JEO - Tokoh




Profil Retno Marsudi

Senin, 1 Februari 2021 | 09:28 WIB

NOBODY, ANAK GUNUNG,
 PEREMPUAN PERTAMA 
JADI MENLU INDONESIA

Jalan pengabdian juga mempertemukan lagi Retno Marsudi dan Sri Mulyani Indrawati, teman SMA yang kini runtang-runtung di Kabinet Indonesia Maju buat urusan negara.

Ini profil, kisah hidup, dan spirit Retno Marsudi.

RETNO Lestari Priansasi Marsudi. Orang lebih mengenalnya sebagai Retno Marsudi.

Betul, dia adalah Menteri Luar Negeri Indonesia untuk dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Penampilan Retno ringkas, praktis, dan cukup sederhana, apalagi untuk seorang menteri. Kalau rapi, itu pasti. Bagaimanapun, dia adalah diplomat kawakan.

Dia, misalnya, sekian lama kerap mengenakan bando kain untuk menutupi rambut pendeknya. Baru beberapa waktu belakangan bando itu tak lagi sering terlihat. 

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi berbicara dalam acara Kompasianival 2016 di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Sabtu, (8/10/2016).
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi berbicara dalam acara Kompasianival 2016 di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Sabtu, (8/10/2016).

Yang mungkin orang juga tidak banyak tahu adalah soal masa kecilnya. Dia mengaku tidak berasal dari keluarga berada.

"Saya ini nobody. Boleh mimpi, tapi takut mimpinya ketinggian," ujar Retno menyebut versi dirinya pada masa lalu, dalam perbincangan virtual dengan Kompas.com pada medio Januari 2021.

Karier dan capaiannya sebagai diplomat adalah buah perjalanan panjang dari orang biasa tanpa privilege. Hasil dari kemauan, kegigihan, kapasitas, dan ketangguhan.

Jalan Retno menjadi diplomat berawal dari tayangan di layar kaca televisi pemerintah alias TVRI. Itu pun karena keinginan teramat sederhana dari seorang kanak-kanak.

Tepatnya, gara-gara menonton tayangan Dunia dalam Berita, yang tayang di TVRI setiap pukul 21.00 WIB. 

"Oh iya, ya, kalau jadi (jadi) diplomat itu pasti ke luar negeri," ungkap Retno tentang pikirannya setiap kali melihat tayangan tersebut, di satu-satunya saluran televisi yang saat itu ada di Indonesia.

Apakah cerita masa kecilnya punya korelasi dengan tugasnya sekarang sebagai perempuan pertama yang menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia, yang bahkan berjalan untuk dua periode hingga pada saat ini?

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) berbincang dengan dua WNI yang sebelumnya menjadi sandera kelompok gerilyawan Filipina Abu Sayyaf, Maharudin (kanan) dan Samiun (tengah) usai acara serah terima ke pihak keluarga di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (26/12/2019). Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Filipina berhasil membebaskan dua WNI yang telah disandera selama 90 hari pada 22 Desember 2019. Saat ini masih ada satu sandera, Muhammad Farhan, yang sedang diupayakan pembebasannya.
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) berbincang dengan dua WNI yang sebelumnya menjadi sandera kelompok gerilyawan Filipina Abu Sayyaf, Maharudin (kanan) dan Samiun (tengah) usai acara serah terima ke pihak keluarga di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (26/12/2019). Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Filipina berhasil membebaskan dua WNI yang telah disandera selama 90 hari pada 22 Desember 2019. Saat ini masih ada satu sandera, Muhammad Farhan, yang sedang diupayakan pembebasannya.

Seperti apa pula pertemanan Retno dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang ternyata sudah saling kenal selama puluhan tahun? 

Ada banyak detail lain yang patut disimak juga dari perbincangan—yang terasa kurang lama—dengan Retno ini.

Salah satu yang sayang buat dilewatkan adalah cara dia sebagai perempuan melewati tantangan hingga mencapai puncak tertinggi karier diplomat di Kementerian Luar Negeri.

MASA KECIL:
NOBODY

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengikuti rapat bersama Komisi I DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (22/9/2020). Rapat membahas diplomasi vaksin virus Corona (COVID-19), perlindungan WNI di masa pandemi, dan perdagangan Indonesia di masa pandemi. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengikuti rapat bersama Komisi I DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (22/9/2020). Rapat membahas diplomasi vaksin virus Corona (COVID-19), perlindungan WNI di masa pandemi, dan perdagangan Indonesia di masa pandemi. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

BAGI Retno, kesusahan dan keterbatasan bukanlah kata-kata kosong yang berjarak. 

"Itu saya jalani, bukan teori yang saya enggak kenal. Masa kecil saya adalah itu," ujar dia.

Retno menyebut dirinya berasal dari keluarga orang yang teramat biasa, bukan orang berada. 

"Enggak punya duit, semua terbatas, dan sebagainya, saya kenal semua," tegas dia.

Lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 27 November 1962, semua pendidikan yang ditempuh Retno hingga jenjang sarjana adalah di sekolah negeri. 

"Inggih, saya sampai SMA di Semarang. Terus, (ketika) mahasiswa saya ke Yogya," sebut dia.

Sekolah dasar (SD) dia tempuh di SD Randusari. Hingga saat ini, sekolah tersebut masih berdiri. Namun, Retno menyebut lokasinya sudah tidak persis sama dengan saat dia bersekolah di sana dulu.

Lulus SD, dia melanjutkan pendidikan di SMPN 3 Semarang. Meski menyebutnya sebagai yang terbaik pada masanya di kota itu, Retno tampak lebih terkenang dengan banjir yang menggenangi sekolah itu tiap tahun.

"Kalau banjir, wah, kami malah (berangkat) sekolah, terus main air," kenang dia. 

SMAN 3 Semarang jadi langkah Retno sekolah berikutnya. Pada suatu masa, ini juga lagi-lagi sekolah terbaik di Semarang. 

Di sekolah inilah dia pertama kali kenal dengan Sri Mulyani Indrawati yang sekarang juga ada di Kabinet Indonesia Maju sebagai Menteri Keuangan.

"Satu angkatan. Jadi, saya kenal Bu Menkeu itu sudah 40 tahunan ya," kata Retno.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati)

Namun, bukan juga mereka sudah runtang-runtung bersama pada waktu itu. Kegiatan mereka sewaktu SMA tidak sama, itu saja persoalannya.

"Masing-masing siswa-siswi itu kan ada (kegiatan) ekstrakurikulernya. Kalau Bu Ani (panggilan Sri Mulyani) ke basket, saya ke Pramuka. Tapi kami kenal, kenal baik," ungkap dia.

Minat jurusan dan lokasi kampus pilihan kemudian memisahkan mereka selama sekian waktu.

Retno memilih kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengambil jurusan Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Adapun Sri Mulyani bertolak ke Ibu Kota, menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI).

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati)

Pertemuan kembali Retno dan Sri Mulyani baru terjadi lagi ketika telah sama-sama menapaki jenjang karier yang cukup menjulang di pemerintahan, meski Retno belum ada di Kabinet. Betul, Sri Mulyani memang lebih awal berkiprah di kabinet. 

Cerita Retno dan Sri Mulyani tidak berhenti di sini. Nanti ada lagi bagian tulisan yang membahas pertemanan mereka, masih di tulisan ini juga.

 

 

JADI DIPLOMAT
GARA-GARA
TAYANGAN TVRI...

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di salah satu pertemuan di sela agenda Sidang Majelis Umum PBB pada September 2018.
DOK KEMENTERIAN LUAR NEGERI VIA INSTAGRAM/@RETNO_MARSUDI
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di salah satu pertemuan di sela agenda Sidang Majelis Umum PBB pada September 2018.

KEINGINAN Retno menjadi diplomat telah terbersit sejak dia SMP. Seperti sudah dicuplik sekilas di atas, semua bermula dari tayangan Dunia dalam Berita di layar TVRI.

"Seorang Retno kecil ini kalau melihat Dunia dalam Berita, sebelum tidur, melihat kerja diplomat, (yang terpikir) simple banget," tutur dia.

Pikiran simple itu ya soal diplomat pasti ke luar negeri tadi. Dia tidak menampik, buat anak sekarang urusan pergi ke luar negeri barangkali bukan lagi hal yang wah bahkan bisa jadi teramat biasa.

"Tapi untuk (generasi) kami dulu, pergi ke luar negeri adalah sesuatu yang sangat luxurious. Buat saya, Retno pada saat itu, sudahlah, forget it, enggak mungkin, sangat enggak mungkin," lanjut Retno.

''Kalau ditanya apakah memang dari kecil ingin jadi diplomat, jawabannya iya.''

Jangankan ke luar negeri, Retno mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki ke Ibu Kota ya saat dia mulai bekerja. Komentar pertama dia, "Kok gedungnya (di Jakarta) ada yang tingkat."

"Intinya, berawal dari hal sederhana, kayaknya kok enak pergi ke luar negeri, jadi diplomat. Kalau ditanya apakah memang dari kecil ingin jadi diplomat, jawabannya iya," kata dia.

Namun, Retno tentu saja tak pernah bermimpi suatu hari menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia. 

Meski dari bayangan sederhana kanak-kanak, cita-cita itu benar-benar Retno jalani hingga mewujud. Semisal, saat penentuan jurusan yang ingin dimasuki, dia memilih hubungan internasional. 

"Karena di Semarang, Undip, enggak ada jurusan hubungan internasional maka yang paling dekat—dan akar keluarga saya juga datang dari Yogyakarta—, kembalilah saya ke Yogyakarta mengambil sekolah jurusan hubungan internasional di UGM," ungkap Retno.

Di UGM, Retno—angkatan 1981—tak berlama-lama. Dia salah satu lulusan tercepat, kalau tidak yang paling cepat, di jurusannya waktu itu. Cukup 3,5 tahun dia selesaikan kuliahnya.

Masuk ke Kementerian Luar Negeri—waktu itu Departemen Luar Negeri—juga karena dia terlacak jalur beasiswa dari institusi ini, sebagai mahasiswa berprestasi.

Kariernya di dunia diplomatik pun dimulai....

 

PEREMPUAN
DAN DIPLOMAT

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat menghadiri 25th Meeting of the ASEAN Coordinating Council (ACC) secara virtual, Kamis (9/4/2020).
DOK KEMENTERIAN LUAR NEGERI INDONESIA
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat menghadiri 25th Meeting of the ASEAN Coordinating Council (ACC) secara virtual, Kamis (9/4/2020).

IBU dua anak dari perkawinannya dengan Agus Marsudi ini tak menampik, perempuan karier apalagi jadi diplomat bukanlah hal sederhana.

Namun, tegas dia, bukan berarti perempuan tidak bisa seiring menjalankan peran sebagai perempuan dan ibu sembari tetap berkarier cemerlang.

 "Cuma memang tantangannya lebih besar. Pasti itu," aku dia.

Maka, mengalirlah cerita Retno tentang perjalanannya hingga puncak karier diplomat di Kementerian Luar Negeri...

"Bicara diplomasi, banyak orang melihat ini dunia laki-laki. Saat saya masuk ke Kementerian Luar Negeri, iya (begitu situasinya)," ujar Retno.

Dia pun tak membantah persepsi yang sama sempat lekat di benaknya. Bagaimana tidak?

Komposisi diplomat ketika Retno mulai menempuh jalan ini hanya 10 persen yang perempuan.

Dari jumlah itu pun tak semua bisa berlanjut kariernya, entah karena memang memutuskan berhenti atau menikah dengan sesama diplomat Indonesia.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi (dua kanan) , Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (tengah), Duta Besar Jerman untuk PBB Christoph Heusge (tiga kiri), dan Koordinator Politik Misi Perancis untuk PBB Antoine Michon (dua kiri), terlihat mengenakan batik saat hadir dalam Sidang Dewan Keamanan PBB yang bertempat di markas besar mereka di New York, Amerika Serikat, Selasa (7/5/2019).
DOK KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi (dua kanan) , Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (tengah), Duta Besar Jerman untuk PBB Christoph Heusge (tiga kiri), dan Koordinator Politik Misi Perancis untuk PBB Antoine Michon (dua kiri), terlihat mengenakan batik saat hadir dalam Sidang Dewan Keamanan PBB yang bertempat di markas besar mereka di New York, Amerika Serikat, Selasa (7/5/2019).

Dulu, lanjut Retno, berlaku larangan menikah di antara sesama diplomat Indonesia. Bila tetap menikah, salah satu harus memilih keluar. Larangan ini sekarang sudah dicabut.

"Sekarang sudah boleh, dua-duanya diplomat menikah, dua-duanya penempatan. Perempuan di-treat exactly equal dengan laki-laki," ungkap dia.

Situasi pun lalu berbalik, meski tak seluruhnya. Retno menyebut, dalam perekrutan diplomat pada hari-hari ini bukan hal aneh bila sampai 51 persen yang diterima justru perempuan.

"Dan mereka (perempuan diplomat) hebat-hebat semua," tegas Retno.

Buat makin menegaskan, Retno pun menyebut tim di kementeriannya yang berjibaku mengurus diplomasi vaksin di tengah pandemi Covid-19 pun diisi mayoritas perempuan.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi bersama pegawai Kementerian Luar Negeri mengenakan baju daerah untuk memperingati Hari Kartini di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (21/4/2017). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi bersama pegawai Kementerian Luar Negeri mengenakan baju daerah untuk memperingati Hari Kartini di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (21/4/2017). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Meski demikian, Retno mafhum bila anggapan bahwa diplomasi adalah dunia laki-laki tak lalu enyah. 

"Kami kerja enggak ada batasan waktu, enggak ada batasan ruang. 24 (jam) 7 (hari), kapan pun disuruh pergi, harus bisa," tutur dia.

Masuk akal juga, karena pekerjaan diplomat berhubungan dengan negara lain yang belum tentu berada di satu zona waktu dengan Indonesia. 

"Nah, ini kadang-kadang kemudian digandengkan dengan peran perempuan—tanggung jawab pada anak, kepada keluarga, dsb—, terus disimpulkan sendiri bahwa ini kayaknya enggak klop deh. Padahal ya klop-klop saja," tutur Retno.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi (nomor empat dari kanan) berfoto bersama para menteri luar negeri dan duta besar untuk PBB dari Jerman, Afrika Selatan, Republik Dominica, dan Belgia, di sela Sidang Umum Dewan Keamanan PBB, di Markas PBB, New York, Amerika Serikat. Gambar diambil pada 8 Juni 2018.
AFP/DON EMMERT
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi (nomor empat dari kanan) berfoto bersama para menteri luar negeri dan duta besar untuk PBB dari Jerman, Afrika Selatan, Republik Dominica, dan Belgia, di sela Sidang Umum Dewan Keamanan PBB, di Markas PBB, New York, Amerika Serikat. Gambar diambil pada 8 Juni 2018.

Retno tidak sedang berteori. Dia sudah menjalani dan melewatinya. 

Saat berbincang dengan Kompas.com, Retno pun menyitir rasanya saat dia masih diplomat muda sekaligus ibu muda dengan anak-anak yang masih kecil. 

Di keseharian, urusan mengurus anak tak beda dengan ibu yang lain. Itu mulai dari memandikan, kasih makan, hingga antar sendiri ke sekolah satu per satu, dan barulah dia ke kantor.

Ingat, kantor dan domisili Retno pun sering berarti di luar negeri, karena penempatan. Di Indonesia pun, saat jeda penempatan, itu berarti di Jakarta.

"Belum lagi kalau tiba-tiba ditelepon oleh sekolah (atau) anaknya sakit. Lompat lagi ke sana. Pokoknya serunya setengah mati!" tutur dia mengenang hari-hari itu.

Namun, sekali lagi, dia membuktikan semua itu bisa terlewati, dari keberadaan dirinya saat ini. Menjadi perempuan pertama di Indonesia yang menjadi Menteri Luar Negeri adalah bukti bahwa perempuan bisa menyandingkan keluarga dan karier, bahkan di ranah diplomasi.

"Saya selalu kasih encouragement ke teman-teman diplomat (perempuan) yang muda. Berat, iya. Tantangan besar, iya. Tapi, bisa!"

Empat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia yang sempat ditahan oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina disambut  Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (13/5/2016). Keempat ABK kapal tunda Henry disandera kelompok Abu Sayyaf saat berlayar menarik tongkang Christy kembali ke Tarakan, Kalimantan Utara, dari Cebu, Filipina. Pembajakan terjadi di perairan timur bagian Sabah, Malaysia, Jumat (15/4/2016).
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Empat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia yang sempat ditahan oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina disambut Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (13/5/2016). Keempat ABK kapal tunda Henry disandera kelompok Abu Sayyaf saat berlayar menarik tongkang Christy kembali ke Tarakan, Kalimantan Utara, dari Cebu, Filipina. Pembajakan terjadi di perairan timur bagian Sabah, Malaysia, Jumat (15/4/2016).

 

RETNO MARSUDI
DAN SRI MULYANI:
SURATAN

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Retno Marsudi (@retno_marsudi)

 

INI kembali ke kisah Retno dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Seperti dibilang di depan, mereka berdua sudah kenal baik sejak SMA. 

Kuliah dan kampus berbeda, merentangkan jarak di antara mereka untuk sekian waktu. Lagi pula, ada masa mereka berjibaku di dunia masing-masing.

"Sampai di titik, kami dua-duanya ada di pemerintahan, tentu dengan posisi yang berbeda, dan (mulai) semakin lebih sering ketemu pada saat saya sudah menjadi duta besar," tutur Retno.

Salah satu yang diingat betul oleh Retno adalah ketika dia menjadi Duta Besar Belanda dan Sri Mulyani berkarier di Bank Dunia (World Bank). Suatu kali, Sri Mulyani bertandang ke Negeri Kincir Angin.

"Bu Ani datang ke Den Haag, kemudian dia nge-text. Dia bilang, 'Ret, aku lagi ada di sini. Kita ketemuan yuk.' Kami (lalu) makan berdua di Belanda," tutur dia.

Komunikasi pun berlanjut setelahnya. Hingga, Sri Mulyani dipanggil pulang dan kembali jadi Menteri Keuangan dan dirinya menjadi Menteri Luar Negeri.

"Satu tim sekarang," kata dia tertawa.

Meski pandemi Covid-19 cukup bikin pusing kepala untuk Retno dan Sri Mulyani, ada sisi lain yang terjadi pula pada mereka karena wabah ini.

"Dengan Covid-19 ini, Menteri Keuangan dan Menteri Luar Negeri memang ditakdirkan kerja bareng terus ya. Salah satu tandeman saya itu Bu Menteri Keuangan," ujar Retno.

Dia menyebut negosiasi pengadaan alat perlindungan diri (APD) kesehatan sebagai salah satu momen mereka berdua bertandem.

Takdir itu pun tak berhenti di soal penanganan pandemi. Momentum terdekat yang mengharuskan dua teman SMA ini berduet lagi adalah persiapan Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 pada 2022

"Ayo, Ret, kita berdua lagi, nih," ujar Retno menirukan ungkapan Sri Mulyani, ketika di pekan pertama Januari 2021 sudah mulai melakukan pertemuan untuk persiapan KTT G20 itu. 

Tak sekadar itu, pertemanan mereka pun meluas ke keluarga. Retno bilang, bahkan anak-anak mereka pun nyambung.

Di sela kesibukan, mereka berdua pun sempat berbagi kesenangan di Elek Yo Band, grup musik berisi para menteri. 

"Ya mungkin begitu suratannya (terus berteman dengan Sri Mulyani)...," kata dia.

Salah satu penampilan Elek Yo Band, dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beradu suara pada Agustus 2018.
DOK PRIBADI VIA INSTAGRAM/@RETNO_MARSUDI
Salah satu penampilan Elek Yo Band, dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beradu suara pada Agustus 2018.

 

HOBI MASKULIN

INI nih, yang tak banyak orang tahu. Ternyata, waktu kuliah, sekalipun lulus cepat, hobi Retno adalah naik gunung. 

"Hobi saya agak maskulin. Waktu kuliah, hampir tiap minggu saya naik gunung," ujar Retno. 

Memang sih, buat anak Yogya atau yang sempat tinggal di sana, menapaki Merapi itu cuma soal kemauan, saking dekatnya. Toh, enggak semua orang sesering itu juga ke sana.

Kini, Retno menyebut olahraga masih jadi hobinya. Tentu, tidak lagi sedahsyat dulu, kalau pakai istilah dia sendiri. 

Joging adalah salah satu olahraga yang dia terus lakukan, selain berenang dan beberapa aktivitas lain. Saat sibuk bekerja bahkan di tengah pandemi, olahraga tak dia tinggalkan. 

Justru, pada hari-hari ini Retno bisa berlari di atas treadmill sembari tetap bekerja dan memantau berita internasional yang tak berselang lama harus pula dilaporkan ke Presiden.

Di luar negeri, olahraga juga bukan hal jarang yang tetap dia jalankan. Jangan salah, rata-rata jarak tempuh joging per harinya adalah minimal lima kilometer.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Retno Marsudi (@retno_marsudi) 

Gaya hidup sehat

Bila diperhatikan, penampilan Retno pada hari pertama jadi menteri dan pada hari-hari ini lumayan bikin pangling. Ternyata, ini ada rahasianya.

Selain olahraga, makanan minim lemak, karbohidrat, minyak, dan gula adalah gaya hidup Retno sekarang. Bukan baru sehari atau dua hari, tentu saja.

"Sudah lama. Tapi ketat sekali baru dua tahun terakhir... (Berat badan) saya turun 16 kilogram... dan alhamdulillah, sehat," ungkap dia.

Satu hal saja dari urusan gaya hidup sehat ini yang "rentan" tak bisa dijalani di setiap kali, yaitu waktu tidur minimal. Ini tak lepas dari urusan pekerjaan yang melintas ruang dan zona waktu.

"Malam yang panjang sekali... Banyak sekali.. Tapi, it's part of my job. Harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya," ujar dia.  

 

RETNO MARSUDI
HARI INI

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/1/2021). Dalam rapat tersebut membahas mengenai perkembangan diplomasi vaksin COVID-19 guna program vaksinasi nasional, kebijakan pelindungan WNI di luar negeri dalam menghadapi gelombang kedua COVID-19 dan kebijakan politik luar negeri Indonesia terhadap perkembangan di dunia dan Kawasan Perkembangan di AS, Palestina, Afghanistan dan stabilitas di kawasan Indo Pasifik. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.
ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersiap mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/1/2021). Dalam rapat tersebut membahas mengenai perkembangan diplomasi vaksin COVID-19 guna program vaksinasi nasional, kebijakan pelindungan WNI di luar negeri dalam menghadapi gelombang kedua COVID-19 dan kebijakan politik luar negeri Indonesia terhadap perkembangan di dunia dan Kawasan Perkembangan di AS, Palestina, Afghanistan dan stabilitas di kawasan Indo Pasifik. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

RETNO Marsudi adalah perempuan pertama dalam sejarah Republik yang menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia, dari 25 nama yang hingga 2021 tercatat pernah ada di posisi ini—definitif maupun ad interim—sejak proklamasi kemerdekaan.

Kali pertama, Retno masuk jajaran Kabinet Kerja alias kabinet periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang waktu itu berpasangan dengan Jusuf Kalla. 

Ketika Jokowi memulai periode kedua pemerintahan dan membentuk Kabinet Indonesia Maju bersama Ma'ruf Amin, nama Retno tidak bergeser dari posisi Menteri Luar Negeri. 

Lahir  di Semarang, Jawa Tengah, pada 27 November 1962, Retno menikah dengan Agus Marsudi, seorang arsitek.

Mereka dikaruniai dua putra, yaitu Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi, yang keduanya telah mentas dan berkeluarga.

Menggenggam gelar sarjana dari jurusan Ilmu Hubungan Internasional di UGM pada 1985, Retno juga menempuh pendidikan di Haagse Hogeschool, Den Haag, Belanda, serta di Universitas Oslo, Norwegia. 

Sebelumnya, seluruh pendidikan Retno dari SD sampai SMA diselesaikan di Semarang. Dia adalah alumnus SD Randusari, SMPN 3, dan SMAN 3.

Masuk dua periode kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo, harta Retno berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) pada 2018 adalah Rp 17,33 miliar. Kekayaan Retno naik menjadi Rp 18,072 miliar dalam LHKPN 2019.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di salah satu pertemuan di sela agenda Sidang Majelis Umum PBB pada September 2018.
DOK KEMENTERIAN LUAR NEGERI VIA INSTAGRAM/@RETNO_MARSUDI
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di salah satu pertemuan di sela agenda Sidang Majelis Umum PBB pada September 2018.

Karier Retno seluruhnya di Kementerian Luar Negeri, semenjak bergabung ke kementerian ini pada 1986. Berikut ini sejumlah jejaknya:

Selama berkarier dan berkiprah di ranah diplomasi, Retno mendapatkan beragam penghargaan, baik dari dalam negeri maupun di kancah internasional. 

Dari dalam negeri, penghargaan yang pernah Retno terima antara lain adalah:

  • Penghargaan Perlindungan Buruh Migran dari Serikat Buruh Migran Indonesia, 18 Desember 2017.
  • Elle Style Awards 2018, kategori Outstanding Achievement, Oktober 2018.
  • Penghargaan Tokoh Publik Terbaik, dari iNews Indonesia Awards 2018, 15 November 2018.
  • “Anugerah Perhumas Indonesia Tahun 2018" untuk kategori Pejabat Pemerintah, 10 Desember 2018.
  • Penghargaan Khusus untuk Pemimpin Diplomasi Kemanusiaan dari PKPU Human Initiative, 19 Desember 2018.
Adapun penghargaan untuk Retno dari kancah internasional antara lain adalah: 
  • The Order of Merit (Grand Officer – the Second Highest Decoration), Norwegia, Desember 2011.
  • The Ridder Grootkruis di de Orde van Oranje-Nassau, Belanda, 12 Januari 2015.
  • Penghargaan “Agen Perubahan" dari PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), 21 September 2017.
  • "El Sol del Peru" ("Matahari Peru"), Peru, 24 Mei 2018.
  • Malalai Medal of Honor from President Ashraf Ghani of Afghanistan, 1  Maret 2020.