JEO - Insight





25 Tahun
Kompas.com,
Melihat Harapan

Senin, 14 September 2020 | 07:59 WIB

Berpegang pada harapan tidak selalu membawa kemenangan. Kerap kita dikecewakan dan merasa kalah terempaskan.

Namun, melihat dan menanam harapan adalah ungkapan syukur hari ini yang membuat kita tidak terlekat di masa lalu, tidak meloncat ke masa depan.

~ Wisnu Nugroho, Pemimpin Redaksi Kompas.com

 

DUA puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ada banyak kisah, dinamika, dan tantangan. Bersamanya, ada pula cerita suka, duka, tawa, dan air mata.

JEO ini akan menghadirkan kisah dari mereka yang menjalani hari-hari pertama Kompas.com. Di sini, kami juga mengenang teman-teman kami yang terlebih dahulu berpulang. 

Lalu, bersama semua kisah itu, kami mengajak Indonesia untuk bersama-sama melihat sekaligus merawat harapan. 

Simak juga: Kompilasi Video Ucapan Selamat Ulang Tahun ke-25 untuk Kompas.com

Karena, selama masih ada hidup, harapan ada. Selama ada hal-hal baik di sekitar kita, harapan itu ada pula. 

Harapan pun bisa jadi adalah hal baik bahkan hal yang terbaik dalam hidup. Kompas.com memilih untuk melihat harapan, bahkan pada saat situasi paling sulit seperti saat ini.

Seperti kata Albert Einsten, belajarlah dari masa lalu, jalani hidup hari ini, dan jaga harapan untuk esok hari.

HARI-HARI PERTAMA KOMPAS.com DALAM KATA PARA PELAKU

JALAN berliku. Banyak drama. Ulang tahun pun sempat berganti tanggal.

Tiga kalimat tersebut adalah gambaran paling ringkas untuk menggambarkan perjalanan 25 tahun Kompas.com.

Bermula dari "lapak" html berisi sebagian berita dari harian Kompas, transformasi digital selama 25 tahun ini telah mengantarkan Kompas.com sebagai perusahaan terpisah dengan harian Kompas.  

DOK. KOMPAS
Artikel di halaman pertama harian Kompas, Minggu 22 Oktober 1995, yang mengumumkan tentang hadirnya Kompas di Internet sejak 14 September 1995. Namanya Kompas Online. Alamatnya www.kompas.co.id.

Perjalanan Kompas.com dari titik nol hingga setidaknya sampai 2017 telah disusun rapi oleh Heru Margianto dan kawan-kawan dalam sajian Visual Interaktif Kompas (VIK) Kompas.com, Transformasi Digital Kompas.

Namun, bukan berarti segalanya telah tuntas diceritakan. Apa kata mereka yang menjalani hari-hari pertama bersama Kompas.com? 

Adakah pelajaran bisa kita petik dari cerita mereka? Apakah rasa syukur semakin tertanam di hati karenanya? Adakah semangat dan harapan terwariskan?

Ini kisah mereka...

Lika-liku wartawan Kompas.com generasi awal

"Dulu kami kalau laporan harus mencari telepon umum dan yang tempatnya sepi," ujar Heru Margianto, mengenang hari-hari pertamanya di Kompas.com, Minggu (13/9/2020).

MBK adalah kode yang melekat pada sosok yang kini adalah salah satu Redaktur Pelaksana Kompas.com. Mbonk, panggilannya.

Cerita soal melaporkan berita lewat telepon umum adalah kisah yang dijalani Heru pada kurun 2000. 

"Jadi, dulu kalau liputan harus bawa bekal koin," kata dia sembari tertawa. 

Model kerjanya, wartawan di lapangan menelepon nomor kantor lalu melaporkan berita yang akan diketik oleh redaktur di kantor.

Bergabung ke Kompas.com pada medio Juli 2000, Mbonk menyebut kisah laporan dengan telepon umum itu tak berlanjut lama.

Masih pada tahun yang sama, wartawan di lapangan mendapatkan gadget alias handphone (HP). Pada waktu itu sudah canggih, atau setidaknya keren dilihat, yaitu Nokia 5110.

Pola laporan masih tetap lewat telepon. Bedanya, reporter miscall saja ke redaktur.

"Nanti yang di kantor menelepon balik. Biar lebih irit buat reporter," ujar Heru. 

Rinci dia gambarkan perkembangan teknologi pelaporan Kompas.com ini. Di antara perkembangan itu adalah pernah para redaktur di kantor menggunakan headset laiknya petugas call center.

"Dari awalnya telepon dijepit di leher, karena mereka juga sambil mengetik, belakangan diganti dengan alat yang seperti biasa dipakai di call center itu," tutur Heru. 

Mbonk adalah satu dari sembilan nama yang pertama kali direkrut Kompas Online, nama awal Kompas.com.

Bersama Mbonk ada sejumlah nama lain. Sebagian masih ada di Kompas.com, seperti Wisnubrata, Glori K Wardianto, dan Erlangga Djumena. 

Sebelum generasi mereka, perekrutan tidak dilakukan untuk posisi reporter. Sejumlah wartawan yang telah berkecimpung lama di media massa direkrut untuk mengunggah berita saja.

Di antara generasi awal perekrutan itu ada I Made Asdhiana dan Jodhi Yudono. Dalam perjalanannya, Pak Made, panggilan untuk I Made Asdhiana, pernah menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Kompas.com.

"Awalnya, Kompas Online itu plek masukin berita dari harian Kompas. Tidak ada (running) update. Ketika saya masuk, mulai ada update," tutur Pak Made yang bergabung ke Kompas.com pada 1999.

Sebelum generasi Pak Made, penggarapan Kompas Online dilakukan oleh personel dari harian Kompas.

Pada hari-hari pertama versi update muncul di Kompas Online, lanjut cerita Pak Made, sumber berita masih terbatas pula dari kantor berita.

Saat kebutuhan berita semakin banyak, perekrutan wartawan baru pun dimulai. Itu generasi ketika Heru, Wisnu, Glori, dan Josephus Primus masuk. 

"(Tapi) total orang pada waktu itu pun cuma 50. Itu tidak hanya redaksi tetapi termasuk sales, HRD, dan lain-lain," ujar Pak Made. 

Generasi lebih baru datang sekitar 2007. Inggried Dwi Wedhaswary, Laksono Hari Wiwoho, dan fotografer Kristianto Purnomo ada di antaranya.

Inggried bertutur, ada lima orang reporter di angkatannya. Empat orang di lapangan untuk meliput segala peristiwa, sementara satu orang membantu kanal olahraga di kantor.

"Itu mengerjakan peliputan untuk semua kanal. Bisa, pagi liputan pembunuhan, malamnya liputan peluncuran BMW atau produk terbaru Microsoft," tutur Inggried sembari tertawa, Minggu (13/9/2020).

Personel di lapangan pada hari-hari itu, ungkap Inggried, hanyalah empat orang termasuk dirinya itu. Karena, generasi yang direkrut sebelumnya ditarik ke kantor untuk menggarap dan mengunggah update dari kantor.

Baca juga: 23 Tahun Kompas.com: Merentang Lintasan Digital 1995-2018

Namun, tak urung Inggried dan angkatannya pernah pula merasa beruntung mendapatkan peralatan keren pada masanya. Ini karena pada hari-hari itu mereka sudah merasakan yang namanya Nokia Communicator 9210. Ingat, itu hari-hari pada 2007. 

"Itu juga enggak baru. Itu lungsuran dari kawan-kawan harian Kompas. Enggak semua juga di Kompas.com yang di lapangan dapat itu," ujar Inggried.

Menurut Inggried, sejumlah peralatan yang sempat dia pakai pada awal-awal bergabung dengan Kompas.com cukup membantu pekerjaan. Setelah Communicator 9210, sebut dia, mereka termasuk wartawan yang mengawali pemakaian Blackberry dan Nokia E71.

"Sempat kecopetan yang Nokia E71. Harus ganti dengan mencicil ke kantor," kata Inggried tergelak. 

Hery Prasetyo—lebih beken dengan nama Hery Gaos—pun mengamini ada sejumlah peralatan cukup mutakhir dinikmati wartawan generasi awal Kompas.com.

Heri bukan wartawan fresh graduate. Malang melintang di berbagai media baik cetak lokal maupun nasional, Heri ditawari bergabung ke Kompas Cyber Media (KCM)—nama baru setelah Kompas Online, sebelum berubah lagi menjadi Kompas.com—pada 2007 untuk mengawal kanal olahraga.

"Tapi itu juga enggak semua dapat, apalagi dapat yang bagus. Bergantian pakai saja. Kami di kantor, yang komputernya paling bagus itu Pak Made," kata Heri, Minggu (13/9/2020). 

Bukan sekali dua kali, ujar Heri, wartawan mengantre komputer desktop Pak Made yang paling nyaman dipakai pada masa itu untuk mengunggah berita. 

"Waktu reborn Kompas.com yang acaranya di Hotel Mulia dan ada pameran yang menampilkan live Kompas.com (pada 2008), saya belum punya PC sendiri malah," kata Heri. 

Beda zaman, beda tantangan

Bagi Inggried, tantangan setiap zaman akan selalu berbeda. Di angkatannya, tantangan itu dia sebut pembuktian agar wartawan media online dapat diterima di lingkungan jurnalistik.

"Dulu dikotomi cetak dan online sangat kentara. 'Kelas' itu nyata ada. Ada tantangan untuk pembuktian bahwa kita bisa setara, meski dituntut kecepatan tapi tetap akurat dan cover both side," ungkap Inggried. 

Saat itu, bukan rahasia bila wartawan online diragukan soal akurasi. Bagi Inggried, keraguan itu hanya dapat dijawab dengan bukti bahwa kecepatan dalam menghadirkan berita bukanlah pembenar untuk berita yang salah. 

Inggried yang kini menangani kanal Tren di Kompas.com menyebut, 13 tahun bersama Kompas.com mengajarkannya soal beragam tantangan yang terus berubah dari waktu ke waktu itu.

"Pelajaran paling dasar, jangan kebanyakan mengeluh dan komplain, jangan cepat puas juga," ujar dia memaknai perjalanannya bersama Kompas.com. 

Ninok Leksono, mantan Pemimpin Redaksi Kompas.com pun menyebut tantangan Kompas.com ke depan tidak kalah banyak dibanding generasi pertama. Tentu, tantangan pada masa dia 10 tahun memimpin Kompas.com dengan yang dihadapi hari-hari ini tidaklah sama.

"Cara berbisnis di digital beda sekali dengan media konvensional. Ada tantangan struktural pula, seperti alam pikir bisnis dan konten yang belum benar-benar digital," ujar Ninok memberikan contoh, Minggu (13/9/2020).

Heru pun mengakui bahwa transformasi digital yang dia turut saksikan dan jalani selama 20 tahun ini belumlah mendekati garis finish. Sejumlah inovasi telah dilakukan, kata dia, tetapi ke depan pun tetap terus dibutuhkan inovasi-inovasi lain atau lanjutan di Kompas.com.

"Kita semua masih terus bertransformasi besar-besaran ke digital," ungkap Heru.

Menurut Heru, Kompas.com dan semua unit bisnis digital di KG Media layak dan harus berpikir untuk melanjutkan legacy yang sudah diterakan harian Kompas yang pada 2020 berusia 55 tahun.

"Warisan terbesar Pak JO di jurnalistik tak hanya soal menulis tetapi juga soal memandang hidup. Tak mudah mewarisi dan mengaplikasikan itu ke era digital. Tapi, roh itu harus tetap dimiliki," ujar Heru. 

Ninok menyebut, tak dapat dimungkiri bila kehadiran pertama Kompas.com boleh dibilang ada nuansa mendahului zaman. Ini terutama dari sisi bisnis.

Pada 1995, kesadaran tentang era digital sudah dirasakan tetapi masih ada terlalu banyak keraguan pada teknologi baru bernama internet itu. 

Terlebih lagi, kata Ninok, koran sedang berada pada masa jaya ketika Kompas Online hadir sebagai satu di antara generasi pertama portal berita dalam jaringan (daring). 

"(Dulu), perusahaan bertanya, 'Memang ada gunanya memasang iklan di media online?'," tutur Ninok memberikan gambaran.

Tentu, lanjut Ninok, situasi itu tak terbayangkan bila hanya menyaksikan perkembangan dalam lima hingga tujuh tahun terakhir. 

Harapan mereka

Hari ini, jumlah personel Kompas.com jelas sudah lebih dari generasi Pak Made, Mbonk, atau Inggried. Namun, harapan sekaligus tantangan yang kini diemban pun karenanya tak akan pernah menjadi lebih ringan.

Ninok, kini memimpin Universitas Media Nusantara (UMN), menyebut media online termasuk Kompas.com harus terus melakukan terobosan untuk membawa media digital ke puncak kejayaan seperti pernah digapai di era media konvensional. 

Menurut Ninok, kehadiran Kompas Online sejak pertama kali pun sudah dilandasi pandangan ada peluang dari perkembangan teknologi informasi ini. Peluang itu pun dirasa menjawab persoalan klasik terkait tantangan geografis Indonesia dalam hal logistik dan jangkauan.

Hari ini, persoalan infrastruktur telekomunikasi boleh dibilang sudah jauh lebih canggih dibanding sepuluh tahun pertama Kompas.com.

Tantangan saat ini, kata Ninok, adalah membuktikan bahwa Kompas.com memang sepenuhnya menjalani tahapan bisnis digital sebagaimana seharusnya alam dan langgam digital itu sendiri. 

Lalu, dari sisi jurnalistik, Kompas.com pun harus dapat menyeimbangkan jurnalisme kecepatan dengan jurnalisme berkualitas. 

"Saya tetap optimistis ke Kompas.com, karena masa depan ada di sana. Peluang masih banyak. Bila yang melihat itu cerdas, tajam, dan terbuka pikiran, saya yakin peluang masih besar," tegas Ninok. 

Adapun Heru berharap, Kompas.com dan unit bisnis digital di KG Media mampu terus beradaptasi dan menghadapi disrupsi yang juga terjadi di dalam area digital. 

"Semoga Kompas.com bisa berlanjut dan berpengaruh bagi kemaslahatan," harap Heru. 

Sementara itu, Inggried tak mau berucap muluk soal harapan. Namun, dia sungguh ingin Kompas.com dapat menjadi sesuatu, juga menjadi referensi bagi para pencari informasi.

"Menyediakan informasi yang menghidupkan sekaligus menghidupi orang-orang di dalamnya," harap Inggried. 

Pada bagian ini, Inggried tak dapat menyembunyikan arti Kompas.com bagi dirinya. Dia menyebut perjalanannya di Kompas.com telah mempertemukan dengan orang-orang yang istimewa, termasuk sosok yang benar-benar memahami kelebihan dan kekurangan orang lain.

Inggried pun mengaku tetap menyimpan optimisme untuk Kompas.com. Bagi dia, bekerja menjadi wartawan apalagi di Kompas.com bukanlah semata tentang pekerjaan. Ada panggilan hidup. 

"Ada hal-hal baik yang bisa dipertahankan, meski di situasi yang sekarang juga penuh tantangan bahkan mungkin ketidakpastian," tegas Inggried.

Adapun Pak Made berkeyakinan, bila tantangan institusi benar-benar telah tuntas maka Kompas.com akan jauh lebih maju dan dapat berlari lebih kencang.

Dia pun menitipkan pesan kepada para pimpinan Kompas.com untuk dapat berlaku tegas terkait tantangan institusi tersebut demi menyongsong masa depan.

Dalam salah satu kenangan, Pak Made ingat benar bahwa Pak JO (Jakob Oetama) pun menyebut bahwa Kompas.com harus jadi besar.

Ada banyak inisiatif pernah dibuat pada masa lalu, bahkan pada masa awal, ungkap Pak Made, yang kini bak diputar waktu dijalankan lagi.

Di antara inisiasi itu, sebut dia, adalah Megaportal. Semua media di lingkungan KG pada waktu itu diharuskan berkolaborasi dan bersinergi dengan Kompas.com apabila ada pekerjaan yang terkait dengan dunia digital.

Pada hari ini, kolaborasi kembali didengungkan. Menurut Pak Made, perulangan tak akan menjadi perubahan yang lebih baik jika persoalan mendasar terkait komitmen terhadap Kompas.com tak mewujud nyata dalam praktik sinergi dan kolaborasi itu. 

Simak juga: Catatan Perjalanan Digital Kompas.com dalam tautan VIK di bawah ini: 


 

 

 

MENGENANG MEREKA...

PEMIMPIN umum Kelompok Kompas Gramedia Jakob Oetama, berpulang pada Rabu (9/9/2020). Duka dan kehilangan besar, adalah sebuah kepastian suasana hati kami dalam hari-hari ini.

Biografi Ringkas Jakob Oetama - (KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI)

Baca juga: Jurnalisme Makna: Satu Warisan Jakob Oetama, Pendiri Kompas Gramedia

Terlebih lagi, dalam satu tahun terakhir, kami juga kehilangan teman-teman terbaik kami. Mereka pergi dalam usia relatif muda. Berentet.

Sowan Pak JO

Sabtu (12/9/2020) pagi, dari Depok, kami mengayuh sepeda ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Menuju makam Pak JO.

Dalam urutan yang tak kronologikal dalam alur tulisan ini, kami terlebih dahulu menyambangi makam kawan kami, Moh Latip. Itu sekaligus awal dari perjalanan kami pada hari itu.

KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Perwakilan dari Kompas.com menggunakan sepeda saat akan berziarah ke sejumlah makam rekan sejawat yang telah terlebih dahulu berpulang, Sabtu (12/9/2020). Ziarah ini merupakan rangkaian kegiatan HUT Ke-25 Kompas.com

Melintasi Jalan Raya Margonda, kemudian masuk ke Jalan Raya Lenteng Agung. Menyeberang ke Jalan Raya Pasar Minggu hingga akhirnya sampai di TMP Kalibata.

Jaraknya sekitar 23 kilometer. Semua kami tempuh dengan waktu kurang lebih satu jam tanpa beristirahat.

“Wah, cepat juga sampainya,” celetuk Dian Maharani, salah seorang asisten editor yang memilih start dari TMP Kalibata dalam perziarahan ini.

Ia tidak sendirian menunggu di pedestrian depan kawasan makam. Ada sejumlah asisten editor, redaktur pelaksana, dan personel HRD yang turut bergabung.

Ada pula personel unit marketing komunikasi yang menjadi tim support acara gowes itu.

Mas Inu, sebagai perwakilan Kompas.com memberikan bantuan bagi anak-anak kurang mampu yang sedang menempuh sekolah online di masa pandemi ini.

Meski muka mereka ditutup masker, anak-anak itu kentara terlihat gembira mendapatkan bantuan tersebut. 

Beres penyerahan bantuan, kami bergegas memasuki TMP Kalibata. "Sowan" Pak JO. 

Sepeda kami parkir terlebih dahulu. Kami diminta untuk berpakaian dengan layak ketika memasuki area makam.

Sekitar lima menit berjalan kaki, kami tiba di tempat peristirahatan sang Kompas perusahaan.

KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho (kiri) menaburkan bunga di atas makam pendiri Kompas, Jakob Oetama, di TMP Kalibata, Sabtu (12/9/2020).

“Selamat pagi, Pak Jakob,” Mas Inu menyapa.

Ia langsung mengambil posisi jongkok persis di sebelah nisan yang masih berupa kayu berwarna putih berbentuk salib.

Makam yang baru beberapa hari terisi itu tampak penuh taburan bunga merah dan putih. Juga masih ada karangan bunga berbentuk salib, simbol kemenangan bagi umat Kristiani.

Salah seorang petugas makam memberi tahu, makam baru dapat dibersihkan dan ditata sepekan setelah pemakaman.

Berbeda seperti di makam Kong Latief, kali ini kami menjaga tutur kata. Tidak banyak bertingkah. Maklum, sedang menghadap pimpinan tertinggi perusahaan.

Dipimpin Mas Inu, kami memanjatkan doa untuk ketenangan arwah Pak Jakob. Harapan agar warisan nilai-nilainya tetap hidup di sanubari insan Kompas tidak lupa dilontarkan.

Wangi bunga semerbak sekali ketika doa dipanjatkan.

“Kata orang, apabila kita enggak kenal dengan seseorang, tapi sangat bersedih ketika orang itu pergi, tandanya dia orang baik,” celoteh Robertus Belarminus, asisten editor di desk Regional Kompas.com.

Ervan Hardoko

Ervan Hardoko. Kami memanggilnya Mas Koko. Lelaki kelahiran 21 Januari 1974 ini meninggal pada 8 Agustus 2019. 

Bergabung bersama Kompas.com pada medio 2012, Mas Koko pergi karena sakit yang terasa mendadak pula.

Baca juga: Selamat Jalan Ervan Hardoko, Wartawan Kompas.com yang Lucu

Sekian waktu mengawal kanal Internasional, Mas Koko berpulang ketika baru hitungan bulan bertugas di Solo, Jawa Tengah. Selain dipercaya membangun lini produksi baru Kompas.com, ke Solo adalah salah satu rencananya menghabiskan hari tua kelak.

Facebook Ervan Hardoko
Ervan Hardoko (kiri bawah) semasa hidup, berfoto bersama tim awal pengembangan lini baru Kompas.com di Solo.

 Namun, manusia berencana, penentu akhir adalah Tuhan Yang Maha Esa. 

Ziarah ke makam mas Koko adalah rute ketiga kami pada Sabtu (12/9/2020). Usai berdoa di makam Pak JO di TMP Kalibata, kami kembali mengayuh sepeda ke TPU Menteng Pulo.

Jarak di antara dua makam ini sekitar 6,3 kilometer. Di sinilah jasad Mas Koko terbaring.

Di makam Mas Koko, suasana kembali cair. Sebelumnya, di makam Pak JO, kami masih merasa seperti menghadap beliau saat masih berkantor di Palmerah saja.

Mas Inu bercerita, salah satu momen yang sulit dilupakan tentang Mas Koko adalah momen ketika Mas Koko tidur dan mengorok di sela jam kerja di kantor.

“Pas dia kebangun, bilang, ‘enggak kok, gua enggak tidur’. Gimana enggak tidur, orang ngorok begitu?" kenang Mas Inu yang disambut gelak tawa.

Celetukan legendaris Mas Koko selanjutnya terlontar satu per satu di antara kami, diiringi tawa. Sejenak, kami merasakan kehadiran Mas Koko di antara kami.

Yang tenang di sana ya, Mas Koko... 

Moh Latip

Duka belum benar-benar terobati, Kompas.com harus pula kehilangan lelaki kelahiran 18 April 1976 ini pada 29 Desember 2019. 

Baca juga: Obituari yang Kekurangan Kata untuk Kong Latip...

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Serab, mendadak riuh rendah, Sabtu, 12 September 2020 pagi.

Kami, karyawan Kompas.com dari berbagai unit kerja menyambangi TPU yang terletak di Jalan Makam Kampung Parung Serab, Tirtajaya, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat itu.

KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Perwakilan dari Kompas.com berziarah ke makam rekan Moh. Latip di Pemakaman Kampung Serab, Depok, Sabtu (12/9/2020). Ziarah ini merupakan rangkaian kegiatan HUT Ke-25 Kompas.com

 “Halo, Kong Latief,” sapa Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho sembari menepuk batu nisan bertulis Moh Latief.

Soal nama, kawan satu ini memang seru. Ada beragam versi. Nama KTP Moh Latip, nama beken Mohammad Latief, tapi ada juga nama lain yang muncul sebagai alamat e-mail yaitu Latipus Caverius.

Wahyu Adityo Prodjo, salah seorang reporter, menghampiri kerumuman kami di dekat pusara untuk menyerahkan beberapa plastik transparan berisi bunga.

Mas INU—sesuai kode wartawannya, yang lama-lama jadi terbiasa juga disebut Mas Inu—, begitu biasa kami memanggil Pimred kami, langsung menaburkan bunga tersebut di atas makam.

Prosesi tabur bunga juga dilakukan yang lain secara bergantian diikuti berdoa dan berfoto bersama-sama.

Salah seorang dari kami berseloroh, “Pasti Kong Latief bilang nih, ngapain lu pada pagi-pagi ke sini’.

Kami benar-benar membayangkan sosok Kong Latief berkata demikian. Memang kocak benar gaya almarhum.

Sontak, beberapa dari kami tanpa ragu melontarkan celetukan-celetukan khas pria asal Betawi itu semasa hidup.

Gelak tawa kami pun memecah kebisuan makam yang baru sekitar satu jam disiram cahaya mentari pagi.

Bersedih bukan cara kami mengenang sahabat yang telah pergi mendahului. Makam Moh Latief merupakan tempat pertama yang kami kunjungi Sabtu itu.

Selanjutnya, kami akan berziarah ke sejumlah makam di berbagai tempat dengan bersepeda, sebagai bagian dari acara menjelang Hari Ulang Tahun ke-25 Kompas.com yang jatuh pada tanggal 14 September 2020.

Ya bersepeda…

Kurnia Sari Aziza

Kabar duka pun makin bikin sesak ketika Kompas.com harus kehilangan Kurniasari Aziza. Dia meninggal saat masih memegang "catatan" sebagai kepala desk termuda di Kompas.com. 

Perempuan kelahiran 23 Mei 1989 ini berpulang di hari baik, Jumat, tepatnya 31 Juli 2020 sebelum waktu ashar. 

Semasa masih bersama-sama di kantor, Kur, begitu almarhumah akrab disapa, dikenal sebagai sosok pekerja keras.

Baca juga: Obituari "Icha Kur" Kurnia Sari Aziza, Orang Baik Pergi di Hari Baik...

Ia datang tepat waktu dan pulang paling larut. Kalau ditanya kapan pulang, ia selalu menjawab, “Iya, sebentar lagi, tanggung nih." 

Kebiasaannya itu membuat Kur lebih senang memesan makanan beraneka ragam dengan layanan ojek online. Itu pula yang membuat Kur sering dipanggil “Kur Go-Food”.

Sosok Kur juga dikenal iseng. Robertus Belarminus, adalah salah satu rekan yang paling sering jadi korban kejahilan Kur.

“Kur enggak ada, yang ngisengin Obet sekarang berkurang satu,” celetuk Wakil Redaktur Pelaksana Kompas.com, Ana Shofiana Syatiri.

Robertus hanya tersenyum. Ia rindu juga dijahili Kur.  

Beres menaburkan bunga, kami melantunkan doa di makam Kur. Itu merupakan akhir dari serangkaian perziarahan kami ke sejumlah sahabat serta pimpinan pada Sabtu (12/9/2020). 

 

Sowan Pak Ojong

Pada hari yang sama, kami pun menziarahi makam PK Ojong, yang bersama Pak JO adalah pendiri Kompas Gramedia. Terlebih lagi, 2020 juga menjadi momentum peringatan 100 tahun PK Ojong. 

KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO
Perwakilan dari Kompas.com berziarah ke makam pendiri Kompas, P K Ojong, di Tanah Kusir, Sabtu (12/9/2020). Ziarah ini merupakan rangkaian kegiatan HUT Ke-25 Kompas.com

 Baca juga:  Dua Sisi PK Ojong: Idealis dan Keras tapi Loyal dan Peduli

Bila merujuk urutan perjalanan, makam Pak Ojong adalah tujuan sebelum kami berziarah ke peristirahatan terakhir Icha Kur.

Ini makam yang dituju langsung dari ziarah sebelumnya di peristirahatan Mas Koko. Jarak tempuhnya sekitar 18 kilometer, antara TPU Menteng Pulo dan TPU Tanah Kusir. 

Mentari sudah nyaris di atas kepala. Kata fotografer Mas Kristianto Purnomo, “(Matahari) sedang lucu-lucunya.”

Medan yang kami tempuh pun tidak melulu rata. Tanjakan, meski sedikit saja tetap membuat kami melambat, sesuatu yang tidak pernah ada di kamus kami sebagai pekerja media online.

Namun, pelan rupanya tak sepenuhnya buruk. Kami menjadi lebih memperhatikan sekitar, kami juga banyak berbincang selama perjalanan, menyemangati satu sama lain, sembari mengumpulkan energi.

Solidaritas tumbuh di antara kami, tidak peduli jabatan. Ketika tiba saatnya, kami kembali mengayuh sepeda menuju titik akhir.

Setiba di makam PK Ojong, kami melantunkan doa. Kami taburkan bunga sesudahnya.

Sebelum kami tiba, makam itu sudah bertabur bunga, seolah Pak Ojong baru saja dimakamkan di sana. Padahal, Pak Ojong, karib Pak Jakob, meninggal pada 1980.

Mengenang Mas VIK

Ada satu nama lagi yang rasanya tetap muncul dalam aliran doa kami, hidup pula dalam kenangan dan warisan harapan yang tak kalah besar.

Beliau adalah Taufik Mihardja. Kami memanggilnya Mas VIK, sesuai kode dia sebagai wartawan di Kompas Gramedia.

KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama (kedua dari kiri) didampingi Content General Manager Kompas.com, Taufik Hidayat Mihardja (kanan), Wartawan Senior Harian Kompas, Agus Parengkuan (belakang), saat mengunjungi Kompas.com, Senin (21/6/2010).

 Mas VIK berpulang tak kalah tiba-tiba pada 27 Agustus 2014 dini hari. Padahal, pada malam harinya, Mas VIK masih berpamitan dengan gaya khas—semangat dan tersenyum—kepada awak Kompas.com yang mendapat giliran tugas dari petang hingga malam. 

Baca juga: Pagi Tak Akan Lagi Sama, Obituari Taufik Mihardja... 

Andai makam mas VIK tak berada di Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat, niscaya perjalanan ziarah bersepeda pun akan menyambanginya....

Saksi harapan

Kami menjadi saksi bagaimana semangat dapat menyembuhkan. Ia hadir dalam senyum, sapa, bahkan sekadar tepukan di bahu.

Letih di sekujur tubuh tak terperi. Tetapi semangat rupanya jimat, untuk bangkit dari sakit, membuat harapan tetap tersemat. Diri ini meyakini, itulah kunci keberhasilan.

Lelah memang. "Menggosong" alias menjadi gosong, itu sudah pasti. Pegal di sekujur badan, terutama kaki, tidak tertahankan.

Bayangkan, kami menggowes sekitar 73 kilometer. Setidaknya, itu yang diinformasikan perangkat digital.

Belum lagi, kami masih harus mengayuh lagi sepeda untuk pulang ke rumah masing-masing.

Meski ada pula yang memilih menggunakan taksi online, lelah dari rute panjang dari Depok hingga Tanah Kusir tetaplah terasa.

Namun pencapaian kami pada hari itu menghapus air mata. Kami telah menuntaskan perziarahan. Kami telah mencapai garis akhir dan kami memelihara iman.

Dalam video gowes ziarah yang ada di tulisan ini, kami barangkali terlihat semata gembira. Sesungguhnya tidak.

Untuk catatan, Kompas.com memberlakukan kerja dari rumah (work from home) sepenuhnya sejak 14 Maret 2020. Protokol yang dikenakan kepada kami pun cukup ketat, termasuk permintaan membuat catatan harian terkait aktivitas harian.

Namun, demi mereka yang lebih dulu pergi dengan sejumlah kenangan dan—yang terpenting—warisan nilai dan perjuangan yang belum selesai, kami keluar rumah, mengayuh sepeda, dan bersimpuh di depan makam-makam ini.  

Berziarah ke makam mereka menjelang ulang tahun ke-25 Kompas.com adalah salah satu cara kami memaknai perjalanan sampai dengan hari ini.

Bersama upaya ini, janji hati untuk melanjutkan perjalanan Kompas.com pun terpatri, sebagai cara terbaik melanjutkan hal-hal baik dari mereka yang telah mendahului pergi. 

Kong Latip, Pak Jakob, Mas Koko, Pak Ojong, Kur, dan Mas VIK, sampai jumpa lagi... Setiap yang hidup pasti akan mati... So long... 

 

MELIHAT HARAPAN

HARAPAN. Ada doa bersama upaya. Ini, kata Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho persis betul dengan semangat yang sedang Kompas.com ingin hidupi.

 "Melihat harapan. Melihat ke depan yang penuh dengan ketidakpastian yang makin besar dan panjang," ungkap Wisnu, Minggu (13/9/2020). 

Bagi Wisnu, melihat harapan juga merupakan cermin orang beriman, yaitu ketika seseorang menaruh percaya pada sesuatu di luar kemampuan dan upaya dirinya sendiri.

"Berusaha keras dan gigih tetapi juga ada semangat berserah. Untuk harapan yang kita mau di depan dalam posisi yang tidak menuntut. Berserah. Bukan menyerah apalagi terserah," papar Wisnu.  

Menjalani tahun ini dengan sebagian besar berada di masa pandemi, Wisnu berkeyakinan upaya gigih Kompas.com akan memunculkan pula kemampuan melihat peluang sekaligus meletakkan harapan-harapan baru di masing-masing peluang itu. 

"Capaian kinerja hingga saat ini membuktikan bahwa kita bisa menyikapi ketidakpastian karena melihat harapan," tegas Wisnu.

Meratap dan mengeluhkan keadaan tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Namun, kata Wisnu, itu bukan pilihan yang hendak diambil Kompas.com. Melihat peluang dalam tantangan yang kemudian melahirkan harapan-harapan baru adalah pilihan Kompas.com.

"Belum tentu membuahkan hasil. Tapi kehadiran harapan-harapan baru itu pun akan terus pula memunculkan peluang," ujar dia sembari tetap menekankan pentingnya berserah di samping usaha gigih dan keras.  

CEO KG Media, Andy Budiman, berharap Kompas.com juga terus melanjutkan perjuangan Pak Jakob. 

"(Perjuangan) mencerdaskan, memberikan pencerahan, supaya Indonesia menjadi lebih baik," sebut dia, Minggu (13/9/2020). 

Andy mengaku optimistis dengan Kompas.com. Menurut dia, Kompas.com sangat potensial. Bahkan, pandemi yang menjadi masa sulit bagi hampir semua orang dan kalangan justru menyediakan bukti bahwa Kompas.com berkembang sangat baik. 

"Orang mencari informasi (selama pandemi). Brand menjadi penting dalam situasi ini. Pembaca mengakses brand yang mereka kenal," tutur Andy.

Dari sisi jurnalisme, Andy menitipkan kepercayaan pada awak redaksi Kompas.com untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas. Namun, dia mengingatkan pula bahwa Kompas.com tetap berhadapan dengan tantangan bisnis.

"Ada banyak disrupsi, termasuk di didital. (Kompas.com) harus terus berinovasi. Tantangan Kompas.com saat ini dibandingkan platform lain juga lebih besar," imbuh Andy. 

Dengan data yang ada hingga saat ini, Andy tak mau menyebut sejarah kehadiran Kompas.com yang pada 14 September 2020 berusia 25 tahun ini sebagai kecelakaan sejarah. Kalaupun iya, menurut dia itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan.

Kebanyakan, ujar Andy, orang-orang yang terlihat sukses pada hari ini hanya mengungkap strategi yang berhasil dan kesuksesan yang diraih, seolah tahu persis A-Z langkah menuju sukses.

Padahal, "kecelakaan" pasti terjadi dalam sejarah perjalanan orang sukses sekalipun. Justru, dari kecelakaan itulah ada peluang agar ke depan tahu langkah yang lebih tepat untuk dilakukan. 

"Pada kenyataannya, (sukses datang dari) kombinasi antara usaha, kerja keras, dan kecelakaan. Ada penyertaan Ilahi juga, kalau memakai kata-kata Pak JO," tegas dia. 

Tidak ada, lanjut Andy, 100 persen hal di dunia ini yang benar-benar dapat kita kendalikan. Di balik capaian pada hari ini ada jasa pendahulu dan kerja keras yang terus kita lakukan sekarang.

"Itu dikombinasikan dengan hal-hal yang tidak semuanya ada dalam kendali kita tadi, ada penyertaan ilahi," tegas Andy.

Chief Digital Officer (CDO) KG Media Dahlan Dahi, menyebut usia 25 tahun adalah bukti bahwa Kompas.com konsisten mempertahankan hal yang dipercayai dalam kebijakan dan operasional editorial.

"Yaitu percaya pada berita yang akurat, independen, terpercaya. Di-drive kepercayaan itu. Pimpinan hingga wartawannya," ujar Dahlan, Minggu (13/9/2020). 

Perjalanan satu tahun yang dia lewati bersama Kompas.com pun mendapati bahwa kepercayaan redaksi terhadap nilai jurnalistik itu ternyata juga tidak bertentangan dengan volume trafik keterbacaan. 

"Ini yang paling menarik dari Kompas.com. Pertumbuhan kita dari sisi audiens cukup besar, lebih dari 50 persen dibanding tahun lalu, dan itu dicapai dengan tetap mempercayai value jurnalistik," ungkap Dahlan.

Dahlan menyebut, capaian yang disodorkan Kompas.com selama setahun ini tidak hanya berguna bagi Kompas.com dan KG Media tetapi juga bagi Indonesia.

"Memberi tahu semua orang bahwa meningkatkan trafik audiens tidak selalu identik dengan mengorbankan value dasar kita," tegas Dahlan. 

Dahlan pun mengagumi awak redaksi Kompas.com karena itu. Dia menyebutnya sebagai kemauan dan kemampuan beradaptasi dengan tujuan yang besar, yaitu membangun audiens yang lebih banyak, tanpa mengorbankan value dasar. 

"Dari situ, saya pun yakin bahwa jiwa dan roh Pak JO tidak ikut pergi (dengan kepergiannya). Kepercayaan atas value itu kan warisan beliau. Pak JO tetap hidup bersama kita," imbuh Dahlan.

Dunia jurnalistik boleh berubah, kata Dahlan, tetapi nilai dasar jurnalistik seperti yang diwarikan Pak JO tidaklah berubah. Sekali lagi, sebut dia, Kompas.com membuktikannya. Perubahan eksternal—dari medium dan audiens—tidak menggoyahkan nilai yang ditanamkan dan diwariskan Pak JO. 

"Teman-teman Kompas.com konsisten terjemahkan visi Pak JO dengan susah payah. Menambah audiens, menjadi relevan (dengan kondisi saat ini). Prinsip dasar tidak berubah, strateginya saja yang berubah," ungkap Dahlan tentang penilaiannya atas Kompas.com.

Menurut Dahlan, data ini adalah modal sangat kuat bahwa misi Pak JO yang disampaikan lewat jurnalisme akan dapat terus bertahan.

Meski demikian, tantangan ke depan tetaplah harus diantisipasi. Terlebih lagi, saat ini perilaku audiens berubah karena dorongan utama dari perkembangan teknologi, bukan ekonomi atau sosial budaya. 

"(Karenanya), tantangan terbesar adalah bagaimana mengelola perubahan ini untuk dapat tetap menjadi media yang relevan dan berguna bagi audiens," sebut Dahlan. 

Seturut dengan tema "Melihat Harapan", Dahlan menyebut Kompas.com adalah barometer hari ini yang membangun harapan tak hanya bagi KG Media tetapi juga bagi jurnalisme di Indonesia. 

Mantan Pemimpin Redaksi Kompas.com yang kini menjabat sebagai Vice Publisher Warta Kota, Ahmad Subechi, bertutur tentang salah satu momentumnya dengan Pak JO pada 2008.

"Anak muda harus berani menjawab tantangan!" ujar Bechi—panggilan Ahmad Subechi—, Minggu (13/9/2020), menirukan pesan Pak JO.

Pesan itu, tutur Bechi, disampaikan Pak JO dalam workshop Megaportal di Gedung Kompas Gramedia di Jalan Panjang, Jakarta Barat.

Secara eksplisit, lanjut Bechi, pak JO menegaskan tidak ada lagi sekat antara satu unit bisnis dengan unit bisnis lain di lingkungan Kompas Gramedia.

"Semua menjadi satu untuk membangun kekuatan di dunia digital," kenang Bechi atas perintah Pak JO pada waktu itu. 

Workshop itu berlanjut dengan perumusan konsep baru penggarapan konten digital di lingkungan Kompas Gramedia. Sayang, mendadak mas VIK sakit.

Semua orang yang terlibat dalam garapan itu menanti kesembuhannya terlebih dahulu. Saat akhirnya Kompas.com reborn, Bechi mengingat persis pidato mas VIK yang pada hari itu tetap datang sekalipun masih memakai tongkat.

"Ia menyampaikan mimpinya, kelak Kompas.com akan menjadi situs terbesar di negeri ini. Dia berkali-kali menekankan akurasi dan trust supaya Kompas.com dikenal sebagai media yang independen dan kredibel," tutur Bechi. 

Medio 2008 membuktikan inisiatif Megaportal menghadirkan audiens besar bagi kerja bersama semua unit bisnis digital di Kelompok Kompas Gramedia. Waktu itu, semua konten digital dikirimkan ke Kompas.com.

Hari ini, lanjut Bechi, Kompas.com gagah di usianya yang ke-25. Namun, perjalanan sejarah itu tak dapat dilupakan begitu saja. Setidaknya, ada inovasi yang terbukti pernah digdaya.

Ada pula peran banyak orang. Salah satunya, almarhum mas VIK. Lalu, ada sosok Edi Taslim yang mengawal bisnis. Juga, dukungan penuh dari jaringan Persda—cikal bakal Tribun Network—di bawah instruksi Herman Darmo.

"Ke depan, Kompas.com harus terus melakukan inovasi. Tantangan dunia digital sangat luar biasa, apalagi teknologi setiap saat berkembang dan bahkan berubah," ujar dia. 

Maknanya, apa pun capaian Kompas.com hari ini tidak boleh membuat berpuas diri. Bak pepatah, di atas langit selalu ada langit. 

"Sebaliknya, kita harus selalu membaca dan membaca, mengikuti perkembangan digital dari menit ke menit," tegas Bechi. 

Jika tidak, lanjut dia, sekali kita meleng atau terlena maka kita semua akan tertinggal kereta dan ujungnya dilibas oleh waktu dan zaman.

Terlebih lagi, persaingan bisnis digital juga sangat ketat. Inovasi adalah kunci. 

"Semoga Kompas.com dapat terus menyediakan konten yang dapat dipercaya karena itu adalah salah satu kekuatan editorial Kompas.com," ujar Bechi.