dan trofi kejuaraan. 

Petenis Jepang, Naomi Osaka (menutup muka dengan topi), setelah memenangi pertandingan final melawan petenis AS, Serena Williams, pada Minggu (9/9/2018).
AFP/JULIAN FINNEY
Petenis Jepang, Naomi Osaka (menutup muka dengan topi), setelah memenangi pertandingan final melawan petenis AS, Serena Williams, pada Minggu (9/9/2018).

Saat Tom Rinaldi—perwakilan dari US Open 2018—membuka upacara penyerahan trofi US Open 2018, cemoohan dan siulan dari penonton bersahutan di Arthur Ashe Stadium, New York, Amerika Serikat.

Hal itu bisa jadi merupakan bentuk kekecewaan atas hasil dari final tersebut, terlebih dengan adanya kontroversi yang melibatkan wasit dengan petenis tuan rumah, Serena Williams.

Melihat dan mendengar itu, Osaka terlihat menangis. Dia pun menurunkan bagian depan dari topinya untuk menutupi tetesan air dari matanya, terlihat juga momen saat dia mencoba menarik napas dalam-dalam.

Serena tak tinggal diam. Dia merangkul bahu Osaka untuk menenangkan dan memberi dukungan. 

Petenis Jepang, Naomi Osaka, dirangkul oleh lawan yang dia kalahkan petenis AS, Serena Williams, usai pertandingan final tunggal putri US Open 2018, Minggu (9/9/2018).
AFP/JULIAN FINNEY
Petenis Jepang, Naomi Osaka, dirangkul oleh lawan yang dia kalahkan petenis AS, Serena Williams, usai pertandingan final tunggal putri US Open 2018, Minggu (9/9/2018).

Berbicara sebelum menerima trofi sebagai finalis, Serena menyampaikan, "Dia (Naomi) bermain dengan sangat baik. Ini adalah gelar grand slam pertamanya."

Barulah, suasana stadion mencair. Tepuk tangan meriah menyambut kata-kata penghargaan Serena kepada Naomi.

Di situ, Serena mengakui bahwa hasil pertandingan tersebut bukanlah yang orang-orang harapkan darinya. Namun, dia berharap semua orang dapat melewati momentum ini dan tetap bersikap positif. 

"Selamat Naomi... Jangan ada lagi sorakan (mencemooh)," ucap Serena yang langsung mendapat tepuk tangan meriah lagi dari penonton.

Masih sambil terisak tetapi kali ini diselingi tawa, Serena berharap dapat berdiri lagi di podium Amerika Terbuka pada masa mendatang. 

 

Salut bagi Naomi 

Seusai Serena menerima trofinya, giliran Naomi yang mendapat waktu berbicara. Kata-kata Naomi di podium juara ini bisa jadi akan dikenang sebagai salah satu yang paling tidak lazim dalam sebuah seremoni penyerahan trofi.

"Saya tahu semua orang mendukungnya (Serena Williams) dan saya meminta maaf harus berakhir seperti ini," kata Naomi dengan nada tersendat dan tak bisa menyembunyikan air mata.

Namun, justru kata-katanya ini yang melumerkan stadion. Tepuk tangan meriah sontak menyambut jeda kata-katanya yang jauh dari menjawab pertanyaan Tom Rinaldi. Sebelumnya, Rinaldi menanyakan apa yang dirasakan Naomi setelah mewujudkan mimpi bermain melawan Serena dan bahkan memenangi turnamen.

"Terima kasih sudah menonton pertandingan ini. Terima kasih," ujar Naomi setelah jeda.

Ucapan Naomi sesudah itu adalah penghargaan untuk ibu dan ayahnya. Saat Naomi berbicara, suasana hangat telah menyeruak di stadion. Tak sedikit penonton yang mengusap air mata mengikuti kata-katanya.

Petenis Jepang, Naomi Osaka, berpose dengan trofi juara US Open 2018 setelah memenangi pertandingan final melawan Serena Williams dari Amerika Serikat, Minggu (9/9/2018).
AFP/JULIAN FINNEY
Petenis Jepang, Naomi Osaka, berpose dengan trofi juara US Open 2018 setelah memenangi pertandingan final melawan Serena Williams dari Amerika Serikat, Minggu (9/9/2018).

Giliran Tom Rinaldi yang kemudian menegaskan bahwa Naomi adalah petenis pertama Jepang yang memenangi grand slam—tak hanya US Open—dan menanyakan arti dari kemenangan ini.

Jawaban Naomi lagi-lagi "melumerkan" stadion.

 "Ini adalah impian saya bisa bermain melawan Serena dan (berlaga di) final US Open. Saya senang dapat mewujudkannya. Saya bersyukur bisa bermain dengan Anda (Serena), terima kasih," kata Naomi yang mengakhiri kata-katanya itu sembari berbalik badan ke arah Serena lalu menundukkan kepala, menghormat.

Momen penyerahan hadiah dan trofi yang tak biasa ini dapat disimak antara lain lewat video yang diunggah stasiun televisi ESPN berikut ini:

 

 

 PELIPUR LARA JEPANG 

 

KEMENANGAN  Naomi di US Open 2018 bak pelipur lara bagi segenap warga Jepang. Negara ini baru saja dihantam bencana gempa bumi dan angin topan.

Sebuah mobil terlihat terjebak di jalan yang rusak akibat gempa di Sapporo, prefektur Hokkaido, Jepang pada Kamis (6/9/2018). (AFP/Jiji Press)
 
Sebuah mobil terlihat terjebak di jalan yang rusak akibat gempa di Sapporo, prefektur Hokkaido, Jepang pada Kamis (6/9/2018). (AFP/Jiji Press)

Pada Selasa (4/9/2018), bagian barat dan tengah Jepang dilanda Topan Jebi yang membuat sejuta warga mengungsi. Dua hari berselang, Hokkaido mengalami gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang menewaskan sedikitnya 21 orang.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menyebut kemenangan Naomi ini sebagai suntikan energi baru bagi rakyat Jepang. 

 

Abe menyampaikan ucapan itu lewa akun Twitter, yang kurang lebih artinya, "Selamat atas kemenanganmu di US Open. Petenis pertama Jepang yang menjuarai grand slam. Terima kasih sudah memberikan energi dan inspirasi kepada semua warga Jepang."

Empat media Jepang—NHK, Sports Nippon, Yomiuri, dan Asahi—menjadikan Osaka tajuk utama berita pada hari itu.

NHK yang sebelumnya menyiarkan berita bencana menghentikan sementara siaran televisi untuk menampilkan kabar, "Osaka menjuarai tunggal putri US Open, menjadi petenis pertama Jepang yang menjuarai grand slam."

Sementara itu, Yomiuri dan Asahi memasang foto Naomi yang memegang trofi di sampul depan dengan ukuran sangat besar.

Yomiuri menuliskan berita dengan judul, "Overnight Queen-Powerful and Stable" atau "Ratu Semalam yang Kuat dan Stabil". Di dalam artikel, Yomiuri memuji Naomi sebagai pahlawan baru yang membuat Jepang bangga. 

Pujian serupa juga ditulis Asahi, yang menyebut Naomi sebagai "ratu" baru bagi Jepang. 

Para senior Naomi dari lapangan tenis Jepang tak ketinggalan menyampaikan suka cita dan ucapan selamat. Di antara mereka adalah Kei Nishikori, Tsuyosi Fukui, dan Mitsuko Sakai. 

Kei Nishikori menuliskan "proud" dengan bendera Jepang di akun Twitter-nya. Adapun Tsuyoshi Fukui menyebut prestasi Osaka benar-benar menjadi obat warga Jepang.

"Kegigihan dan kesabaran Osaka telah membesarkan hati warga Jepang yang terkena bencana topan dan gempa," kata Tsuyoshi Fukui.

Pujian untuk ketangguhan mental Naomi diungkap Sakai. 

"Ia tetap tenang di pertandingan. Saya terkesan dengan mentalnya. Seisi stadion mendukung Serena, tetapi dia tetap bisa memenangi pertandingan," kata Sakai seperti dikutip dari The Guardian.

Dari Hokkaido, tanah asal keluarga Naomi, sang kakek Tetsuo Osaka (73) mengaku menangis melihat kemenangan sang cucu dari layar televisi.

“Saya memeluk istri saya, kami sangat bahagia, kami menangis. Saya harap dia selalu sehat dan tetap bermain bagus. Saya juga berharap dia bisa menang di Tokyo (Olimpiade 2020),” kata Tetsuo Osaka saat diwawancara reporter stasiun TV NHK.

 SIAPA NAOMI OSAKA? 

 

MENGIDOLAKAN Serena Williams sejak kecil lalu bermain melawannya bahkan mengalahkannya, itulah Naomi Osaka.

Menurut Naomi, saat memasuki lapangan untuk melawan Serena pada babak final Amerika Terbuka 2018, perasaannya sama seperti petenis lain. Saat itu, kata dia, dirinya adalah petenis yang akan berhadapan dengan petenis lain.

Namun, lanjut Naomi, hal itu berubah seusai pertandingan. "Saat saya memeluk dia di depan net, saya merasa seperti anak-anak (yang mengidolakannya) lagi," ujar dia sembari menangis.

Naomi Osaka, Juara US Open 2018

Seberapa dalam Serena menjadi idola Naomi, tergambar dari cerita dia berikutnya. Saat kecil, Naomi mengaku selalu mewarnai gambar Serena dan meyakinkan diri suatu ketika akan menjadi seperti Serena.

"Dia (Serena) adalah alasan utama saya mulai bermain tenis. Saya menonton dia di televisi berulang kali dan saya selalu mendukung dia," kata Naomi.

Naomi memulai karier tenis profesional saat berusia 14 tahun. Setahun berselang, karier Osaka langsung melesat saat lolos kualifikasi Women's Tennis Association Tour Championship di Bank of The West Classic.

Di turnamen tersebut, Osaka tampil mengejutkan di babak pertama dengan mengalahkan Samantha Stosur (dari Australia) yang saat itu berperingkat 19 dunia. Samantha juga adalah juara US Open 2011.

Langkahnya terus melesat dengan menembus babak ketiga di tiga turnamen grand slam pada 2016. Ketiga turnamen itu adalah Australia Terbuka, Perancis Terbuka, dan Amerika Terbuka.

Kekuatan Naomi ada pada servis dan forehand. Salah satu servisnya di US Open 2016 tercatat menembus kecepatan 201,1 km per jam. 

Konsistensi penampilannya pada 2016 mendorong Asosiasi Tenis Perempuan (Women's Tennis Association/WTA) menobatkan Naomi sebagai pemain pendatang baru terbaik. Peringkatnya pun melejit ke posisi 48 dunia. 

Sebelum menjuarai US Open 2018, Naomi juga sudah memengani Indian Wells Masters di California, Amerika Serikat, yaitu turnamen yang dianggap sebagai turnamen bergengsi kedua setelah grand slam. Dengan capaian di dua turnamen ini, Naomi kini ada di peringkat ke-7 petenis putri dunia. 

 

Masa kecil

Naomi Osaka lahir dari pasangan Tamaki Osaka dan Leonard Francois. Dia mempunyai darah campuran karena Leonard berasal dari Haiti, sementara ibunya asli Jepang.

Orangtua Naomi bertemu di Hokkaido saat Leonard yang menjadi mahasiswa dan mengunjungi Jepang. Namun, pernikahan ini sempat tidak direstui keluarga Tamaki.

Tamaki dan Leonard memutuskan pindah ke Osaka, kota di mana Naomi lahir. Pada usia tiga tahun, Naomi dibawa orangtuanya ke Amerika Serikat dan tinggal di New York.

Sejak kecil, Naomi Osaka diajarkan tenis oleh Leonard dengan menonton DVD dan sesekali menyewa lapangan. Naomi juga sering bertanding dengan saudara perempuannya, Mari. Keluarga ini belakangan memutuskan pindah ke Florida pada 2006.

Meskipun berdarah campuran, Osaka mengaku tetap mengenal budaya Jepang.

"Ayah saya menyebutkan bahwa ibu membesarkan saya dengan banyak mengajarkan apa pun tentang Jepang. Saya tidak tahu apakah kalian bisa memahami ini, tetapi saya mengerti semua hal tentang Jepang dan akan berbahasa Jepang jika saya menginginkannya," kata Naomi seperti dikutip dari New York Times.

Tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan nama ayah untuk nama belakang, budaya Jepang mengajarkan menggunakan nama ibu. Nama itu biasanya dikaitkan pula dengan kota kelahiran, untuk mempermudah saat mendaftar sekolah dan menyewa apartemen di Jepang.

"Setiap orang berdarah keturunan tetapi lahir di Osaka pasti akan menggunakan Osaka sebagai nama belakang. Namun, ibu saya memang mempunyai nama Osaka," kata Naomi Osaka dalam konferensi pers seusai laga final US Open 2018. 

 

 MENUJU GELAR
 US OPEN 2018 

 

NAOMI mengikuti turnamen US Open 2018 sebagai unggulan ke-20. Ini merupakan keikutsertaannya yang ketiga. Pada 2016 dan 2017, dia terhenti di babak ketiga. 

Pada edisi 2018, Naomi melangkah cukup mudah hingga babak keempat. Pada tiga babak awal, Naomi selalu menang dengan dua set.

Pada babak pertama, Naomi mengalahkan wakil Jerman, Laura Natalie Siegemund, 6-3 dan 6-2. Berlanjut ke babak kedua, Naomi menang atas wakil Israel, Julia Glushko, 6-2 dan 6-0.

Naomi untuk pertama kali lolos ke babak keempat setelah menang atas petenis Belarusia, Aliaksandra Sasnovich di babak ketiga. Naomi menyapu bersih skor pertandingan, 6-0 dan 6-0. 

Pada babak keempat, Naomimendapatkan perlawanan sengit dari Aryna Siarhiejeuna Sabalenka (Belarusia). Di babak ini dia dipaksa bermain tiga set dalam waktu lebih dari 2 jam, yang akhirnya dia menangi dengan skor 3-6, 6-2, dan 6-4.

Petenis Jepang, Naomi Osaka, berpose dengan trofi juara setelah memenangi pertandingan final tunggal putri US Open 2018 melawan Serena Williams dari Amerika Serikat, Minggu (9/9/2018).
JULIAN FINNEY
Petenis Jepang, Naomi Osaka, berpose dengan trofi juara setelah memenangi pertandingan final tunggal putri US Open 2018 melawan Serena Williams dari Amerika Serikat, Minggu (9/9/2018).

Berlanjut ke babak perempat final, Naomi berhadapan dengan wakil Ukraina, Lesia Tsurenko. Kembali kemenangan langsung dua set dia dapat, masing-masing dengan skor 6-1. 

Lolos ke semifinal, Naomi berhadapan dengan petenis tuan rumah yang berstatus unggulan ke-14, Madison Keys. Madison dibungkam dengan skor 6-2 dan 6-4.

Di babak final, Naomi bertemu dengan idolanya sejak kecil, Serena Williams, pemegang 23 gelar grand slam. Terlepas dari drama Serena, Naomi menaklukkan Serena dua set langsung, 6-2 dan 6-4. 

 SEJARAH BARU
 JEPANG 

 

NAOMI Osaka bukan petenis pertama Jepang yang menembus turnamen bergengsi grand slam. Namun, dia adalah petenis pertama Jepang di nomor tunggal putri yang berdiri di podium dan menjadi juara grand slam, ajang paling bergengsi di ajang olahraga tenis lapangan.

Sebelum Naomi, ada sejumlah petenis perempuan Jepang yang memenuhi kualifikasi untuk bertanding di turnamen grand slam. Berikut ini empat di antaranya yang sama-sama pernah berlaga di laga internasional:

 

Kimiko Date-Krumm

Petenis profesional Jepang kelahiran 28 September 1970 ini sudah menjuarai 200 turnamen saat melaju ke US Open. Dia juga empat kali menjuarai Japan Open.

Petenis putri Jepang, Kimiko Date, melambaikan tangan kepada para penggemarnya setelah menjalani pertandingan terakhirnya saat melawan petenis Serbia, Aleksandra Krunic, pada putaran pertama turnamen Japan Womens Open 2017 di Tokyo pada 12 September 2017.
AFP/TORU YAMANAKA
Petenis putri Jepang, Kimiko Date, melambaikan tangan kepada para penggemarnya setelah menjalani pertandingan terakhirnya saat melawan petenis Serbia, Aleksandra Krunic, pada putaran pertama turnamen Japan Womens Open 2017 di Tokyo pada 12 September 2017.

Pada 1994, Kimiko Date masuk dalam 10 besar petenis perempuan dunia dan sempat meraih peringkat keempat dunia. Sebelumnya, dia juga meraih gelar "Most Improved Player of the Year" dari WTA pada 1992.

Setelah bermain di Olimpiade, pemain kelahiran Kyoto itu akhirnya mengumumkan pensiun pada 24 September 1996. Namun, dia sempat kembali setelah 12 tahun pensiun, yaitu pada April 2008 dan memenangi beberapa gelar ITF.

Pada 2009, Kimiko menjuarai WTA Tour kedelapan di Hansol Korea Open, Seoul. Lalu, pada 2013, Kimiko memenangi tiga event WTA International di nomor ganda serta mencapai babak ketiga di dua dari empat turnamen grand slam.

Pada turnamen US Open 2014, dia melaju hingga babak semifinal nomor ganda untuk pertama kali selama kariernya. Kimiko Date akhirnya benar-benar memutuskan pensiun setelah mengikuti turnamen Japan Womens Open 2017 di Tokyo.

 

Ai Sugiyama

Ai Sugiyama memenangi gelar US Open pada nomor ganda campuran dengan Mahesh Bhupathi (India) 1999. Ini adalah gelar pertama grand slam untuknya.

Ppetenis kelahiran 5 Juli 1975 ini mencapai karier tertinggi di nomor tunggal dengan meraih peringkat kedelapan dunia petenis putri pada 9 Februari 2004.


Petenis putri Jepang, Ai Sugiyama, menyampaikan pidato saat upacara penghargaan pada final ganda putri melawan Alisa Kleybanova dari Rusia dan petenis Italia, Francesca Schiavone, dalam turnamen tenis Pan Pacific Open di Tokyo pada 3 Oktober 2009.
AFP/KAZUHIRO NOGI
Petenis putri Jepang, Ai Sugiyama, menyampaikan pidato saat upacara penghargaan pada final ganda putri melawan Alisa Kleybanova dari Rusia dan petenis Italia, Francesca Schiavone, dalam turnamen tenis Pan Pacific Open di Tokyo pada 3 Oktober 2009.

Sepanjang karier profesionalnya, Ai Sugiyama merebut enam gelar juara di nomor tunggal dan 37 di nomor ganda.

Termasuk di antaranya adalah tiga gelar grand slam ganda putri, satu dengan Julie Halard-Decugis (Perancis) pada US Open 2000 dan bersama petenis Belgia, Kim Clijsters, pada Wimbledon 2003 dan French Open 2003.

 

Akiko Morigami

Akiko Morigami pernah memenangi satu gelar tunggal dalam kariernya setelah mengalahkan Marion Bartoli (Perancis) yang menjadi unggulan saat itu dengan skor akhir 6-1 dan 6-3 pada Prague Open 2007.

Petenis Jepang, Akiko Morigami, mencoba memukul bola saat melawan petenis Ceko, Petra Kvitova, dalam putaran pertama Perancis Terbuka 2018 pada 28 Mei 2008.
AFP/JACQUES DEMARTHON
Petenis Jepang, Akiko Morigami, mencoba memukul bola saat melawan petenis Ceko, Petra Kvitova, dalam putaran pertama Perancis Terbuka 2018 pada 28 Mei 2008.

 

Karier tertinggi petenis kelahiran 12 Januari 1980 ini dalam nomor tunggal ialah meraih peringkat ke-41 dunia. Morigami pensiun selepas mengikuti turnamen HP Japan Women's Open 2009 di Osaka.

 

Kazuko Sawamatsu

Lahir pada 5 Januari 1951, Kazuko Sawamatsu pernah mencapai babak perempat final tiga grand slam pada 1975, yaitu Australian Open, French Open, dan US Open.

Kazuko Sawamatsu juga pernah melaju hingga babak semifinal Australian Open 1973 dan menjuarai Wimbledon 1975 di nomor ganda putri dengan pasangannya Ann Kiyomura.

Pada November 1975, dia menjuarai nomor tunggal Japan Open Tennis Championship, mengalahkan Kiyomura lewat tiga set di babak final. Di nomor ganda, kedua pemain ini berpasangan dan menjadi juaranya. 

 SERENA 
 TETAP IDOLA 

 

NAOMI Osaka sudah mencetak sejarahnya sendiri. Namun, baginya, Serena Williams tetap idola. Bahkan dia meyakinkan, insiden apa pun yang disebut terjadi di lapangan saat dia bertanding dengan Serena tak mengubah penilaiannya.

"Saya akan selalu mengingat Serena yang saya cintai (sebagai idola)... Dia juga sangat baik kepada saya, seperti saat di depan net (setelah akhir pertandingan final) dan di podium...," ujar Naomi tentang Serena, dalam jumpa pers seperti dikutip AFP.

Berselang beberapa hari setelah kemenangannya, Naomi antara lain tampil dalam wawancara khusus di The Ellen DeGeneres ShowDi situ dia mengungkapkan pula kata-kata yang dibisikkan Serena di depan net dan di podium.

"Dia (Serena) bilang bahwa dia bangga pada saya dan saya harus tahu bahwa keriuhan (di lapangan) bukan mencemooh saya," ujar Naomi di acara tersebut. 

Ini video wawancara Naomi di acara itu

Setidaknya seperti di video di atas, Naomi tak memperlihatkan gelagat "kagetan" menjadi selebritis. Padahal, sejurus setelah kemenangannya di US Open 2018, dia langsung melejit sebagai pesohor sekaligus jadi salah satu orang terkaya sejagad. 

Peluang sejarah baru soal kekayaan itu mengemuka seiring kabar Adidas akan mulai mengikat kontrak baru untuknya pada tahun ini. Diperkirakan, nilai kontraknya di kisaran 8,5 juta dollar AS, setara hampir Rp 126 miliar dengan kurs Rp 14.835 per dollar AS merujuk kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).

Kabar soal kontrak baru Adidas itu antara lain muncul di artikel New York Times, The TimesNew York Post, dan Business Insider. Bila kabar itu benar, nilai kontrak ini disebut sebagai yang terbesar yang pernah diteken Adidas untuk atlet perempuan. Sebelumnya, Naomi sudah punya kontrak dengan Adidas sampai akhir 2018. 

Kemenangan Naomi di US Open 2018 menghasilkan hadiah senilai 3,8 juta dollar AS, setara sekitar Rp 56,373 miliar. Namun, lagi-lagi, reaksinya cukup menggelitik. Baginya, capaiannya sejauh ini tak akan pernah terjadi tanpa peran sang kakak, Mari Osaka.

"Ketika saya berlatih dengan ayah saya, saya tak akan pernah berhasil jika waktu itu tak ada dia (Mari)," ujar Naomi seperti dikutip AFP. 

Dia bercerita, sampai umur 15 tahun masih selalu kalah bila bertanding dengan Mari. Kemenangan pertamanya atas Mari dimulai dengan skor 6-2, yang itu pun dia mengaku tidak tahu ada perubahan apa dalam dirinya atau sang kakak.

"Saya tak bisa menyebutnya persaingan, ketika seseorang selalu mengalahkanmu dengan skor 6-0 selama 15 tahun," ujar Naomi menyebut ketangguhan kakaknya, yang juga adalah pemain tenis profesional.

Bagi orang lain, kalah telak selama bertahun-tahun setiap latihan bisa jadi akan menghentikan minat berlatih apalagi bertanding. Naomi Osaka menjadi bukti, kegigihan dan ketekunan selama bertahun-tahun—meski sempat selalu kalah dengan sang kakak—menjadi fondasi kokoh untuk capaiannya pada hari ini. 

Sudah begitu, saat Ellen DeGeneres bertanya hadiah uang yang didapat akan dipakai untuk apa, jawabannya pun teramat sederhana, "Saya ingin membelikan sesuatu untuk orangtua saya."

Naomi, selamat! Kamu juga layak jadi idola....

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.