JEO - Insight

Sembuh dari Covid-19, Kesakitan Belum Tentu Usai...

Senin, 20 April 2020 | 21:02 WIB

Risiko kesehatan juga masih jadi tantangan bagi para survivor Covid-19, mereka yang dinyatakan sembuh dari penyakit ini. Stigma dan penolakan hanya memperburuk keadaan. Kenapa?

WABAH virus corona (Covid-19) benar-benar bikin banyak orang kesusahan dan pusing, dari kalangan ilmuwan, tenaga medis, dan tentu saja setiap orang yang dapat terinfeksi virus corona jenis baru (2019-nCoV atau SARSCoV-2) tersebut.

Bahkan, mereka yang dinyatakan sembuh dari penyakit ini juga tak berarti benar-benar dapat pulih seperti sedia kala. Ibarat kata, dinyatakan sembuh barulah babak awal.

Sistem dukungan (support system) dari lingkungan sekitar adalah salah satu harapan, seharusnya.

Sembuh di sini dalam arti setidaknya dua kali tes swab tidak lagi mendapati varian baru virus corona (2019-nCoV atau SARSCoV-2) penyebab Covid-19. 

Dari dalam negeri, ada dua kategori pemberitaan terkait para survivor Covid-19 yang sama-sama bikin sesak hati, di luar data kasus yang masih terus meningkat saja.

Pertama, pasien yang belum lama bahkan baru saja dinyatakan sembuh dari Covid-19 didapati meninggal saat menjalani karantina mandiri.

Ini karantina sebagai bagian protokol selepas masa perawatan di rumah sakit, bukan karantina dalam konteks pencegahan.

 

Baca juga: Mengapa Jaga Jarak sampai Karantina Penting untuk Cegah Penyebaran Corona?

 

Kedua, survivor Covid-19 ditolak oleh masyarakat yang selama ini adalah tetangganya. Stigma menempel pada pasien Covid-19 yang bahkan sudah dinyatakan sembuh oleh para dokter. 

Padahal, survivor Covid-19 masih butuh banyak dukungan untuk benar-benar pulih atau setidaknya punya kondisi tubuh seoptimal yang dimungkinkan. Sistem dukungan (support system) dari lingkungan sekitar adalah salah satu harapan, seharusnya.

Masih ada banyak risiko kesehatan bagi para survivor yang dinyatakan sembuh dan tak lagi terinfeksi varian baru virus corona penyebab Covid-19. Kerusakan akibat infeksi virus ini bisa berdampak jangka panjang bahkan dapat berakibat fatal juga. 

Majalah Science edisi 8 April 2020 mengurai tantangan kesehatan yang masih mungkin dihadapi oleh mereka yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Ini terutama tentang mereka yang mengalami gejala parah dari penyakit tersebut dan atau harus dibantu ventilator.

"Tantangan (berikutnya dari wabah Covid-19) adalah bagaimana kita akan membantu mereka yang sembuh dari Covid-19 untuk benar-benar pulih," kata Lauren Ferrante, dokter spesialis paru dan penyakit kritis dari Yale School of Medicine, seperti dikutip Science. 

Idealnya, pasien Covid-19 harus dipastikan sebersih mungkin dan tetap bergerak sebanyak mungkin. Dua hal itu yang akan memberi lebih banyak peluang pasien Covid-19 untuk sembuh dan benar-benar pulih dalam jangka panjang.

Namun, virus yang diakui sebegitu cepat menyebar sehingga pasien menyesaki rumah sakit telah membuat hal ideal seperti itu sulit terjadi, apalagi di instalasi perawatan intensif (ICU).

Yang diserang Covid-19

Covid-19 menyerang paru-paru. Iya. Namun, kekurangan oksigen dan radang parah yang diakibatkannya juga dapat segera merusak ginjal, liver, jantung, otak, dan organ lain.

SHUTTERSTOCK/CORONA BOREALIS STUDIO
Ilustrasi 3D virus corona.

Saat ini masih terlalu dini untuk memastikan kerusakan permanen yang diakibatkan oleh Covid-19 bagi para pasien yang dinyatakan sembuh dari penyakit ini.

Namun, petunjuk awal datang dari beragam riset tentang pneumonia parah—infeksi yang membuat kantung udara di paru-paru meradang—, kondisi yang juga dialami penderita Covid-19.

Baca juga: Begini Bunyi Virus Corona saat Jadi Musik... 


Riset-riset pneumonia mendapati infeksi di pengolah udara badan itu dapat berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS). Kantong-kantong udara di dalam paru-paru akan dipenuhi air.

Sekalipun pasien sembuh, ungkap Ferrante, ARDS dapat memunculkan jaringan parut yang dalam jangka panjang juga jadi persoalan buat pernapasan. Kabar baiknya, banyak pasien dari kondisi ARDS dapat memulihkan fungsi paru-parunya.

Risiko penyakit jantung

Sachin Yende, dokter spesialis epidemiologi dan perawatan penyakit kritis dari University of Pittsburgh Medical Center, merujuk riset pada 2015 tentang risiko penyakit jantung yang lebih tinggi pada pasien dengan riwayat pneumonia parah.

Hasil riset timnya, kata Yende, risiko terkena penyakit jantung pada mantan penderita pneumonia tercatat empat kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah menderita pneumonia, dalam setahun setelah mereka yang terserang pneumonia dinyatakan sembuh.

Bila dapat melewati tahun pertama, risiko terkena penyakit jantung para mantan penderita pneumonia ini pun masih mencapai 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tak punya riwayat, setelah sembilan tahun mereka dinyatakan sembuh dari pneumonia.

"Covid-19 mungkin akan mencatatkan angka kasus lebih tinggi lagi dari (hasil riset pneumonia) itu," imbuh Yende, seperti dikutip Science.

Risiko perawatan ICU

Pasien yang cukup lama dirawat di ICU, apa pun penyakitnya, disebut juga lebih rentan mengalami masalah fisik, kognitif, dan mental. Ini dikenal di dunia medis sebagai sindom pasca-perawatan intensif.

Pasien positif Covid-19 yang mengalami gejala parah cenderung lama berada di ICU, terlebih lagi mereka yang harus dibantu ventilator dengan posisi ditidurkan dengan obat penenang. 

Pasien ARDS karena penyakit lain, sebut Dale Needham—dokter spesialis perawatan kritis dari Universitas John Hopkins—, mengandalkan alat penyokong hidup seperti ventilator itu selama tujuh hingga 10 hari. Namun, pasien Covid-19 bisa sampai dua pekan membutuhkan alat ini.

Struktur Protein Sungut Virus Corona - (DOK PRIBADI/MARKUS J BUEHLER)

Riset-riset awal dari beragam belahan dunia mendapati, banyak pasien Covid-19 yang sempat dibantu ventilator tak pernah pulih. Angkanya berbeda-beda, memang.Riset itu antara lain dapat dibaca di sini dan di sini.

Peluang pulih tetap ada, tentu saja. Namun, risiko lain ada pula. Pasien yang bisa lepas dari pemakaian lama ventilator akan rentan dengan kelemahan dan berhentinya pertumbuhan massa (atrofi) otot.

Pada pasien penyakit lain, bantuan fisioterapi selama perawatan di ICU akan membantu mereka meminimalisasi risiko terkait otot ini. Namun, Covid-19 yang begitu gampang menular menyulitkan ketersediaan spesialis rehabilitas di ruang ICU.

Delirium

Risiko lain dari pasien yang lama menjalani perawatan intensif adalah delirium. Bahasa gampangnya, mengigau seperti pada pasien yang mengalami demam tinggi. Dalam jangka panjang, ini dapat mengganggu kemampuan kognitif seperti gangguan memori atau ingatan.

"Kami menemui banyak sekali kasus delirium (yang dialami pasien) Covid-19," kata E Wesley Ely, dokter spesialis paru-paru dan perawatan kritis dari Vanderbit University.

Riset Ely bersama timnya menduga varian baru virus corona pada Covid-19 dapat merangsek dan merusak otak. Ini, kata dia, temuan yang juga didapati pada kasus SARS dan MERS, dua penyakit yang juga disebabkan virus corona dari varian lain, yang sudah ada lebih dulu.

Lalu, pasien yang harus dibantu ventilator hampir pasti mendapatkan obat penenang. Tujuannya, mengurangi tekanan batuk yang menyiksa dari penyakitnya sekaligus meredakan tekanan dan ketidaknyamanan dari bernapas melalui selang.

Lagi-lagi, risiko delirium meningkat akibat penggunaan obat penenang ini. Risiko makin tinggi bila obat penenang yang diberikan adalah benzodiazepin, yang memang dapat menyebabkan delirium intens dan berkepanjangan.

Dilema Covid-19

Ada satu lagi dilema yang kini dihadapi dunia medis dalam menangani COvid-19, yaitu penentuan kapan seharusnya pasien menggunakan ventilator.

Di sejumlah negara, protokol yang diterapkan adalah sesegera mungkin memasang ventilator kepada pasien Covid-19. Ini bertujuan meminimalkan semburan partikel dari saluran pernapasan pasien, demi menekan risiko penularan ke lebih banyak orang lagi.

SHUTTERSTOCK/DAN RACE
Ilustrasi ventilator atau alat bantu pernapasan

Masalahnya, penggunaan ventilator pun punya banyak risiko seperti dalam uraian sebelumnya.

Inilah yang mendorong para dokter seperti C Terri Hough dari University of Washington untuk memilah gangguan pernapasan seperti apa dari dari pasien Covid-19 yang harus dibantu ventilator dan kapan penggunaan alat itu dilakukan.

"Kalau kita menempatkan lebih banyak orang ke ventilator daripada yang seharusnya, akan ada masalah kesehatan populasi pada masa pemulihan," tegas Hough. 

Depresi dan anxiety

Belajar dari kasus SARS, lebih dari sepertiga pasien didapati mengalami depresi dan anxiety dalam skala moderat hingga parah dalam kurun satu tahun setelah terinfeksi virus. Riset soal itu dapat dibaca di sini.

Baca juga: Ada "Peran" Kita di Balik Alasan Seseorang Bunuh Diri?


Dokter-dokter seperti Ely dan Yende di Amerika Serikat sedang mencari cara mengatasi risiko kesehatan mental dan juga kognisi pasien Covid-19. Penggunaan teknologi digital dengan menghadirkan aplikasi terapi, adalah salah satu opsi.

Namun, ini semua menguatkan bahwa sistem dukungan yang lebih kuat dibutuhkan bagi para survivor Covid-19, bahkan saat mereka telah dinyatakan sembuh dari penyakit itu dan meninggalkan rumah sakit.

 

Sumber: Science Magazine


Loading...