JEO - Tokoh

Minggu, 4 April 2021 | 12:27 WIB

GIRING GANESHA
 DARI NIDJI KE PSI
DARI RELAWAN
KE CAPRES 2024

 

Hidup dari panggung ke panggung sebagai vokalis band, dia tinggalkan. Kini, politik adalah ladangnya berkarya.

Nada miring jelas menyambangi saat perpindahan jalur terjadi, secara ekstrem pula. Terlebih lagi, sasaran langkah berikutnya adalah menuju posisi orang nomor satu di negeri. 

Ini cerita Giring. Ini profil Giring.

ɤ

NEKAT. Mungkin ini kata yang pantas disematkan pada sosok Giring Ganesha atau yang pernah populer dengan nama Giring Nidji.

Bagaimana tidak? Gemerlap dunia panggung sebagai vokalis Nidji, band beraliran Britpop, dia tinggalkan.

Semua bermula dari perhelatan Pemilu Presiden 2014.

Masih aktif di dunia panggung hiburan, Giring saat itu terjun menjadi relawan pendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Karena Jakarta di bawah Pak Jokowi (sebagai gubernur) mengalami banyak perbaikan. Saya ingin apa yang masyarakat Jakarta dapatkan juga didapatkan seluruh masyarakat Indonesia," kata Giring tentang pilihannya menjadi relawan itu, Rabu (3/3/2021).

Langkahnya menjadi relawan itu berlanjut. Dia memutuskan terjun ke partai politik. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) jadi labuhan.

Pada hari ini, Giring adalah Plt Ketua Umum PSI. Tanpa tedeng aling-aling, dia pun sudah mematok sasaran berikutnya, menjadi calon presiden di Pemilu 2024.

Berbincang dengan tim JEO Kompas.com di Kantor DPP PSI di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Giring bertutur tentang semua kelok perjalanan hidupnya ini. 

Kalau mau langsung ke video perbincangan Giring Ganesha dengan tim JEO Kompas.com, klik ini atau lompat saja ke bagian ini di artikel ini

Profil Giring Ganesha - (KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO)

DARI NIDJI KE PSI

GAYA "petik jambu" alias kedua tangan yang dinamis bergerak ke atas, adalah ciri Giring saat menjadi vokalis Nidji. Perjalanan bermusiknya juga tak instan.

Giring mengaku sudah bermusik sejak masih berseragam putih biru, alias SMP. Aneka panggung sudah dijajaki, dari pentas seni (pensi) sampai panggung besar festival dan konser. 

Puncak karier bermusik Giring tentu adalah Nidji. Sejumlah penghargaan dari karya musiknya didapat di periode ini. 

Pembentukan Nidji pun bermula dari panggung pensi SMA. Di situ dia bertemu dengan satu-satu personel yang belakangan dikenal sebagai Nidji itu.

Soal gaya yang lalu jadi ciri khasnya, Giring tak menampik ada banyak sosok menginspirasi, termasuk Chris Martin. 

"Saya itu kan orangnya suka ATM, amati tiru modifikasi. Waktu itu yang paling impact full ke saya adalah Chris Martin. Coldplay kan keren banget," aku Giring, dalam perbincangan dengan Kompas.com, Rabu (3/3/2021).

Dari banyak panggung yang dijajaki dan gaya yang dicoba sepanjang bermusik sejak SMP, ternyata gaya "petik jambu" di lagu Hapus Aku jadi trendsetter

"Gue selalu merasa kalau lagi menyanyikan sebuah nada secara visualisasi ada sesuatu yang ingin gue pegang, gue raih. (Gaya itu) terus dimodifikasi lagi pakai high stick. Itu sesuatu yang saya coba amati, tiru, modifikasi," ungkap Giring.

Dari sekian banyak panggung yang jadi testing lab dalam bahasa Giring, Soundrenaline pada kurun 2005-2006 adalah satu yang dia langsung sebut dan ceritakan dengan bersemangat. 

Selesai manggung yang dapat jadwal pukul 13.00 WIB, Giring mengaku pada waktu itu enggak langsung pulang. 

"Kapan lagi bisa satu panggung sama Dewa, Slank, Padi, Sheila on 7?" kenang dia. 

Dari samping panggung, dia amati cara para musisi itu berinteraksi dengan audiens. 

"Oh, jadi mas Ari Lasso cara ngomongnya ke penonton gitu. Oh, mas Bimbim itu begini. Saya serap saja, saya coba-coba," lanjut Giring tentang proses performance bermusiknya dulu. 

Soal visi, perjalanan bermusik sudah pula menggambarkannya. Sejak pertama kali Nidji dibentuk, mereka sudah punya konsep masuk dapur rekaman. Karenanya, mereka juga bikin lagu sejak awal. 

Namun, perjalanan tak semudah membalik telapak tangan. Demo mereka pada awal-awal keberadaannya ditolak label musik.

"Gaya gue nyanyi kayak Fadli, musik kami kayak Padi... (Kiriman demo ke label) ditolak semua. (Waktu ditanya), karena Padi banget. Buat apa ada Padi lagi di dunia ini?" ungkap Giring.

Di titik itu, satu personel lagi masuk ke grup yang waktu itu masih bernama Niji, kata dari bahasa Jepang yang berarti pelangi. 

"Randy masuk, eranya new wave. Ada The Killers, The Stroke, Interpol, dan lain-lain. The Upstairs manggung itu gila keren banget. Akhirnya kami lucu-lucuan coba-coba, eksperimen sound ada keyboard dan lain-lain," tutur Giring.

Dari sana titik terang mulai datang. Heaven jadi lagu besutan pertama mereka dalam "selera" baru, disusul Child. Demo berisi dua lagu ini lalu mereka jual lewat jalur Indie sembari rutin manggung di EX. 

Soal manggung ini penting disebut, karena itu juga titik penting dalam perjalanan Nidji. Enggak sengaja, ada produser label Musica, Indrawati Widjaja, ada di lokasi yang sama saat mengantar sang mama berobat mata.

Menurut Giring, Indrawati pun tak seketika merekrut Giring dan kawan-kawan. Terlebih lagi, dia ke sana adalah mengantar berobat mamanya. 

"Bu Acin (panggilan Indrawati) waktu itu berdoanya, 'Ya Tuhan, hari ini saya niatnya nganterin ibu saya, bukan merekrut artis baru. Tapi kalau sampai ketemua sama anak-anak ini lagi minggu depan, saya tanda tangan (kontrak perekrutan)," tutur Giring.

Dan ternyata terjadilah. Nama baru pun menempel, dengan sisipan huruf "d". Dari Niji menjadi Nidji. 

"Bu Acin ngasih masukan (soal ejaan nama itu)," aku Giring.

Tak ada perubahan arti dari nama tersebut. Tetap pelangi. Hanya rasa yang diberi sentuhan dengan penggunaan ejaan lama tersebut. 

Berdiri pada 2002, masuk dapur rekaman pada 2005, dan melempar album perdana pada 2006, Nidji boleh dibilang layak masuk daftar grup band yang punya warna tebal di industri musik Indonesia, terutama di tahun-tahun pembuka abad milenial.

Salah satu tulisan di blog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahkan menyebut, selepas era Nidji industri musik Indonesia kesulitan menghadirkan lagi massa di acara-acara festival grup lokal. Konteks yang dipakai sebagai pengukuran adalah Soundrenaline. 

Setidaknya itu pada masa-masa hingga tulisan tersebut diunggah...

Titik-titik puncak Nidji adalah era ketika mereka melahirkan double album Liberty Victory. 

Menurut Nidji, album soundtrack film 5 cm, Tenggelamanya Kapal Van Der Wijk, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi lahir di masa Nidji sedang prima-primanya.

"Prima-primanya untuk tidak pakai ego, menurunkan semua egonya, kreativitas masuk dan akhirnya menghasilkan karya long term yang bagus," ujar Giring.

Dan, capaian Nidji yang Giring sebut sebagai puncak dari demokratisasi seni dalam berkarya itu bukanlah lembaran yang terputus begitu saja dengan langkah Giring berikutnya, baik di dunia bisnis maupun politik.  

"Ide yang terbaiklah yang menang dan itu gue terapkan di perusahaan gue dan di partai ini," tegas dia.

Melangkah ke dunia politik...

Bermula dari relawan pendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2014, Giring memutuskan masuk dunia politik. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) jadi labuhan.

Maju menjadi calon legislatif memakai gerbong PSI pada Pemilu 2019, gagal ke Senayan karena partainya terganjal parliamentary treshold partai politik—bukan karena kurang suara pemilih—, Giring saat ini adalah Plt Ketua Umum PSI. 

Baca juga: Ini Perolehan Suara Para Artis di Dapil Neraka Kota Bandung-Cimahi

Alasannya mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2014, seperti ada di pengantar tulisan ini, adalah karena berharap kebaikan yang didapat Ibu Kota selama Jokowi jadi gubernur dapat dirasakan pula oleh seluruh rakyat Indonesia.

Giring pun melihat sosok Jokowi berbeda dibandingkan elite politik lain.

“Dulu politik hanya tempat elite berkompromi dan saling mengejar kekuasaan, tiba-tiba saya melihat ada orang yang mengejar kekuasaan tapi untuk rakyat, untuk memperbaiki. Ini yang membuka mata saya,” lanjut dia.

Itu juga tak serta-merta mendorong Giring terjun sepenuhnya ke dunia politik. Dia masih bermusik. Namun, dalam fase perjalanan itu, dia menyempatkan diri berdiskusi dengan sejumlah tokoh PSI.

Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).
KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).

Dari situ, dia mendapat bahan bakar untuk memantapkan hati melaju di dunia politik.

“Bahwa partai politik itu cuma satu-satunya alat agar kita bisa masuk ke dalam sistem dan melakukan perbaikan. Kekuasaan di dalam politik harus dipakai untuk rakyat,” tutur Giring.

Dia pun menampik bila pilihannya terjun ke dunia politik sebatas cari sensasi. Giring menyebut dirinya sebagai manusia dengan keinginan besar sekaligus cinta banget dengan Indonesia.

"Plus, dalam beberapa tahun ini Indonesia sudah memberikan begitu banyak buat saya, buat keluarga saya, buat karier saya di musik, buat karier saya di bisnis," imbuh Giring.

Jokowi jadi satu faktor tersendiri, sebagai figur yang menurut Giring membuktikan bahwa seseorang tanpa latar belakang darah biru dan dinasti bisa menjadi pemimpin negara.

"Itu kan membuka mata banyak banget orang," tegas dia.

Giring pun menilai para seniornya di PSI mendirikan partai ini untuk menjadi wadah bagi orang-orang yang punya potensi untuk menjadi "the next Jokowi".

"Kami ingin menjadi kendaraan bukan untuk orang-orang elite," ujar Giring.

Layar pun dikembangkan. Giring mantap keluar dari band yang membesarkan namanya dan memutuskan berkiprah politik melalui PSI. 


MASA KECIL, DAPUR PSI, DAN CAPRES 2024

Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).
KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).

USUT punya usut, benih kesukaan Giring pada politik tidak ujug-ujug mekar begitu saja. Pria kelahiran Bandung, 14 Juli 1983 itu tertarik dengan dunia politik sejak masih kecil.

Adalah sang ayah, Djumaryo Imam Muhni, yang memberi banyak perspektif tentang politik sejak Giring masih bocah.

“Bokap dulu jurnalis perang. Jadi ngomong-nya tiap hari politik melulu,” ujar Giring.

Cerita sang ayah tentang dinamika Indonesia di bawah kepemimpinan proklamator Ir Soekarno juga tidak luput dari telinga Giring.

Itulah salah satu sebab Giring begitu mengidolakan Soekarno, selain sejumlah tokoh besar dunia semisal Abraham Lincoln dan Winston Churchill.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Giring Ganesha (@giring)

Meski demikian, Giring remaja lebih memilih bermusik sebagai sarana mengekspresikan diri.

Sosok sang ibu juga punya warna besar bagi perjalanan Giring. Selain dari ayah, Giring melihat etos kerja keras sang ibu sebagai contoh penting kasat mata yang turut membentuk karakter dirinya.

"Ibu seorang yang hands on dan pekerja keras, sampai bikin perusahaan sendiri juga. Walaupun dia bisa bekerja dari rumah, dia walaupun sudah tua tetap ke kantor," tutur dia.

Menjadi contoh dan bekerja keras, ungkap Giring, adalah dua prinsip yang dia warisi dari kedua orangtuanya.

Sang ayah, selain menjadi wartawan foto juga adalah kurator lukisan dan mau terjun sendiri ke lapangan ketika ada event pameran sedang dia kerjakan. 

Balik ke karier musik, Giring menyinggung sentilan sang ibu sebagai satu momen penting.

Di awal pembentukan grup band-nya, mereka selama setahun berkutat membuat lagu dan latihan. Ini karena mereka punya konsep masuk dapur rekaman yang itu berarti harus ada lagu milik sendiri.

"Akhirnya nyokap gue bilang gini, 'Mas Giring latihan mulu, kapan manggungnya?' Dari situ kita sadar harus bawain lagu orang dulu...."

Mulai membawakan lagu-lagu orang, Niji—nama awal grup ini sebelum masuk dapur rekaman—mulai ditengok orang buat manggung jadi in house band.

"Yang nonton banyak. Orang bela-belain datang cuma buat nonton kami. Di situ kami punya duit, (bisa) bikin demo isinya dua lagu, Child sama Heaven."

Dari manggung rutin itulah jalan bagi Giring dan kawan-kawan memasuki blantika musik Indonesia terbentang.

Dapur rekaman benar-benar bisa dimasuki. Lima album dikeluarkan. Aneka penghargaan musik didapat. 

Namun, bagi Giring, momen terbaiknya adalah ketika ada seorang nenek berterima kasih untuk lagu Laskar Pelangi.

Beliau mengaku baru saja menjalani mastektomi dan tak lalu dirundung sedih karena mendengar lagu itu tiap hari. 

"I think, that is the best moment of my life, kalau dibilang pencapaian (selama bermusik) ya. Saya tidak pernah menyangka, dari satu nada dan saya tulis, bisa menginspirasi orang untuk bersyukur, untuk lebih semangat hidupnya," ujar Giring.  

Bukan berarti pula tak ada capaian lain selama berkarier musik. Di antara capaian-capaiannya bersama Nidji adalah: 

Dapur PSI

Semua kisah Giring sebagai anak, remaja, dan musisi tak terputus begitu saja dengan langkahnya terkini sebagai orang partai.

Terlebih lagi, ada masa di antara musisi dan kiprah partai politik ini Giring membangun dan menjalankan perusahaannya sendiri.

Menurut Giring, gaya kepemimpinan dengan menjadikan diri sebagai contoh dan kerja keras tak akan mati di segala tempat dan posisi. 

Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).
KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).

Berangkat dari sejarah partainya juga, Giring berkeyakinan partai tanpa backup darah biru dan dinasti ini tetap akan bisa menjadi bagian dari proses perbaikan bangsa dan negara.

"Kami 100 persen didukung publik. Kami public own party, dimiliki publik, didanai publik, didanai simpatisan. Kami di-support sama semua pengusaha yang suka sama platform kami," ujar Giring. 

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memimpin dengan memberi contoh.

~Giring Ganesha~

Komitmen balik yang diberikan partainya kepada para pendukung dan pemilik ini, ungkap Giring, adalah kerja yang benar. Tidak ada yang korupsi, salah satunya.

Para calon legislatif di semua jenjang yang diusung PSI, misalnya, dipersyaratkan tak pernah melakukan korupsi. Dalam ujian untuk bisa menjadi caleg, ditanyakan juga cara untuk tidak terjebak korupsi dan bagaimana cara berkontribusi memberantas korupsi. 

"Ketika pencalegan, kami benar-benar menyaring, tidak boleh ada orang yang pernah kena kasus korupsi," tegas dia. 

Dia pun sungguh-sungguh berharap tak pernah akan ada kader PSI yang terjerat perkara korupsi. 

"Amit-amit sih. (Kalau sampai ada), kami bawa ke KPK. Yang pasti saya akan minta maaf (kalau ada yang korupsi), walaupun bukan saya yang korupsi tapi itu salah satu kader saya," ujar Giring. 

Penikmat jengkol yang naik bobot 5 kilogram selama blusukan dan disuguhi menu jengkol ini menyebut bahwa manusia itu berproses.

Ini berlaku pula pada proses partainya yang pada Pemilu 2019 masih belum lolos parliamentary treshold untuk mengirimkan kader ke Senayan.

"Saya itu tipe-tipe orang yang tidak mau gunakan kata-kata PSI kalah. Saya enggak mau. Saya mau bilang PSI kemarin tidak diberi kesempatan aja," tegas Giring.

Meski demikian, Giring berpendapat proses itu pun jadi pelajaran maha berharga bagi internal partainya. 

"Ada proses membumi. Supaya tahu rasanya gagal. Kalau enggak, mungkin tidak akan jadi manusia yang baik," kata dia. 

Mendapat kepercayaan menjadi Plt Ketua Umum PSI bagi Giring adalah tanggung jawab.

Lagi-lagi, dia menjalankan peran ini dengan menerapkan prinsip bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memimpin dengan memberi contoh. 

"Wibawa saya menurut saya adalah yang paling penting bagaimana menjadi pemimpin yang leading by example," ungkap Giring.

Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).
KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).

Lalu, lanjut Giring, pemimpin yang baik juga harus bisa mencari tahu siapa yang bisa menjalankan suatu tugas dan mengeksekusinya dengan baik. 

Yang membedakan cara kelola partai dengan perusahaan atau saat dia bermusik, menurut Giring ada pada cara pendekatan dan indikator target capaian kinerja. 

"KPI di perusahaan kan sales. Kalau di sini, KPI-nya bagaimana (hasil) survei selalu naik setiap bulan dan tahun, lalu bagaimana nanti di 2024 menang, masuk parlemen, lebih banyak anak muda duduk di DPRD," sebut dia. 

Di partai, gaya kepemimpinan yang dijalankan Giring adalah egaliter. Setiap pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan ide terbaik.

"Tidak ada tusuk-tusukan dari belakang karena kami semua punya visi yang sama. Kami saling support," kata dia.

Giring pun merasa para seniornya di PSI memberi dia banyak kesempatan untuk proses pengambilan keputusan dan pengembangan diri. Sebaliknya, di hal-hal yang Giring merasa tak kapabel melakukannya, dia leluasa untuk meminta bantuan dan dukungan. 

Dia mengaku tidak percaya ada orang yang sanggup menjadi laiknya superman. Namun, yang harus terjadi, superman itu mewujud sebagai super-team yang saling bantu dan dukung. 

"Semua bergerak di rodanya masing-masing tapi tetap dalam tujuan yang sama," tegas dia.

Rencana jadi capres 2024

Langkah Giring terus berlanjut. Kontestasi kepemimpinan nasional pada 2024 adalah sasaran berikutnya. Deklarasi sudah dilakukan, tinggal bagaimana mewujudkannya.

“Saya memang ditakdirkan to lead. Jadi me-lead partai atau me-lead negara ini, memang sudah di situ,” ujar Giring.

Pendidikan jadi salah satu fokus dalam menyusuri langkah tersebut bersama partainya. Ini juga jadi pesan utama yang digulirkan partainya pada 2021. 

"Kita lagi dikejar-kejar bonus demografi, dikejar-kejar persaingan di tingkat ASEAN. Kalau memang kualitas SDM belum mumpuni, sangat bahaya," ujar dia.

Bukan berarti isu lain tak jadi sorotan. SDM, misalnya, terkait erat dengan pemberdayaan dan nilai tambah ekonomi. 

Lalu, ada isu pemanasan global bahkan eksplorasi luar angkasa.

"Saya percaya mestinya Indonesia bisa menciptakan begitu banyak invention teknologi. Negara-negara hebat karena mereka bisa menciptakan inovasi teknologi," lanjut dia.

Balik ke topik pendidikan, dia mendukung ide penghapusan ujian nasional. Menurut dia, yang harus digali dari setiap anak adalah bakat masing-masing. 

Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).
KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, dulu dikenal sebagai Giring Nidji. Foto diambil pada Rabu (3/3/2021).

Giring juga mengakui ada persoalan literasi di Indonesia. Tak bisa dimungkiri bahwa anak sekarang cenderung lebih menyukai tampilan visual. 

"Memang beda generasinya. (Tapi) yang bisa kita lakukan adalah by example," ujar Giring. 

Giring mengaku suka baca dan merasa khawatir juga dengan tren literasi rendah di Indonesia. Di sinilah, kata dia, ada tugas untuk menginspirasi generasi penerus agar tetap suka membaca. 

"Yang paling penting adalah bagaimana memberi contoh ke anak-anak bahwa baca buku itu penting. Oneday, pada titik-titik tertentu pasti mereka akan melakukannya."

Rentetan semua persoalan ini juga yang menguatkan Giring dan partainya untuk terus melaju di kancah politik, dengan menjadikan anak-anak muda sebagai pelaku. 

"Kalau mereka (anak muda) sampai apatis, dampak terbesar adalah mereka akan kena. Karena yang mengisi kursi-kursi pembuat kebijakan adalah orang-orang yang tidak mengerti kepentingan anak muda," tegas Giring.

Terlebih lagi bila yang jadi sorotan adalah situasi bangsa dan negara. Perbaikan hanya bisa dilakukan dengan lebih baik, lebih cepat, dan lebih signifikan ketika yang ingin memperbaiki ada di dalam sistem.

"Kalau mau masu ke sistem dan memperbaikinya, satu-satunya cara adalah menjadi bagian dari suatu partai dan masuk ke dalam sistem, melakukan perbaikan," kata dia. 

Meskipun, Giring juga percaya bahwa setiap manusia punya peran masing-masing dalam hidup. Masuk ke sistem lewat partai politik adalah satu dari banyak peran yang ada dalam kehidupan.

Dengan pemahaman ini, Giring menekankan kepada bro dan sis di partainya bahwa menempuh jalan partai adalah menempatkan diri menjadi pelayan publik. 

"Mental semua yang ada di PSI adalah pelayan masyarakat. Kami mau masuk ke dalam sistem dan memperbaiki, bukan mencari kekayaan," lanjut Giring.

Pada akhirnya, upaya ini bertujuan menciptakan warisan bagi anak cucu. 

"Bahwa sistem itu harus terus diperbaiki untuk menghadapi perubahan zaman. Juga bagaimana kita bisa memperbaiki bangsa agar bisa lebih baik lagi," tegas dia. 

ɤ

Kepada tim JEO Kompas.com, Giring bercerita semua hal itu. Ada kalanya dia berekspresi antusias, ada waktunya kehati-hatian hingga ke pilihan kata yang tampak. 

Percakapan utuh itu bisa disimak di video berikut ini:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.