JEO - Peristiwa






Kisah di Balik
Pahlawan Masa Kini…

Senin, 30 November 2020 | 21:02 WIB

Di balik lelaki sukses selalu ada perempuan hebat. Sebaliknya, bersama perempuan sukses pun ada lelaki hebat. Setidaknya, sosok-sosok dalam tulisan ini membuktikannya.

MARY Jane merasa terpuruk. Penampilan perdananya di Broadway sebagai artis musikal dinilai buruk di surat kabar.

Ia pun mencurahkan seluruh kegelisahannya kepada sang kekasih, Peter Parker. Respons Peter rupanya tidak sesuai harapan.

Pria yang merupakan superhero Spiderman itu sama sekali tidak memberikan ruang bagi kegalauan Hati Mary Jane.

Seolah tidak memahami perasaan Mary Jane yang terluka oleh ulasan media, Peter yang dikenal kutu buku justru meyakinkan bahwa penampilan itu sangat memukau.

Paksaan Peter agar Mary Jane membuang jauh-jauh perasaan galaunya itu membuat Mary Jane kecewa hingga ia berkata, “Coba pahami perasaanku”.

Belum selesai Mary Jane berkeluh kesah, radio polisi berbunyi memberitahukan bahwa sedang terjadi tindak kejahatan.

Mary Jane terpaksa memendam luka di hatinya dalam-dalam, merelakan sang kekasih bertransformasi menjadi Spiderman dan pergi menumpas kejahatan tanpa berpamitan.

Adegan di atas adalah salah satu momen sentimental dalam film Spiderman 3 yang dirilis pada 2007.

Memahami situasi di antara Peter Parker dan Mary Jane memang cukup rumit. Sudah responsnya tak sesuai dugaan, Peter pun tak bisa meluangkan waktu lebih lama untuk menenangkan Mary Jane, boro-boro meyakinkannya.

Sebagaimana laiknya manusia biasa pada umumnya, Mary Jane sering kali berhadapan pada persoalan hidup. Di saat-saat sulit itu, Ia butuh seseorang di sisinya yang memahami sekaligus menemani.

Namun, menumpahkan kesalahan pada Peter Parker dan responsnya semata juga tidak bijak. Sebab, Peter memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan orang banyak. Itu sudah menjadi pilihan hidupnya.

Prinsip, “terkadang untuk melakukan kebenaran, kita harus melepaskan hal-hal yang paling kita inginkan, bahkan impian diri sendiri” berlaku mutlak bagi Peter.

Cerita complicated serupa Peter Parker dan Mary Jane itu ada di dunia nyata. Dalam ragam rupa dan cerita. 

Ada orang yang memilih mengabdikan hidupnya untuk keselamatan orang banyak. Tak jarang, pemenuhan kewajiban itu membuat mereka bahkan seolah tak mendahulukan pasangan hidup dan keluarga.

Tak banyak orang tahu isi pikiran dan perasaaan pasangan hidup sosok-sosok "pahlawan" dalam keseharian. Padahal, mereka juga manusia, yang bisa khawatir, ketakutan, dan juga merasa sepi.

Inilah sekelumit kisah lika-liku orang-orang di balik pahlawan masa kini, langsung dari para pelaku…

 

 DAFTAR KISAH: 

 


 

           

BERTUBI-TUBI TEROR
JACKLYN CHOPPERS

TINA Asianuarti (43 tahun) semula mengira jadi istri polisi itu enak. Ini berdasarkan pengalaman saudara dan rekan-rekannya yang dia lihat dari permukaan. Tampak di matanya, para istri polisi ini hidup damai, aman, dan tenteram.

Oleh sebab itu pada 2000 ia bersedia menerima pinangan dari Jakaria (saat ini berumur 45 tahun)—polisi lulusan Sekolah Bintara (Seba) Prajurit Karier (PK) Polri 1995/1996— untuk menjadi istri.

Bagi publik, terutama pengguna media sosial, nama Jakaria pastilah asing. Dia lebih dikenal sebagai Jacklyn Choppers yang juga dipakai menjadi nama akun YouTube-nya.

Setelah menikah, Tina mendapati apa yang dihadapi ternyata tak seperti yang dia kira semula, bahkan jauh dari bayangan. Justru, teror yang datang, yang itu juga tak hanya sekali atau dua kali.

Nyaris diculik

Suatu pagi pada 2001, misalnya, dua orang pria mengetuk pintu kontrakan Tina di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

“Dua-duanya pakai jaket hitam, pakai kacamata hitam, pakai topi. Mereka bilang Bapak (Jakaria) kecelakaan. Mereka minta saya ikut ke rumah sakit,” ujar Tina saat berbincang di Kompas.com, Kamis (19/11/2020).

Hati Tina merasa janggal. Sebab, sang suami baru beberapa menit yang lalu berangkat kerja.

Jacklyn Choppers (paling kiri), Tina Asianurti (dua dari kanan), dan dua anak mereka. Gambar diambil pada Kamis (19/11/2020).
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Jacklyn Choppers (paling kiri), Tina Asianurti (dua dari kanan), dan dua anak mereka. Gambar diambil pada Kamis (19/11/2020).

Selagi dua pria itu terus mendesak dari balik pintu untuk memboyong Tina sekeluarga, Tina berinisiatif mengecek kebenaran kondisi sang suami dengan meneleponnya.

“Untungnya (telepon) nyambung," ungkap Tina.

Lewat telepon itu Tina memastikan kebenaran kondisi Jakaria. Jawaban yang didapat pun memastikan bahwa sang suami tidak mengalami kecelakaan.

Dia pun menuturkan soal kedatangan dua lelaki ke kontrakan mereka itu. Sebagai jawaban, Jakaria meminta Tina tak menggubris permintaan kedua lelaki tersebut dan mengunci pintu rapat-rapat.

Yang Tina khawatirkan bukan semata keselamatannya. Bersamanya ada buah hati, Jenny, yang waktu itu baru berumur dua bulan. Terlebih lagi lingkungan kontrakan itu masih sepi, pertolongan terasa jauh.

Tidak mau berandai-andai tetapi Tina tak membayangkan bila saat itu dia mengikuti keinginan dua lelaki tersebut. Hingga kini, identitas mereka tak terungkap karena memang tak dicari juga. 

Meski begitu, Tina berkeyakinan bahwa dua lelaki itu ingin berbuat buruk kepada keluarganya. Keyakinannya ini karena Jakaria adalah polisi yang bertugas di Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya.

Hampir sepanjang karier Jakaria ada di sub direktorat ini. Saat Megawati Soekarnoputri jadi presiden, Jakaria sempat dipindahtugaskan ke Direktorat Pengamanan Objek Vital (Obvit) Polda Metro Jaya. Namun, dia merasa itu bukan passion-nya.

Sejak lulus dari sekolah Seba PK Polri tahun 1996, Jakaria memang selalu bertugas di unit yang menangani tindak pidana kejahatan dan kekerasan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1975 itu hanya sekitar empat bulan bertugas mengamankan rute kepala negara. Rupanya, pimpinan Jakaria mencermati kinerja anak buahnya ini tak sebaik saat memburu pelaku kejahatan di jalanan.

Sejak itu, karier Jakaria tak pernah jauh dari penanganan kejahatan dan kekerasan. Belakangan, dia malah populer di media sosial memakai nama Jacklyn Choppers tadi.

Pengikut Jacklyn Choppers di Instagram hingga 29 November 2020 tercatat lebih dari 163.000 orang. Di YouTube, pengikutnya bahkan lebih banyak lagi, yaitu 475.000. Dia juga tampil di salah satu stasiun televisi swasta sebagai sosok ini.

Baca juga: Mengenal Jacklyn Choppers, Polisi yang Tak Jera Hidup Berdampingan dengan Bahaya

Diserbu gerombolan

Teror dalam rupa lain juga pernah dihadapi keluarga Jacklyn dan Tina pada 2005. Kontrakan mereka di kawasan Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, didatangi puluhan orang.

Membawa senjata tajam, puluhan orang ini datang sambil berteriak-teriak mengusir Tina sekeluarga. Usut punya usut, puluhan orang itu adalah suruhan bandar narkoba setempat.

“Mereka terusik karena suami saya aktif memerangi narkoba bersama warga. Pas suami saya lagi tugas, mereka datang. Takut sekali saya saat itu. Pak RT Pak RW enggak ada yang mau melindungi,” ujar Tina.

Jacklyn yang juga hadir saaat wawancara dengan Tina dilakukan, bertutur bahwa peristiwa itu terjadi tak lama setelah dia menangkap bandar narkoba yang tinggal tak jauh dari kontrakannya.

“Tetangga sendiri gue tangkep. Mereka marah,” ujar Jakaria.

Dengan bantuan polisi yang kemudian datang, Tina dan dua anaknya diungsikan ke Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Pusat. Ibu dan anak ini menginap semalam di markas polres itu.

Jakaria sempat meminta keluarganya tetap tinggal di kontrakan itu. Dia beralasan, jika mereka pergi dari situ maka orang bisa saja melihat bahwa polisi kalah dan kejahatan menang. 

Namun, setelah mempertimbangkan lagi dan lagi soal keselamatan keluarga, Tina dan kedua anak mereka diputuskan pada saat itu pulang kampung ke Bogor. Setahun kemudian barulah mereka diboyong lagi ke Jakarta dan hingga kini tinggal di salah satu asrama polisi. 

“Kejadian itu, kalau saya ingat-ingat, bikin sakit hati. Trauma sampai saat ini enggak mau lagi tinggal di luar, ngontrak. Mending di sini saja, insyaAllah aman,” ujar Tina.

11 peluru

Hidup tenang tampaknya memang jauh dari kamus Tina. Pada suatu hari, pintu rumahnya diketuk tetangga. Kabar yang dibawa, Jakaria tertembak.

"Terkejut dan takut bukan main," ujar Tina menggambarkan perasaannya saat mendengar kabar itu.

Kabar awal menyebut, Jakaria tertembak di kaki. Di situ, Tina masih menyisipkan syukur.

Dia pun berangkat ke RS Hasan Sadikin di Bandung. Di sini, kejutan tak lucu harus dia hadapi.

"Katanya hanya kena satu peluru di kaki, ternyata banyak. Ada 11 peluru di sekujur tubuhnya. Saya lemas, shock,” ujar Tina.

Terlebih lagi, salah satu dokter mengatakan bahwa tangan kiri sang suami yang tertembus tiga peluru harus diamputasi.

Operasi untuk menyelamatkan nyawa Jakaria berlangsung berjam-jam. Di tengah itu semua, Tina mengaku sudah sampai titik pasrah. Jika hari itu Tuhan memanggil pulang suaminya, dia rela. 

Namun, kuasa Tuhan memang melampaui rencana dan nalar manusia. Jakaria bisa melewati masa kritis bahkan tangan kirinya tak perlu diamputasi. 

Tak seindah bayangan

Semua cerita di atas barulah sebagian kisah Tina selama menjadi istri polisi. Satu hal yang pasti, dia dan anak-anaknya sering ditinggal suami bertugas.

“Saya ngapa-ngapain juga sendiri karena bapaknya tugas terus. Anak sakit, saya jalan sendiri berobat. Tabung gas bocor, saya  benerin sendiri. Lampu mati, pasang sendiri. Mau minta tolong orang takut juga orang lain sibuk,” ujar Tina.

Tentu saja, urusan sekolah anak-anak pun sepenuhnya diurus Tina.

“Mulai dari anak melek mata, sekolah, les, kegiatan di luar, sampai ambil rapor, alhamdulilah saya semua,” ujar Tina.

Tina Asianurti, istri Jacklyn Choppers. Gambar diambil pada Kamis (17/11/2020).
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Tina Asianurti, istri Jacklyn Choppers. Gambar diambil pada Kamis (17/11/2020).

Terlepas dari pertimbangannya di atas, Tina juga tak mau dirundung khawatir anak-anak akan jadi sasaran pembalasan orang karena status pekerjaan suaminya.

“Ini bagian dari ketakutan juga. Karena bapaknya kan nangkep orang bukan cuma satu (atau) dua (tapi) banyak. Takutnya mereka balas dendam. Makanya, anak itu enggak pernah aku lepas sekali pun,” lanjut dia.

Awalnya, berat bagi Tina. Namun lambat laun, ia menemukan jalan untuk melepaskan semua beban berat hidupnya. Siapa lagi kalau bukan kembali ke Sang Pencipta?

Tina selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian di lingkungan rumah. Ia memilih menyerahkan hidupnya beserta keluarga ke Tuhan. Ia yakin Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya.

Tina juga sharing dengan istru-istri polisi lain meskipun mereka tidak merasakan apa yang Tina rasakan.

“Tapi itu membantu. Saya jadi lebih tenang, lebih plong,” ujar Tina.

Keinginan Tina agar sang suami berpindah tugas ke unit lain yang risikonya dinilai lebih rendah pun lambat laun menghilang.

“Sekarang ya sudahlah. Kita dukung apa saja yang dicita-citakan suami. Saya cuma selalu berpesan sebelum (Jakaria) berangkat kerja. Pa, kerja yang benar, jangan sampai mengecewakan komandan. Begitu saja,” ujar Tina.   

 

 DAFTAR KISAH: 

   

PISAH RANJANG
PROTOKOL KESEHATAN

PANDEMI Covid-19 memang mimpi buruk bagi tenaga kesehatan. Mimpi buruk juga buat keluarga tenaga kesehatan. 

Di tengah risiko tinggi penularan, tenaga medis ada di pusat pusaran penanganan pasien yang terpapar wabah ini. Situasinya, alat pelindung diri (APD) dan fasilitas untuk melindungi tenaga medis dari risiko tertular pun tak selalu memadai.

Fakta ratusan tenaga medis dari segala jenjang kompetensi dan kepakaran jadi gambaran. Sebuah kehilangan besar bagi bangsa ini. 

Pulang dan atau berkumpul dengan keluarga adalah persoalan besar lain. Lagi-lagi, atas nama meminimalkan risiko, protokol kesehatan berlaku ketat hingga di dalam ruang-ruang privasi keluarga. 

Stres. Itu satu kata yang pasti. Ini bisa menjadi-jadi ketika melihat banyak orang di luar sana yang abai pada protokol kesehatan. Kelelahan fisik dan mental membayangi tenaga medis.

Bagaimana rasanya jadi pasangan hidup dokter yang menangani pasien Covid-19?

Siapa sangka...

“Perkenalkan, saya Felliyani, istri dokter Koko Harnoko. Suami saya adalah dokter paru RSUD Kota Bogor.”

Perkenalan itu membuka perbincangan Felliyani dengan Kompas.com yang bertandang ke kediaman keluarga dokter Koko di Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (23/11/2020).

“Enggak terbayang sama sekali beratnya menjadi dokter dan istri dokter bakal kayak begini. Malah saya pikir dulu, dokter paru (seperti spesialisasi suaminya itu) santai, enggak ada yang emergency," tutur Felliyani.

Felliyani, istri dokter Koko Harnoko, spesialis paru di RSUD Bogor. Gambar diambil pada Minggu (23/11/2020).
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Felliyani, istri dokter Koko Harnoko, spesialis paru di RSUD Bogor. Gambar diambil pada Minggu (23/11/2020).

Perempuan ini juga berprofesi dokter, seperti suaminya. Bedanya, Felliyani adalah dokter spesialis anak. Mereka berdua dipertemukan ketika sama-sama menjadi pegawai tidak tetap (PTT) di Kalimantan Selatan. 

"Tapi ternyata sekarang demikian beratnya, dokter paru yang dibutuhkan, dokter paru yang jadi kunci,” ujar Felliyani.

Takut, itu pasti. Khawatir, ini juga pasti. Terlebih lagi, hari-hari pertama kasus Covid-19 merebak di Indonesia ada banyak kegamangan ditambah keterbatasan APD dan fasilitas.

Sudah begitu, pernah juga dokter Koko menangani pasien yang semula didiagnosis penyakit lain dan baru ketahuan belakangan terinfeksi Covid-19. Felliyani mengaku khawatir APD suami pada awal menangani pasien ini tak selengkap ketika memeriksa pasien Covid-19.

Ia sekeluarga baru bisa bernapas lega usai dokter Koko menjalani tes usap dan menunjukkan hasil negatif.

Alhamdulillah masih aman, sampai sekarang,” ujar Felliyani.

Sampai "pisah ranjang"

Ibu dua anak yang juga dokter ini tentu saja paham betul situasi dunia medis ketika Covid-19 pertama kali mencuat. Penyakit ini adalah sesuatu yang baru dan tak ada satu negara pun yang punya cukup pengalaman untuk menanganinya.

Tata kelola pandemi berantakan di hari-hari pertama.

“Di awal-awal itu rumah sakit sulit sekali mendapatkan APD. Masker n95 juga sulit waktu itu. Apalagi dulu itu diagnosanya masih jelek, belum ada PCR. Baru rapid test yang akurasinya enggak jelas ya,” ujar Felliyani.

Belum ada protokol kesehatan rigid sebagai panduan masyarakat beraktivitas untuk mencegah penularan. Di sisi lain, jumlah pasien dengan gejala Covid-19 kian bertambah, dengan sebagian besar di antaranya dinyatakan positif setelah berulang kali dites.

Rumah sakit mulai dipenuhi pasien Covid-19, terutama di ruang perawatan, tak terkecuali di RSUD Kota Bogor tempat sang suami mengabdi.

Kekhawatiran Felliyani menjadi-jadi ketika daftar tenaga medis terpapar Covid-19 terus bertambah panjang dan makin banyak yang gugur.

“Saya takut suami saya kena,” ujar Felliyani.

Yang sontak terpikir oleh Felliyani adalah memastikan diri harus dalam kondisi sehat sebagai antisipasi bila sampai sang suami terinfeksi Covid-19. Pilihan yang mereka ambil adalah pisah ranjang.

Koko dan Felliyani memutuskan tak lagi tidur bersama demi memastikan protokol kesehatan. Felliyani tidur di kamar di lantai dasar rumah mereka, sementara Koko menempati kamar di lantai dua.

“Mungkin ada sebulan lebih ya kami (tidur) pisah dulu. Karena itu tadi, saya harus sehat seandainya suami sakit. Kalau dua-duanya sakit, siapa yang bisa diandalkan?” ujar Felliyani.

Tak ada makan di luar

Urusan makan jadi perhatian penuh Felliyani selama suaminya bertugas menangani pasien Covid-19. Penuh gizi, itu pasti, demi mempertebal imunitas.

Sarapan sudah tersedia sebelum pukul 08.00 WIB. Makan siang pun di rumah.

Selama pandemi, Felliyani mewanti-wanti suaminya untuk tidak pernah lagi makan siang di tempat kerja. 

“Supaya dia enggak buka masker. Karena namanya di rumah sakit kita enggak tahu virus itu datangnya dari mana saja, bahkan bisa dari rekan kerja,” ujar dia.

Setelah makan siang bersama di rumah, mereka kembali lagi ke rumah sakit tempat bertugas masing-masing.

Protokol kesehatan pun diterapkan ketat untuk setiap acara berangkat pulang ini. 

Mengelola mental

Menurut Felliyani, dari perjuangan berhadapan langsung dengan risiko Covid-19 ini, yang juga harus dia syukuri adalah suaminya tak terpeleset ke jurang stres. 

Sembilan bulan terlewati sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia, kekhawatiran Felliyani pelahan mereda. Bukan karena risiko berkurang melainkan karena protokol kesehatan untuk pandemi ini sudah mulai tertata.

Keluarga dr Koko Harnoko, Sp.P
DOK PRIBADI/FELLIYANI
Keluarga dr Koko Harnoko, Sp.P

Situasi kenormalan baru juga mulai jadi hal rutin di rumah keluarga dokter Koko dan Felliyani. Olahraga rutin setiap hari, tidak lagi mendatangi mal atau tempat makan, juga meniadakan agenda liburan keluarga, jadi pilihan yang mereka jalani dengan pemahaman.

“Sembilan bulan enggak pernah liburan tapi untungnya happy-happy saja. Justru kita menyadari hidup seperti sekarang banyak hikmahnya juga ternyata. Inilah yang buat kita bersyukur dan jadi enggak stres,” lanjut dia.

Tentu, doa yang tidak pernah putus menjadi penguat Felliyani beserta keluarga dalam menjalani masa sulit ini. Menurut dia, doa tak bisa dilepaskan dari segala upaya menghadapi wabah ini. 

“Di luar usaha kita pribadi, ada satu Hal yang menentukan bahwa kamu kena, kamu enggak. Makanya saya berdoa enggak pernah putus,” ujar Felliyani.

Keceriaan sang suami saat bersama keluarga juga saling menular. Menurut dia, ini memudahkan setiap anggota keluarga menghadapi situasi meski kini bertambah dengan protokol ketat kesehatan. 

Kegusaran

Tak urung, ada yang membuat Felliyani gusar menyikapi fenomena masyarakat menghadapi Covid-19. Dia mendapati dengan mata kepalanya sendiri, banyak orang masih tak mau menggunakan masker bahkan tetap berkerumun.

Jadi selama mereka merasa sehat walafiat, Covid-19 itu dianggap dongeng saja, bukan kenyataan.

Misal, setiap perjalanan menuju rumah sakit, ia menghitung 10 orang pertama yang dia lihat di jalan. Dari 10 orang itu, yang mengenakan masker hanya dua orang sampai empat orang, tak pernah lebih.

Andai itu digeneralisasi, kepatuhan penggunaan masker berarti hanya di kisaran 20-40 persen. Menurut dia, ada kesan orang Indonesia itu baru melihat sesuatu sebagai persoalan ketika diri atau keluarganya telah terdampak. 

"Ketika tidak terdampak maka hidup dijalankan seolah tidak ada persoalan sama sekali," ungkap Felliyani tentang kegusarannya.

Sebaliknya, lanjut dia soal kecenderungan orang-orang, kalau sudah kena baru menyesal dan cenderung menyalahkan sekitar. 

“Jadi selama mereka merasa sehat walafiat, Covid-19 itu dianggap dongeng saja, bukan kenyataan," imbuh Felliyani sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sosialisasi masih butuh dipergencar bahkan kalau perlu sampai ke jalanan. Dia berkeyakinan, ada jalan bila ada kemauan. 

"Tidak ada alasan untuk tidak melakukan itu demi keselamatan orang banyak," tegas dia.

Kepada sang suami, Felliyani pun memintanya untuk tabah dan sabar merawat pasien. Dia memastikan pula suaminya untuk tidak terjerumus praktik curang hanya demi uang klaim dari negara.

Jangan sampai, pesan dia, suaminya mengharuskan pasien menjalani rawat inap padahal kondisinya cukup karantina mandiri.

“Itu saya paling enggak mau. Karena (uang) itu enggak halal buat saya dan keluarga,” tegas Felliyani.

 

 DAFTAR KISAH: 

 

 

 

ANAK SAMPAI
TAK KENAL

RETNO Setyas Tuti (45) tak mungkin bisa lupa. Pukul 01.00 WIB pada suatu hari pada 2004, ia melepas kepergian sang suami, Anan Nurakhman.

Suaminya adalah satu dari ratusan prajurit Korps , dalam sebuah upacara kemiliteran.

Beserta ratusan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang diterjunkan dalam operasi militer menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Anan waktu itu berpangkat letnan satu infanteri. Tugas dia kali ini mengharuskannya meninggalkan istri dan bayi yang baru berusia tiga bulan.

“Ketika mendengar hymne Komando, saya nangis. Ya Allah, ternyata begini jadi istri TNI. Saya ikut memberangkatkan suami yang mungkin saja tidak kembali,” ujar Retno, Jumat (13/11/2020).

Retno Setyas Tuti. Gambar diambil pada Jumat (13/11/2020)
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Retno Setyas Tuti. Gambar diambil pada Jumat (13/11/2020)

Sesaat, pikirannya melayang jauh saat ia masih berpacaran dengan Anan sekitar setahun sebelumnya.

Kabar buruk menghunjamnya, suatu siang. Seorang kawan memberitahu Retno bahwa tim yang dipimpin Anan terkena ranjau di daerah operasi militer.

Beruntung, Anan selamat, meski luka berat di kaki. Namun, tidak dengan anak buahnya. Praka Agus Surya Dinata gugur dalam insiden itu.

"Dahulu, Anan lolos dari maut. Bagaimana dengan sekarang? Nanti?" ujar Retno menyebutkan sederet tanya yang berdenging di kepalanya waktu itu.

Anak tak kenal

Enam belas bulan berselang, Anan pulang dari penugasan. Selamat. Sehat. 

Namun, Anan harus berhadapan dengan tangis kencang anaknya yang hampir berumur tiga tahun. Anak itu tak mengenali lelaki yang tiba-tiba ada di rumahnya.

“Dia takut melihat ayahnya sendiri. Dia nangis dan mengusir ayahnya keluar. Ya bagaimana tidak, selama dia tumbuh, tidak melihat ayahnya. Hanya melihat dari foto,” ujar Retno.

Esok harinya, seperti namanya bocah, anak mereka mengintip dari celah pintu ketika Anan tengah membongkar tas. Masih takut tapi penasaran. 

“Mungkin dia pikir, ini orang siapa ya? Lalu suami saya gendong dia, dia masih seperti ragu. Hingga akhirnya dia mau dan memencet-mencet tangan suami saya, seolah-olah itu hal baru bagi dia. Saya sangat terenyuh melihat itu,” ujar Retno.

Tak lebih lega

Anan pernah pula ditugaskan di Papua. Namun, tugas dia tak selalu pula di daerah konflik atau operasi militer.

Perwira lulusan Akademi Militer tahun 1998 itu juga pernah dipilih menjadi perisai hidup Kepala Negara alias Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Apakah Retno lebih lega dengan penugasan di ring satu ini? Ternyata tidak.

“Namanya juga perisai hidup. Kalau ada apa-apa dengan Presiden, ya orang-orang seperti suami saya yang cover, bukan orang lain. Ada tanggung jawab yang sangat berat. Jadi deg-degan-nya sama. Apalagi Pak Presiden Jokowi begitu terbuka dengan rakyat,” ujar Retno.

Mandiri

Jadi istri prajurit itu berarti harus siap jadi perempuan mandiri. Tidak setiap saat suami mendampingi. Yang ada, sering ditinggal plus deg-degan oleh tugas suami.

Retno bertutur, menjadi istri Anan membuat dia menjalankan empat peran sekaligus di keluarga.

Karena pada dasarnya manusia itu kurang terus. Kurang bersyukur, kurang sabar. Itulah tantangan terbesar yang saya hadapi.

Empat peran itu mulai dari mengurus anak, aktif di organisasi istri tentara, bekerja sebagai karyawan di tempatnya bekerja, sekaligus menggantikan peran ayah bagi sang anak untuk urusan apa pun. 

“Itu bukan hal yang mudah. Sulit. Ada yang rusak, kita selesaikan sendiri. Anak sakit kita antar ke dokter sendiri. Jujur, itu berat,” ujar Retno.

Hal lain yang cukup berat bagi hari-hari Retno adalah ketika ia kehilangan teman untuk bercerita, untuk berkeluh kesah. Dia menyebut, butuh ilmu tabah dan bersyukur demi menjalani hari-hari itu.

“Karena pada dasarnya manusia itu kurang terus. Kurang bersyukur, kurang sabar. Itulah tantangan terbesar yang saya hadapi,” ujar Retno. 

Demi menjadi istri yang kuat, Retno pun memilih memperdalam ilmu agama bersama istri-istri prajurit lain. Pengajian dan sharing sesama rekan senasib sepenanggungan sedikit banyak mengurangi beban Retno dalam menjalani hari-hari tanpa suami.

Kegiatan itu menyadarkan kembali bahwa tugas penting negara tidak hanya dibebankan kepada suami semata, tetapi juga kepada seorang istri yang dalam keadaan apa pun harus mendukung suami.

Penopang suami

Hebatnya orang Indonesia, segala situasi masih ada untungnya. Retno, minimal. 

“Untungnya saya waktu itu tinggal di asrama," ujar dia.

Menurut Retno, andai mereka tinggal di luar asrama pada waktu ditinggal tugas oleh Anan, situasi yang dia hadapi bisa jadi akan lebih sulit atau rumit.

"Karena orang nanti akan mengasihani semua. ‘Aduh, kamu kasihan masih punya anak kecil sudah ditinggal tugas.’ Itu akan jadi beban mungkin ya bagi saya,” ujar Retno.

Anan Nurakhman (kiri) dan Retno Setyas Tuti.
DOK PRIBADI/RETNO SETYAS TUTI
Anan Nurakhman (kiri) dan Retno Setyas Tuti.

Tinggal di asrama menghilangkan kemungkinan situasi canggung dan membebani semacam itu. 

“Tinggal di asrama, siapa yang mau mengasihani? Wong semuanya bernasib sama. Jadi yang kami lakukan hanya berdoa dan berbagi. Itu ya yang membuat kami para istri semakin kuat,” lanjut dia.

Dukungan keluarga juga jelas lebih memudahkan peran yang harus dijalani Retno. Suaminya pun tak serta-merta "hilang" selama penugasan.

Retno bertutur, Anan pernah menyempatkan diri membeli album foto di sela tugas, memotong-motong kecil foto diri untuk dipasang di album itu, dan mengirimkannya ke Retno.

"Dikirik ke saya berikut surat. Ini membuat saya semakin kuat," kata dia.

Hari ini pangkat Anan sudah menjadi kolonel infanteri. Lagi-lagi, tugas membentangkan jarak dia dengan keluarga. 

Harapan Retno terhadap Anan tetaplah sama seperti dulu, yaitu menjadi sosok yang amanah dalam memimpin pasukan dan berupaya menjadi berkah bagi bagi orang lain.

“Saya harap dia bisa bermanfaat untuk orang di sekitarnya, membawa perubahan dan perbaikan bagi kehidupan prajurit,” ujar Retno.

Untuk keluarga, harapan Retno juga tak panjang dalam kalimat.

"Kalau bahasa saya, (harapannya) sukses mulia. Kalau dia sukses dengan membawa kebaikan ke lingkungan sekitar, otomatis keluarga juga sukses,” ujar dia lugas sembari tersenyum.

 

 DAFTAR KISAH: 

 

MEMAKNAI
TAKDIR SELAMAT

RABU, 24 Mei 2017, sekitar pukul 20.00 WIB, Nurlaila Ristiani (31) terheran-heran. Sang suami, Monang Parlindungan Ambarita, sudah tiba di rumah.

Nurlaila dan dua anaknya saat dijumpai Kompas.com, Minggu (11/11/2020)
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Nurlaila dan dua anaknya saat dijumpai Kompas.com, Minggu (11/11/2020)

Ini di luar kebiasaan. Sebab, biasanya sang suami yang waktu itu berpangkat brigadir polisi kepala (bripka) biasa pulang menjelang tengah malam.

"Mengapa dia pulang cepat?" pikir Ella, sapaan Nurlaila sembari menyambut kepulangan Ambarita.

Jawaban yang didapat, Ambarita ternyata baru usai mengawal aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Semula, malam itu dia mendapat tugas juga untuk menjaga pawai obor di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

"Ternyata ada bantuan dari Polda (Metro Jaya untuk menjaga pawai tersebut). Makanya dia langsung pulang,” tutur Ella mengawali perbincangan dengan Kompas.com, Minggu (11/11/2020).

Setelah mandi, Ambarita, Ella dan Smith—putra mereka—duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Tak seperti biasa juga, Ella merasa ingin menonton tayangan berita. 

Ternyata, tadi pagi itu bisa saja menjadi kali terakhir aku bertemu dengan suami aku.

Ia meraih remote dan memencet salah satu saluran televisi berita. Sekeluarga sontak terdiam ketika melihat apa yang tersiar di depan mereka.

“Televisi menyiarkan ada bom bunuh diri di Kampung Melayu, bertepatan dengan pawai obor dan ada polisi yang tewas,” ujar Ella.

Ella hanya terpaku diam. Adapun Ambarita sontak sibuk menelepon koleganya di Polres Metro Jakarta Timur.

Di tengah kepanikan itu, pikiran Ella melayang ke pagi di hari yang sama, saat dia melepas sang suami pergi bekerja.

“Ternyata, tadi pagi itu bisa saja menjadi kali terakhir aku bertemu dengan suami aku,” lanjut dia. 

Tiba-tiba Ella sadar bahwa inilah risiko menjadi istri polisi.

Sentilan Tuhan

Usianya yang terbilang muda saat memutuskan menikahi Ambarita pada 2008 membuat ia tidak terlalu memikirkan risiko terburuk menjadi pendamping hidup pengabdi dan pengayom masyarakat.

Padahal, ayah Ella sempat tegas menolak lamaran Ambarita untuk putrinya. Salah satu alasan ayah Ella ya profesi Ambarita sebagai polisi itu.

Namun, bagi Ella, saat itu hanya cinta yang dia perjuangkan. Tak ada pikiran lain, pertimbangan, atau harapan muluk. Dia hanya ingin bahagia bersama lelaki yang dia cinta.

Insiden di Kampung Melayu pada malam itu menyentak kesadaran Ella. 

“Kami merasa Tuhan sedang menyentil kami. Selama ini ibadah kami masih bolong-bolong, masih sering emosional, dan segala macam dosa kami,” ujar Ella.

Andai malam itu Ambarita tetap bertugas sesuai jadwal semula, bisa jadi dia menjadi salah satu korban ledakan. Ella mengaku akan sangat menyesal jika Ambarita berpulang pada malam itu.

Ini bukan soal penyesalan karena ditinggal suami yang gugur dalam bertugas saja. Dia mengaku itu karena soal suaminya berpulang dalam kondisi belum sepenuhnya menjalankan perintah agama.

“Setelah peristiwa itu, kami bertekad untuk berubah. Rajin beribadah dan jangan hanya dunia terus yang dikejar. Jangan melupakan Tuhan karena Dia sudah memberikan kesempatan,” kenang Ella.

Berubah

Ella mengaku merasakan perubahan terjadi pada suaminya juga sejak peristiwa bom Kampung Melayu. Di matanya, Ambarita tampak lebih produktif bekerja, lebih disiplin, dan tidak lagi mengedepankan emosi setiap merespons sesuatu.

"Dan yang paling penting lebih rajin beribadah," tutur Ella.

Bagi Ella, peristiwa bom Melayu menyadarkan bahwa manusia sejatinya tak punya kuasa apa-apa tanpa kendali dari Tuhan. Pemahaman ini membuat dia malah lebih tenang setiap kali Ambarita berangkat bertugas.

“Tugas aku ya mendoakan saja. Kekuatan doa is the best. Tidak ada yang bisa menandinginya,” ujar Ella.

Namun, hidup tetaplah bukan jalan cerita yang serba mulus dan tertebak alurnya. Menurut Ella, suaminya kerap bercerita tentang dinamika di lapangan. Di sini dia pun menempatkan diri sebagai istri yang akan maju paling depan membela suaminya bila ada yang menzalimi.

"Aku bela benar. Karena bukan satu dua orang yang tahu reputasi Bang Ambar,” ujar Ella.

Protes anak

Protes anak-anak terhadap sang ayah yang jarang pulang juga ditangani Ella dengan caranya. Dia pun bertutur tentang salah satu protes yang pernah dilayangkan putra sulungnya.

Si sulung protes keras karena melihat sang ayah jarang pulang, tidak seperti ayah teman-temannya pula yang setiap akhir pekan mengajak berlibur.

Ella pun menjawab, "Bapak mu beda dengan bapak yang lain. Bapak mu itu pekerja keras."

Namun, tantangan besar Ella adalah laiknya Marry Jane, mengelola perasaannya sendiri.

Untuk dapat menjadi istri yang sepenuhnya mendukung suami, kata dia, seorang istri harus pandai-pandai mengelola perasaan. Misalnya, tidak mudah stres.   

“(Kalau ada masalah), saya selesaikan sendiri. Paling saya cerita ke anak dan suami juga. Kami biasa menyelesaikan apa-apa dengan sharing,” ujar dia.

Uniknya, Ella juga menjadikan sebagian aktivitas pekerjaan Ambarita sebagai penghiburan.

Ambarita kini punya pangkat ajun inspektur dua (aipda) dan jadi Kepala Unit Pengurai Massa (Raimas) Bacbone Polres Jakarta Timur. Rutinitasnya adalah berpatroli. Aktivitas ini dia rekam dan unggah di kanal YouTube. 

Rekaman kegiatan dari unit di bawah Satuan Sabhara Polres Jakarta Timur itulah yang ditonton Ella. Jangan salah, hingga 30 November 2020 petang, pengikut akun Raimas Backbone tercatat 523.000. 

“Sering juga saya yang upload. Tentunya ada SOP-nya ya. Yang tidak sesuai dengan kaidah di YouTube, kita enggak bisa upload. Seru juga ya itu buat hiburan,” ujar Ella.

Ke depan, ia berharap sang suami tetap menjadi sosok yang ada saat ini. Friendly, humoris, baik kepada semua orang, tidak neko-neko, dan disiplin dalam tugas.

 

 DAFTAR KISAH: 

BOCAH PUN
HARUS PAHAM

SETIAP jarum jam menunjukkan pukul 20.50 WIB, itu berarti sebentar lagi Lupita Gani (28) tiba di rumah. 

Agustinus Jeneo (35), suami Lupita, langsung menghampiri sang anak yang masih berusia tiga tahun dan memakaikan masker.

Agustinus Jeneo saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (15/11/2020)
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Agustinus Jeneo saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (15/11/2020)

Setelah itu, giliran Gusti, panggilan akrab Agustinus, yang mengenakan masker, diikuti penghuni lain di rumah itu. 

“Beginilah protokol kesehatan di rumah kami. Istri saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit yang merawat pasien Covid-19," tutur Gusti, saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (15/11/2020).

Lima menit sejak pergerakan Gusti mengenakan masker untuk anaknya, sang istri tiba di rumah. Tak seperti dulu, tak ada hamburan sambutan untuk kepulangan Lupita. 

"(Tugas Lupita) itu high risk area dan kami di rumah ini secara tak langsung menjadi bagian dari risiko,” ujar Gusti.

Semenjak Covid-19 merebak, tak ada lagi senyum, peluk, dan ciuman dari anggota keluarga menyambut Lupita di depan rumah. Meski Geo—anak mereka—merengek meminta pelukan ke ibunya, hal itu tak mungkin dipenuhi.

Protokol

Waktu yang justru mengajarkan kepada Geo untuk hapal protokol baru ini. Dia pun tak lagi meronta atau meraung di dekapan sang ayah setiap kali ibunya pulang dan masuk ke rumah. 

Anak berumur tiga tahun dipaksa oleh pandemi Covid-19 untuk memahami protokol kesehatan.

Namun ia sudah mulai terbiasa menahan diri untuk tidak langsung memeluk ibunda. Ia patuh bergeming dalam dekapan erat sang ayah melihat ibunda masuk rumah.

Anak berumur tiga tahun dipaksa oleh pandemi Covid-19 untuk memahami protokol kesehatan yang harus dijalankan demi kesehatan semua orang di rumah.

“Namanya anak kecil, ketika mamanya datang, pasti senang pengin peluk," tutur Gusti mengungkap banyak makna dalam kalimat yang terdengar sederhana ini.

Setelah "jalur" masuk aman, dengan semua orang mengenakan masker dan memberi ruang bagi Lupita lewat, kamar mandi adalah tujuannya. Dia langsung masuk ke kamar mandi, melepas semua pakaian, merendam pakaian itu ke air berdisinfektan, dan mandi.

“Jadi, istri saya mandi dua kali (setiap malam). Pertama, di rumah sakit. Kedua, di rumah. Di rumah sakit kan dia takutnya masih menyentuh benda yang terkontaminasi ya,” ujar Gusti yang bekerja di salah satu bank swasta itu.

Itu pun tak langsung menghilangkan semua kekhawatiran atas risiko penularan Covid-19 ke rumah keluarga mereka. Kekhawatiran itu yang membuat Lupita pun berbesar hati terus mengenakan masker setiap kali ada ri rumah, termasuk saat tidur.

Campur aduk rasa

Menjadi suami perawat, terlebih di masa pagebluk, menurut Gusti ada rasa sedih, takut, sekaligus bangga.

Lupita Gani (kiri), Agustinus Jeneo (kanan), dan buah hati mereka.
DOK PRIBADI/AGUSTINUS JENEO
Lupita Gani (kiri), Agustinus Jeneo (kanan), dan buah hati mereka.

Urusan sedih dan takut, tentu tidak perlu lagi dijelaskan. Terlebih lagi, rasa bangga terhadap istrinya membuncah melebihi dua rasa itu.

“Sejarah akan mencatat kerja orang-rang seperti istri saya. Generasi mendatang akan membaca, tahun 2020 ada pandemi besar dan istri saya menjadi bagian dari sejarah itu,” ujar Gusti. 

Sejarah akan mencatat kerja orang-rang seperti istri saya.

Rasa bangga ini pun jadi modal bagi Gusti mendukung sang istri dari waktu ke waktu yang hingga kini masih terasa berat.

“Kami support dia all out. Saya selalu berpesan kepada istri agar jangan pernah lelah merawat orang sakit, karena ini profesi mulia, pahlawan masa kini,” ujar Gusti.

Tugas sang istri mengharuskan Gusti mengurus anak di rumah. Ia berusaha menikmati ini semua. Sebisa mungkin dia tak mau ada keluhan sedikit pun atas situasi ini.

Bagi Gusti, mendukung pasangan hidup dalam segala bentuk, terutama dalam masa sulit, semestinya tidak akan pernah menemukan titik jenuh. Baginya, saling mendukung merupakan implementasi dari doa yang dilantunkan setiap hari.

Tidak pernah pula kesibukan sang istri di rumah sakit memunculkan pertengkaran di dalam rumah tangga.

“Kalau saya bertengkar dengan dia karena tugas dia, berarti saya tidak mendukung istri saya sepenuhnya. Karena saya dukung dia all out maka tidak ada yang perlu dipertengkarkan,” ujar Gusti.

Gusti dan keluarga memilih mensyukuri segala yang ada, bahkan untuk hal sepele seperti berkumpul bersama-sama pada hari Minggu.

Gusar dengan yang abai

Justru, gusar bahkan marah kerap dirasa Gusti ketika melihat orang-orang terlihat tanpa beban melanggar protokol kesehatan.

Saat istrinya bertaruh nyawa dengan jarak setipis benang terhadap wabah ini, orang-orang di luar sana seolah tak punya kesadaran apalagi empati bahkan sekadar memastikan diri mereka tak terpapar Covid-19.

“Istri pernah pulang lalu mengeluh. Pasien Covid-19 di rumah sakitnya meningkat karena efek dari acara ini, acara itu. Sebetulnya kesal. Apa mereka ini tidak memikirkan ada saudaranya yang jadi garda terdepan ya?” ungkap Gusti.

Gusti benar-benar berharap masyarakat masyarakat mau merenungkan sejenak bahwa apa yang mereka perbuat dapat berdampak besar terhadap orang lain.

Jangan sampai, ujar dia, terus ada dan ada lagi yang harus pergi karena penyakit ini hanya karena ketidakpedulian menjalankan protokol kesehatan, apalagi yang pergi adalah yang dicintai.

 

 DAFTAR KISAH: 

DOA
UNTUK PENAKLUK API

KEHIDUPAN rumah tangga yang normal pastilah idaman seorang istri. Menyiapkan sarapan dan bekal makan siang, menyambut kepulangan di petang hari, lalu bercengkerama bersama keluarga hingga tiba waktu tidur.

Sayangnya, bagi Nuraini (25 tahun), gambaran itu harus dipendam jauh-jauh dengan penuh kesadaran. Dia adalah istri Robert Marbun, petugas pemadam kebakaran di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Tambora adalah kecamatan terpadat se-Asia Tenggara. Kebakaran juga bukan peristiwa langka di kawasan ini.

Nuraini (kanan) dan Robert Marbun. Gambar diambil di Pos Pemadam Kebakaran Krendang Utara, Tambora, Jakarta Barat, pada Senin (16/11/2020).
KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Nuraini (kanan) dan Robert Marbun. Gambar diambil di Pos Pemadam Kebakaran Krendang Utara, Tambora, Jakarta Barat, pada Senin (16/11/2020).

Sudah tiga tahun Robert menjalani profesi penakluk api. Saat bertugas, dia harus bersiaga 24 jam. Dalam kurun waktu suami bertugas, Nuraini otomatis sendirian di rumah. 

"Setiap ada kebakaran saya enggak bisa tidur, karena was-was," ungkap Nuraini saat dijumpai  Kompas.com di Pos Pemadam Kebakaran Krendang Utara, Tambora, Jakarta Barat, Senin (16/11/2020).

Kekhawatiran makin terasa menyesakkan dada bila nomor telepon genggam suaminya tak bisa dihubungi. 

"Pikiran jadi kacau," kata dia.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Barat, Kecamatan Tambora memiliki populasi 271.495 jiwa. Per tiap kilometer lahan di kecamatan ini ditempati oleh 50.277 jiwa. 

Sepanjang 2019, tercatat ada 38 musibah di kecamatan seluas 5,4 kilometer persegi itu. Dari jumlah tersebut, 31 di antaranya adalah kebakaran. Bukan sekali atau dua kali, kebakaran besar yang terjadi.

Bersandar pada doa

Cemas semata tentu bukan solusi. Bagi Nuraini, penawar cemas dan khawatir atas keselamatan sang suami adalah doa.

"Sebelum (suami) berangkat, biasanya kami berdoa bersama-sama. Berharap semoga tidak ada kebakaran," kata Nuraini. 

Sepanjang mendampingi Robert, Nuraini sudah pula mengalami sejumlah peristiwa yang benar-benar bikin khawatir.

Salah satu yang paling dia ingat adalah saat Robert harus mondok sebulan di rumah sakit karena paru-parunya bermasalah pada 2018. Dokter menyebut, Robert menghisap terlalu banyak asap.

Belum lama, medio Agustus 2020, Nuraini juga harus cemas luar biasa, yaitu saat kebakaran besar melanda RW 005, Kelurahan Duri Selatan, Tambora. Kebakaran terjadi saat Robert bertugas.

Lima RT terbakar, hampir seribu orang kehilangan tempat tinggal. Butuh waktu delapan jam bagi pasukan pemadam kebakaran menjinakkan si jago merah yang menyala sejak petang, sampai hari berganti.

"Kalau lama padamnya kasihan juga (suami)," ucap Nuraini.

Dulu, saat kekhawatiran tak tertahankan, sesekali Nuraini mendatangi lokasi kebakaran tempat sang suami bertugas.

Dia tak mendekat saat para petugas berjibaku menjinakkan api. Saat suaminya istirahat, sekadar makanan kecil atau minuman dia angsurkan.

Waktu yang kemudian mendorong Nuraini untuk lebih mampu mengelola kekhawatiran. Dia juga tak ingin perasaan khawatirnya malah jadi beban bagi sang suami selama bertugas.

“Apa pun, saya akan dukung suami. Biarkan saja kegelisahan saya, saya bawa dalam doa,” lanjut dia.

 

 DAFTAR KISAH: 

LAYAR
TELAH TERKEMBANG...

TAMBATAN dilepas, layar telah berkembang. Kapal membelah ombak terempas, orang-orang itu tak mungkin berpaling arah membelakangi "medan pertempuran" tugas.

Mereka telah memilih jalan hidup menjadi pendamping orang-orang yang disebut pahlawan masa kini. Meski langkah dijalani dengan gugup, doalah yang selalu menjadi penguat hati.

Panjang umur pengabdian pahlawan masa kini. Panjang umur pula kesetiaan orang-orang yang ada di sisi mendampingi, meski kerap dalam cemas. 

Apakah kita mau berbaik hati memberi ruang empati? Setidaknya, jangan tambahkan lagi persoalan mereka dengan kekonyolan atau sikap abai kita. Mulai dari diri sendiri, saat ini....

 

 DAFTAR KISAH: