JEO - Peristiwa

Jangan Terlena Pelonggaran

Rabu, 15 September 2021 | 07:56 WIB

SUDAH beberapa pekan terakhir, sebuah lahan kosong di permukiman Kelurahan Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat, selalu diramaikan anak-anak setiap sore. Termasuk ketika tim JEO Kompas.com mendatangi kawasan itu, Minggu 5 September 2021 sekitar pukul 16.30 WIB.

Berbagi tempat dengan ayam yang berkeliaran bebas, anak-anak yang tinggal di kawasan itu tampak asyik bermain bola plastik.

Seorang anak berbaju biru menggiring bola ke arah gawang, kemudian dihalau oleh anak lain yang merupakan rival timnya.

“Brak”, ia berhasil merebut bola dengan melepas sepakan. Bola memantul  ke kaki anak berbaju biru sebelum berhasil ia kuasai. Sontak, sorak sorai rekan setimnya membahana seiring serangan berbalik arah.

Di bibir jalan dekat lahan kosong itu, sekumpulan ibu-ibu berdaster tampak sedang berkumpul. Dua di antaranya menyuapi anak balitanya. Tiga orang lainnya duduk di kursi kayu.

Entah apa yang mereka bincangkan. Tetapi dari tangan yang berayun-ayun, mimik wajah yang terlihat jelas sebentar berkernyit sebentar tertawa lepas, topik pembicaraan di antara mereka tampaknya seru.

Dari seorang warga yang hanya mau dipanggil ‘Mpok’, kawasan itu rupanya pernah berstatus zona merah Covid-19 dalam beberapa pekan. Tepatnya saat Indonesia dilanda gelombang ketiga Covid-19 periode Juni-awal Agustus 2021.

“Bulan-bulan lalu banyak (warga setempat terpapar Covid-19),” ujar dia.

Ilustrasi anak-anak bermain di alam bebas.
Dok. iStock/FatCamera
Ilustrasi anak-anak bermain di alam bebas.

Beberapa di antaranya meninggal dunia. Sementara, mereka yang sembuh sebagian besar karena menjalankan isolasi mandiri maupun di fasilitas isolasi terpusat yang disediakan pemerintah.

Ada sebagian kecil warga yang mengalami gejala Covid-19 namun memilih tidak tes dan menjalani perawatan di rumah sakit atau fasilitas isolasi terpusat. Mereka hanya merawat diri di rumah dengan makan-makanan yang menurut mereka cukup.

Ketika banyak warga di daerah itu yang terpapar Covid-19, aktivitas warga langsung dibatasi. Meski masih ada saja yang membandel, namun kegiatan warga di lingkungan itu tidak sebebas seperti saat tim JEO Kompas.com bertandang ke sana.

Pembatasan itu sampai-sampai membuat mata pencaharian Mpok sebagai juru parkir pasar kaget yang ada di kawasan itu tergusur.

Selama menceritakan tentang kengerian lingkungan tempat tinggalnya ketika berstatus zona merah, ia tidak mengenakan masker, meski mengaku takut tertular Covid-19.

"Ngeri juga lah. Makanya kita di rumah bae udah berapa tahun ini," ujar Mpok.

Di belahan daerah lain, tepatnya kawasan Danau Sunter, Jakarta Utara, aktivitas yang mulai terlihat normal juga terjadi.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.45 WIB. Angin sore yang berhembus pelan memang membuat nyaman warga yang sedang beraktivitas di kawasan itu. Mulai dari sekadar duduk di tepi danau menikmati pemandangan, membeli jajanan di aneka gerobak pedagang kaki lima, hingga berolahraga.

Dari antara warga yang beraktivitas di sana, berdasarkan pengamatan tim JEO Kompas.com, hanya segelintir orang yang mengenakan masker dengan baik dan benar.

Banyak yang hanya mengenakan masker, tetapi tidak menutupi mulut dan hidung. Melainkan hanya menutupi dagu. Tak sedikit pula yang tidak memakai masker sama sekali. Alat pelindung itu hanya dipegang saja.

Kawasan Danau Sunter di Jakarta Utara dipadati wisatawan pada libur Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2021. Pengunjung tampak tidak mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
Abdu Faisal
Kawasan Danau Sunter di Jakarta Utara dipadati wisatawan pada libur Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2021. Pengunjung tampak tidak mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Rupanya, area Danau Sunter hanya dibuka untuk umum hingga pukul 18.00 WIB. Saat melewati jam yang telah ditentukan, petugas Satpol PP datang dan meminta warga yang hanya duduk-duduk beranjak pergi.

"Selamat sore Bapak Ibu, mohon untuk segera meninggalkan area Danau Sunter. Dilarang duduk- duduk, kecuali untuk olahraga," kata salah satu personel Satpol PP menggunakan pengeras suara.

Seketika, warga berhamburan keluar area danau seluas 33 hektare itu. 

Namun, setelah memasuki sekitar pukul 21.00 WIB, kawasan danau yang semula sepi, kembali ramai oleh warga. Kali ini, warga yang datang kebanyakan adalah muda-mudi.

Sejumlah pedagang kaki lima pun kembali datang dan berjualan seiring kepergian personel Satpol PP.

“Biasanya kalau jam 19.00 WIB-20.00 WIB, masih ada petugas Satpol PP. (Kami) diusir ya. Jadi, ya kucing-kucingan saja. Kalau begitu, enggak dapat duit, anak istri enggak makan,” ujar salah seorang pedagang minuman keliling bernama Agus (31).

Belum ada tiga puluh menit sejak matahari terbenam, kehidupan  malam di Jalan Bulungan Raya, Jakarta Selatan di hari yang sama, sudah menggeliat.

Di sepanjang trotoar, para pedagang gulai tikungan (gultik) tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu di lapaknya. Memanaskan gulai di dalam dandang, merapikan kursi plastik, hingga menuang nasi ke piring agar lebih mudah disajikan.

Bahkan, sudah ada muda-mudi yang  duduk sejengkal dari dandang menunggu pesanan.

Semakin malam, pembeli gulai yang terkenal sejak tahun 1980-an itu kian ramai. Riuh.

Pembeli yang datang menaiki motor memarkirkan tunggangannya di sela lapak jualan. Ada pula yang diparkir rapih di bahu jalan, berjejer dengan mobil milik pembeli lainnya.

Arus lalu lintas di jalanan jadi tersendat. Juru parkir berkemeja biru muda tidak bisa  berbuat banyak. Acapkali mereka justru jadi biang kepadatan lalu lintas karena lebih memprioritaskan kendaraan yang ingin mampir.

Pedagang kue pancong, sate ayam, sate kambing, nasi goreng, ayam bakar dan sebagainya yang berjualan di sudut lain kawasan Bulungan, turut merasakan keramaian serupa.

Tak terkecuali di dalam area  gelanggang olahraga yang merupakan jantung dari kawasan Bulungan. Kumpulan muda-mudi tersebar di berbagai sisi. Mulai dari  lesehan di area parkir, hingga teras depan sebuah bangunan.

Seperti di daerah Kukusan dan Danau Sunter yang tergambar di cerita sebelumnya, sedikit sekali orang yang mengenakan masker dengan baik dan benar.

Mereka asyik bersenda gurau satu sama lain sembari menyesap kopi dan rokok. Sesekali, tawa lepas dari mereka membuat muda-mudi lain di sekitarnya menoleh sebentar, kemudian berpaling kembali.

Pengunjung menikmati secangkir kopi di tengah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di kawasan Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Bulungan, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selata pada Minggu (5/9/2021) malam.
KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO
Pengunjung menikmati secangkir kopi di tengah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di kawasan Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Bulungan, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selata pada Minggu (5/9/2021) malam.

Andre (28), salah seorang pekerja kantoran yang turut menikmati malam di kawasan Bulungan mengaku, sebenarnya ia khawatir tertular Covid-19. Namun, ia yang sudah lama bekerja dari rumah jenuh dan merasa perlu sesekali keluar menikmati udara bebas.

Lagipula, ia berkumpul hanya bersama teman-teman satu kostnya. Dengan begitu, ia lebih merasa aman karena beraktivitas bersama orang-orang dekatnya setiap hari.

“Saya tahu mobilitas teman-teman saja. Jadi saya merasa lebih aman saja. Ya meskipun memang enggak menjamin (tidak tertular), paling tidak perasaan aman saja,” ujar dia.

Andre juga mendengar kabar dari berita bahwa kasus Covid-19 di Indonesia sudah mulai menurun. Oleh sebab itu, ia merasa lebih aman beraktivitas di luar ruangan bersama teman-temannya.

Hal senada diungkapkan Angel (23) yang berprofesi sebagai karyawan swasta. Selain kasus Covid-19 yang sudah melandai, ia juga telah divaksin dosis lengkap, sebulan lalu.

"Vaksin setidaknya membuat saya lebih aman," ucap Angel.

 Mencermati data Covid-19 

 

Ledakan kasus Covid-19

Melihat aktivitas masyarakat yang semakin meningkat sebagaimana tergambar di atas, mari kita simak data Covid-19 di Indonesia saat ini.

Indonesia setidaknya telah mengalami tiga gelombang Covid-19. Pertama, setelah libur Idul Fitri 1441 Hijriah/24 Mei 2020. Kedua, setelah libur Natal 25 Desember 2020 dan tahun baru 1 Januari 2021. Ketiga, setelah libur Idul Fitri 1442 Hijriah/13 Mei 2021.

Baca juga: Cerita Data...Ombak Covid-19 Setelah Libur Panjang 

Di Ibu Kota, lonjakan kasus pada gelombang ketiga jauh lebih tinggi dibandingkan puncak gelombang pertama dan kedua.

Saat gelombang ketiga terjadi, tercatat empat kali kasus harian tertinggi, yakni 8 Juli, 9 Juli, 11 Juli, dan 12 Juli. Penambahan kasus positif berada di angka 13.000-14.000 kasus per hari.

Akibatnya, jumlah kasus aktif melonjak hingga menembus angka 100.000. Kasus aktif Covid-19 berada di angka 100.000 selama delapan hari, yakni 7-9 Juli dan 15-19 Juli.

Lonjakan kasus Covid-19 membuat rumah sakit di Jakarta kolaps. Kapasitas tempat tidur di rumah sakit di Jakarta mulai kritis sejak awal Juli 2021. Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) isolasi menyentuh angka 92 persen pada 11 Juli. Sementara itu, BOR ICU berada di angka 95 persen.

Gelombang ketiga Covid-19 makin diperparah dengan menyebarnya virus corona varian Delta.

Angka kematian akibat Covid-19 berada di atas 200 kasus selama tiga hari berturut-turut, yakni 18 Juli, 19 Juli, dan 20 Juli.  Saat itu, jumlah pasien meninggal akibat Covid-19 menyentuh angka 201, 242, dan 265 orang. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi selama pandemi Covid-19 di Ibu Kota.

Tenaga kesehatan membawa jenazah pasien Covid-19, berjenis kelamin perempuan (28 tahun) menuju ruang pemulasaran jenazah di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes).
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Tenaga kesehatan membawa jenazah pasien Covid-19, berjenis kelamin perempuan (28 tahun) menuju ruang pemulasaran jenazah di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes).

Keadaan semakin diperparah dengan ketersediaan pasokan oksigen yang menipis. Banyak warga harus antre untuk mendapatkan tabung oksigen.

Baca juga: Duka Tanpa Jeda...

Banyak pula pasien Covid-19 yang tidak mendapat perawatan di rumah sakit sehingga harus berjuang mandiri mendapatkan oksigen. Keluarga mereka harus antre mendatangi fasilitas pengisian oksigen berbayar.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, pada 3 Juli 2021, terdapat 369 pemakaman yang dilakukan dengan prosedur Covid-19. Dari jumlah tersebut, ada 45 jenazah yang dimakamkan dengan prosedur Covid-19 meninggal dunia tidak di rumah sakit, tetapi di rumah tempat tinggal.

 

Kasus mulai landai

Untuk mengendalikan gelombang kasus Covid-19 ini, pemerintah memberlakukan PPKM darurat di DKI Jakarta mulai 3 Juli 2021. PPKM darurat kemudian berubah nama menjadi PPKM level 4.

Pembatasan yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil.

Kasus Covid-19 di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi pun menunjukkan tren penurunan sejak pertengahan Agustus 2021.

Baca juga: Gelombang Covid-19 dan Melanjutkan Ikhtiar...

Khusus di DKI Jakarta, dilansir dari laman resmi corona.jakarta.go.id, pergerakan grafik kasus positif Covid-19 di Ibu Kota mulai mendatar sejak pekan ke-3 Agustus. Penambahan kasus positif Covid-19 ada di kisaran angka 300 hingga 750 kasus per hari.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Pemprov DKI Jakarta, per 22 Agustus 2021, kapasitas tempat tidur isolasi di 140 rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta adalah 8.745 tempat tidur. Dari jumlah itu, 22 persen tempat tidur yang terisi.

Keterisian tempat tidur ICU juga tak jauh berbeda. Dari 1.468 tempat tidur ICU yang disediakan, terisi 40 persen. Angka ini tentu jauh lebih rendah dibandingkan penambahan kasus harian pada Juli 2021.

Dengan melandainya kasus Covid-19 dan penurunan BOR rumah sakit, Jakarta berhasil keluar dari PPKM level 4. Sejak 24 Agustus 2021, Jakarta berstatus PPKM level 3.

Untuk mengetahui gambaran kasus Covid-19 di Jakarta pada Juli-Agustus-awal September 2021, simak grafik berikut ini. 

Sebagaimana Jakarta, Bodetabek juga berhasil keluar dari status PPKM level 4 dan berubah menjadi PPKM level 3 sejak 24 Agustus 2021. Hal ini sudah tentu terjadi lantaran adanya penurunan kasus Covid-19.

Di Depok, kasus Covid-19 pada Juli 2021 telah jauh melampaui puncak gelombang pertama pada 30 Januari 2021.

Pada 30 Januari 2021, ada 5.011 kasus aktif Covid-19 di sana. Sementara itu, kasus aktif Covid-19 di Depok pada 12 Juli 2021 mencapai 13.362 kasus. Adapun kasus harian tertinggi tercatat pada 5 Juli 2021, yakni 1.336 kasus.

Kasus kematian akibat Covid-19 di Depok pada Juli juga tinggi. Tercatat 20-40 orang meninggal akibat Covid-19 tiap harinya. Hal ini menyebabkan antrean pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Sementara di Kota Tangerang, Dinas Kesehatan Kota Tangerang melaporkan 981 kasus baru Covid-19 pada 13 Juli 2021. Angka tersebut merupakan penambahan kasus terbanyak selama pandemi di Kota Tangerang. Saat itu, tercatat total kasus Covid-19 di Kota Tangerang mencapai 14.241 kasus.

Di Tangerang Selatan, kasus Covid-19 juga kembali melonjak pada Juli 2021. Dinas Kesehatan mencatat, terdapat 622 kasus baru Covid-19 pada 23 Juli 2021. Penambahan kasus positif harian di Tangsel itu merupakan yang tertinggi selama pandemi Covid-19. Total kasus Covid-19 yang dicatatkan Dinas Kesehatan Tangsel saat itu sebanyak 20.332 kasus.

Warga menangis di atas nisan keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (28/6/2021).
ANTARA FOTO
Warga menangis di atas nisan keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (28/6/2021).

Kemudian, di Kota Bekasi, dilansir dari Kompas.id, persentase kematian akibat Covid-19 pada Juli melonjak dibanding bulan Juni. Pada periode 5-11 Juli, persentase kematian meningkat dari 1,27 persen menjadi 1,32 persen. Artinya, dalam kurun waktu 6 hari itu, ada penambahan 96 kasus kematian akibat Covid-19.

Baca juga: Kisah Rakyat yang Bergerak Menolong Sesama di Tengah Krisis 

Penambahan kasus harian Covid-19 juga masih fluktuatif selama PPKM darurat. Pada 5 Juli, persentase kasus aktif adalah 6,28 persen, sedangkan pada 7 Juli, persentase kasus aktif naik menjadi 7,03 persen dan kembali turun menjadi 5,92 persen pada 11 Juli.

Di sisi lain, BOR isolasi pasien Covid-19 di Kota Bekasi masih tinggi. Pada 3 Juli, BOR mencapai 88,71 persen dan menjadi 71,6 persen pada 10 Juli. Sementara itu, BOR ICU pada 3 Juli mencapai 85,56 persen dan pada 10 Juli menjadi 63,56 persen.

Angka-angka kasus Covid-19 yang melonjak pada Juli itu kemudian kembali melandai seiring dengan pemberlakuan PPKM level 4 sehingga PPKM di Bodetabek kini berstatus level 3.

Dengan penurunan status level PPKM di Jabodetabek, pemerintah pun melakukan sejumlah pelonggaran, contohnya mengizinkan makan di tempat (dine in) di restoran, pembelajaran tatap muka, hingga berencana melakukan uji coba pembukaan tempat wisata.

 Jangan lengah 

 

Pandemic fatigue

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia nyaris 19 bulan lamanya memang membuat kita semua kelelahan. Ketidakpastian soal di mana ujung pandemi ini menambah kelelahan itu. Bahkan berujung pada rasa frustasi. 

Fenomena ini dijuluki para pakar sebagai 'kelelahan menghadapi pandemi' atau pandemic fatigue. Rasa frustasi inilah yang menurut para pakar mendorong praktik abai terhadap kesehatan sendiri. 

Maka, tak jarang kita menemukan orang di tempat publik mengabaikan protokol kesehatan. Tidak menggunakan masker dengan baik dan benar merupakan salah satu contohnya. 

Kelelahan menghadapi pandemi tidak serta-merta sirna kendati bulan Juli 2021 lalu, Indonesia dan Jabodetabek secara khusus mengalami gelombang ketiga yang sangat menakutkan.

Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu munculnya fenomena revenge travel, alias jalan-jalan sebagai balas dendam.

Baca juga: WHO Tegur RI Karena Mobilitas di Jawa Naik Seperti Sebelum Pandemi

Berikut ini laporan WHO tentang mobilitas masyarakat di DKI Jakarta dari pandemi melanda Indonesia pada Maret 2020 hingga Agustus 2021.
Laporan WHO 18 Agustus 2021
Berikut ini laporan WHO tentang mobilitas masyarakat di DKI Jakarta dari pandemi melanda Indonesia pada Maret 2020 hingga Agustus 2021.

Dikutip dari The Economic Timesrevenge travel adalah fenomena yang terjadi saat masyarakat melakukan perjalanan atau berwisata ke luar rumah setelah menjalani isolasi.

Seperti namanya, fenomena ini disebut sebagai bentuk "balas dendam" dari orang-orang yang terpaksa menjalani isolasi, karantina, dan pembatasan karena kebijakan yang berlaku.

Kelelahan pandemi maupun revenge travel ini tidak berkaitan dengan status ekonomi maupun tingkat pendidikan masyarakat tertentu.

Kelelahan pandemi maupun revenge travel ini tergambar jelas dalam kegiatan-kegiatan masyarakat di Bulungan Blok M, Danau Sunter, dan perkampungan Kukusan yang juga barangkali tak lepas dari pelonggaran kebijakan PPKM di Jabodetabek.

Baca juga: Pedulilindungi Deteksi 3.830 Orang Positif Covid-19 Pergi ke Mal dan Bandara Hingga Restoran

Lebih jauh, nampaknya kita tetap harus berkaca pada pengalaman sebelumnya agar tidak terperosok pada lubang yang sama, bukan? 

Berpotensi melonjak lagi

Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, peningkatan aktivitas saat aktivitas dilonggarkan selalu melahirkan ledakan kasus Covid-19, terlebih lagi jika tak dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Lonjakan kasus terjadi karena segala bentuk imbauan pemerintah untuk tetap membatasi mobilitas tidak diindahkan.

Oleh karena itu, melihat adanya peningkatan aktivitas masyarakat akhir-akhir ini dan pelonggaran PPKM, epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengingatkan, kasus Covid-19 di Jabodetabek berpotensi meningkat kembali.

Baca juga: Mengenal 11 Varian Virus SARS-CoV-2 

Ada dua penyebabnya. Pertama, pembatasan yang terlalu longgar serta pelacakan kontak erat yang sangat lemah.

Soal pembatasan yang longgar, menurut Miko, hal ini dengan sendirinya akan berakibat pada peningkatan kasus Covid-19 karena interaksi antarwarga ikut meningkat.

"Pastilah akan melonjak lagi," kata Miko ketika dihubungi Kompas.com pada Selasa 7 September 2021. 

Tangkapan layar salah satu video yang memperlihatkan kerumunan wisatawan di Pantai Batu Karas, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu pagi (15/5/2021).
DOK
Tangkapan layar salah satu video yang memperlihatkan kerumunan wisatawan di Pantai Batu Karas, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu pagi (15/5/2021).

Miko menerangkan bahwa laju penularan wabah (R0) di mana pun punya rumus baku, termasuk kecepatan penularan Covid-19.

Laju penularan akan dipengaruhi oleh kombinasi antara probabilitas penularan harian (p=probability) dikalikan dengan jumlah kontak antarwarga (c=contact) dan dikalikan lagi dengan durasi (d=duration).

"Probabilitas penularan memang sekarang sedang menurun, tapi c-nya (kontak antarwarga meningkat, seiring pelonggaran PPKM). Probabilitas penularan turun tapi kalau tingkat kontak antarwarga ditinggikan, ya otomatis akan meningkat lagi kasusnya," jelas Miko.

 

Vaksinasi jadi pembeda

Epidemiolog lainnya dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, yang dihubungi terpisah, juga menyatakan bahwa lonjakan berpotensi terjadi lagi.

"Sudah pasti, sudah pasti (ada lonjakan). Tidak usah dalam waktu dekat. Begitu ada kenaikan mobilitas penduduk, kan penularan lebih mudah. Itu pasti kok," kata Pandu pada 17 Agustus 2021.

Yang mungkin jadi pembeda kondisi beberapa bulan lalu dan kini adalah vaksinasi Covid-19 yang saat ini cukup gencar di Jakarta dan wilayah sekitar.

Sentra vaksinasi PT Transportasi Jakarta (Transjakarta)
DOK. TRANSJAKARTA
Sentra vaksinasi PT Transportasi Jakarta (Transjakarta)

DKI Jakarta saat ini telah melakukan vaksinasi Covid-19 dosis pertama terhadap 10.095.359 orang, 100 persen lebih dari target awal.

Sementara itu, cakupan vaksinasi Covid-19 di kota-kota Bodetabek masih tertahan di kisaran 40-60 persen dari target masing-masing.

Baca juga: 18 Juta Dosis Sinovac Tiba, Total Penerimaan Vaksin Covid-19 Indonesia 243 Juta Dosis

Sejak awal, para pakar telah mengingatkan bahwa vaksin Covid-19 bukan peluru emas untuk melenyapkan wabah. Vaksin hanya berfungsi mengurangi potensi penyakit berat dan kematian akibat Covid-19.

Vaksin laiknya helm bagi pengendara, yang tidak akan menghilangkan risiko mereka jatuh dari motor atau sepeda, tetapi dapat menekan kemungkinan cedera berat di kepala apabila terjadi kecelakaan.

Pandu menilai, laju vaksinasi Covid-19 saat ini belum cukup untuk menghindarkan Jabodetabek dari potensi lonjakan kasus Covid-19 dalam waktu dekat, pun seandainya ditambah dengan para penyintas Covid-19 pada Juli 2021 yang saat ini diperkirakan masih menyisakan antibodi virus SARS-CoV-2 di tubuh mereka.

"Yang harus divaksinasi bukan orang yang punya KTP DKI, melainkan orang yang beraktivitas di DKI. Berapa yang beraktivitias di DKI? 30 juta. (Vaksinasi) Jakarta saja memang cukup tinggi, tapi kan yang beraktivitas di Jakarta bukan hanya orang Jakarta. (Capaian vaksinasi Covid-19 DKI Jakarta), bila dibagi dengan 30 juta, masih di bawah 50 persen," jelas Pandu.

"Kalau 50 persen sudah divaksinasi dan sudah terinfeksi, dikombinasi, 50 persennya kan masih tidak punya imnunitas sama sekali. Itu cukup besar sekali kalau dikalikan penduduk Jakarta, apalagi jika dilihat Jabodetabek. Itu pun mungkin sudah mulai menurun juga daya proteksinya (dari antibodi para penyintas Covid-19)," tambah dia.

Tingkatkan tes lacak

Miko pun mengkritik pemerintah yang dinilai gegabah menurunkan level PPKM secara berturut-turut setiap minggu.

Baca juga: PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, Ini Rincian Daerah yang Berstatus Level 2 

Kebijakan itu mungkin dapat dipahami apabila menggunakan sudut pandang ekonomi. Namun, dari kaca mata ilmu wabah, tindakan itu tak sesuai kaidah sains.

Masalah utamanya, pemerintah tidak konsekuen dengan janjinya sendiri untuk meningkatkan jumlah tes PCR agar sesuai standar WHO dan memperbanyak rasio tes-lacak.

Jumlah tes di Jabodetabek sudah lumayan adekuat alias memenuhi syarat, apalagi Jakarta, tapi rasio tes-lacak sangat menyedihkan.

Pemprov DKI Jakarta mengeklaim bahwa rasio tes-lacak mereka di kisaran 1 banding 6-7. Artinya, dari 1 kasus terkonfirmasi positif Covid-19, ada 6-7 kontak erat yang ditindaklanjuti dengan tes PCR.

Petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan melakukan swab antigen kepada seorang warga yang tinggal di kawasan zona merah COVID-19 di Juramangu Barat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (23/6/2021). Tracing atau pelacakan lewat Swab Antigen dilakukan karena di kawasan tersebut ditemukan 47 warga yang positif terpapar COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp.
ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan melakukan swab antigen kepada seorang warga yang tinggal di kawasan zona merah COVID-19 di Juramangu Barat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (23/6/2021). Tracing atau pelacakan lewat Swab Antigen dilakukan karena di kawasan tersebut ditemukan 47 warga yang positif terpapar COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp.

Namun, bagaimana dengan Bodetabek? Di Depok saja, misalnya, ketika level PPKM diturunkan dari 4 ke 3, data Kemenkes menunjukkan bahwa rasio tes lacak hanya bertambah dari kisaran 1 banding 1,8 menjadi 1 banding 2,2.

"Pelacakan kontak untuk 1 kasus minimal bisa dilacak 10-15. Kalau itu sudah terstandar, baru turun level sesuai temuan kasus yang ditemukan di setiap kabupaten dan kota. Kalau tidak gitu, turun levelnya berdasarkan tes dan lacak yang tidak standar, maka bahaya besar," sebut Miko. 

Miko memprediksi, jika terjadi, lonjakan kasus Covid-19 di Jabodetabek tak akan separah gelombang ketiga pada Juli 2021.

Baca juga: Melihat Data Vaksin Sinovac Melindungi Tenaga Kesehatan 

Efek vaksin, walaupun belum menyeluruh, diyakini akan terlihat. Kasus Covid-19 mungkin akan melonjak tinggi, sebagai dampak dari penyebaran yang masif, tetapi tren hospitalisasi dan kematian diprakirakan relatif lebih landai.

"Kalaupun terjadi peningkatan, kita tidak akan mendapatkan lonjakan pada bulan Juli yang paling tinggi. Tidak seperti itu, Juli tidak akan terulang lagi," ujar Miko.

"Walaupun karena cakupan vaksinasi sudah baik, mungkin yang meninggal akan menurun (dibandingkan Juli 2021) dan yang bergejala juga semakin ringan, tapi tetap akan menyakitkan. Buktinya petugas kesehatan pada roboh meski mereka sudah disuntik, makanya mereka mendapatkan prioritas untuk dosis ketiga," tambahnya.

Oleh karena itu, Miko mengingatkan agar masyarakat selalu hati-hati dengan potensi lonjakan kasus Covid-19. Jangan sampai lengah menerapkan protokol kesehatan, meski kasus Covid-19 kini landai.

"Hati-hati. Hati-hati!" ucap Miko.

Peringatan serupa disampaikan Pandu. Penerapan protokol kesehatan yang kendur sudah pasti meningkatkan laju penularan. Di samping kesadaran masyarakat sendiri, pemerintah juga mestinya terus mendisiplinkan warga menerapkan protokol kesehatan.

"Kalau (warga) bergerak tidak patuh 5M ya akan meningkatkan penularan. Makanya, kalau tidak bisa meningkatkan (kepatuhan) pakai masker, (PPKM) tidak usah dilonggarkan, nanti naik lagi, dan nanti turunnya susah lagi," tutur Pandu.

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting mengenakan masker saat pengalungan medali bulutangkis tunggal putra Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021). Anthony menang atas pemain Guatemala Kevin Cordon dengan skor 21-11, 21-13 dan meraih medali perunggu.
ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting mengenakan masker saat pengalungan medali bulutangkis tunggal putra Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021). Anthony menang atas pemain Guatemala Kevin Cordon dengan skor 21-11, 21-13 dan meraih medali perunggu.

 Pemerintah perlu antisipasi 

Melihat pelonggaran aktivitas masyarakat dapat berisiko pada ledakan kasus Covid-19 kembali, pemerintah dinilai perlu membuat rencana kongkret dan tindakan darurat guna mengantisipasinya. 

Dikutip Kompas, 24 Agustus 2021, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, mengatakan, meski tren kasus harian sedang turun, pembukaan aktivitas ekonomi yang sudah dimulai sejak dua pekan lalu perlu diantisipasi.

Mitigasi perlu disiapkan dari sekarang agar ketika terjadi ledakan kasus Covid-19 lagi di kemudian hari, dampak yang muncul dapat dikendalikan.

Baca juga: Waspadai Varian Mu, Pemerintah Diminta Perketat Akses Masuk ke Indonesia

Pemerintah harus belajar dari momen kritis ledakan varian Delta pada Juli-Agustus 2021 dan ketidaksiapan menangani dampak kesehatan dan sosial-ekonomi masyarakat saat itu.

Antisipasi dengan cara mempercepat vaksinasi dan mengetatkan protokol kesehatan diperlukan, tetapi upaya itu saja tidak cukup. Sebab, belum ada yang bisa menebak karakteristik virus Covid-19 yang terus bermutasi.

”Perlu ada skenario darurat cadangan, agar ketika nanti kasus melonjak lagi, kita sudah lebih siap,” kata Tauhid.

Skenario darurat harus mencakup aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Dari segi infrastruktur rumah sakit dan fasilitas kesehatan, infrastruktur digital, kesiapan pendataan, serta kebijakan anggaran yang antisipatif dengan kemungkinan krisis baru di kemudian hari.

 

"Dari satu kesalahan ke kesalahan lainnya, manusia menemukan kebenaran".

-Sigmund Freud-

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.