JEO - Cerita Data

Percaya Diri dengan Antibodi Tinggi...

Senin, 25 April 2022 | 14:20 WIB

KADAR antibodi penduduk Indonesia dari virus SARS-CoV-2 semakin menguat.

Demikian hasil dua kali survei serologi yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Tim Pandemi FKM Universitas Indonesia, beberapa waktu lalu.

Survei pertama digelar November-Desember 2021 dengan melibatkan 20.501 sampel yang tersebar di 100 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Adapun, survei kedua digelar Maret 2022. Survei ini dilaksanakan lebih spesifik, yakni di 21 kabupaten/kota asal dan tujuan mudik Lebaran 2022 dengan jumlah sampel 2.100 orang.

Pendeteksian kadar antibodi dilakukan dengan metode Electro-Chemiluminescence Immunoassay (ECLIA).

Metode ini merupakan pemeriksaan laboratorium imunoserologi melalui teknologi autoanalyzer untuk mendeteksi kadar antibodi SARS-CoV-2 di dalam darah seseorang.

Salah seorang peneliti, Muhammad N. Farid mengungkapkan, belum banyak negara yang melakukan survei imunitas penduduk semacam ini. Padahal, survei imunitas ini sangat penting perananya.

Survei ini pun menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang memanfaatkan data kadar antibodi penduduk untuk menelurkan kebijakan pengendalian pandemi Covid-19 di masa mendatang. 

“Ini masukan yang sangat berharga (bagi perencanaan kebijakan pemerintah di masa pandemi). Indonesia termasuk negara yang melakukannya secara sistemik,” ujar Farid dalam konferensi pers pemaparan survei serologi, pertengahan Maret 2022.

Rencananya, survei serologi ini akan dilaksanakan setiap enam bulan sekali.

Simak pemaparan hasil survei berikut ini:

Survei Desember 2021

"Meskipun antibodi SARS-CoV-2 sudah ditemukan pada kelompok yang belum divaksinasi, tetapi proporsi penduduk yang memiliki antibodi lebih banyak ditemukan pada kelompok yang sudah divaksinasi lengkap."

 ♦♦♦

Survei serologi yang digelar November-Desember 2021 menunjukkan, 86,6 persen penduduk Indonesia sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2.

Proporsi penduduk yang memiliki antibodi SARS-CoV-2 dengan kadar tertinggi ditemukan pada yang sudah menerima vaksinasi dua kali (dosis lengkap).

Temuan menariknya, rupanya 73,9 persen penduduk yang belum divaksin sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2.

Simak grafik berikut ini:

Proporsi Penduduk yang Memiliki Antibodi SARS-CoV-2

Salah seorang peneliti, Iwan Ariawan mengungkapkan, meskipun telah memiliki antibodi yang cukup bagus, tetapi bukan berarti terbebas dari Covid-19.

“Mereka ini masih mungkin terinfeksi. Tetapi dengan antibodi, kemungkinan terjadi sakit parah atau meninggal dunia, risiko-risiko itu menjadi berkurang,” ujar Iwan dalam konferensi pers yang sama.

Soal temuan antibodi pada proporsi penduduk yang belum divaksin, Iwan mengatakan, hal itu mungkin saja terjadi.

Antibodi yang dideteksi pada kelompok ini, lanjut Iwan, dipastikan berasal dari infeksi alamiah yang tak disadari.

Sebab, banyak terjadi  pasien Covid-19 tidak mengalami gejala signifikan sehingga pasien tersebut tidak melakukan tes dan tidak menyadari bahwa terdapat SARS-CoV-2 di dalam tubuhnya.

 

 Imunitas di wilayah aglomerasi dan non-aglomerasi 

Merujuk pada hasil survei di atas, tim kemudian memilahnya berdasarkan kategori wilayah aglomerasi dan non-aglomerasi.

Iwan mengatakan, mobilitas orang di wilayah aglomerasi jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah non-aglomerasi. Dengan demikian, semestinya potensi penularan virus lebih tinggi di wilayah aglomerasi.

Artinya, orang-orang di wilayah aglomerasi telah memiliki antibodi yang lebih baik dibandingkan dengan di wilayah non-aglomerasi.

Tetapi, hasil survei menunjukkan sebaliknya.

“Kami duga kasus Covid-19 akan banyak menyebar di wilayah tersebut (wilayah aglomerasi). Tapi ternyata kalau kita lihat, baik di wilayah aglomerasi atau non-aglomerasi, yang memiliki antibodi itu juga sudah tinggi,” ujar Iwan.

“Memang (jumlah penduduk di wilayah aglomerasi yang memiliki antibodi) lebih tinggi. Tetapi, di wilayah non-aglomerasi pun juga sudah cukup tinggi. Ini menggambarkan Covid-19 di daerah kita katakan ramai dengan mobilitas tinggi dan rendah, sama. Sudah menyebar ke semua daerah,” lanjut dia.

Lihat grafik berikut ini:

Proporsi Penduduk yang Memiliki Antibodi di Dua Kategori Wilayah

Iwan menambahkan, tim juga menemukan fenomena yang sama ketika memilah hasil survei berdasarkan kabupaten/kota.

Rupanya, proporsi penduduk di wilayah kabupaten yang memiliki antibodi terbilang tinggi, sekalipun tetap lebih tinggi proporsi penduduk di wilayah kota.

“Artinya, mereka mendapatkan antibodi ini dari terinfeksi Covid-19,” ujar Iwan.

 

 Kadar antibodi penduduk Indonesia 

Selain menghitung proporsi penduduk yang telah memiliki antibodi SARS-CoV-2, tim sekaligus mengukur berapa besar kadar antibodi di tubuh mereka.

Hasilnya cukup menggembirakan. Anggota peneliti Pandu Riono mengungkapkan, kadar antibodi pada tubuh penduduk terbilang tinggi. Hal ini dinilai cukup untuk memproteksi dari Covid-19.

Simak grafik berikut ini:

Paparan Tim Pandemi FKM UI tentang kadar antibodi SARS-CoV-2 pada penduduk Indonesia.
Tim Pandemi FKM UI
Paparan Tim Pandemi FKM UI tentang kadar antibodi SARS-CoV-2 pada penduduk Indonesia.

Merujuk grafik di atas, kelompok yang belum pernah terdeteksi positif Covid-19 dan belum divaksinasi rupanya sudah memiliki kadar antibodi yang cukup tinggi, yakni di atas sepuluh pangkat dua (100).

Dalam prosedur pengecekan antibodi kuantitatif, indikatornya adalah 0,80 U/ml. Jadi, apabila kadar yang diperoleh lebih besar dari angka tersebut, maka antibodinya semakin baik.

“Sudah dianggap memiliki efek proteksi. Tapi memang juga ada (sampel yang kadar antibodinya) rendah,” ujar Pandu.

Begitu pula apabila bergeser ke kelompok yang pernah terdeteksi Covid-19 tetapi belum mendapatkan vaksinasi. Titik tengah kadar antibodinya berada di sepuluh pangkat dua (100).

Sementara bila melihat kelompok yang belum pernah terdeteksi Covid-19 dan sudah divaksinasi, kadar antibodinya melonjak cukup tinggi, hampir mendekati sepuluh pangkat tiga (1.000).

Kadar antibodi kelompok ini hampir sama dengan kadar antibodi kelompok yang sudah divaksinasi.

“Itu artinya apa? Program vaksinasi sangat efektif meningkatkan kadar antibodi SARS-CoV-2 penduduk dibandingkan hanya membiarkan penduduk ini terinfeksi (Covid-19) secara alamiah,” lanjut Pandu.

Pandu menambahkan, dalam ilmu pengetahuan, kelompok terakhir disebut juga hybrid immunity.

Artinya, penduduk yang telah memiliki antibodi dengan bersumber pada kombinasi terinfeksi alamiah dan mendapatkan vaksinasi.

“Ada yang berani menyebutkan ini sebagai super immunity. Ini pula yang mendasari pemerintah sudah memutuskan booster (penguat). Supaya penduduk yang kadar antibodinya belum terlalu tinggi, menjadi lebih tinggi lagi,” papar Pandu. 

Ilustrasi antibodi dan virus corona, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
SHUTTERSTOCK/peterschreiber.media
Ilustrasi antibodi dan virus corona, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Survei Maret 2022

Terjadi peningkatan kadar antibodi SARS-CoV-2 pada penduduk Jawa-Bali di wilayah asal dan tujuan mudik Lebaran 2022. Hal ini dapat mengurangi risiko dirawat di rumah sakit, bahkan risiko kematian.

 ♦♦♦

Pada Maret 2022, tim kembali melakukan survei serologi. Tetapi tidak seperti survei pertama di mana dilaksanakan di 100 kabupaten/kota, survei kedua dilaksanakan di 21 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali.

Sebanyak 21 kabupaten/kota itu dipilih karena merupakan daerah asal dan tujuan mudik Lebaran 2022.

Dengan begitu, tim mendapatkan gambaran kadar antibodi di daerah yang akan mengalami mobilitas sangat tinggi sepanjang libur Hari Raya Idul Fitri 1443 H mendatang.

Muhammad N. Farid memaparkan pada survei kedua, tim menemukan proporsi penduduk yang sudah memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2 meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya.

Apabila pada survei November-Desember 2021 lalu, di 21 kabupaten/kota proporsi penduduk yang memiliki antibodi sebesar 93 persen, pada survei kedua ini, proporsi penduduknya naik menjadi 99,2 persen.

“Ada peningkatan prevalensi sebesar 6,2 persen dari 93 persen pada Desember 2021 lalu menjadi 99,2 persen pada Maret 2022. Peningkatan ini cukup menggembirakan,” ujar Farid.

“Ada dua kemungkinan atas peningkatan ini. Pertama, ada yang dulu belum divaksin, sekarang sudah. Kedua, ada yang dulu belum terinfeksi (Covid-19), sekarang sudah. Makanya ada perbedaan cukup besar,” lanjut dia.

Simak grafik berikut ini:

Perbandingan proporsi penduduk yang memiliki antibodi SARS-CoV-2

 Sebaran berdasarkan usia 

Merujuk pada survei kedua, tim juga menemukan bahwa hampir seluruh kelompok umur penduduk sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2.

Farid memaparkan, tim membagi responden ke dalam lima kelompok umur, yakni 1-11, 12-18, 19-29, 30-59, dan di atas 60.

Pada kelompok usia termuda (1-11), proporsi penduduk yang telah memiliki antibodi yakni sebanyak 98,3 persen.

Pada kelompok usia setelahnya (12-18), proporsi penduduk yang telah memiliki antibodi menunjukkan hasil sempurna, yakni 100 persen.

Dari lima kelompok usia, hanya kelompok di atas 60 tahun di mana proporsi penduduknya memiliki antibodi paling rendah dibandingkan lainnya, yakni sebesar 97,6 persen.

Meski demikian, Farid menambahkan, hasil survei serologi ini menunjukkan ada peningkatan proporsi penduduk yang telah memiliki antibodi dibandingkan survei pada November-Desember 2021 lalu.

“Kalau kita lihat survei Maret 2022 ini, hampir semua kelompok umur sudah punya antibodi. Bahkan, terjadi pada kelompok 60 tahun ke atas. Meskipun peningkatannya tidak setinggi kelompok umur yang lain, tetapi terlihat peningkatan cukup tinggi dibandingkan akhir 2021, yakni meningkat 7,6 persen,” papar Farid.

Simak grafik berikut ini:

Perbandingan proporsi penduduk berantibodi berdasarkan usia

Farid meyakini, peningkatan proporsi penduduk yang telah memiliki antibodi SARS-CoV-2 yang cukup signifikan ini disebabkan oleh infeksi alamiah sepanjang akhir 2021 lalu di mana varian Omicron merajalela.

“Selain itu, peningkatan proporsi penduduk yang memiliki antibodi pada kelompok umur 1-11 tahun disebabkan oleh vaksinasi pada usia tersebut yang sudah mulai dilakukan,” ujar Farid.

 

 Kadar antibodi penduduk Jawa-Bali 

Peningkatan tidak hanya terjadi pada proporsi penduduk yang memiliki antibodi SARS-CoV-2, kabar menggembirakan juga datang dari hasil survei tentang kadar antibodi penduduk di Jawa Bali. 

Pandu Riono mengungkapkan, tim menemukan, kadar antibodi penduduk di 21 kabupaten/kota pada survei Maret 2022 mengalami peningkatan dibandingkan survei bulan Desember 2021. 

"Pada bulan Desember 2021, median kadar antibodinya 434,2 U/ml. Di Maret 2022 ini terjadi peningkatan yang signifikan, lebih dari sepuluh kali. Median kali ini mencapai 5.698 U/ml," papar Pandu. 

"Jadi, kenaikan cukup besar bukan hanya terjadi pada proporsi penduduk yang telah mempunyai antibodi, tetapi kenaikan juga terjadi pada kadarnya, yaitu lebih dari sepuluh kali," lanjut dia. 

Simak grafik berikut ini:  

Pemaparan tim pandemi FKM UI tentang distribusi kadar antibodi SARS-CoV-2 pada penduduk Jawa-Bali berdasarkan survei Maret 2022.
Tim Pandemi FKM UI
Pemaparan tim pandemi FKM UI tentang distribusi kadar antibodi SARS-CoV-2 pada penduduk Jawa-Bali berdasarkan survei Maret 2022.

Temuan menariknya, berdasarkan kategori umur, kelompok penduduk di atas 60 tahun merupakan yang paling besar kadar antibodinya. Kadar antibodinya mencapai 11.058 U/ml

"Mengapa demikian? Karena kita tahu pada awal-awal program booster, lansia adalah salah satu kelompok yang diprioritaskan. Sebab, lansia adalah salah satu kelompok rentan dalam pandemi ini selain mereka yang komorbid," ujar Pandu. 

Kelompok penduduk berusia 30-59 adalah kelompok penduduk urutan kedua yang kadar antibodinya juga cukup signifikan. Kadar antibodinya mencapai 8.085,7 U/ml. 

Simak grafik berikut ini: 

Pemaparan tim pandemi FKM UI tentang perbedaan kadar antibodi SARS-CoV-2 dalam dua survei berdasarkan kelompok usia.
Tim Pandemi FKM UI
Pemaparan tim pandemi FKM UI tentang perbedaan kadar antibodi SARS-CoV-2 dalam dua survei berdasarkan kelompok usia.

Pandu menambahkan, temuan ini penting untuk meningkatkan kepercayaan diri penduduk di dalam kegiatan mudik Lebaran 2022 dari bahaya infeksi Covid-19. 

"Ini penting bagi kita untuk meningkatkan kepercayaan diri bersama bahwa imunitas warga di wilayah asal dan tujuan mudik sudah sangat tinggi. Antibodi mampu menekan risiko masuk rumah sakit dan kematian dari kegiatan masif, yakni mudik," ujar Pandu. 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 belum usai. Temuan survei soal imunitas ini tidak lantas membuat masyarakat melepaskan protokol kesehatan. 

Justru sebaliknya, protokol kesehatan adalah cara bagi kita untuk mempertahankan antibodi dan pada akhirnya keluar dari situasi pandemi. 

"Kita harus tetap mendorong masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan supaya tetap sehar selama perjalanan dan meminimalisasi penularan. Karena pandemi belum selesai," ujar Pandu. 

"Pelonggaran sudah diizinkan, imunitas bisa menjadi modal dasar kita, tetapi bukan berarti kita jumawa melepaskan masker," lanjut dia. 

Ilustrasi orang memakai masker.
cottonbro/ Pexels
Ilustrasi orang memakai masker.