JEO - Insight

Mana yang Juara di Hati Gen Z?

Sabtu, 29 Januari 2022 | 06:56 WIB

BELLA Friska Depari (24), karyawan salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta bercerita, hampir setiap malam ia menyempatkan waktu berpetualang di aplikasi belanja dalam jaringan atau e-commerce.

Sebelum larut dalam lelap, apa saja yang terlintas di dalam kepala diketik di kolom pencarian. Begitu muncul, harga adalah hal yang pertama ia periksa, kemudian dilanjutkan dengan informasi seluk beluk barang.

Apabila cocok, ia tak ragu membelinya, asal sesuai kondisi kantong. Pembayarannya pun ringkas,  tinggal transfer sejumlah uang melalui mobile banking, selesai. Tak perlu antre, tak perlu capek.

Pernah suatu hari, Bella memborong banyak barang dalam waktu satu jam saja. Mulai dari sandal, tas, peralatan rias wajah, sabun, hingga kaos oblong. Dua hari kemudian, terdengar teriakan “paket” di depan rumahnya. Barang sampai, siap dipakai.

 

Internet, Jembatan ke E-commerce

Bella tentu tidak sendiri. Kebiasaan itu juga dilakukan oleh sebagian besar orang yang mempunyai akses internet.

Merujuk Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2020, sebanyak 53,73 persen populasi Indonesia telah mengakses internet. Nyaris setengah penggunanya berasal dari satu generasi, yaitu Generasi Z.

Persentase Penduduk Indonesia Pengguna Internet Menurut Usia

Survei yang digelar We Are Social per April 2021 menguatkan fakta bahwa internet merupakan jembatan bagi orang menuju e-commerce. Hasil survei menunjukkan, 88,1 persen pengguna internet di Indonesia mengakses aplikasi belanja online.

Persentase itu membawa Indonesia ke urutan pertama di dunia dalam urusan belanja di e-commerce.

Survei yang lebih spesifik lagi dari Kredivo dan Katadata Insight Center (KIC) melengkapi rangkaian temuan sebelumnya.

Generasi Milenial dan Generasi Z rupanya menjadi penyumbang tertinggi transaksi e-commerce di Indonesia, yakni 85 persen. Generasi Z mengisi sebagian besar dari persentase itu.

Ya, Bella dan teman segenerasinya.

Baca juga: Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2021 Tembus 202 Juta

Dalam riset UMN Consulting tahun 2021, fakta tersebut dikonfirmasi lagi. Riset yang melibatkan 1.321 responden berusia 17-24 di seluruh Indonesia ini menunjukkan, adanya gap besar antara Generasi Z yang berbelanja di e-commerce dan supermarket

Sebanyak 66,09 persen responden memilih belanja di e-commerce, sementara yang berbelanja di supermarket hanya 13,25 persen.

Di Mana Gen Z Suka Berbelanja?

Mengapa Generasi Z gemar belanja online?

Dosen UMN Elissa Dwi Lestari mengatakan, Generasi Z tidak suka hal yang ribet. Mereka mengutamakan kemudahan dan kepraktisan dibandingkan fitur atau citra. Hal itu berdampak ke pemilihan lokasi belanja.

Berbelanja di e-commerce dirasa lebih praktis, efektif, dan efisien secara waktu karena bisa dilakukan kapanpun dan di manapun.

Nilai tambahnya, produk dan jasa di e-commerce juga cenderung lebih murah karena hadirnya beragam promo, mulai dari diskon hingga cashback

“Saya menyukai online shopping karena praktis, bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Belum lagi menghitung harganya yang relatif lebih murah,” ujar salah satu responden Gen Z, Nadillia Sahputra (23). 

Baca juga: 7 Gaya Hidup Milenial Ini Sudah Dianggap Kuno Oleh Gen Z

Elissa melanjutkan, meski gemar berbelanja online, Generasi Z tidak meninggalkan kebiasaan populer yang dilakukan generasi sebelumnya, yakni berbelanja langsung. Sebab, ada barang tertentu yang harus mereka cek dengan mata kepala sendiri.

Pada bagian itu, Generasi Z menganggap toko offline lebih unggul dibandingkan toko online.

Maka tak heran para responden UMN Consulting berpendapat, apabila memungkinkan, toko-toko itu disarankan memiliki dua lapak sekaligus, yakni lapak online dan offline.

Siapa juaranya?

Dari sudut pandang e-commerce sendiri, persaingan memperebutkan pasar otomatis semakin ketat.

Sejumlah perusahaan e-commerce memperkuat citra, baik di media sosial maupun di media konvensional. Mereka juga menyempurnakan fitur agar kian memudahkan orang bertransaksi. Selain itu, mereka menghadirkan beragam promo menarik.

Tujuannya jelas. Demi membuat nyaman konsumen yang sudah dalam genggaman, sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.

Apalagi potensi pasar e-commerce di Indonesia memang masih besar, mengingat jumlah penduduk yang banyak dan pengguna internet yang terus bertambah. Belum lagi banyak sektor ekonomi yang masih belum digarap.

Lantas, di antara ragam e-commerce yang eksis di Indonesia, mana yang paling digemari Generasi Z?

Apa Lapak Online Favorit Gen Z?

Survei UMN Consulting menempatkan Shopee di urutan teratas dengan perolehan angka 71,46 persen. Sementara, pada posisi kedua ada Tokopedia dengan perolehan angka 19,45 persen. Selisih antara keduanya cukup jauh, sekitar 52 persen.

 

Lekat dengan media sosial

Dosen UMN Nosica Rizkalla mengungkapkan, penyebab Shopee begitu digemari Generasi Z adalah afiliasinya dengan media sosial yang cukup lekat.

Sebagaimana disampaikan pada artikel sebelumnya, mayoritas Generasi Z mencari informasi di media sosial. Mulai dari Instagram, Tiktok, dan Youtube sebelum memutuskan membeli barang.

Oleh sebab itu, semakin dekat sebuah lapak dengan tempat di mana anak-anak muda ini mencari informasi, maka akan makin besar pula traffic ke sana. 

Baca juga: Gandeng Snackvideo, Shopeepay Permudah Gen Z Tuai Pendapatan dari Hobi

Nosica berkata, hal ini sudah disadari banyak brand. Mereka menautkan akun media sosialnya dengan Shopee. Alhasil, setiap Gen Z tertarik dengan benda yang diperdagangkan di media sosial, terutama Instagram, mereka langsung diarahkan ke tautan penjualan di Shopee. 

“Banyak pemilik lapak di Instagram memiliki akun Shopee. Setiap kali kita tekan linktree mereka, tidak semuanya punya Tokopedia, tetapi Shopee pasti ada,” ujar Nosica. 

Apa Event E-Commerce Favorit Gen Z? 

Lebih komplit

Salah satu responden Generasi Z yang diwawancarai, Dea Novita Aryawinata (21), mengatakan, banyaknya toko atau lapak di Shopee juga salah satu penentu kenapa Gen Z memilih berbelanja di sana dibandingkan Tokopedia.

Ia mengaku, Tokopedia terkadang memberikan promo yang menggiurkan. Tetapi promo itu seringkali tak bisa digunakan lantaran barang yang ia cari tak ada. 

“Banyak toko langganan saya memakai Shopee dibandingkan Tokopedia. Shopee terasa lebih komplit. Toko pakaian favorit saya saja tidak memiliki lapak di Tokopedia,” ujar Dea tanpa menyebut nama tokonya. 

Hal senada disampaikan responden lainnya, Olivia Sabat (22). Sebagai penggemar Korean Pop, ia merasa lebih mudah menemukan produk-produk berbau Korea di Shopee dibandingkan Tokopedia.

Pernyataan ini cukup mengejutkan. Sebab, Tokopedia telah merekrut bintang K-Pop, BTS, sebagai model iklan.

“Saya merasa nyaman dengan Shopee. Saya telah menggunakannya sejak awal dan itu berkaitan dengan ketertarikan saya ke K-Pop. Tidak tahu kenapa, setiap kali mencari produk K-Pop dari album hingga merchandise, pasti ketemu di Shopee,” ujar dia. 

Baca juga: Waspada Penipuan Minta Kode OTP Atas Nama Shopee, Ini Penjelasannya

Berbeda dengan Olivia dan Dea, responden lain Athonious Andreas Tanada (21) mengatakan, promo adalah faktor penentu kenapa banyak Gen Z memilih Shopee dibandingkan Tokopedia atau e-commerce lain. 

Shopee dinilai memiliki promo-promo diskon atau cashback yang lebih menggiurkan. 

Dari serangkaian pernyataan para responden di atas, secara garis besar diketahui bahwa promo, fitur, dan jumlah toko berpengaruh signifikan terhadap keputusan Generasi Z memilih Shopee. Rupanya, user experience saat berbelanja itu penting.

Apa yang Mendefinisikan Lapak Online Bagi Gen Z?

Dongkrak Transaksi Digital

Peningkatan aktivitas di e-commerce turut mendongkrak penggunaan transaksi digital. Sifat layanan transaksi digital yang praktis membuat keberadaan e-commerce semakin paripurna di mata konsumennya, khususnya Generasi Z yang antiribet.

Hal itu tercermin pula dalam survei UMN Consulting. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 46,29 persen Generasi Z menggunakan mobile banking sebagai alat transaksi. E-wallet berada di posisi kedua dengan 24,98 persen.

Walau begitu, masih ada Generasi Z yang tetap menggunakan metode pembayaran tunai dalam berbelanja online.

Metode tunai yang mereka ambil adalah Cash on Delivery (COD). Kelompok Gen Z paling muda (pelajar SMA) adalah yang paling banyak menggunakan metode tersebut. 

“Gen Z ingin melihat produknya dulu ketika datang dan baru kemudian membayarnya secara tunai. Sederhananya, mereka saat hati-hati dalam berbelanja,” ujar dosen UMN Elissa Lestari. 

Bagaimana Gen Z Bertransaksi di Lapak Online? 

E-Wallet Pilihan Gen Z

Dalam hal transaksi digital, e-wallet khususnya, survei UMN Consulting mengungkap temuan yang relevan dengan hasil survei sebelumnya yang menunjukkan Shopee adalah e-commerce pilihan Generasi Z. 

Dari ketiga brand e-wallet yang disebutkan UMN Consulting dalam survei, sebanyak 35,96 persen Generasi Z memilih ShopeePay sebagai e-wallet mereka. Hal itu terungkap ketika peneliti menanyakan, dengan cara apa mereka mau menerima insentif senilai Rp 50 ribu.

Meski demikian, ketika perolehan survei dibagi berdasarkan kelompok usia, kelompok tertua (fresh graduates) memilih OVO sebagai e-wallet favorit (36,45 persen). 

Baca juga: Transaksi Digital Meningkat, Masyarakat Tetap Perlu Memperhatikan Keamanan Siber

Salah satu responden, Olivia Sabat (22) mengatakan, populer atau tidaknya sebuah e-wallet di kalangan Generasi Z bergantung pada didukung atau tidaknya e-wallet itu pada e-commerce pilihan mereka.

Sebagai contoh, kata Olivia, dirinya memilih Shopee Pay dibandingkan e-wallet lainnya karena dirinya lebih sering menggunakan e-commerce Shopee untuk berbelanja. 

“Saat ini, saya lebih banyak memakai Shopee dibandingkan e-commerce lainnya. Bahkan, untuk memesan makanan, saya lebih sering menggunakan Shopee Food dibandingkan GoFood dan GrabFood,” ujar Olivia. 

E-Wallet Pilihan Gen Z 

Lebih murah

Responden lainnya, Antonius Andreas Tanada (21) mengatakan, faktor perbedaan harga menjadi penentunya. Harga barang (dan makanan) di Shopee bisa berbeda Rp 5.000 hingga Rp 10.000 lebih murah dibandingkan lapak lain. Apabila menggunakan ShopeePay, perbedaan itu bisa lebih besar lagi. 

“Perbedaannya terlalu sulit untuk dikesampingkan. Menurut saya, Shopee memang benar bagus. Tidak hanya promonya banyak, harga barang-barangnya juga lebih affordable,” ujar dia.

Baca juga: Memahami Karakteristik Generasi Z yang Kerap Dianggap Pemalas

Dosen dan peneliti UMN, Nosica Rizkalla, berkata bahwa tendensi Generasi Z menggunakan perbedaan harga untuk menentukan pilihan e-wallet bisa dipahami. Hal itu berkaitan dengan karakter hemat (frugal) Gen Z.

Mayoritas Gen Z masih sekolah dan belum memiliki pendapatan tetap. Maka, mengatur gaya belanja dan konsumsi berdasarkan diskon dan promo yang disokong e-wallet tertentu tidak dapat dihindari.

 

Gender jadi pembeda

Namun, jika temuan selama survei dibagi spesifik berdasarkan gender, maka perbedaan preferensi e-wallet akan ditemukan antara pria dan perempuan.

Pelanggan perempuan lebih suka menggunakan ShopeePay. Sementara itu, pelanggan pria lebih menyukai OVO.

Peneliti dan dosen UMN Elissa Lestari mengatakan, temuan itu menunjukkan bahwa brand yang mengincar perempuan sebaiknya menggunakan Shopee dalam berdagang. 

“Ketika kalian mengincar kelompok tertentu yang spesifik, placement harus pas untuk mendapatkan exposure yang diinginkan,” ujar Elissa. 

Ilustasi generasi Z
freepik.com/pch.vector
Ilustasi generasi Z

Populasi Generasi Z saat ini merupakan yang terbanyak di dunia. Jumlah  mereka mencapai 2,5 miliar pada tahun 2020. Hal serupa juga terjadi di Indonesia.

Statusnya sebagai ‘penguasa dunia’ otomatis membuat Generasi Z menjadi target pasar baru bagi industri.

Tetapi menggaet hati mereka bukanlah perkara mudah. Anak-anak muda ini punya value dan karakteristik berbeda dibandingkan generasi-generasi pendahulunya, yakni Baby Boomer, Gen X, atau Milenial.

Artinya, industri tak dapat menggunakan strategi pemasaran sebagaimana menyasar generasi sebelumnya. Dibutuhkan strategi baru agar pemasaran menjadi lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, memang benar Gen Z masih  belum memiliki daya beli yang besar. Tetapi kepastian terhadap ketahanan mereka di pasar perlu diperhatikan.

Sebab, suatu saat nanti dunia dalam genggaman generasi mereka, merupakan sebuah keniscayaan.