JEO - Peristiwa

Mengapa Jaga Jarak sampai Karantina Penting untuk Cegah Penyebaran Corona?

Minggu, 15 Maret 2020 | 19:02 WIB

Ini upaya bersama untuk cegah penyebaran lebih luas wabah virus corona (Covid-19).

TIDAK perlu panik. Tak perlu pula dipusingkan istilah self distancing, self isolation, self quarantine, atau bahkan lockdown. Karena, kalau mengikuti istilah, ada banyak lagi sebutan. 

Yang jelas, ini upaya kita bersama untuk mencegah penyebaran lebih luas wabah virus corona (Covid-19).

Self distancing adalah memastikan jarak aman kita dengan orang lain. Ada yang menyebut langkah ini sebagai social distancing ketika diberlakukan tak lagi di tataran orang per orang tetapi sudah sebagai langkah bersama.

Baca juga: Bersiap Tameng Ekonomi untuk Dampak Wabah Corona...

Video berikut ini adalah penyederhanaan praktik "berjarak" dari sekitar. Dengan satu orang menarik diri ke jarak aman, dia berpeluang mencegah penularan lebih lanjut, karena "jalur" penularan terputus.

Sementara itu, self isolation kurang lebih sama artinya dengan self quarantine, yaitu membatasi diri sendiri untuk tak berinteraksi dengan orang lain.

Baca juga: Panduan Lengkap Menghadapi Wabah Virus Corona

Bedanya, istilah isolasi biasanya dipakai untuk mereka yang diyakini dapat terpapar alias berisiko terpapar virus, sementara karantina adalah untuk mereka yang diyakini telah terpapar meski belum memperlihatkan gejala sakit. 

Adapun lockdown merupakan upaya untuk membatasi interaksi satu komunitas dengan komunitas lain. Misal, interaksi warga daerah dengan banyak kasus positif infeksi corona dengan warga dari daerah lain.

Saat lockdown diterapkan—terutama dalam kaitannya dengan wabah—, arus keluar dan masuk kawasan dibatasi. Hanya kebutuhan darurat dan atau medis yang biasanya masih diizinkan dalam konteks ini.

Prinsipnya, istilah-istilah itu adalah cara untuk meminimalkan kontak yang terlalu dekat yang memungkinkan kita saling terpapar cipratan cairan sistem pernapasan orang lain. 

 

Mengapa? Apa pula kaitannya dengan wabah virus corona?

Virus penyebab wabah ini, 2019-nCoV, menyebar hanya melalui cipratan (droplet) cairan pernapasan tersebut. Bukan lewat udara.

Tantangannya, saat kita bicara saja, kadang-kadang tak sengaja ada ludah yang nyiprat, bukan?

Ludah memang bukan bagian dari sistem pernapasan, tetapi sangat dekat dengan sistem pernapasan bahkan "bertemu" di pangkal mulut.

Jadi, risiko ada virus corona di dalam air ludah pun sama besarnya dengan dahak dan ingus.

 

Penjelasan yang sama merupakan alasan bagi orang yang sudah positif terinfeksi virus corona atau bahkan sekadar punya masalah dengan infeksi pernapasan—seperti batuk dan pilek—menggunakan masker. Yaitu, biar virusnya tidak menyebar lewat cipratan cairan itu.

Baca juga: FAQ Wabah Virus Corona: Apa Saja yang Perlu Kita Tahu?

Bagaimana dengan orang sehat, apakah perlu pula pakai masker? 

Sejatinya, orang sehat tidak perlu pakai masker. Karena masker lebih bertujuan mencegah cipratan keluar daripada masuk.

Namun, kalau tidak yakin bahwa lingkungan sekitar benar-benar steril dari cairan saluran napas yang terinfeksi virus, minimalkan risiko paparan dengan memakai masker juga. Ini mencegah pula tangan kita yang mungkin sedang tak steril untuk menyentuh hidung dan mulut.

 

Penerapan istilah-istilah pembatasan interaksi tadi—masing-masing ataupun sekaligus bersamaan—menjadi penting karena ada tantangan lain dari wabah virus corona ini.

Bahkan cipratan cairan pernapasan yang menempel di permukaan barang, bisa menempel di tangan atau anggota badan orang lain.

Semakin menjadi masalah ketika orang lain itu lalu mengusap mulut, hidung, dan atau mata menggunakan tangan atau anggota badan yang terpapar cairan tersebut. 

Dengan segala tantangan ini, ada dua hal yang penting banget dilakukan. Yaitu:

 Referensi : 

Apakah cara-cara itu efektif?

Fakta di China dan sejumlah negara yang telah memberlakukannya, terjadi perlambatan penyebaran setelah pemberlakuan pembatasan interaksi, yang mana pun bentuknya. Tentu, perbandingannya adalah dengan saat sebelum atau tidak ada pembatasan yang efektif.

Sejarah wabah flu Spanyol pada 1918 juga memperlihatkan pula efektivitas pembatasan interaksi sedini mungkin terhadap jumlah kasus, penyebaran lanjutan, dan atau tingkat kematian.

Ikuti juga peliputan dari hari ke hari tentang wabah ini dalam Liputan Khusus Wabah Virus Corona dan Indonesia Positif Terinfeksi Virus Corona di Kompas.com.


Semakin awal pembatasan interaksi diterapkan, jumlah kasus yang terjadi lebih sedikit dibandingkan wilayah lain yang berjeda terlalu lama sebelum menerapkan pembatasan interaksi ini.

Dalam banyak riset, kasus di Philadelphia dan St Louis menjadi gambaran perbandingan penanganan wabah flu pada 1918.

Meski namanya flu Spanyol, tak ada teori hingga hari ini yang menyebut Spanyol sebagai asal virus.

Baca juga: Bersiap Tameng Ekonomi untuk Dampak Wabah Corona...

 

Buat pengingat, wabah flu Spanyol ini menewaskan 17 juta orang, bahkan diperkirakan lebih dari itu dalam kenyataannya.

Yuk, mulai jaga jarak dulu. Kurangi sementara acara kumpul-kumpul. Kesehatan kita dan orang-orang di sekitar kita, yang akhirnya adalah kesehatan kita semua, saat ini adalah yang utama.

Jadi, kalau dikasih libur kali ini, jangan dipakai buat piknik, main, dan jalan-jalan dulu yaaaa....

Bagi Anda yang merasa punya gejala terinfeksi virus corona atau sempat berinteraksi dengan pasien positif terinfeksi virus corona, segera periksakan diri ke rumah sakit rujukan yang telah ditunjuk pemerintah.

 

Baca juga: Daftar Rumah Sakit Rujukan per Provinsi dan Nomor Kontaknya untuk Wabah Corona

Bila pernah berinteraksi dengan pasien positif terinfeksi virus corona tetapi gejala belum muncul, tetap lakukan segera karantina diri.

Kapan Harus ke Rumah Sakit untuk Dugaan Kena Covid-19? - (DOK KEMENTERIAN KESEHATAN)