JEO - Entertainment

Rich Brian, dari Kelapa Gading Guncang Dunia

Jumat, 26 Oktober 2018 | 17:51 WIB


Berbicara tentang karier  musik seorang Rich Brian tentu tidak bisa dilepaskan dari video musik "Dat $tick" dengan segala efek yang ditimbulkan, dari respons positif hingga kontroversinya.

Brian Imanuel, begitu nama lahirnya, baru  berusia 16 tahun ketika merilis video bertema gangster itu. Ekspresinya datar dan vokalnya sangat berat saat bernyanyi rap gaya drill dan bahasa Inggris yang fasih.

"Saya hanya ingin memberikan emosi tertentu pada video itu. Saya bahkan tidak tahu dari mana kemeja polo merah muda dan tas pinggang itu. Saya hanya memikirkan bagaimana berpenampilan seperti bapak-bapak," kata Brian dalam wawancaranya dalam complex.com.

"Tujuannya adalah membuat orang merinding ketika melihat seseorang yang berpakaian seperti bapak-bapak bernyanyi rap. Tujuan saya adalah memberi orang perasaan tertentu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya — perasaan yang sangat langka," tambahnya.

"Dat $tick" ternyata menggelitik sejumlah rapper Amerika Serikat, di antaranya 21 Savage, Tory Lanez, MadeinTYO, dan Desiigner untuk membuat video reaksi.

"Dat $tick" menjadi pintu masuk Brian, yang ketika itu menggunakan nama Rich Chigga, menuju dunia hip hop. Lagu itu membuatnya mendapat pengakuan sebagai penyanyi rap atau rapper.

"Dat $tick" ternyata menggelitik sejumlah rapper Amerika Serikat, di antaranya 21 Savage, Tory Lanez, MadeinTYO, dan Desiigner untuk membuat video reaksi.

Pada September 2016, Brian merilis single berjudul "Who That Be", dilanjutkan dengan "Seventeen" ketika usia Brian beranjak 17 tahun.

Internet mempunyai peran penting dalam karier Brian. Selain sebagai pembuka jalannya ke industri musik, internet juga membuat Brian fasih berbahasa Inggris. Ia belajar secara otodidak melalui video-video tutorial YouTube dan dari pertemanannya dengan orang Amerika di Twitter.

Kepada ABC News, Brian bercerita bahwa semuanya berawal dari rasa bosan karena menjalani homeschooling. Pada usia 10 atau 11 tahun, Brian yang bosan dan kesepian menggunakan komputer orangtuanya untuk menemukan strategi menyelesaikan rubik lebih cepat.

"Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan kemudian saya "berenang" semakin dalam ke dunia internet. Dan pada satu titik saya punya lebih banyak teman di internet daripada di kehidupan nyata," kata Brian yang dilahirkan pada 3 September 1999.

Kontroversi

Aksi Rich Chigga, yang kini mengganti nama menjadi Rich Brian, membuat penonton larut dalam kemeriahan saat acara Djakarta Warehouse Project 2017 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (16/12/2017). Pertunjukan yang berlangsung selama dua hari ini dimeriahkan oleh aksi panggung lainnya antara lain Marshmello, Steve Aoki, David Gravel, Hardwell dan lain-lain.
KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI
Aksi Rich Chigga, yang kini mengganti nama menjadi Rich Brian, membuat penonton larut dalam kemeriahan saat acara Djakarta Warehouse Project 2017 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (16/12/2017). Pertunjukan yang berlangsung selama dua hari ini dimeriahkan oleh aksi panggung lainnya antara lain Marshmello, Steve Aoki, David Gravel, Hardwell dan lain-lain.

Namun, sejumlah pihak menyorot kata "nigga" dalam lirik lagu "Dat $tick" serta kata Chigga yang merupakan akronim dari chinese-nigga.

Nigga atau nigger adalah istilah untuk mendeskripsikan orang keturunan Afrika-Amerika, namun sering dianggap sebagai istilah rasis.

Ada yang menganggap Brian ofensif karena memakai kata tersebut dalam lirik dan namanya. Salah satunya Pemimpin Redaksi Majalah Genius, Brendan Frederick. Ia memuji "Dat $tick", tetapi mempertanyakan nama Chigga.

"Tapi nama ini. Jujur, saya kasihan pada seseorang dengan lelucon rasis dalam namanya, tidak peduli seberapa bagus musiknya. Dan saya telah berbicara dengan orang yang saya hormati yang benar-benar menolak untuk mendengarkan (musik) dari seseorang dengan nama seperti itu," kata Frederick pada akun Twitter-nya @bfred pada 21 Desember 2017.

Bukan cuma vokal Rich Brian yang berat dan dalam, tetapi juga lirik "Dat $tick". Singel itu berisi kisah tentang korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan penolakan hak masyarakat.

"Pesan yang saya coba sampaikan pada dasarnya adalah bahwa sekelompok makhluk aneh dan gila juga ada di Indonesia, sosok yang tidak begitu diketahui orang. Itulah yang ingin saya katakan: omong kosong juga terjadi di sini. Mungkin itu berbeda, tetapi ada," ujar Brian kepada The Fader saat mendeskripsikan "Dat $tick".

 

Reaksi para rapper Amerika

Di balik kritikan dan kontroversi "Dat $tick", banyak rapper yang melayangkan pujian kepada Brian. Salah satu rapper yang terang-terangan memujinya adalah Ghostface Killah, anggota grup musik hip hop legendaris Wu Tang Clan.

"Ini berbeda. Ini tak sama dengan yang sering kalian lihat. Dia hanya dia," kata Ghostface Killah dalam sebuah video reaksi terhadap "Dat $tick".

Sejumlah rapper lain juga mengekspresikan pikiran mereka terhadap karya Brian. Di antaranya Cam'ron, Desiigner, Tory Lanez, GoldLink, Zombies Flatbush, dan banyak lagi. Sebagian besar dari mereka cukup terhibur olehnya "Dat $tick".

"Orang-orang akan menganggapnya sebagai lelucon pada awalnya, tetapi saya sarankan dia untuk terus konsisten dengan gayanya," kata Madeintyo.

"Saya melihat sisi komedi dari apa yang dia lakukan," kata Cam'ron.

Berjudul "Dat Stick" remix, Brian Imanuel terlibat dalam satu proyek dengan musisi sekaliber GFK (Ghostface Killah) dan rapper asal Miami, Pouya.

Brian mengaku tak menyangka bisa mendapat reaksi positif dari artis-artis hip hop Amerika.

"Saya terkejut dengan betapa ramah dan positifnya mereka. Saya suka Zombies Flatbush. Ada rapper legendaris, Cam'ron dan Ghostface," kata Brian kepada The Fader.

Saat itu video reaksi rapper-rapper tersebut diunggah, Brian sedang berada di Jakarta dan tak tahu kapan label rekamannya 88rising merekam video itu.

"Saya tidak tahu banyak tentang apa yang sedang terjadi. Saya pikir itu diambil di South By Southwest. Sean (Miyashiro) mengumpulkan semua rapper untuk menonton video “Dat $tick”, kemudian saya melihat Ghostface bereaksi," ucap Brian.

Sejak diunggah pada 12 Juli 2016, video reaksi para bintang hip hop dunia itu sudah ditonton lebih dari 18 juta kali.

 

Melangkah ke Amerika

Popularitas "Dat $tick" mengundang perhatian rapper Korea-Amerika Jonathan Park dan pendiri label 88rising Sean Miyashiro. Mereka yang mengikuti Brian di Vine, menghubungi penyanyi rap remaja itu dan mengundangnya tampil di acara South by Southwest, AS.

Sejak itu, Brian memutuskan untuk bergabung dengan 88rising dan melanjutkan karier musiknya di Amerika Serikat. Sederet singel dan berkolaborasi dengan musisi-musisi ternama dunia dirilis Brian.

Setelah Ghostface Killah dan Pouya, Brian juga berkolaborasi dengan Zhu, Skrillex, dan THEY dalam lagu "Working For It". Ia juga menggandeng Keith Ape asal Korea Selatan dan mendiang rapper AS, XXXTentacion, untuk singel berjudul "Gospel".

Ia pun mulai tampil dalam sejumlah festival musik di Amerika, beraksi dari panggung ke panggung. Brian juga menjadi bintang tamu dalam program radio OTHERtone dan diwawancarai Pharell Williams.

Brian merilis "Glow Like Dat" pada 15 Agustus 2017 pada saluran YouTube 88rising. Beberapa bulan kemudian, Brian menggelontorkan singel selanjutnya berjudul "Chaos" dan "Crisis".

Walaupun tanpa album, Brian sudah mulai menggelar tur Amerika yang bertajuk "Come to My Party Tour", dari 9 September hingga 21 November 2017.

Kepada ABC News, Brian juga pernah mengatakan bahwa sebelum menandatangani kontrak rekaman, ia hampir memupus impiannya untuk datang ke Amerika.

Beruntung orangtuanya mendukung penuh kariernya meskipun sebelumnya mereka tak memberi restu dengan alasan Brian masih remaja.

"Waktu berumur 13 tahun, saya bilang ke orangtua bahwa saya ingin pindah ke Amerika kalau sudah berumur 17 tahun. Mereka menentang," kata Brian kepada Vulture pada Februari lalu.

Setelah Brian diundang tampil di Amerika Utara, ayah dan ibunya akhirnya memberi lampu hijau. Pada Mei 2017, Brian pindah ke Amerika Serikat. Ia kini menetap di Los Angeles.

Tur Amerika dan Eropa

Rich Brian sebaga Rich Chigga akhirnya datang ke Amerika dan melakukan tur singkat di lima kota. Tur bertajuk "Rich Chigga Tour" itu berlangsung mulai 28 April hingga 6 Mei 2017.

Ia mengumumkan jadwal konser pertamanya di AS melalui Instagram. Brian saat itu tampil di Roxy Theatre yang terkenal di Los Angeles, lalu ke Orange County, California.

Setelah pemanasan, Brian menggelar tur lagi yang lebih besar dan diberi tajuk "Come To My Party Tour". Tur itu dimulai di San Francisco pada 8 Oktober dan berakhir di Los Angeles pada 21 November.

Brian juga bergabung dengan Chance The Rapper, Post Malone dan Lil Uzi Vert di panggung Day N Night Festival di Anaheim pada 9 September. Ketika itu, Brian mampir di 28 kota di Amerika Serikat.

Setelah itu Brian beraksi di New York, Festival Rolling Loud Miami, serta Insomniac's Middlelands Festival di Todd Mission, Texas.

Setelah pemanasan, Brian menggelar tur lagi yang lebih besar dan diberi tajuk "Come To My Party Tour". Tur itu dimulai di San Francisco pada 8 Oktober dan berakhir di Los Angeles pada 21 November.

Sukses menggebrak AS, Rich Brian menyambangi Eropa lewat tur yang bertajuk "Come to My Party". Ketika itu tiketnya dilaporkan ludes terjual di lima kota yang bakal ia singgahi.

Kota-kota itu, yakni Paris pada 1 Maret, London pada 3 dan 4 Maret, Cologne pada 5 Maret, Berlin pada 7 Maret, dan di Amsterdam pada 8 Maret. Selama turnya di Eropa, Brian didampingi musisi August Grant atau yang dikenal sebagai August 08.

Amen

Rapper asal Indonesia Rich Brian tampil di Bonnaroo Music and Arts Festival di Machester, Tennessee, AS, pada 10 Juni 2018.
Amy Harris/Invision/AP
Rapper asal Indonesia Rich Brian tampil di Bonnaroo Music and Arts Festival di Machester, Tennessee, AS, pada 10 Juni 2018.

Pada 2 Februari 2018, Rich Brian akhirnya melahirkan album perdananya yang bertajuk Amen di bawah label 88rising dan Empire.

Dalam video wawancara dengan Genius untuk episode "Verified" yang diunggah di YouTube, Brian mengungkap makna judul "Amen".

"Saya sering mengucapkan kata 'amin'," katanya seperti dikutip Kompas.com, Kamis (8/2/2018).

"Ketika saya dan Sean berbicara atau siapa saja mereka, (mereka bilang) 'ini akan sukses. Atau kami senang dengan lagunya, ini akan meledak'. Saya suka (bilang) amin," ucap Brian.

Ia mengaku sebagai orang yang religius sekaligus optimis. Karena itulah, kata "amin" selalu otomatis terucap setiap kali ia mendengar seseorang berharap atau mengatakan hal yang baik.

"Namun, pada saat yang sama, kita tidak akan pernah bisa terlalu yakin tentang sesuatu karena apa pun bisa terjadi. Dan saya merasa seperti itulah sebagian besar mengapa (album) ini disebut 'Amin," ujar Brian.

Ada 14 lagu yang menghiasi album Amen, termasuk "Glow Like Dat", "Chaos", "See Me", serta "Amen", "Little Prince", "Arizona" , dan lainnya.

Belasan lagu itu merupakan hasil kombinasi synthetizer, drum elektronik, dan nada-nada minor, serta vokal Brian yang berat dengan ketukan yang meledak-ledak.

Hampir semua lagu ditulis dan digubah sendiri oleh Brian. Ia juga bertindak sebagai produser bersama Cubeatz, Rogét Chahayed, dan Wesley Singerman.

"Membuat musik sudah menjadi hal yang alami bagiku karena bisa menemukan ide baru dan menulisnya. Saya melakukannya hampir setiap hari," kata Brian kepada XXL Magazine.

Melalui lirik-lirik lagu dalam album Amen, Brian bercerita tentang kehidupan pribadi, suasana hati, pengalaman sebagai orang Indonesia yang berkarier di AS, serta ketenaran.

"Album ini tentang bersyukur dan jangan pernah menganggap remeh sesuatu. Jadi dalam proyek ini saya berbicara banyak tentang (perjalananku) dari Indonesia datang ke Amerika dan banyak pengalaman hidup baru di proyek ini," kata Brian.

Ia menuangkan setiap hal kecil yang dialaminya dalam lirik lagu-lagunya. Brian suka bernostalgia, mengingat momen-momen penting lalu memasukkan itu semua ke dalam musiknya.

Misalnya dalam lagu berjudul "Occupied", Brian bercerita tentang proses mencari dan menemukan jati dirinya dalam bermusik.

Walaupun album tersebut berisi tentang kehidupan Brian, tak berarti Amen menjadi terlalu serius atau kaku. Ia menyuntikkan unsur kejenakaan dan nyeleneh pada lirik lagu-lagunya.

"Saya suka membuat orang tertawa. Saya kadang mengatakan hal-hal lucu dalam lirik lagu saya, tetapi semua itu digarap secara serius," ucap Brian.

Ada dua orang yang menjadi inspirasi Brian berkarya. Mereka adalah rapper Childish Gambino dan penyanyi indie-rock Mac DeMarco.

"Saya mencoba untuk mendengarkan musik di luar hip-hop karena saya telah mendengarkan hip-hop selama dua atau tiga tahun berturut-turut. Saya benar-benar mencoba untuk sedikit lebih fleksibel dan beragam dalam proyek ini," ujar Brian.

Cetak sejarah

Amen membawa Brian mencetak sejarah yang membanggakan. Ia menjadi artis Asia pertama menduduki posisi pertama di iTunes untuk musik hip hop. Prestasi itu dikabarkan akun label yang menaunginya, 88rising, di Twitter.

"HISTORY. @richbrian is the first Asian artist in history, to ever reach #1 on the ITunes Hip Hop Chart. People think, rarely wonder," tulis akun @88rising, Minggu (4/2/2018).

HISTORY. @richbrian is the first Asian artist in history, to ever reach #1 on the ITunes Hip Hop Chart. People think, rarely wonder.

Ia baru berusia 18 tahun, namun album debutnya itu berhasil mengungguli album peraih Grammy Awards, Kendrick Lamar, berjudul DAMN yang berada di posisi keempat.

Bahkan album dari salah satu rapper idolanya, Childish Gambino, berada di bawah Brian.

Album Amen juga mengantarkan Brian menjadi musisi Indonesia pertama yang tampil dalam program The Late Late Show yang dipandu James Corden pada Februari 2018. Saat itu, Brian membawakan lagu "Amen" dan Cold.

Dengan berbagai pencapaiannya itu, Brian mengatakan, ia ingin menginspirasi dan membuktikan kepada anak-anak muda bahwa tak ada yang tak mungkin selama bekerja keras.

"Saya ingin membuat dampak dan menginspirasi remaja seusia saya agar mereka tahu bahwa omong kosong ini benar-benar mungkin. Kalian benar-benar dapat melakukan dan menjadi apa pun yang kalian inginkan," kata Brian kepada XXL Magazine.

"Selama kalian memiliki visi di kepala bahwa mimpi kalian akan terjadi suatu hari nanti. Itu adalah hal terbesar saya, membuat dampak dan menginspirasi orang-orang," tambahnya.

Ganti nama

Menjelang peluncuran album perdananya pada Februari 2018, Brian memutuskan mengganti nama panggungnya dari Rich Chigga menjadi Rich Brian.

"Rich Chigga tidak lagi cocok denganku. Tinggal di Amerika membuatku menyadari bahwa aku ingin berubah. Aku ingin ada arah dengan musikku," kata Brian dalam wawancara dengan Billboard.

Awal tahun ini, akun Twitter 88rising mengumumkan perubahan nama Brian tersebut bersama dengan tautan singel terbarunya saat itu berjudul "See Me".

Dilansir dari New Yorker, nama Rich Chigga menuai kritik karena kata "Chigga" merupakan akronim dari Chinese (China) dan Nigga (kata yang dianggap menghina ras kulit hitam). Kritikan seputar namanya itu kemudian semakin ganas dari sebelumnya.

Setelah berbulan-bulan berdiskusi dengan manajemennya, suatu pagi Brian menghubungi Miyashiro dan mengungkapkan keinginan mengganti nama panggung. Brian juga mengiriminya beberapa bidik layar di Twitter tentang kritikan yang kian masif tersebut.

"Saya sudah lama merencanakan itu dan saya sangat senang akhirnya melakukannya. Saya naif dan membuat kesalahan. Tahun baru, awal yang baru, selamat tahun baru," tulis Brian di dalam akun Instagram ketika itu.

Dalam wawancara dengan majalah GQ, Brian mengaku menyesal pernah memakai nama Rich Chigga sebagai nama panggungnya.

"Ada orang yang mengatakan bahwa jika nama saya bukan Rich Chigga, orang tidak akan mengecek video musiknya. Saya merasa, video itu sendiri merupakan alasan orang-orang menyukainya. Secara pribadi saya pikir nama saya tidak benar-benar berperan besar," tutur Brian.

Ia merasa nama itu sudah tak cocok lagi mewakili musiknya. Bahkan, ia menyebutnya sebagai sebuah kesalahan.

"Saya banyak mengobrol dengan orang-orang di industri ini, saya mendapat masukan, dan saya sama sekali tidak merasa nama itu seperti saya lagi. Itu sesuatu yang saya sadari. Itu merupakan kesalahan yang saya lakukan dulu," ujar Brian.

 Jika memiliki kesempatan untuk mengulang "Dat $tick", Brian tak akan menggunakan kata "nigga" karena tak pernah bermaksud menyinggung siapa pun.

Kepada Billboard, Brian pernah mengaku tak mau dikotak-kotakkan. Ia ingin dikenal karena karyanya tanpa ada embel-embel etnis.

"Sangat sulit memang, tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk menghindarinya (pandangan rasis)," ujar Brian.

Jadi diri sendiri

Pengamat musik Wendi Putranto berpendapat, hal menarik dari perjalanan karier Rich Brian adalah dia tidak menjadi rapper yang identik dengan artis musik kulit hitam.

"Dia menjadi dirinya sendiri, bahkan gaya musiknya sedikit berparodi. Dengan seumuran dia, dia tidak mencoba pelafalan orang kulit hitam, dia natural saja. Dia menyanyikan dengan caranya sendiri. Menurut saya dia karyanya jujur," kata Wendi.

Jika di ranah jazz ada Joey Alexander dan di genre pop ada Agnez Mo, Wendi mengatakan bahwa Brian-lah yang menjadi nakhoda hip-hop Indonesia di kancah internasional.

Dia menjadi dirinya sendiri, bahkan gaya musiknya sedikit berparodi. Dengan seumuran dia, dia tidak mencoba pelafalan orang kulit hitam, dia natural saja. Dia menyanyikan dengan caranya sendiri. Menurut saya dia karyanya jujur,

"Enggak ada yang menduga kok anak Kelapa Gading bisa dikenal sampai penjuru dunia si Rich Brian ini. Di era global ini, kita sudah siap," kata Wendi.

Sementara pengamat musik Adib Hidayat menilai bahwa Brian bisa dikatakan sebagai seorang musisi yang beruntung. Ia menilai Brian memiliki musikalitas berbeda dari artis hip hop kulit hitam.

Menurut Adib, kiprah Brian di dunia internasional tidak lepas dari peran labelnya, 88rising, yang memiliki strategi marketing yang mumpuni.

"Dia sangat menghindari di-interview media lokal, itu yang akhirnya membuat branding Rich Brian seolah-olah jadi milik dunia internasional. Dia sudah memakai strategy campaign yang sudah internasional," kata Adib.

Kehadiran Brian, kata Adib, membuat nama Indonesia mulai diperhitungkan di industri musik dunia khususnya genre hip hop. Brian menjadi pioner untuk Indonesia bahkan Asia.

"Musik yang dibawakan dia kan musik orang kulit hitam, putih, atau latin. Dengan tambahnya Asia ini menambah terminologi hip hop di dalam kancah musik dunia. Hip hop yang berasal dari oriental ternyata bagus sekali. Keren sekali," kata Adib.

Sedangkan berkibarnya nama Brian di dunia internasional, menurut Wendi, menguntungkan Indonesia. Jika selama ini warga asing mengenal Indonesia hanya Bali, kini, Indonesia punya musik.

"Indonesia tidak hanya Bali, tapi ada Rich Brian, Joey Alexander, dan Agnez Mo. Mereka mengadu nasib di negara orang. Kita punya quality stars," kata Wendi.

Sementara itu rapper senior Indonesia, Ignatius Rosoinaya Penyami atau yang akrab disapa Igor Saykoji, mengaku ikut bangga Rich Brian mampu menembus pasar global.

"Gue ngikutin juga. Dan gue senang kalau ada orang yang berkarya dan ngerap dan make it. Bisa dibilang dia mungkin jangkauannya, dia menjangkau keluar," ujar Igor.

Saykoji melihat bagaimana materi rap dari pelantun lagu "Glow Like Dat" ini sengaja diciptakan oleh Rich Brian untuk dipasarkan di pasar internasional.

"Dengan dia bertemu dengan 88rising, menajemen yang memang meng-handle rapper-rapper Asia memang taraf internasional memang cocok untuk materi internasional," ungkap Igor.

Tapi gue lihat lagu-lagu yang dia bikin diterima sama masyarakat internasional terutama masyarakat Asia di seluruh dunia

Selain faktor materi, keberuntungan juga diyakini Igor sebagai salah satu faktor karier Rich Brian meroket.

"Enggak ada yang tahu, ada yang hoki juga, ada juga yang bisa ketemu orang yang tepat, di saat yang tepat dan di waktu yang tepat," ujar Igor.

"Gue enggak tahu bagaimana bisa sampai seperti itu. Tapi gue lihat lagu-lagu yang dia bikin diterima sama masyarakat internasional terutama masyarakat Asia di seluruh dunia," kata Igor lagi.

Saykoji percaya dengan melejitnya nama Rich Brian, akan menjadi pembuka jalan bagi rapper Indonesia lain agar juga bisa mendunia.

"Pasti, pasti orang kan jadi notice, penasaran. Di Indonesia siapa lagi ya. Tapi enggak ada yang salah dengan itu. Cita-cita gue itu membangun ke dalam. Bukan gue mencari sesuatu," papar Igor.

Pelantun "So What Gitu Loh?" ini memahami kebiasaan orang Indonesia yang baru memberi apresiasi setelah diakui oleh Internasional.

"Orang banyakan yang mengapresasi ketika kita sudah berada di luar negeri. Tapi lupa bahwa kita-kita yang ada di sini, banyak hal yang bisa kita gali," ucap dia.

Meski begitu, pencapaian Rich Brian dipercaya mampu memberikan inspirasi untuk yang lain.

"Cukup memotivasi. Tapi kalau gue, gue bisa bilang, lo harus bangga sama Indonesia," tutup Igor.

Fakta Seputar Rich Brian

 

 

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.